Kisah Sufi Idries Shah www.imamsutrisno.blogspot.com 1 KISAH SUFI Idries Shah Mimpi dan Irisan Roti Kisah Api Ketika Air Berubah Keperluan yang Mendesak Bayazid dan Orang Bodoh Batas Dogma Isa dan orang-orang yang bimbang Kisah Sufi Idries Shah www.imamsutrisno.blogspot.com 2 Telah berabadabad lamanya para guru Sufi mengajar muridmuridnya dengan menggunakan kisahkisah ini, yang dianggap memiliki kekuatan untuk meningkatkan persepsi yang tidak diketahui oleh manusia biasa. Idries Shah telah menjelajahi tiga benua bertahuntahun lamanya untuk mengumpulkan dan membandingkan versi lisan kisahkisah yang mengagumkan ini. Dengan pelbagai cara, banyak diantara kisah ini telah menyusup ke dalam tradisi sastra Barat dan Timur. Bunga rampai ini, yang disampaikan menurut cara Sufi, berisi kisahkisah yang dipilih dari reporter guruguru Sufi selama lebih dari seribu tahun terakhir ini. Idries Shah, yang nama lengkapnya NawabZada Sayyid Idries Shah alHasyimi, adalah Syekh Besar (Syekh alKabir) Sufi dan anak sulung Nawab asal Sardana, dekat Delhi di India. Keluarganya berasal dari keluarga Kerajaan Pagham di HinduKush, yang nenek moyangnya memerintah sejak 1221. Idries Shah dilahirkan di SimlaHimalaya dan menetap di London. Ia mengarang beberapa buku tentang mistiktasawuf, diantaranya Mahkota Sufi (The Sufis) dan Jalan Sufi (The Way of the Sufi), kumpulan cerita sufi, serta karyakarya lainnya. Mimpi dan Irisan Roti Tiga orang musafir menjadi sahabat dalam suatu perjalanan yang jauh dan melelahkan; mereka bergembira dan berduka bersama, mengumpulkan kekuatan dan tenaga bersama. Setelah berharihari lamanya mereka menyadari bahwa yang mereka miliki tinggal sepotong roti dan seteguk air di kendi. Mereka pun bertengkar tentang siapa yang berhak memakan dan meminum bekal tersebut. Karena tidak berhasil mencapai persesuaian pendapat, akhirnya mereka memutuskan untuk membagi saja makanan dan minuman itu menjadi tiga. Namun, tetap saja mereka tidak sepakat. Malampun turun; salah seorang mengusulkan agar tidur saja. Kalau besok mereka bangun, orang yang telah mendapatkan mimpi yang paling menakjubkan akan menentukan apa yang harus dilakukan. Pagi berikutnya, ketiga musafir itu bangun ketika matahari terbit. "Inilah mimpiku," kata yang pertama. "Aku berada di tempattempat yang tidak bisa digambarkan, begitu indah dan tenang. Aku berjumpa dengan seorang bijaksana yang mengatakan kepadaku, 'Kau berhak makan makanan itu, sebab Kisah Sufi Idries Shah www.imamsutrisno.blogspot.com 3 kehidupan masa lampau dan masa depanmu berharga, dan pantas mendapat pujian." "Aneh sekali," kata musafir kedua. "Sebab dalam mimpiku, aku jelasjelas melihat segala masa lampau dan masa depanku. Dalam masa depanku, kulihat seorang lelaki maha tahu, berkata, 'Kau berhak akan makanan itu lebih dari kawankawanmu, sebab kau lebih berpengetahuan dan lebih sabar. Kau harus cukup makan, sebab kau ditakdirkan untuk menjadi penuntun manusia." Musafir ketiga berkata, "Dalam mimpiku aku tak melihat apapun, tak berkata apapun. Aku merasakan suatu kekuatan yang memaksaku bangun, mencari roti dan air itu, lalu memakannya di situ juga. Nah, itulah yang kukerjakan semalam." Catatan: Kisah ini salah sebuah yang dianggap merupakan karangan Syah Mohammad Gwath Syatari, yang meninggal tahun 1563. Ia menulis risalah terkenal, Lima Permata, yang menggambarkan cara pencapaian taraf lebih tinggi manusia dalam terminologi sihir dan tenaga gaib, yang didasarkan pada modelmodel kuno. Ia merupakan Guru yang telah melahirkan lebih dari empat belas Kaum dan sangat dihargai oleh Maharaja India, Humayun. Meskipun ia dipujapuja beberapa kalangan sebagai orang suci, beberapa tulisannya dianggap oleh golongan pendeta sebagai menyalahi aturan suci, dan oleh karenanya mereka menuntutnya agar dihukum. Ia akhirnya dibebaskan dari tuduhan murtad, karena halhal yang dikatakan dalam keadaan pikiran yang istimewa tidak bisa dinilai dengan ukuran pengetahuan biasa. Makamnya di Gwalior, yang merupakan tempat ziarah Sufi yang sangat penting. Alur yang sama juga dipergunakan dalam kisahkisah Kristen yang tersebar di kalangan pendeta pada abad pertengahan. Kisah Api Pada zaman dahulu ada seorang yang merenungkan cara bekerjanya Alam, dan karena ketekunan dan percobaanpercobaannya, akhirnya ia menemukan bagaimana api diciptakan. Orang itu bernama Nur. Ia memutuskan untuk berkelana dari satu negeri ke lain negeri, menunjukkan kepada rakyat banyak tentang penemuannya. Nur menyampaikan rahasianya itu kepada berbagaibagai kelompok masyarakat. Beberapa di antaranya ada yang memanfaatkan pengetahuan itu. Yang lain mengusirnya, mengira bahwa ia mungkin berbahaya, sebelum mereka mempunyai waktu cukup untuk mengetahui betapa berharganya penemuan itu bagi mereka. Akhirnya, sekelompok orang yang menyaksikannya memamerkan cara pembuatan api menjadi begitu ketakutan sehingga mereka menangkapnya dan kemudian membunuhnya, yakin bahwa ia setan. Kisah Sufi Idries Shah www.imamsutrisno.blogspot.com 4 Abad demi abad berlalu. Bangsa pertama yang belajar tentang api telah menyimpan rahasia itu untuk para pendeta, yang tetap berada dalam kekayaan dan kekuasaan, sementara rakyat kedinginan. Bangsa kedua melupakan cara itu, dan malah memuja alatalat untuk membuatnya. Bangsa yang ketiga memuja patung yang menyerupai Nur, sebab ialah yang telah mengajarkan hal itu. Yang keempat tetap menyimpan kisah api dalam kumpulan dongengnya: ada yang percaya, ada yang tidak. Bangsa yang kelima benarbenar mempergunakan api, dan itu bisa menghangatkan mereka, menanak makanan mereka, dan mempergunakannya untuk membuat alatalat yang berguna bagi mereka. Setelah berpuluhpuluh tahun lamanya, seorang bijaksana dan beberapa pengikutnya mengadakan perjalanan melalui negerinegeri bangsabangsa tadi. Para pengikut itu tercengang melihat bermacammacamnya upacara yang dilakukan bangsabangsa itu; dan mereka pun berkata kepada gurunya, "Tetapi semua kegiatan itu nyatanya berkaitan dengan pembuatan api, bukan yang lain. Kita harus mengubah mereka itu!" Sang Guru menjawab, "Baiklah. Kita akan memulai lagi perjalanan ini. Pada akhir perjalanan nanti, mereka yang masih bertahan akan mengetahui masalah kebenarannya dan bagaimana mendekatinya." Ketika mereka sampai pada bangsa yang pertama rombongan itu diterima dengan suka hati. Para pendeta mengundang mereka menghadiri upacara keagamaan, yakni pembuatan api. Ketika upacara selesai, dan bangsa itu sedang mengagumi apa yang mereka saksikan, guru itu berkata, "Apa ada yang ingin mengatakan sesuatu?" Pengikut pertama berkata, "Demi Kebenaran, saya merasa harus menyampaikan sesuatu kepada rakyat ini." "Kalau kau mau melakukannya atas tanggungan sendiri, silahkan saja," kata gurunya. Dan pengikut pertama itupun melangkah ke muka kehadapan pemimpin bangsa dan para pendeta itu, lalu katanya, "Aku bisa membuat keajaiban yang kalian katakan sebagai perwujudan kekuatan dewa itu. Kalau aku kerjakan hal itu, maukah kalian menerima kenyataan bahwa bertahuntahun lamanya kalian telah tersesat?" Tetapi para pendeta itu berteriak, "Tangkap dia!" dan orang itu pun dibawa pergi, tak pernah muncul kembali. Para musafir itu melanjutkan perjalanan, dan sampai di negeri bangsa yang kedua dan memuja alatalat pembuatan api. Ada lagi seorang pengikut yang memberanikan diri mencoba menyehatkan akal bangsa itu. Kisah Sufi Idries Shah www.imamsutrisno.blogspot.com 5 Dengan izin gurunya ia berkata, "Saya mohon izin untuk berbicara kepada kalian semua sebagai bangsa yang berakal. Kalian memuja alatalat untuk membuat sesuatu, dan bukan hasil pembuatan itu. Dengan demikian kalian menunda kegunaannya. Saya tahu kenyataan yang mendasari upacara ini." Bangsa itu terdiri dari orangorang yang lebih berakal. Tetapi mereka berkata kepada pengikut kedua itu, "Saudara diterima baik sebagai musafir dan orang asing di antara kami. Tetapi, sebagai orang asing, yang tak mengenal sejarah dan adat kami, Saudara tak memahami apa yang kami kerjakan. Saudara berbuat kesalahan. Barangkali Saudara malah berusaha membuang atau mengganti agama kami. Karena itu kami tidak mau mendengarkan Saudara." Para musafir itu pun melanjutkan perjalanan. Ketika mereka sarnpai ke negeri bangsa ke tiga, mereka menyaksikan di depan setiap rumah terpancang patung Nur, orang pertama yang membuat api. Pengikut ketiga berkata kepada pemimpin besar itu. "Patung itu melambangkan orang, yang melambangkan kemampuan, yang bisa dipergunakan." "Mungkin begitu," jawab para pemuja Nur, "tetapi yang bisa menembus rahasia sejati hanya beberapa orang saja." "Hanya bagi beberapa orang yang mau mengerti, bukan bagi mereka yang menolak menghadapi kenyataan," kata pengikut ketiga itu. "Itu bid'ah kepangkatan, dan berasal dari orang yang bahkan tak bisa mempergunakan bahasa kami secara benar, dan bukan pendeta yang ditahbiskan menurut adat kami," kata pendetapendeta itu. Dan pengikut darwis itupun bisa melanjutkan usahanya. Musafir itu melanjutkan perjalanannya, dan sampai di negeri bangsa keempat. Kini pengikut keempat maju ke depan kerumunan orang. "Kisah pembuatan api itu benar, dan saya tahu bagaimana melaksanakannya," katanya. Kekacauan timbul dalam bangsa itu, yang terpecah menjadi beberapa kelompok. Beberapa orang berkata, "Itu mungkin benar, dan kalau memang demikian, kita ingin mengetahui bagaimana cara membuat api." Ketika orangorang ini diuji oleh Sang Guru dan pengikutnya, ternyata sebagian besar ingin bisa membuat api untuk kepentingan sendiri saja, dan tidak menyadari bahwa bisa bermanfaat bagi kemajuan kemanusiaan. Begitu dalamnya dongengdongeng keliru itu merasuk ke dalam pikiran orangorang itu sehingga mereka yang mengira dirinya mewakili kebenaran sering merupakan orangorang yang goyah, yang tidak akan juga membuat api bahkan setelah diberi tahu caranya. Kisah Sufi Idries Shah www.imamsutrisno.blogspot.com 6 Ada kelompok lain yang berkata, "jelas dongeng itu tidak benar. Orang itu hanya berusaha membodohi kita, agar ia mendapat kedudukan di sini." Dan kelompok lain lagi berkata, "Kita lebih suka dongeng itu tetap saja begitu, sebab ialah menjadi dasar keutuhan bangsa kita. Kalau kita tinggalkan dongeng itu, dan kemudian ternyata penafsiran baru itu tak ada gunanya, apa jadinya dengan bangsa kita ini?" Dan masih banyak lagi pendapat di kalangan mereka. Rombongan itu pun bergerak lagi, sampai ke negeri bangsa yang kelima; di sana pembuatan api dilakukan seharihari, dan orangorang juga sibuk melakukan halhal lain. Sang Guru berkata kepada pengikutpengikutnya, "Kalian harus belajar cara mengajar, sebab manusia tidak ingin diajar. Dan sebelumnya, kalian harus mengajar mereka bahwa masih ada saja hal yang harus dipelajari. Mereka membayangkan bahwa mereka siap belajar. Tetapi mereka ingin mempelajari apa yang mereka bayangkan harus dipelajari, bukan apa yang pertamatama harus mereka pelajari. Kalau kalian telah mempelajari ini semua, kalian baru bisa mengatur cara mengajar. Pengetahuan tanpa kemampuan istimewa untuk mengajarkannya tidak sama dengan pengetahuan dan kemampuan." Catatan: Untuk menjawab pertanyaan "Apakah orang barbar itu?" Ahmad alBadawi (meninggal tahun 1276) berkata, "Seorang barbar adalah manusia yang daya pahamnya begitu tumpul sehingga ia mengira bisa mengerti dengan memikirkan atau merasakan sesuatu yang hanya dipahami lewat pengembangan dan penerapan terusmenerus terhadap usaha mencapai Tuhan. Manusia menertawakan Musa dan Yesus, atau karena mereka sangat tumpul, atau karena mereka telah menyembunyikan diri mereka sendiri apa yang dimaksudkan mereka itu ketika mereka berbicara dan bertindak." Menurut cerita darwis, ia dituduh menyebarkan Kristen dan orang Islam, tetapi ditolak oleh orangorang Kristen karena menolak dogma Kristen lebih lanjut secara harafiah. Ia pendiri kaum Badawi Mesir. Ketika Air Berubah Pada zaman dahulu, Kidir, Guru Musa, memberi peringatan kepada manusia. Pada hari tertentu, katanya, semua air didunia yang tidak disimpan secara khusus akan lenyap. Sebagai gantinya akan ada air baru, yang mengubah manusia menjadi gila. Kisah Sufi Idries Shah www.imamsutrisno.blogspot.com 7 Hanya seorang yang menangkap makna peringatan itu. Ia mengumpulkan air dan menyimpannya di tempat yang aman. Ditunggunya saat yang di sebutsebut itu. Pada hari yang dipastikan itu, sungaisungai berhenti mengalir, sumursumur mengering. Melihat kejadian itu, orang yang menangkap makna peringatan itupun pergi ketempat penyimpanan dan meminum airnya. Ketika dari tempat persembunyiannya itu ia menyaksikan air terjun kembali memuntahkan air, orang itu pun menggabungkan dirinya kembali dengan orangorang lain. Ternyata mereka itu kini berpikir dan berbicara dengan cara sama sekali lain dari sebelumnya; mereka tidak ingat lagi apa yang pernah terjadi, juga tidak ingat sama sekali bahwa pernah mendapat peringatan. Ketika orang itu mencoba berbicara dengan mereka, ia menyadari bahwa ternyata mereka telah menganggapnya gila. Terhadapnya, mereka menunjukkan rasa benci atau kasihan, bukan pengertian. Catatan: Orang yang dianggap menciptakan kisah ini, DhunNun, seorang Mesir (meninggal tahun 860), selalu dihubunghubungkan dengan suatu bentuk Perserikatan Rahasia. Ia adalah tokoh paling awal dalam sejarah Kaum Darwis Malamati, yang oleh para ahli Barat sering dianggap memiliki persamaan yang erat dengan keahlian anggota Persekutuan Rahasia. Konon, DhunNun berhasil menemukan arti hieroglip Firaun. Versi ini dikisahkan oleh Sayid Sabir AliSyah, seorang ulama Kaum Chishti, yang meninggal tahun 1818. Keperluan yang Mendesak Pada suatu malam seorang penguasa tiran Turkestan sedang mendengarkan kisahkisah yang disampaikan oleh seorang darwis, ketika ia tibatiba bertanya tentang Kidir. "Kidir," kata darwis itu, "datang kalau diperlukan. Tangkaplah, jubahkan kalau ia muncul, dan segala pengetahuan menjadi milik Paduka," "Apakah itu bisa terjadi atas siapapun?" "Siapa pun bisa," kata darwis itu. "Siapa pula lebih 'bisa' dariku?" pikir Sang Raja; dan ia pun mengedarkan pengumuman: "Siapa yang bisa menghadirkan Kidir Yang Gaib di hadapanku, akan kujadikan orang kaya." Seorang lelaki miskin dan tua yang bernama Bakhtiar Baba, setelah mendengar pengumuman itu, menyusun akal. Katanya kepada istrinya, Kisah Sufi Idries Shah www.imamsutrisno.blogspot.com 8 "Aku punya rencana. Kita akan segera kaya, tetapi beberapa lama kemudian aku harus mati. Namun, itu tak apalah, sebab kekayaan kita akan bisa menghidupimu seterusnya." Kemudian Bakhtiar menghadap raja dan mengatakan bahwa ia akan mencari Kidir dalam waktu empat puluh hari, kalau Raja bersedia memberinya seribu keping uang emas. "Kalau kau bisa menemukan Kidir," kata Raja, "kau akan mendapat sepuluh kali seribu keping uang emas ini. Kalau gagal, kau akan mati, dipancung ditempat ini sebagai peringatan kepada siapapun yang akan mencoba mempermainkan rajanya." Bakhtiar menerima syarat itu. Ia pun pulang dan memberikan uang itu kepada istrinya, sebagai jaminan hari tuanya. Sisa hidupnya yang tinggal empat puluh hari itu dipergunakannya untuk merenung, mempersiapkan diri memasuki kehidupan lain. Pada hari keempat puluh ia menghadap raja. "Yang Mulia," katanya, "kerakusanmu telah menyebabkanmu berpikir bahwa uang akan bisa mendatangkan Kidir. Tetapi Kidir, kata orang, tidak akan muncul oleh panggilan yang berdasarkan kerakusan." Sang Raja sangat marah. "Orang celaka, kalau telah mengorbankan nyawamu; siapa pula kau ini berani mencampuri keinginan seorang raja?" Bakhtiar berkata, "Menurut dongeng, semua orang bisa bertemu Kidir, tetapi pertemuan itu hanya akan ada manfaatnya apabila maksud orang itu benar. Mereka bilang, Kidir akan menemui orang selama ia bisa memanfaatkan saat kunjungan itu. Itulah hal yang kita tidak menguasainya." "Cukup ocehan itu," kata Sang Raja, "sebab tak akan memperpanjang hidupmu. Hanya tinggal meminta para menteri yang berkumpul di sini agar memberikan nasehatnya tentang cara yang terbaik untuk menghukummu." Ia menoleh ke Menteri Pertama dan berkata, "Bagaimana cara orang itu mati?" Menteri Pertama menjawab, "Panggang dia hiduphidup, sebagai peringatan." Menteri Kedua, yang berbicara sesuai urutannya berkata, "Potongpotong tubuhnya, pisahpisahkan anggota badannya." Menteri Ketiga berkata, "Sediakan kebutuhan hidup orang itu, agar ia tidak lagi mau menipu demi kelangsungan hidup keluarganya." Sementara pembicaraan itu berlangsung, seorang bijaksana yang sudah sangat tua memasuki ruang pertemuan. Segera orang mengajukan pendapat sesuai dengan prasangka yang tersembunyi dalam dirinya. "Apa maksudmu?" tanya Raja. "Maksudku, Menteri Pertama itu aslinya tukang roti, jadi ia berbicara tentang panggangmemanggang. Menteri Kedua dulu tukang daging, jadi ia bicara Kisah Sufi Idries Shah www.imamsutrisno.blogspot.com 9 tentang potongmemotong daging. Menteri Ketiga, yang telah mempelajari ilmu kenegaraan, melihat sumber masalah yang kita bicarakan ini. Catat dua hal ini: Pertama, Kidir muncul melayani setiap orang sesuai dengan kemampuan orang itu untuk memanfaatkan kedatangannya. Kedua, Bakhtiar, orang iniyang kuberi nama Baba karena pengorbanannyatelah didesak oleh keputusasaan untuk melakukan tindakan tersebut. Keperluannya semakin mendesak sehingga akupun muncul didepanmu." Ketika orangorang itu memperhatikannya, orang tua yang bijaksana itupun lenyap begitu saja. Sesuai dengan yang diperintahkan Kidir. Raja memberikan belanja teratur kepada Bakhtiar. Menteri Pertama dan kedua dipecat, dan seribu keping uang emas itu dikembalikan ke kas kerajaan oleh Bakhtiar dan istrinya. Bagaimana Raja bisa bertemu Kidir lagi, dan apa yang terjadi antara keduanya? Itu semua ada dalam dongeng di Dunia Gaib. Catatan: Konon, Bakhtiar Baba adalah seorang Sufi bijaksana yang hidupnya sangat sederhana dan tak dikenal orang di Korasan, sampai peristiwa yang ada dalam kisah itu terjadi. Kisah ini, dikatakan juga terjadi atas sejumlah besar Syeh Sufi lain, menggambarkan pengertian tentang terjalinnya keinginan manusia dengan "makhluk" lain. Kidir merupakan penghubung antara keduanya. Judul ini diambil dari sebuah sajak terkenal karya Jalaludin Rumi: Peralatan baru bagi pemahaman akan ada apabila keperluan menuntutnya. Karenanya, Wahai manusia, jadikan keperluanmu makin mendesak, sehingga kau bisa mendesakkan pemahamanmu lebih peka lagi. Versi ini diucapkan oleh seorang guru darwis dari Afganistan. Bayazid dan Orang Bodoh Pada suatu hari, seseorang mengomel kepada Bayazid, seorang ahli mistik pada abad kesembilan, mengatakan bahwa ia telah berpuasa dan berdoa dan berbuat segalanya selama tiga puluh tahun namun tidak juga menemukan kesenangan seperti yang digambarkan Bayazid. Bayazid menjawab, orang itu bisa saja melanjutkan perbuatannya tiga ratus tahun lagi tanpa mendapatkan kesenangan juga. "Mengapa begitu?" tanya Si SokSaleh. "Sebab kesombonganmu merupakan halangan utama bagimu." "Coba katakan apa obatnya." "Obatnya tak akan bisa kau laksanakan." "Bagaimanapun, katakan sajalah." Kisah Sufi Idries Shah www.imamsutrisno.blogspot.com 10 Bayazid pun berkata, "Kau harus pergi ke tukang pangkas rambut untuk mencukur janggutmu, (yang terhormat, itu). Lepaskan semua pakaianmu dan kenakan korset. Isi sebuah kantong kuda dengan kenari sampai penuh, lalu gantungkan di lehermu. Pergilah ke pasar dan berteriaklah, 'akan kuberikan sebutir kenari kepada setiap anak yang memukul tengkukku.' Kemudian lanjutkan perjalananmu ke sidang pengadilan agar semua orang menyaksikanmu." "Tetapi aku tak bisa melakukan itu; coba katakan cara lain yang sama manfaatnya." "Itu langkah pertama, dan satusatunya cara," kata Bayazid, "Tetapi sudah aku katakan kepadamu bahwa kau tak akan bisa melakukannya; jadi tak ada obat bagimu." Catatan: AlGhazali, dalam Alkemia Kebahagiaan, mempergunakan ibarat ini untuk menekankan pernyataan yang sering diulangulangnya bahwa sementara orang, betapapun jujur tampaknya usaha mencari kebenaran itu bagi dirinya sendiri dan bahkan mungkin juga bagi orang lainnyatanya kadangkadang didasari kesombongan atau mencari untung sendiri, halhal yang merupakan halangan utama bagi pencarian kebenarannya. Batas Dogma Pada suatu hari, Sultan Mahmud yang Agung berada dijalan di Ghazna, ibu kota negerinya. Dilihatnya seorang kuli mengangkut beban berat, yakni sebungkah batu yang didukung di punggungnya. Karena rasa kasihan terhadap kuli itu, Mahmud tidak bisa menahan perasaannya, katanya memerintah: "Jatuhkan batu itu, kuli." Perintah itupun langsung dilaksanakan. Batu tersebut berada di tengah jalan, merupakan gangguan bagi siapapun yang ingin lewat, bertahuntahun lamanya. Akhirnya sejumlah warga memohon raja agar memerintahkan orang memindahkan batu itu. Namun Mahmud, menyadari akan kebijaksanaan administratif, terpaksa menjawab. "Hal yang sudah dilaksanakan berdasarkan perintah, tidak bisa dibatalkan oleh perintah yang sama derajatnya. Sebab kalau demikian, rakyat akan beranggapan bahwa perintah raja hanya berdasarkan kehendak sesaat saja. Jadi, biar saja batu itu disitu." Oleh karenanya batu tersebut tetap berada di tengah jalan itu selama masa pemerintahan Mahmud. Bahkan ketika ia meninggal batu itu tidak dipindahkan, karena orangorang masih menghormati perintah raja. Kisah Sufi Idries Shah www.imamsutrisno.blogspot.com 11 Kisah itu sangat terkenal. Orangorang mengambil maknanya berdasarkan salah satu dari tiga tafsiran, masingmasing sesuai dengan kemampuannya. Mereka yang menentang kepenguasaan beranggapan bahwa kisah itu merupakan bukti ketololan penguasa yang berusaha mempertahankan kekuasaannya. Mereka yang menghormati kekuasaan merasa hormat terhadap perintah, betapapun tidak menyenangkannya. Mereka yang bisa menangkap maksudnya yang benar, bisa memahami nasehat yang tersirat. Dengan menyuruh menjatuhkan batu di tempat yang tidak semestinya sehingga merupakan gangguan, dan kemudian membiarkannya berada disana, Mahmud mengajar kita agar mematuhi penguasa duniawi dan sekaligus menyadarkan kita bahwa siapapun yang memerintah berdasarkan dogma kaku, tidak akan sepenuhnya berguna bagi kemanusiaan. Mereka yang menangkap makna ini akan mencapai taraf pencari kebenaran, dan akan bisa menambah jalan menuju Kebenaran. Catatan: Kisah ini muncul dalam karya klasik yang terkenal, AkhlaqiMohsini 'Akhlak Dermawan,' ciptaan Hasan Waiz Kashifi; hanya saja tanpa tafsir seperti yang ada dalam versi ini. Versi ini merupakan bagian ajaran syeh Sufi Daud dari Qandahar, yang meninggal tahun 1965. Kisah ini merupakan pengungkapan yang bagus tentang pelbagai taraf pemahaman terhadap tindakan; masingmasing orang akan menilainya berdasarkan pendidikannya. Metode penggambaran tak langsung yang dipergunakan Sultan Mahmud itu dianut pada Sufi, dan bisa diringkaskan dalam ungkapan, "Bicaralah kepada dinding, agar pintu bisa mendengar." Isa dan orangorang yang bimbang Diceritakan oleh Sang Guru Jalaludin Rumi dan yang lainlain, pada suatu hari Isa, putra Mariam, berjalanjalan di padang pasir dekat Baitulmukadis bersamasama sekelompok orang yang masih suka mementingkan diri sendiri. Mereka meminta dengan sangat agar Isa memberitahukan kepada mereka Kata Rahasia yang telah dipergunakannya untuk menghidupkan orang mati. Isa berkata, "Kalau kukatakan itu padamu, kau pasti menyalahgunakannya." Mereka berkata, "Kami sudah siap dan sesuai untuk pengetahuan semacam itu; tambahan lagi, hal itu akan menambah keyakinan kami." "Kalian tak memahami apa yang kalian minta," katanya tetapi diberitahukannya juga Kata Rahasia itu. Kisah Sufi Idries Shah www.imamsutrisno.blogspot.com 12 Segera setelah itu, orangorang tersebut berjalan di suatu tempat yang terlantar dan mereka melihat seonggok tulang yang sudah memutih. "Mari kita uji keampuhan Kata itu," kata mereka, Dan diucapkanlah Kata itu. Begitu Kata diucapkan, tulangtulang itupun segera terbungkus daging dan menjelma menjadi seekor binatang liar yang kelaparan, yang kemudian merobekrobek mereka sampai menjadi serpihserpih daging. Mereka yang dianugerahi nalar akan mengerti. Mereka yang nalarnya terbatas bisa belajar melalui kisah ini. Catatan: Isa dalam kisah ini adalah Yesus, putra Maria. Kisah ini mengandung gagasan yang sama dengan yang ada dalam Magang Sihir, dan juga muncul dalam karya Rumi, di samping selalu muncul dalam dongengdongeng lisan para darwis tentang Yesus. Jumlah dongeng semacam itu banyak sekali. Yang sering disebutsebut sebagai tokoh yang suka mengulangngulang kisah ini adalah salah seorang di antara yang berhak menyandang sebutan Sufi, Jabir putra alHayan, yang dalam bahasa Latin di sebut Geber, yang juga penemu alkimia Kristen. Ia meninggal sekitar 790. Aslinya ia orang Sabia, menurut para pengarang Barat, ia membuat penemuanpenemuan kimia penting.