

 

 

II. K U R U ICD-9 46.0; ICD-10 A81.8 

 

Penyakit susunan saraf pusat dengan gejala ataxia cerebellar, gerak tidak beraturan, tremor 
(gemetaran), kaku pada penderita usia 4 tahun dan dewasa, terjadi penurunan berat badan dan 
kelemahan progresif. Penyakit ini menyerang wanita dan anak-anak dari kelompok suku yang 
menggunakan bahasa utama yang tinggal didataran tinggi di Papua Nugini. Penyakit ini 
disebabkan oleh agen berukuran kecil yang dapat mereplikasi sendiri dan ditularkan kepada 
hewan primata dan hewan lain. 


Kuru ditularkan melalui praktek dan cara pemakaman tradisional yang berlaku di Papua 
Nugini dimana pada upacara pemakaman tersebut terjadi pemajanan terhadap jaringan tubuh 
jenazah penderita termasuk adanya praktek kanibalisme. 

 

Dahulu penyakit Kuru sempat sangat banyak dan sering ditemukan di Papua Nugini, sekarang 
setiap tahun dilaporkan hanya sekitar 10 orang penderita. 

 

 

 

ENTEROBIASIS ICD-9 127.4; ICD-10 B80 

(Oxyuriasis, Infeksi cacing Kremi (Pinworm)) 

 

 

1. Identifikasi 

 Infeksi cacing perut yang paling umum terjadi, tanpa gejala, biasanya dubur terasa gatal, 
tidur terganggu (tidak bisa tidur), lecet sekitar dubur dan kadang-kadang terjadi infeksi 
sekunder pada kulit dubur karena digaruk menjadi lecet. Manifestasi klinis lainnya 
termasuk vuvovaginitis, salpingitis, granulomata pada pinggul. Radang usus buntu 
(apendiksitis) dan enuresis pernah dilaporkan sebagai akibat infeksi cacing kremi tetapi 
sangat jarang. 

 Diagnosa dibuat dengan pemeriksaan sediaan yang dibuat dari usap dubur (anal swab) 
yang diambil dengan cara melekatkan “Scotch adhesive tape” pada dubur. Dilakukan 
pemeriksaan mikroskopis untuk melihat adanya telur cacing. Pengambilan usap dubur 
sebaiknya dilakukan pada pagi hari sebelum mandi dan buang air besar. Pemeriksaan 
diulang sebanyak tiga kali atau lebih sebelum menyatakan hasilnya negatif. Kadang telur 
cacing ditemukan pada pemeriksaan tinja atau urin. Cacing betina ditemukan dalam tinja 
dan disekitar dubur pada saat dilakukan pemeriksaan rectum dan vagina. 

 

2. Penyebab Penyakit 

 Penyebab penyakit adalah nematoda usus Enterobius vermicularis. 

 

3. Distribusi Penyakit 

 Tersebar luas di seluruh dunia terjadi pada semua golongan sosial ekonomi dan di 
beberapa wilayah tingkat infeksinya sangat tinggi. Enterobiasis sangat umum ditemukan 
di AS, prevalensi infeksi cacing paling tinggi pada anak-anak usia sekolah, pada 
kelompok tertentu bisa mencapai 50%. Kemudian diikuti anak prasekolah, dan prevalensi 
infeksi rendah pada orang dewasa kecuali pada ibu yang mendapatkan infeksi dari 
anaknya. Infeksi sering terjadi pada lebih dari satu anggota keluarga. Prevalensi tertinggi 
paling sering terjadi di asrama. 

 

4. Reservoir 

 Manusia, cacing kremi pada hewan lain tidak menular pada manusia. 

 

5. Cara Penularan 

 Kontak langsung dengan telur cacing kremi infektif melalui tangan, dari dubur, 
selanjutnya ke mulut sendiri atau ke orang lain atau secara tidak langsung melalui 


pakaian, tempat tidur, makanan atau bahan-bahan lain yang terkontaminasi oleh telur 
cacing kremi tersebut. Penularan melalui debu biasa terjadi pada rumah tangga dan asrama 
yang terkontaminasi berat. 

 Telur cacing menjadi infektif beberapa jam setelah diletakkan dipermukaan dubur oleh 
cacing betina, telur dapat hidup kurang dari 2 minggu diluar pejamu. Larva dari telur 
cacing kremi menetas di usus kecil. Cacing muda menjadi dewasa di cecum dan bagian 
atas dari usus (cacing betina yang pada masa gravid bermigrasi ke anus dan vagina 
menyebabkan pruritus setempat). Cacing kremi yang gravid biasanya migrasi secara aktif 
dari rectum dan dapat masuk ke lubang-lubang yang berdekatan. 

 

6. Masa Inkubasi 

 Siklus hidup cacing kremi dari telur sampai dewasa kurang lebih 2-6 minggu. Gejala 
cacing kremi muncul karena adanya cacing yang banyak dalam usus dan karena infeksi 
ulang. 

 

7. Masa Penularan 

 Selama cacing betina yang sedang gravid mengeluarkan telur di sekitar anus. Telur yang 
berada di dalam rumah dapat bertahan selama 2 minggu. 

 

8. Kerentanan dan Kekebalan 

 Semua orang rentan terhadap enterobiasis. Perbedaan intensitas dan frekuensi infeksi 
tergantung pada perbedaan cara pemajanan. 

 

9. Cara-cara Pemberantasan 

 A. Cara Pencegahan 

1) Berikan penyuluhan kepada masyarakat tentang kebersihan perorangan: cuci 
tangan sebelum makan atau sebelum menyiapkan makanan, jaga kebersihan kuku, 
kuku sebaiknya dipotong pendek, jangan mengaruk-garuk daerah sekitar anus, dan 
tinggalkan kebiasaan mengigit-gigit kuku. 
2) Menghilangkan sumber infeksi dengan cara memberi pengobatan terhadap 
penderita secara tuntas. 
3) Mandi setiap pagi dengan air mengalir “shower” atau mandi dengan berendam 
dalam bak mandi. 
4) Gantilah pakaian dalam, baju tidur dan sprei setiap hari, sebaiknya dilakukan 
setelah mandi. 
5) Bersihkan rumah dan sedot dengan penyedot vakum setiap hari selama beberapa 
hari setelah pengobatan kasus. 
6) Kurangi jumlah penghuni rumah yang ada penderita cacing kremi untuk 
menghindari penularan. 
7) Anjurkan masyarakat menggunakan jamban keluarga yang sesuai standar dan 
selalu merawat kebersihan jamban tersebut. 





B. Penanganan Penderita, Kontak dan Lingkungan Sekitar 

1) Laporan kepada instansi kesehatan setempat: Tidak diperlukan laporan formal 
untuk tindak lanjut kasus tersebut (lihat pelaporan tentang penyakit menular). 
2) Isolasi: Tidak perlu. 



3) Desinfeksi serentak: Ganti sprei dan pakaian dalam pasien yang terinfeksi setiap 
hari, dilakukan beberapa hari setelah pengobatan, dilakukan dengan hati-hati agar 
telur cacing tidak beterbangan di udara, gunakan baju tidur yang tertutup. Telur 
cacing akan mati jika dipanaskan dengan suhu 55ºC (131°) dalam beberapa detik; 
rebus sprei atau gunakan mesin cuci yang baik untuk mencuci kain tersebut pada 
suhu panas. Bersihkan dan gunakan penyedot debu untuk membersihkan tempat 
tidur dan ruang keluarga setiap hari, dilakukan selama beberapa hari setelah 
pengobatan. 
4) Karantina: Tidak perlu. 
5) Imunisasi kontak: Tidak perlu. 
6) Investigasi kontak dan sumber infeksi: periksa semua anggota keluarga yang 
terinfeksi di rumah, atau semua penghuni asrama yang terinfeksi 
7) Pengobatan spesifik: Pyrantel pamoate (Antiminth®, Combantrin®, mebendazole 
(Vermox®) atau albendazole (Zantel®). Pengobatan diulang setelah 2 minggu. 
Pengobatan dilakukan terhadap seluruh anggota keluarga jika ada beberapa orang 
yang terinfeksi cacing kremi tersebut. 





C. Penanggulangan wabah 

 Jika ditemukan banyak kasus di sekolah atau institusi lain maka upaya pemberantasan 
paling baik adalah dengan cara memberikan pengobatan yang sistematik kepada 
mereka yang terinfeksi dan kepada anggota keluarga yang kontak dengan mereka yang 
terinfeksi. 

 

D. Implikasi menjadi bencana: Tidak ada. 

 

E. Penanganan Internasional: Tidak perlu. 

 

 

 

 

ERITEMA INFEKSIOSUM ICD-9 057.0; ICD-10 B08.3 

Infeksi Parvovirus pada manusia; Fifth Disease 

 

1. Identifikasi 

 Eritema infeksiosum adalah penyakit virus ringan, umumnya tidak disertai demam, 
ditandai dengan adanya erupsi eritematus yang muncul secara sporadis atau dalam bentuk 
KLB. Umumnya menyerang anak-anak. Ciri-ciri penyakit tersebut: pipi kemerahan yang 
muncul tiba-tiba seperti habis ditampar dan sering disertai ruam seperti renda pada tubuh 
dan ekstremitas. Tanda seperti itu berulang sampai 1-3 minggu atau lebih, jika terkena 
sinar matahari atau panas. Gejala umum ringan muncul mendahului timbulnya ruam pada 
orang dewasa, bentuk ruam tidak khas atau belum tentu ada, namun gejala arthralgia atau 
arthritis yang dapat berlangsung selama beberapa bulan atau beberapa tahun; 25% kasus 
tanpa gejala. Penyakit ini perlu dibedakan dengan rubella, eritema multiforme dan scarlet 
fever. Komplikasi yang berat pada penyakit ini jarang namun dapat terjadi pada penderita 
yang menderita anemia yang memerlukan peningkatan produksi sel darah merah 
(misalnya pada penderita sickle cell), dapat berkembang menjadi TAC (Transient Aplastic 


Crisis). Hal ini dapat terjadi tanpa didahului munculnya ruam. Infeksi intra uterin terjadi 
pada trimester kedua kehamilan dan dapat menyebabkan anemia pada janinnya dengan 
hidreopfetalis dan dapat berakibat kematian pada janin; kurang dari 10% dari kasus yang 
ada. Pada orang dengan kelainan sistem kekebalan akan menderita anemia kronis yang 
berat. Dan penyakit lain yang muncul bersamaan dengan infeksi parvovirus dilaporkan 
pernah terjadi yang tidak mempunyai hubungan kausatif seperti: remathoid arthritis, 
vasculitis, fulminant hepatitis dan myocarditis. Diagnosa biasanya dibuat berdasarkan 
gejala klinis dan data epidemiologi. Konfirmasi diagnosa dibuat melalui tes laboratorium 
dengan ditemukan adanya IgM antibody terhadap parvovirus B19 atau adanya kenaikan 
titer antibody IgG terhadap B19. IgM akan turun dalam waktu 30-60 hari setelah timbul 
gejala. Diagnosis infeksi B19 juga dapat dibuat dengan pemeriksaan untuk melihat 
antigen virus dari PCR DNA untuk B19 merupakan tes yang sangat sensitif dan hasilnya 
sudah positif pada bulan pertama setelah infeksi akut dan pada beberapa orang lebih lama 
dari itu. 

 

2. Penyebab Penyakit 

 Penyebab infeksi adalah parvovirus B19 pada manusia yaitu virus DNA yang berukuran 
20-25 nm termasuk famili parvoviridae, virus bereplikasi terutama dalam erythroid 
precursor cell. 

 

3. Distribusi Penyakit 

 Tersebar luas hampir di seluruh dunia. Pada umumnya menyerang anak-anak dalam 
bentuk sporadis atau KLB. Di Amerika Serikat prevalensi antibodi IgG terhadap virus 
B19 sekitar 5-15% pada anak-anak usia dibawah 5 tahun, sedangkan orang dewasa 50%-
80%. Di daerah subtropis KLB cenderung pada musim dingin dan musim semi dengan 
siklus 3-7 tahun. 

 

4. Reservoir: Manusia. 

 

5. Cara Penularan 

 Infeksi terutama terjadi karena kontak dengan sekret dari saluran napas penderita 
parvovirus. Penularan dapat dari ibu ke janinnya melalui transfusi darah atau produk 
darah. Virus B19 sangat resisten terhadap berbagai upaya inaktivasi termasuk dengan 
pemanasan pada suhu 80°C selama 72 jam. 

 

6. Masa Inkubasi 

 Masa inkubasi bervariasi, 4-20 hari sampai munculnya ruam atau munculnya gejala krisis 
aplastik. 

 

7. Masa Penularan 

 Pada penderita yang hanya menunjukkan gejala klinis berupa ruam saja, penularan terjadi 
sebelum timbulnya ruam, setelah muncul ruam penderita tidak menular lagi. Namun pada 
penderita dengan krisis aplastik menular sampai 1 minggu setelah timbul gejala tersebut. 
Pada orang dengan gangguan sistem kekebalan tubuh dengan infeksi kronis dan pada 
orang yang menderita anemia berat, tetap menular dalam waktu berbulan-bulan bahkan 
bertahun-tahun. 


8. Kerentanan dan Kekebalan 

 Mereka dengan golongan darah yang mengandung “antigen P” rentan terhadap penyakit 
ini; adanya kekebalan ditandai dengan munculnya antibody B19. Reseptor B19 pada sel 
erythroid adalah antigen golongan darah P. Attack rate pada mereka yang rentan sangat 
tinggi dapat mencapai 50% pada orang yang kontak dengan penderita serumah, 10-60% 
terjadi pada penitipan anak atau di sekolah dan lama KLB dapat berlangsung selama 2-6 
bulan. Di Amerika Serikat 50-80% orang dewasa mempunyai serologi positif sebagai 
bukti pernah mengalami infeksi, tergantung umur dan lokasi tempat tinggalnya. 

 

9. Cara Pemberantasan 

A. Cara-cara Pencegahan 

1) Secara umum penyakit ini sangat ringan, pencegahan difokuskan kepada mereka 
yang cenderung terjadi komplikasi yaitu terhadap orang yang menderita anemia 
kronis dan terhadap mereka dengan gangguan sistem kekebalan serta terhadap ibu 
yang sedang hamil yang rentan terhadap virus B19. Kepada mereka ini harus 
dicegah terhadap infeksi parvovirus dengan menjauhi penderita yang sedang 
dirawat di rumah sakit atau pada saat terjadi wabah. Belum dilakukan uji coba 
efikasi penggunaan/pemberian IgG. 
2) Wanita rentan yang sedang hamil atau yang akan hamil dan secara terus-menerus 
berada dekat dengan penderita infeksi virus B19, misalnya di sekolah, di rumah, di 
fasilitas pelayanan kesehatan perlu diberi penjelasan bahwa mereka sangat 
potensial mendapat infeksi yang dapat menyebabkan terjadinya komplikasi 
terhadap janin yang dikandung. Wanita hamil yang mempunyai anak dengan 
infeksi B19 dianjurkan untuk sesering mungkin mencuci tangan dan menghindari 
makan bersama dalam satu piring. 
3) Perawatan kesehatan pada pekerja sangat penting dianjurkan agar terhindar dari 
infeksi, jarang terjadi infeksi nosokomial pada saat wabah. 





B. Penanganan Penderita, Kontak dan Lingkungan Sekitar 

1) Laporan kepada instansi kesehatan setempat, jika terjadi wabah, Kelas 4 (lihat 
pelaporan tentang penyakit menular). 
2) Isolasi: Tidak praktis dilakukan pada masyarakat luas. Terhadap penderita krisis 
transient aplastik di rumah sakit diberlakukan kewaspadaan umum terhadap 
penularan melalui percikan ludah (droplet). Walaupun anak-anak yang terinfeksi 
B19 sudah menular sebelum menunjukkan gejala sakit, haruslah hati-hati sekali 
mengijinkan mereka untuk tidak masuk sekolah pada saat demam. 
3) Desinfeksi serentak: sangat dianjurkan mencuci tangan setelah kontak dengan 
penderita. 
4) Karantina: Tidak perlu. 
5) Imunisasi terhadap kontak: Dapat diberikan vaksin recombinant dari kapsid B19. 
Diberikan pada stadium awal dari perjalanan penyakit. 
6) Investigasi terhadap kontak dan sumber infeksi: Wanita hamil yang terpajan virus 
B19 segera dilakukan pemeriksaan antibodi IgG dan IgM untuk menentukan 
kerentanan mereka dan membantu memberikan konseling tentang risiko pada 
bayinya. 



7) Pengobatan spesifik: Diberikan serum Imunoglobulin intravena (IG IV). Hal ini 
telah dilakukan dengan hasil baik pada kasus anemia kronis walaupun relaps bisa 
terjadi lagi sehingga perlu diberikan IGIV lagi. 





C. Penanganan wabah 

 Selama terjadi wabah di sekolah atau pada penitipan anak, mereka yang menderita 
anemia, mereka dengan gangguan sistem kekebalan dan wanita hamil harus diberitahu 
bahwa mereka berisiko terinfeksi virus B19. 

 

D. Implikasi menjadi bencana: Tidak ada. 

 

E. Penanganan Internasional: Tidak perlu. 

 

 

 

EXANTHEMA SUBITUM ICD-9 057.8; ICD-10 B08.2 

(Sixth disease, Roseola infantum) 

 

 

1. Identifikasi 

 Exanthema subitum adalah penyakit akut, demam disertai ruam yang disebabkan oleh 
virus, biasanya menyerang anak-anak dibawah umur 4 tahun dan paling sering terjadi 
pada anak sebelum usia 2 tahun. Merupakan salah satu manifestasi dari penyakit-penyakit 
yang disebabkan oleh infeksi herpes virus 6B pada manusia (HHV-6B). 

 Demam hilang, kadang-kadang mencapai 41°C (106°F) muncul tiba-tiba dan hilang dalam 
waktu 3-5 hari. Ruam makulopapuler muncul pada badan dan bagian lain dari badan yang 
biasanya muncul setelah demam berkurang. Ruam biasanya hilang dengan cepat, biasanya 
ringan, tetapi pernah dilaporkan adanya kejang demam. 

 Spektrum penyakit pada anak saat ini telah diketahui, termasuk demam tanpa ruam, 
radang pada gendang telinga dan jarang terjadi meningoensefalitis, dapat terjadi serangan 
kejang demam berulang atau hepatitis fulminan. Pada orang dewasa pernah ditemukan 
sindroma monokleusis dan pada orang dengan gangguan sistem imunitas, pneumonitis 
juga dilaporkan. Infeksi HHV-6 dapat juga menimbulkan gejala dan dapat terjadi infeksi 
menahun. 

 Membedakan exanthema subitum dengan penyakit serupa yang dapat dicegah dengan 
imunisasi (PD3I) seperti campak dan rubella perlu dilakukan. Diagnosa dapat ditegakkan 
dengan pemeriksaan “paired sera” untuk melihat antibodi dari HHV-6 dengan teknik IFA 
atau dengan isolasi virus HHV-6. Pemeriksaan terhadap Ig M saat ini tidak ada. Respons 
IgM biasanya tidak terdeteksi sampai dengan kurang dari 5 hari dari saat timbulnya gejala. 
Ditemukannya DNA dari HHV-6 dalam darah dengan teknik PCR dimana IgG tidak 
terdeteksi, teknik ini dimasa yang akan datang menjanjikan sebagai cara praktis untuk 
mendiagnosa penyakit ini secara cepat. 

 

2. Penyebab Penyakit 

 Herpes virus 6 pada manusia (subfamili beta herpes virus, genus Roseolovirus). Sebagai 
penyebab utama exanthema subitum. HHV-6 dapat dibagi dalam HHV-6A dan HHV-6B 


dengan menggunakan teknik monoclonal. Kebanyakan infeksi HHV-6 pada manusia 
disebabkan oleh HHV-6B. Exanthema subitum dapat juga disebabkan oleh herpes virus 7 
pada manusia. 

 

3. Distribusi Penyakit 

 Exanthema subitum tersebar luas hampir di seluruh dunia. Di Jepang, AS, Inggris dan 
Hongkong dimana gambaran seroepidemiologi dari infeksi HHV-6 telah diketahui dengan 
jelas, insidensi tertinggi pada usia 6-12 tahun, sedangkan pada usia 2 tahun sero prevalensi 
HHV-6 sekitar 65-100%. Pada wanita usia subur seroprevalensi sekitar 80-100%. Angka 
ini hampir sama di seluruh dunia. Jarang sekali terjadi KLB yang nyata dari exanthema 
subitum maupun HHV-6. variasi musiman ditemukan di Jepang yaitu timbul terutama 
pada akhir musim dingin atau awal musim semi. 

 

4. Reservoir 

 Manusia merupakan reservoir utama dari infeksi HHV-6. 

 

5. Cara Penularan 

 Tidak diketahui dengan pasti. Pada anak-anak terjadinya infeksi setelah antibodi yang 
diperoleh dari ibu menurun. Prevalensi DNA dari HHV-6 yang tinggi ditemukan pada 
kelenjar ludah orang dewasa membuktikan bahwa orang dewasa berperan sebagai 
pembawa virus yang menyebabkan terjadinya infeksi pada anak-anak. Namun penelitian 
di AS menunjukkan bahwa angka infeksi spesifik menurut umur (age specific infection 
rate) meningkat jika ada lebih dari satu orang anak dalam keluarga. Hal ini membuktikan 
bahwa anak berperan juga sebagai reservoir. Transplantasi ginjal atau hati dari donor yang 
menderita infeksi HHV-6 dapat mengakibatkan terjadinya infeksi primer pada resipien 
yang seronegatif. 

 

6. Masa Inkubasi 

 Masa inkubasi 10 hari dan biasanya sekitar 5-15 hari. Pada orang yang menerima cangkok 
ginjal atau hati, masa inkubasi 2-4 minggu setelah pencangkokan. 

 

7. Masa Penularan 

 Pada infeksi akut, masa penularan tidak diketahui secara pasti. Setelah infeksi akut virus 
menjadi laten di kelenjar limfe, ginjal, hati, kelenjar ludah dan dalam sel monosit. Lama 
masa penularan setelah fase laten ini belum diketahui, diperkirakan seumur hidup. 

 

8. Kerentanan dan Kekebalan 

 Semua orang rentan terhadap infeksi virus tersebut. Angka infeksi pada bayi yang 
berumur kurang dari 6 bulan rendah dan meningkat cepat dengan bertambahnya usia. Hal 
ini membuktikan bahwa perlindungan sementara pada bayi didapat dari antibodi maternal. 
Penderita infeksi sekunder exanthema subitum jarang ditemukan. Infeksi laten dapat 
terjadi hampir pada semua orang tanpa gejala klinis yang berarti, gejala klinis nampak 
jelas pada mereka yang mempunyai gangguan sistem kekebalan. Gejala klinis pada 
penderita dengan infeksi primer mungkin berat dan gejala klinis ini berlangsung lama jika 
infeksi terjadi pada orang yang mempunyai gangguan sistem kekebalan. 

 


9. Cara-cara Pemberantasan 

 Tidak ada cara pemberantasan yang cukup efektif dan memadai. 

 

A. Cara-cara Pencegahan. 

Dimasa yang akan datang dicari jalan agar transplantasi organ dari donor yang positif 
HHV-6 terhadap resipien yang seronegatif dapat dihindari. 

 

 B. Penanganan Penderita, Kontak dan Lingkungan Sekitar 

1) Laporan kepada instansi kesehatan setempat: Laporan resmi tidak perlu, kelas 5 
(lihat pelaporan tentang penyakit menular). 
2) Isolasi: Di RS dan pada institusi tertentu, tersangka penderita exathema subitum 
harus diisolasi dan diterapkan kewaspadaan universal kontak dan penderita 
ditempatkan di kamar isolasi. 
3) Desinfeksi serentak: Tidak perlu. 
4) Karantina: Tidak perlu. 
5) Imunisasi terhadap kontak: Tidak perlu. Titer antibodi setelah infeksi primer 
cukup untuk mencegah reinfeksi. Dimasa yang akan datang mungkin vaksinasi 
diperlukan. 
6) Investigasi terhadap kontak dan sumber penularan: Tidak perlu, karena penderita 
tanpa gejala klinis di masyarakat prevalensinya sangat tinggi. 
7) Pengobatan spesifik: Tidak ada. 





 C. Penanggulangan wabah: Tidak perlu. 

 

 D. Implikasi menjadi bencana: Tidak ada. 

 

 E. Penanganan Internasional: Tidak ada. 

 

 

 

FASCIOLIASIS ICD-9 121.3; ICD-10 B66.3 

 

 

1. Identifikasi 

 Penyakit hati yang disebabkan oleh cacing trematoda merupakan parasit yang secara 
alamiah hidup pada kambing, sapi dan hewan lain sejenis dan tersebar di seluruh dunia. 
Cacing dewasa berbentuk pipih berukuran sekitar 3 cm, hidup dalam saluran empedu. 
Cacing muda hidup dalam parenchim hati dan dapat menyebabkan kerusakan parenchim 
hati dan kerusakan jaringan serta hepatomegali. Pada saat awal invasi kedalam parenchim 
hati kuadran kanan atas terasa sakit, fungsi hati tidak normal dan terjadi eosinofilia. 
Setelah migrasi kedalam kelenjar empedu dapat menimbulkan kolik empedu dan icterus 
obstructive. Infeksi ektopik terutama disebabkan oleh Fasciola gigantica yang bisa 
menyebabkan peradangan di kulit, berpindah-pindah di badan dan bagian tubuh yang lain. 

 Diagnosa ditegakkan dengan menemukan telur cacing didalam tinja atau didalam aspirat 
empedu yang diambil melalui duodenum. Diagnosa serologis dapat dilakukan di beberapa 
laboratorium. Diagnosa palsu bisa saja terjadi pada seseorang yang dalam tinjanya 


ditemukan telur cacing infertile beberapa saat setelah orang tersebut mengkonsumsi hati 
dari hewan yang terinfeksi. 

 

2. Penyebab Penyakit: 

 Fasciola hepatica dan jarang oleh F. gigantica. 

 

3. Distribusi Penyakit 

 Infeksi pada manusia dilaporkan terjadi di daerah peternakan kambing dan sapi di 
Amerika Selatan, Karibia, Eropa, Australia, Timur Tengah dan Asia. Kasus sporadis 
dilaporkan di Amerika Serikat. F. gigantica ditemukan terbatas hanya di Afrika, Pasifik 
sebelah barat dan Hawai. 

 

4. Reservoir 

 Manusia adalah induk semang kebetulan. Siklus infeksi alamiah terjadi dan bertahan 
diantara beberapa spesies hewan, terutama pada kambing, sapi dan keong famili 
Lymnaeidae. Sapi, kerbau air dan mamalia besar lainnya menjadi reservoir F. gigantica. 

 

5. Cara Penularan 

 Telur yang dikeluarkan melalui tinja akan menjadi matang dalam air dan sekitar 2 minggu 
telur akan menetas mengeluarkan mirasidium. Dan mirasidium masuk ke dalam tubuh 
keong air, dalam keong air mirasidium akan membentuk serkaria dalam jumlah yang 
banyak dan keluar dari keong berenang mencari dan melekat pada tumbuh-tumbuhan air 
kemudian membentuk kista (metaserkaria) yang tahan kering. Infeksi terjadi apabila 
memakan tumbuhan air yang tidak dimasak yang mengandung metaserkaria (seperti 
salada air). Kemudian larva mencapai susu dan migrasi menembus dinding usus masuk 
kedalam cavum peritoneal, kemudian masuk ke dalam hati dan tumbuh berkembang lalu 
masuk ke dalam saluran empedu dan cacing dewasa mengeluarkan telur dalam waktu 3-4 
bulan setelah infeksi. 

 

6. Masa Inkubasi: sangat bervariasi. 

 

7. Masa Penularan 

 Penularan dari manusia ke manusia tidak terjadi secara langsung. 

 

8. Kerentanan dan Kekebalan 

 Semua orang dan semua umur rentan terhadap infeksi cacing Fasciola dan infeksi bisa 
bertahan seumur hidup. 

 

9. Cara-cara Pemberantasan 

 A. Cara-cara Pencegahan 

1) Penyuluhan kesehatan dilakukan di daerah endemis, masyarakat dianjurkan untuk 
tidak makan tumbuh-tumbuhan air dan tumbuh-tumbuhan lainnya yang tidak 
diketahui asalnya, khususnya di daerah dimana kambing dan hewan lain 
merumput. 
2) Hindari penggunaan kotoran kambing untuk memupuk tanaman selada air. 



3) Keringkan tanah, gunakan moluskisida untuk membunuh moluska apabila secara 
teknis dan ekonomis memungkinkan. 





B. Penanganan Penderita, Kontak dan Lingkungan Sekitar 

1) Laporan ke intansi kesehatan setempat. Laporan resmi tidak perlu, Kelas 5 (lihat 
pelaporan tentang penyakit menular). 
2) Isolasi: Tidak perlu. 
3) Desinfeksi serentak: Tidak perlu. 
4) Karantina: Tidak perlu. 
5) Imunisasi terhadap kontak: Tidak perlu. 
6) Investigasi terhadap kontak dan sumber infeksi: menemukan sumber infeksi 
berguna untuk mencegah penularan pada penderita dan orang lain. 
7) Pengobatan spesifik: Upaya pengobatan secara umum tidak memberikan hasil 
yang memuaskan. Pada akhir tahun 1999 obat yang dianjurkan untuk dipakai 
adalah Triclabendazole: semua permintaan untuk pengobatan Fasciola hepatica 
yang ditujukan ke CDC Atlanta dirujuk ke Novartis Pharmacemical AG, Basel, 
Swiss sebagai penyalur obat tersebut. Bithionol (Bitin®) yang sudah tidak 
diproduksi lagi namun masih tersedia di CDC Atlanta untuk keperluan domestik. 
Obat ini tadinya dianggap sebagai obat pilihan namun angka kesembuhannya 
sangat tidak konsisten, begitu juga dengan Prasiquantel. Pada waktu stadium 
migrasi, keluhan dan gejala klinis dapat dikurangi dengan diberikan 
dehydroemetine, chloroquine atau metronidazole. 





C. Penanggulangan wabah 

Cari dan temukan sumber infeksi, tumbuh-tumbuhan serta keong yang terlibat dalam 
rantai penularan. Hindari mengkonsumsi tumbuhan-tumbuhan air dari daerah yang 
terkontaminasi. 

 

D. Implikasi menjadi bencana: Tidak ada. 

 

E. Penanganan Internasional: Tidak perlu. 

 

 

 

 

FASCIOLOPSIASIS ICD-9 121.4; ICD-10 B66.5 

 

 

1. Identifikasi 

 Infeksi trematoda yang menyerang usus halus, biasanya duedenum. Gejala klinis muncul 
sebagai akibat inflamasi lokal, ulserasi dinding dan keracunan sistemik. Biasanya berupa 
diare dan diselingi dengan konstipasi (sembelit); sering juga disertai dengan muntah dan 
tidak nafsu makan. Dalam jumlah besar cacing dapat menimbulkan penyumbatan usus 
akut. Muka penderita bisa terlihat bengkak, oedema pada kaki, dan ascites bisa terjadi 20 
hari setelah infeksi yang masif. Sering dijumpai Eosinofilia dan kadang-kadang anemia 
sekunder. Kematian jarang terjadi dan infeksi ringan jarang menimbulkan gejala. 


Diagnosa dibuat dengan menemukan cacing dewasa berukuran besar atau menemukan 
telur cacing dalam tinja; cacing kadang-kadang dimuntahkan. 

 

2. Penyebab Penyakit 

Penyebab penyakit adalah Fasciolopsis buski, trematoda yang ukuran panjangnya dapat 
mencapai 7 cm. 

 

3. Penyebaran Penyakit 

Tersebar di daerah pedesaan di Asia Tenggara, khususnya di Thailand, China Selatan dan 
Tengah, dan sebagian India. Prevalensi tinggi ditemukan di daerah peternakan babi. 

 

4. Reservoir 

Babi dan manusia merupakan hospes definitif dari cacing dewasa., anjing dapat juga 
terinfeksi tetapi jarang. 

 

5. Cara Penularan 

 Telur yang dikeluarkan melalui tinja, paling sering pada babi, akan menetas dan 
berkembang dalam air dan dalam waktu 3-7 minggu dalam kondisi yang baik menjadi 
miracidia yang akan masuk kedalam tubuh keong yang berperan sebagai hospes 
perantara. Miracidia kemudian berkembang menjadi serkaria dan membentuk kista yang 
melekat pada tumbuhan air menjadi metaserkaria infektif. Manusia terinfeksi karena 
mengkonsumsi sayuran mentah tumbuhan air. Di China, sumber penularan utama adalah 
biji bunga teratai merah yang tumbuh dalam empang, umbi dari tanaman chesnut yang 
tumbuh di air dan umbi dari bambu air. Infeksi sering juga terjadi karena kulit ari lecet 
oleh gigitan. 

 

6. Masa Inkubasi 

Telur ditemukan di dalam tinja sekitar 3 bulan setelah infeksi. 

 

7. Masa Penularan 

 Penularan tetap terjadi selama telur yang fertile masih ada dalam tinja; tanpa pengobatan, 
penularan mungkin dapat berlangsung sampai 1 tahun. Tidak menular secara langsung 
dari manusia ke manusia. 

 

8. Kerentanan dan Kekebalan 

 Semua orang rentan. Pada orang yang kurang gizi, dampak dari penyakit ini lebih terlihat; 
jumlah cacing mempengaruhi berat ringannya penyakit. 

 

9. Cara Pemberantasan 

 A. Cara Pencegahan 

1. Beri penyuluhan kepada penduduk yang berisiko di daerah endemis tentang cara 
penularan dan siklus hidup dari parasit tersebut. 
2. Untuk membasmi telur, buanglah tinja pada jamban saniter, lakukan manajemen 
yang baik terhadap sedotan tinja. 



3. Jauhkan tempat peternakan babi didaerah yang tercemar dimana banyak tumbuhan 
air tumbuh di sana; babi jangan diberi makan tumbuhan air ini. 
4. Keringkan tumbuhan air yang diduga mengandung metaserkaria, atau jika 
tumbuhan air tersebut mau dikonsumsi mentah hendaknya disiram dengan air 
panas selama beberapa detik, kedua cara tersebut dapat membunuh metaserkaria. 





B. Penanganan Penderita, Kontak dan Lingkungan Sekitar 

1. Laporan kepada instansi kesehatan setempat. Di daerah endemis tertentu, hampir 
di seluruh negara di dunia tidak merupakan penyakit yang wajib dilaporkan. Kelas 
3 C (lihat tentang laporan penyakit menular). 
2. Isolasi: tidak perlu. 
3. Disinfeksi serentak: lakukan pembuangan tinja yang saniter. 
4. Karantina: tidak perlu. 
5. Imunisasi terhadap kontak: tidak perlu. 
6. Investigasi terhadap sumber penularan: investigasi terhadap penderita perorangan 
kurang bermanfaat; upaya penanganan lingkungan adalah masalah masyarakat 
(lihat 9 C, di bawah ini). 
7. Pengobatan spesifik : Praziaquantel (Biltricide®) adalah obat terpilih. 





C. Penanggulangan Wabah: 

Kecuali tumbuh-tumbuhan air yang mengandung metaserkaria dan yang biasa 
dimakan segar oleh penduduk, identifikasi spesies keong yang hidup di perairan 
dimana tanaman tersebut tumbuh dan cegah terjadinya kontaminasi badan air tersebut 
dengan kotoran manusia dan kotoran babi. 

 

D. Implikasi menjadi wabah: tidak perlu. 

 

E. Penanganan Internasional: tidak perlu. 

 

 

 

 

FILARIASIS ICD-9 125; ICD-10 B74 

 

 

Istilah filariasis digunakan untuk infeksi yang disebabkan oleh berbagai jenis nematoda dari 
keluarga Filarioidea. Namun istilah ini hanya digunakan untuk filaria yang hidup dalam 
kelenjar limfe seperti tercantum di bawah ini. Sedangkan untuk jenis yang lain merujuk 
kepada bab penyakit yang spesifik yang diuraikan tersendiri. 

 

Filariasis yang disebabkan oleh Wuchereria bancrofti – ICD-9 125.0; ICD-10 B74.0 

(Filariasis bancrofti) 

Filariasis yang disebabkan oleh Brugia malayi – ICD-9 125.1; ICD-10 B74.1 

(Filariasis malayi, Filariasis brugia) 


Filariasis yang disebabkan oleh Brugia timori – ICD-9 125.6; ICD-10 B74.2 

(Filariasis timorean) 

 

 

1. Identifikasi 

 

Filariasis bancrofti 

 

Adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing nematoda Wuchereria bancrofti yang biasanya 
tinggal di sistem limfatik (saluran dan kelenjar limfa) dari penderita. Cacing betina 
menghasilkan mikrofilaria yang dapat mencapai aliran darah dalam 6-12 bulan setelah infeksi. 
Ada jenis filarial yang menunjukkan perbedaan biologis yaitu : pertama dimana mikrofilaria 
ditemukan dalam darah tepi pada malam hari (periodisitas nokturnal) dengan konsentrasi 
maksimal pada pukul 22.00 hingga 02.00, kedua dimana mikrofilaria ditemukan dalam 
darah tepi terus-menerus namun konsentrasi maksimalnya terjadi pada siang hari (diurnal). 
Bentuk yang kedua endemis di Pasifik Selatan dan di daerah pedesaan muncul sebagai fokus 
kecil di Asia Tenggara dimana vektornya adalah nyamuk Aedes yang menggigit siang hari. 

 

Spektrum manifestasi klinis pada daerah endemis filariasis adalah: 

- Mereka yang terpajan namun tetap asimtomatik dan parasitnya negatif 
- Mereka yang asimtomatik dengan mikrofilaremia 
- Mereka yang mengalami demam berulang, limfadenitis dan limfangitis retrograde dengan 
atau tanpa mikrofilaria. 
- Mereka dengan tanda-tanda klinis kronis seperti timbulnya hidrokel, kiluria dan 
elephantiasis pada anggota badan, payudara dan alat kelamin dengan mikrofilaremia 
konsentrasi rendah atau tidak terdeteksi sama sekali 
- Mereka dengan sindrom “tropical pulmonary esosinophilia”, dan mereka dengan 
serangan asma nokturnal paroksismal, mereka dengan penyakit paru-paru interstitial 
kronis, mereka dengan demam ringan yang berulang serta mereka yang menunjukkan 
peningkatan eosinofilia dan adanya mikrofilaria degeneratif dalam jaringan dan bukan 
dalam aliran darah (occult filariasis). 


 




Filariasis Brugia 

 

Disebabkan oleh cacing nematoda Brugia malayi dan Brugia timori. Bentuk periodik 
nokturnal dari Brugia malayi ditemukan pada masyarakat pedesaan yang tinggal di daerah 
persawahan terbuka yang sebagian besar ditemukan di Asia Tenggara. Bentuk subperiodik 
dapat menginfeksi manusia, kera serta hewan karnivora baik hewan peliharaan ataupun 
binatang liar di hutan-hutan Indonesia dan Malaysia. Manifestasi klinis sama dengan filariasis 
bancrofti, kecuali bedanya ada pada serangan akut berupa demam filarial, dengan adenitis dan 
limfangitis retrograde yang lebih parah, sementara kiluria biasanya jarang terjadi dan 
elephantiasis biasanya mengenai ekstremitas bagian bawah (lengan bawah, kaki bagian 
bawah) paling banyak ditemui di bagian kaki di bawah lutut. Limfedema pada payudara dan 
hidrokel jarang ditemukan. 

 


Infeksi Brugia Timori 

 

Ditemukan di Pulau Timor dan di bagian tenggara kepulauan Indonesia. Manifestasi klinis 
sama dengan infeksi yang terjadi pada Brugia malayi. 

Manifestasi klinis filariasis timbul tanpa ditemukannya mikrofilaria dalam darah (occult 
filariasis). Dari ribuan penderita dikalangan tentara Amerika yang diperiksa selama perang 
Dunia II, mikrofilaria ditemukan hanya pada 10 –15 orang penderita dengan pemeriksaan 
darah berulang-ulang. Pada sebagian dari penderita tersebut, infeksi ditandai dengan 
eosinofilia yang sangat jelas terkadang disertai dengan gejala pada paru berupa sindroma 
“tropical pulmonary eosinophilia”. 

Mikrofilaria dengan mudah dapat dideteksi pada waktu mikrofilaremia maksimal. 
Mikrofilaria hidup dapat dilihat dengan mikroskop kekuatan rendah pada tetesan darah tepi 
(darah jari) pada slide atau pada darah yang sudah dihemolisa di dalam bilik hitung. 

Pengecatan dengan giemsa untuk sediaan darah tebal maupun darah tipis dapat dipakai untuk 
mengidentifikasi spesies dari mikrofilaria. Mikrofilaria dapat dikonsentrasikan dengan cara 
filtrasi melalui filter “Nucleopore (dengan ukuran lubang 2-5 µm) dengan adapter Swinney 
dan teknik Knott (sedimentasi dengan sentrifugasi 2 cc darah yang dicampur dengan 10 cc 
formalin 2%) atau dengan “Quantitative Buffy Coat (QBC)” acridine orange dengan teknik 
tabung mikrohematokrit. 

 

2. Penyebab Penyakit 

Cacing panjang halus seperti benang yaitu : 

- Wuchereria bancrofti 
- Brugia malayi 
- Brugia timori. 





3. Penyebaran Penyakit 

 Wuchereria bancrofti endemis di sebagian besar wilayah di dunia di daerah dengan 
kelembaban yang cukup tinggi termasuk Amerika Latin(fokus-fokus penyebaran yang 
tersebar di Suriname, Guyana, Haiti, Republik Dominika dan Costa Rica), Afrika, Asia 
dan Kepulauan Pasifik. Umum ditemukan di daerah perkotaan dengan kondisi ideal untuk 
perkembangbiakan nyamuk. 

 Secara umum periodisitas nokturnal dari daerah endemis Wuchereria di wilayah Pasifik 
yang ditemukan di sebelah barat 140º bujur timur sedangkan dengan subperiodisitas 
diurnal ditemukan di wilayah yang terletak di sebelah timur daerah 180º bujur timur. 

 Brugia malayi endemis di daerah pedesaan di India, Asia Tenggara, daerah pantai utara 
China dan Korea Selatan. 

 Brugia timori keberadaannya di daerah pedesaan di Kepulauan Timor, Flores, Alor dan 
Roti di Tenggara Indonesia. 

 

4. Reservoir 

 Reservoir adalah manusia yang darahnya mengandung mikrofilaria W. bancrofti, Brugia 
malayi (periodik) dan Brugia timori. 


Di Malaysia, Tenggara Thailand, Philipina dan Indonesia, hewan seperti kucing, musang 
(Viverra tangalunga) dan kera dapat menjadi reservoir untuk Brugia malayi subperiodik. 

 

5. Cara Penularan 

 Melalui gigitan nyamuk yang mengandung larva infektif. 

 W. bancrofti ditularkan melalui berbagai spesies nyamuk, yang paling dominan adalah 
Culex quinquefasciatus, Anopheles gambiae, An. funestus, Aedes polynesiensis, An. 
scapularis dan Ae. pseudoscutellaris. 

 Brugia malayi ditularkan oleh spesies yang bervariasi dari Mansonia, Anopheles dan 
Aedes. 

 Brugia timori ditularkan oleh An. barbirostris. Didalam tubuh nyamuk betina, 
mikrofilaria yang terisap waktu menghisap darah akan melakukan penetrasi pada dinding 
lambung dan berkembang dalam otot thorax hingga menjadi larva filariform infektif, 
kemudian berpindah ke proboscis. Saat nyamuk menghisap darah, larva filariform infektif 
akan ikut terbawa dan masuk melalui lubang bekas tusukan nyamuk di kulit. Larva 
infektif tersebut akan bergerak mengikuti saluran limfa dimana kemudian akan mengalami 
perubahan bentuk sebanyak dua kali sebelum menjadi cacing dewasa. 

 

6. Masa Inkubasi 

 Manifestasi inflamasi alergik mungkin timbul lebih cepat yaitu sebulan setelah terjadi 
infeksi, mikrofilaria mungkin belum pada darah hingga 3-6 bulan pada B. malayi dan 6-12 
bulan pada W. bancrofti. 

 

7. Masa Penularan 

 Tidak langsung menular dari orang ke orang. Manusia dapat menularkan melalui nyamuk 
pada saat mikrofilaria berada pada darah tepi, mikrofilaria akan terus ada selama 5-10 
tahun atau lebih sejak infeksi awal. Nyamuk akan menjadi infektif sekitar 12-14 hari 
setelah menghisap darah yang terinfeksi. 

 

8. Kerentanan dan Kekebalan 

 Semua orang mungkin rentan terhadap infeksi namun ada perbedaan yang bermakna 
secara geografis terhadap jenis dan beratnya infeksi. Infeksi ulang yang terjadi di daerah 
endemis dapat mengakibatkan manifestasi lebih berat seperti elephantiasis. 

 

9. Cara-cara Pemberantasan 

A. Cara Pencegahan 

1. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat di daerah endemis mengenai cara 
penularan dan cara pengendalian vektor (nyamuk). 
2. Mengidentifikasi vektor dengan mendeteksi adanya larva infektif dalam nyamuk 
dengan menggunakan umpan manusia; mengidentifikasi waktu dan tempat 
menggigit nyamuk serta tempat perkembangbiakannya. Jika penularan terjadi oleh 
nyamuk yang menggigit pada malam hari di dalam rumah maka tindakan 
pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan penyemprotan, menggunakan 
pestisida residual, memasang kawat kasa, tidur dengan menggunakan kelambu 
(lebih baik yang sudah dicelup dengan insektisida piretroid), memakai obat gosok 



anti nyamuk (repellents) dan membersihkan tempat perindukan nyamuk seperti 
kakus yang terbuka, ban-ban bekas, batok kelapa dan membunuh larva dengan 
larvasida. Jika ditemukan Mansonia sebagai vektor pada suatu daerah, tindakan 
yang dilakukan adalah dengan membersihkan kolam-kolam dari tumbuhan air 
(Pistia) yang menjadi sumber oksigen bagi larva tersebut. 
3. Pengendalian vektor jangka panjang mungkin memerlukan perubahan konstruksi 
rumah dan termasuk pemasangan kawat kasa serta pengendalian lingkungan untuk 
memusnahkan tempat perindukan nyamuk. 
4. Lakukan pengobatan misalnya dengan menggunakan diethylcarbamazine (DEC, 
Banocide®, Hetrazan®, Notezine®); Pengobatan ini terbukti lebih efektif bila 
diikuti dengan pengobatan setiap bulan menggunakan DEC dosis rendah (25-50 
mg/kg BB) selama 1-2 tahun atau konsumsi garam yang diberi DEC (0,2-0,4 mg/g 
garam) selama 6 bulan sampai dengan 2 tahun. Namun pada beberapa kasus 
timbulnya reaksi samping dapat mengurangi partisipasi masyarakat, khususnya di 
daerah endemis onchocerciasis (lihat Onchorcerciasis, reaksi Marzotti). 
Ivermectin dan Albendazole juga telah digunakan; saat ini, pengobatan dosis 
tunggal setahun sekali dengan kombinasi obat ini akan lebih efektif. 





B. Penanganan Penderita, Kontak dan Lingkungan Sekitarnya 

1. Laporkan kepada instansi kesehatan yang berwenang: di daerah endemis tertentu 
di kebanyakan negara, bukan merupakan penyakit yang wajib dilaporkan, Kelas 3 
C (lihat pelaporan tentang penyakit menular). Laporan penderita disertai dengan 
informasi tentang ditemukannya mikrofilaria memberikan gambaran luasnya 
wilayah transmisi di suatu daerah. 
2. Isolasi: tidak dilakukan. Kalau memungkinkan penderita dengan mikrofilaria 
harus dilindungi dari gigitan nyamuk untuk mengurangi penularan. 
3. Desinfeksi serentak: tidak ada. 
4. Karantina: tidak ada. 
5. Pemberian imunisasi: tidak ada. 
6. Penyelidikan kontak dengan sumber infeksi: dilakukan sebagai bagian dari 
gerakan yang melibatkan masyarakat (lihat 9 A dan 9 C). 
7. Pengobatan spesifik: Pemberian diethylcarbamazine (DEC, Banocide®, Hetrazan®, 
Notezine®) dan Ivermectin hasilnya membuat sebagian atau seluruh mikrofilaria 
hilang dari darah, namun tidak membunuh seluruh cacing dewasa. Mikrofilaria 
dalam jumlah sedikit mungkin saja muncul kembali setelah pengobatan. Dengan 
demikian pengobatan biasanya harus diulangi lagi dalam interval setahun. 
Mikrofilaria dalam jumlah sedikit hanya dapat dideteksi dengan teknik 
konsentrasi. DEC, umumnya menimbulkan reaksi umum akut dalam 24 jam 
pertama dari pengobatan sebagai akibat dari degenerasi dan matinya mikrofilaria; 
reaksi ini biasanya di atasi dengan Parasetamol, anti histamine atau kortikosteroid. 
Limfadenitis dan limfangitis lokal mungkin juga terjadi karena matinya cacing 
dewasa. Antibiotik pada stadium awal infeksi dapat mencegah terjadinya gejala 
sisa pada sistem limfa yang disebabkan oleh infeksi bakteri. 


 

 

 


C. Penanggulangan Wabah 

Pengendalian vektor adalah upaya yang paling utama. Di daerah dengan tingkat 
endemisitas tinggi, penting sekali mengetahui dengan tepat bionomik dari vektor 
nyamuk, prevalensi dan insidensi penyakit, dan faktor lingkungan yang berperan 
dalam penularan di setiap daerah. Bahkan dengan upaya pengendalian vektor yang 
tidak lengkappun dengan menggunakan obat anti nyamuk masih dapat mengurangi 
insiden dan penyebaran penyakit. Hasil yang diperoleh sangat lambat karena masa 
inkubasi yang panjang. 

 

D. Implikasi menjadi bencana: tidak ada. 

 

E Tindakan Internasional: tidak ada. 

 

 

 

DIROFILARIASIS ICD-9 125.6; ICD-10 B74.8 

(Zoonotic filariasis) 

 

Beberapa spesies filaria biasanya ditemukan pada binatang liar dan hewan peliharaan namun 
kadangkala menginfeksi manusia meskipun mikrofilaremia jarang terjadi. Genus Dirofilaria 
mengakibatkan penyakit paru-paru dan penyakit kulit pada manusia. 

D. immitis (cacing jantung pada anjing) dapat menyebabkan penyakit paru di Amerika Serikat 
(dilaporkan sekitar 50 kasus) dengan beberapa kasus terjadi di Jepang, Asia dan Australia. 
Cara penularan pada manusia melalui gigitan nyamuk. 

Cacing masuk melalui arteri paru-paru yang membentuk nidus pada thrombus yang 
mengakibatkan oklusi vaskuler, koagulasi, nekrosis dan fibrosis. Gejala yang timbul meliputi 
nyeri dada, batuk dan hemoptisis, jarang terjadi esosinofili. Suatu nodul fibrotis dengan 
diameter 1-3 cm, biasanya tanpa menimbulkan gejala, dapat diketahui dengan sinar X sebagai 
lesi bentuk koin (coin lesion). 

Penyakit kulit yang terjadi dapat disebabkan oleh beberapa macam spesies seperti D. tenuis, 
suatu parasit pada hewan raccoon di Amerika; D. ursi pada beruang di Kanada, dan D. repens 
dewasa pada kucing dan anjing di Eropa, Afrika dan Asia. Cacing berkembang dan berpindah 
kedalam konjunctiva dan jaringan subkutan pada scrotum, payudara, lengan dan kaki namun 
mikrofilaremia jarang terjadi. Spesies lain (Brugia) terdapat pada noda limfa. Diagnosa 
biasanya ditegakkan dengan menemukan cacing di jaringan pada sayatan dalam pembedahan. 

 

 

 

 

 


NEMATODA LAIN YANG MENGHASILKAN MIKROFILARIA PADA MANUSIA 

 

Beberapa cacing lain mungkin menimbulkan infeksi dan menghasilkan mikrofilaria pada 
manusia. Contohnya Onchocerca volvulus dan Loa-loa yang mengakibatkan onchocerciasis 
dan loiasis (lihat penjelasan pada daftar penyakit tersebut). Infeksi lain berupa penyakit 
Mansonellosis (ICD-9 125.4 dan 125.5; ICD-10 B74.4) dimana Mansonella perstans tersebar 
luas di Afrika Barat dan Timur Laut Amerika Selatan. Cacing dewasa ditemukan pada rongga 
tubuh dan mikrofilaria telanjang bersikulasi dengan periodisitas yang tidak teratur. Infeksi 
biasanya terjadi asimtomatik. Tetapi infeksi pada mata oleh mikrofilaria tahap immature 
pernah dilaporkan. 

Di beberapa negara di Afrika barat dan tengah, infeksi M. streptocerca (ICD-9 125.6; ICD-10 
B74.4) sering terjadi dan diduga menimbulkan edema kulit dan bercak-bercak pada kulit, 
hipopigmentasi, macula, pruritis dan papula. Cacing dewasa dan mikrofilaria telanjang 
terdapat pada kulit sebagai onchocerciasis. M. ozzardi (ICD-9 125.5; ICD-10 B74.4) 
ditemukan di Peninsula Yucatan di Meksiko sampai di bagian utara Argentina dan di barat 
India. Diagnosa ditegakkan dengan ditemukannya mikrofilaria telanjang nonperiodik dalam 
darah. Infeksi biasanya asimptomatis tetapi bisa juga dengan gejala alergi seperti nyeri sendi, 
pruritis, sakit kepala dan limfadenopati. 

Culicoides adalah vektor utama dari M. streptocerca, M. ozzardi dan M. perstans di daerah 
Karibia. M. ozzardi juga ditularkan oleh lalat hitam. M. rodhaini yang merupakan parasit dari 
simpanse ditemukan sebesar 1,7% dari sampel sayatan kulit yang diambil di Gabon. 

DEC sangat efektif untuk mengatasi M. streptocerca dan tidak jarang pula efektif untuk 
mengatasi M. perstans dan M. ozzardi. Sedangkan Ivermectin efektif untuk M. ozzardi. 

 

 

 

INTOKSIKASI MAKANAN (FOODBORNE INTOXICATIONS) 

Keracunan Makanan (Food Poisoning) 

 

Penyakit akibat makanan, termasuk didalamnya intoksikasi makanan dan infeksi karena 
makanan, adalah penyakit yang didapat karena mengkonsumsi makanan yang tercemar; 
kejadian tersebut sering dan kurang tepat bila disebut sebagai keracunan makanan. Termasuk 
dalam istilah tersebut adalah penyakit yang disebabkan oleh pencemaran dengan bahan kimia 
seperti logam berat, senyawa organik kedalam makanan, namun penyakit akibat makanan 
lebih sering disebabkan oleh: 

1) Terbentuknya toksin yang disebabkan oleh berkembangbiaknya bakteri didalam makanan 
sebelum dikonsumsi (Clostridium botulinum, Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus, 
keracunan ikan scombroid, tidak ada hubungannya dengan toksin spesifik tetapi 
disebabkan oleh karena meningkatnya kadar histamin) atau toksin terbentuk didalam usus 
seperti pada Clostridum perfringens. 



2) Infeksi bakteri, virus atau parasit (brucellosis, Campylobacter enteritis, diare yang 
disebabkan oleh Escherichia coli, hepatitis A, listeriosis, salmonellosis, shigellosis, 
toksoplasmosis, gastroenteritis oleh virus, taenisasis, trichinosis dan vibrio). 
3) Toksin yang dihasilkan oleh spesies algae yang berbahaya (keracunan ikan ciguatera, 
keracunan kerang yang mengakibatkan paralitik, keracunan kerang yang menyebabkan 
neurotoksik, keracunan kerang yang menyebabkan diare dan amnesia) atau racun yang 
ada pada spesies ikan tertentu seperti pada ikan buntal. 





Pada bab ini secara khusus membahas toksin yang berkaitan dengan penyakit karena makanan 
(dengan pengecualian pada botulism). Infeksi karena makanan dengan penyebab khusus akan 
dibahas dalam bagian tersendiri yang berhubungan dengan penyebabnya. 

KLB penyakit akibat makanan ini dikenali dengan munculnya sejumlah penderita yang 
biasanya terjadi dalam waktu pendek dengan periode waktu yang sangat bervariasi (beberapa 
jam sampai beberapa minggu) setelah mengkonsumsi sesuatu makanan, pada umumnya 
terjadi diantara orang-orang yang mengkonsumsi makanan bersama-sama. Ketepatan dan 
kesepatan penanganan dan kecepatan melakukan pemeriksaan laboratorium dari peristiwa 
keracunan makanan ini adalah hal yang paling penting. Kasus tunggal penyakit akibat 
makanan sulit diidentifikasi, kecuali pada kasus botulisme, karena adanya sindrom gejala 
klinis yang sangat khas pada botulisme. Penyakit akibat makanan merupakan salah satu 
penyebab kesakitan akut yang paling sering ditemukan; banyak kasus dan KLB yang tidak 
diketahui dan tidak dilaporkan. 

Upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit-penyakit akibat makanan tanpa melihat 
penyebab spesifik, pada prinsipnya adalah sama: yaitu dengan menghindari mengkonsumsi 
makanan yang tercemar, memusnahkan atau melakukan denaturasi terhadap bahan pencemar, 
mencegah penyebaran lebih luas atau mencegah berkembang biaknya bahan pencemar. 
Masalah yang terjadi dan bentuk yang tepat dari penanganan penyakit ini berbeda antara satu 
negara dan negara lain tergantung dari faktor-faktor: lingkungan, ekonomi, politik, teknologi 
dan sosial budaya. Akhirnya, upaya pencegahan sangat tergantung kepada upaya penyuluhan 
kepada para penjamah makanan tentang cara-cara memasak dan menyimpan makanan dengan 
tepat, dan membudayakan higiene perorangan. Tentang hal yang terakhir tersebut, WHO telah 
mengembangkan “Sepuluh Pedoman untuk Penyiapan Makanan yang aman” sebagai berikut: 

1) Pilihlah makanan yang sudah diproses sesuai dengan standard keamanannya 
2) Masaklah makanan secara sempurna (matang). 
3) Makanlah makanan yang telah di masak sesegera mungkin. 
4) Simpanlah makanan yang telah dimasak secara hati-hati 
5) Panaskan kembali makanan yang telah di masak dengan sempurna apabila mau 
dihidangkan lagi 
6) Hindari pencampuran antara bahan makanan mentah dan makanan yang matang pada 
tempat yang sama 
7) Cucilah tangan berulang-kali setiap akan menjamah atau sehabis menjamah 
makanan/bahan makanan 
8) Jagalah kebersihan seluruh bagian dapur 
9) Lindungi makanan dari serangga, tikus dan binatang lainnya 
10) Gunakan air bersih yang aman untuk mengolah makanan. 






INTOKSIKASI MAKANAN KARENA STAPHYLOCOCCUS 

 ICD-9 005.0; ICD-10 A05.0 

(Staphylococcal Food intoxication) 

 

1. Identifikasi 

Intoksikasi (bukan infeksi) bisa terjadi secara tiba-tiba dan berat, dengan gejala nausea 
yang berat, kejang-kejang, muntah-muntah dan lemas tak berdaya, dan sering disertai 
dengan diare, kadang-kadang dengan suhu tubuh dibawah normal dan dengan tekanan 
darah yang rendah. Kematian jarang sekali terjadi, biasanya keadaan ini berlangsung 
antara 1 sampai dengan 2 hari. Dan dengan melihat gejala-gejalanya kadangkala 
diperlukan perawatan di rumah sakit. Dan pada kasus-kasus tertentu yang muncul sporadis 
kadang-kadang memerlukan tindakan eksplorasi lebih lanjut untuk kemungkinan 
dilakukan tindakan pembedahan. Diagnosa lebih mudah dilakukan bila ditemukan 
sekelompok penderita dengan gejala akut pada saluran pencernaan bagian atas, dimana 
interval waktu antara saat mengkonsumsi makanan tercemar dengan munculnya gejala 
klinis sangat pendek. 

Diferensial diagnosa dilakukan terhadap bentuk-bentuk keracunan makanan lain dan 
keracunan dengan bahan kimia. Diagnosa keracunan staphylococcus pada suatu KLB 
ditegakkan dengan ditemukannya kuman 105 atau lebih per gram makanan pada 
pembiakan rutin, atau ditemukannya enterotoksin dari makanan yang tercemar. Diagnosa 
tidak dapat dikesampingkan begitu saja dengan tidak ditemukannya staphylococcus dari 
pembiakan makanan yang sebelumnya sudah dipanaskan; ditemukan bentuk Gram pada 
makanan membuktikan bahwa kuman mati akibat pemanasan. Walaupun bakteri tidak 
ditemukan dalam makanan namun masih memungkinkan untuk menemukan enteroktoksin 
atau termonuklease dalam makanan. Diagnosa juga dapat ditegakkan dengan 
ditemukannya kuman dengan tipe phage yang sama dari tinja atau muntahan dari 2 orang 
atau lebih penderita. Diagnosa juga dapat ditegakkan dengan ditemukan staphylococcus 
penghail enterotoksin dalam jumlah banyak dari tinja atau muntahan walaupun hanya dari 
seorang penderita. Pemeriksaan dengan phage typing jenis kuman dan tes enteroktoksin 
dapat membantu dalam penyelidikan epidemiologis namum fasilitas ini tidak selalu ada 
dan tidak selalu diperlukan. 

 

2. Penyebab Penyakit (Toxic agent) 

Beberapa jenis enterotoksin dari Staphylococcus aureus stabil pada suhu mendidih. 
Staphylococcus berkembang biak di dalam makanan yang tercemar dan menghasilkan 
toksin. 

 

3. Distribusi Penyakit 

Keracunan makanan relatif lebih sering terjadi dan tersebar luas diseluruh dunia, dan 
merupakan salah satu jenis intoksikasi akut akibat makanan yang paling sering terjadi di 
Amerika Serikat. Sekitar 25% penduduk adalah carrier penyebab penyakit tersebut. 

 

4. Reservoir 

Pada umumnya yang berperan sebagai reservoir adalah manusia, kadang-kadang sapi 
dengan infeksi kelenjar susu berperan sebagai reservoir dan juga dapat anjing dan burung. 


5. Cara-cara Penularan 

Penularan terjadi karena mengkonsumsi produk makanan yang mengandung enterotoksin 
staphylococcus. Makanan yang sering tercemar adalah terutama makanan yang diolah 
dengan tangan, baik yang tidak segera dimasak dengan baik ataupun karena proses 
pemanasan atau penyimpanan yang tidak tepat. Jenis makanan tersebut seperti pastries, 
custard, saus salad, sandwhich, daging cincang dan produk daging. Toksin dapat juga 
berkembang pada ham dan salami yang tidak dimasak dengan benar, dan dapat juga pada 
keju yang tidak diproses atau diproses kurang sempurna. Bila makanan tersebut dibiarkan 
pada suhu kamar untuk beberapa jam sebelum dikonsumsi, maka staphylococcus yang 
memproduksi toksin akan berkembang biak dan akan memproduksi toksin tahan panas. 

Kuman mungkin dapat bersumber dari manusia seperti dari discharge purulen pada jari 
dan mata yang terinfeksi, abses, erupsi jerawat di muka, sekret nasofaring, atau dari kulit 
yang kelihatan normal; atau kuman dapat berasal dari sapi yaitu dari susu dan produk susu 
yang tercemar khususnya keju. 

 

6. Masa Inkubasi 

Masa inkubasi mulai dari saat mengkonsumsi makanan tercemar sampai dengan 
timbulnya gejala klinis yang berlangsung antara 30 menit sampai dengan 8 jam, biasanya 
berkisar antara 2-4 jam. 

 

7. Masa Penularan : Tidak terjadi penularan. 

 

8. Kerentanan dan Kekebalan 

Sebagian besar orang rentan terhadap keracunan. 

 

9. Cara-cara Pemberantasan 

A. Cara-cara Pencegahan 

1) Beri penyuluhan kepada penjamah makanan tentang: 

a. Higiene makanan, sanitasi dan kebersihan dapur, pengendalian temperatur 
penyimpanan makanan secara tepat, mencuci tangan dengan benar dan 
memotong kuku 
b. Bahayanya kalau terpajan dengan kulit, hidung atau mata yang terinfeksi dan 
luka yang terbuka. 


2) Pentingnya pengurangan waktu penjamahan makanan (mulai dari penyiapan 
sampai dengan penyajian makanan) tidak lebih dari 4 jam pada suhu kamar. 
Simpanlah makanan yang mudah busuk (tidak tahan lama) pada suhu panas (lebih 
dari 60°C /140°F) atau pada suhu dingin (kurang dari 10°C/50°F); yang paling 
baik adalah pada suhu dibawah 4°C/39°F didalam tempat yang tertutup, jika bahan 
makanan tersebut harus disimpan lebih dari 2 jam. 

3) Jauhkan untuk sementara waktu, orang dengan bisul, abses dan lesi bernanah pada 
tangan, muka atau hidung dan mereka dilarang untuk menangani dan menjamah 
makanan. 

 

 

 


B. Penanganan Penderita, Kontak dan Lingkungan Sekitar 

1) Laporan kepada institusi kesehatan setempat, laporan wajib dilakukan apabila 
terjadi KLB dari kasus suspek atau apabila terjadi KLB dari penderita yang sudah 
pasti diagnosanya, Kelas 4 (lihat pelaporan tentang penyakit menular). 


2), 3), 4) 5) dan 6) Isolasi, Disinfeksi serentak, karantina, Imunisasi terhadap kontak 
dan Investigasi kontak dan sumbe infeksi : Tidak perlu. 

 Tindakan penanggulangan dilakukan apabila ada KLB. Kasus-kasus individual 
jarang sekali teridentifikasi. 

7) Pengobatan spesifik: Penggantian cairan bila ada indikasi. 

 

C. Upaya Penanggulangan Wabah 

1) Lakukan review dengan cepat terhadap kasus yang dilaporkan: 

• Lakukan investigasi untuk mengetahui dengan pasti tentang waktu, tempat 
kejadian dan populasi yang berisiko. 
• Dapatkan daftar yang lengkap dari semua makanan yang disajikan, simpanlah 
makanan yang tersisa kedalam lemari es. 
• Dengan melihat gambaran klinis yang menonjol dan ditambah dengan 
perkiraan masa inkubasi akan sangat membantu mengarahkan kepada agen 
penyebab yang paling mungkin. 
• Kumpulkan sampel dari tinja dan muntahan buat pemeriksaan laboratorium. 
• Beri penjelasan dan peringatan kepada petugas laboratorium tentang dugaan 
agen penyebab. 
• Wawancarai mereka yang terpajan secara acak 
• Bandingkan attack rate dari masing-masing makanan yang dimakan dengan 
attack rate jenis makanan yang tidak dikonsumsi; makanan yang tercemar 
biasanya mempunyai perbedaan attack rate yang bermakna. Biasanya sebagian 
besar penderita terbukti telah mengkonsumsi makanan yang tercemar. 


2) Selidiki asal dari makanan yang tercemar dan cara-cara pengelolaan makanan 
tersebut mulai dari penyiapan, penyimpanan dan penyajian: 
• Cari sumber kontaminasi yang mungkin terjadi dan periode wakt pada saat 
dilakukan pemanasan dan pendinginan yang tidak sempurna yang dapat 
menyebabkan pertumbuhan kuman staphylococcus. 
• Segera ambil sisa makanan yang dicurigai sebagai penyebab kontaminasi 
untuk pemeriksaan laboratorium; kegagalan untuk menemukan staphylococcus 
dari sampel maknan tersebut tidak mengenyampingkan kemungkinan adanya 
enterotoksin tahan panas jika makanan tersebut telah dipanaskan. 


3) Cari penjamah makanan dengan infeksi kulit terutama di bagian tangan. Biakkan 
semua lesi purulen dari penjamah makanan dan ambil swab hidung dari semua 
penjamah makanan. Pemeriksaan antibiogram dan phage typing dari strain 
staphylococcus yang memproduksi enterotoksin yang sampelnya diambil dari 
makanan, penjamah makanan dan dari muntahan atau tinja penderita, dapat 
membantu penegakan diagnosa. 





D. Implikasi Bencana 

Bahaya potensial dapat terjadi pada situasi dimana makanan harus disediakan secara 
massal dan tidak tersedia fasilitas pendingin (lemari es) hal ini khususnya menjadi 


msalah dilingkungan transportasi udara. 

 

E. Tindakan Internasional 

Manfaatkan Pusat-pusat Kerja sama WHO. 

 

 

 

II. INTOKSIKASI MAKANAN AKIBAT CLOSTRIDIUM PERFRINGENS 

 ICD-9 005.2; ICD-10 A05.2 

 (Keracunan makanan akibat C. welchii, Enteritis necroticans, Pigbel) 

 

 

1. Identifikasi 

Gangguan pencernaan yang ditandai dengan gejala kolik tiba-tiba, diikuti dengan diare, 
biasanya timbul rasa mual, tetapi jarang terjadi muntah dan demam. Pada umumnya 
penyakit ini ringan dan berlangsung dalam waktu yang singkat, 1 hari atau kurang, dan 
jarang berakibat fatal pada orang yang sehat. KLB penyakit ini dengan gejala yang berat 
dengan CFR yang tinggi disebabkan oleh necrotizing enteritis pernah dilaporkan terjadi 
pada akhir perang dunia II di Jerman dan di Papua Nugini. 

Pada saat terjadi KLB, diagnosa ditegakkan dengan ditemukannya Clostridium 
perfringens pada biakan kuman anaerob semikuantitatif dari sampel makanan (sebanyak 
105 kuman/gram atau lebih) atau dari sampel tinja penderita (sebanyak 106 kuman/gram 
atau lebih) sebagai klinis dan epidemiologis. Diagnosa dapat juga ditegakkan dengan 
ditemukannya enterotoksin pada tinja penderita. Bila dilakukan serotyping, maka serotipe 
yang sama dapat ditemukan pada spesimen yang berbeda; pemeriksaan serotyping ini 
hanya dilakukan secara berkala di Inggris dan di Jepang. 

 

2. Penyebab Infeksi 

Clostridium perfringens (C. welchii) tipe A dapat menyebabkan KLB keracunan makanan 
yang khas (termasuk dapat menimbulkan gas gangrene); sedangkan tipe C dapat 
menyebabkan enteritis necroticans. Penyakit timbul diakibatkan oleh toksin yang 
dihasilkan oleh mikroorganisme tersebut. 

 

3. Distribusi Penyakit 

Penyebaran penyakit ini sangat luas dan lebih sering terjadi di negara-negara dimana 
masyarakatnya mempunyai kebiasaan menyiapkan makanan dengan cara-cara yang dapat 
meningkatkan perkembangbiakan clostridia. 

 

4. Reservoir 

Tanah, berperan sebagai reservoir saluran pencernaan orang-orang sehat dan binatang 
(lembu, babi, ayam dan ikan), juga dapat berperan sebagai reservoir. 

 

5. Cara-cara Penularan 

Cara penularan adalah karena menelan makanan yang terkontaminasi oleh tanah dan tinja 
dimana makanan tersebut sebelumnya disimpan dengan cara yang memungkinkan kuman 
berkembangbiak. Hampir semua KLB yang terjadi dikaitkan dengan proses pemasakan 


6. Masa Inkubasi 

Masa inkubasi berkisar antara 6-24 jam, biasanya 10-12 jam. 

 

7. Masa Penularan: Tidak ada. 

 

8. Kerentanan dan Kekebalan 

Hampir semua orang rentan terhadap penyakit ini. Dari studi yang dilakukan pada para 
sukarelawan, tidak ditemkan adanya kekebalan setelah berulangkali terpajan. 

 

9. Cara-cara Pemberantasan 

A. Cara-cara Pencegahan 

1) Berikan penyuluhan kepada penjamah makanan tentang risiko terjadinya 
keracunan pada proses penyiapan dan penyediaan makanan berskala besar, 
khususnya makanan berbahan baku daging. Bila memungkinkan, sajikan makanan 
tersebut selagi masih panas setelah dimasak. 

2) Sajikan daging selagi masih panas segera setelah dimasak, atau masukkan segera 
kedalam pendingin yang dirancang secara tepat atau disimpan didalam lemari es 
sampai dengan waktu penyajian, bila perlu panaskan kembali makanan tersebut 
secara sempurna (dengan suhu minimal 70°C/158°F, dianjurkan lebih baik pada 
suhu 75°/167°F atau lebih). Jangan memasak daging dan daging ayam setengah 
matang kemudian dipanaskan kembali pada hari berikutnya, kecuali daging 
tersebut telah disimpan pada temperatur yang aman. Potongan daging dengan 
ukuran besar hendaknya langsung dimasak; untuk proses pendinginan secara cepat 
makanan yang telah masak, pisahkan kaldu dan hidangan sejenis pada tempat yang 
leter (dangkal) dan masukan segera kedalam alat pendingin cepat. 

 

 B, C dan D. Penanganan Penderita, Kontak dan Lingkungan sekitar, 
Penanggulangan Wabah dan Dampak Bencana: Lihat Intoksikasi makanan akibat 
Staphylococcus (lihat bagian I, 9 B, 9C dan 9D di atas. 

 

E. Tindakan Internasional: Tidak ada. 

 

 

 

makanan dari daging (pemanasan dan pemanasan kembali) yang kurang benar, misalnya 
kaldu daging, daging cincang, saus yang dibuat dari daging sapi, kalkun dan ayam. Spora 
dapat bertahan hidup pada suhu memasak normal. Spora dapat tumbuh dan berkembang 
biak pada saat proses pendinginan, atau pada saat penyimpanan makanan pada suhu kamar 
dan atau pada saat pemanasan yang tidak sempurna. KLB biasanya dapat dilacak 
berkaitan dengan usaha katering, restoran, kafetaria dan sekolah-sekolah yang tidak 
mempunyai fasilitas pendingin yang memadai untuk pelayanan berskala besar. Diperlukan 
adanya Kontaminasi bakteri yang cukup berat (yaitu lebih dari 105 organisme per gram 
makanan) untuk dapat menimbulkan gejala klinis. 

 

 

 


III. INTOKSIKASI MAKANAN OLEH BACILLUS CEREUS 

 ICD-9 005.8; ICD-10 A05.4 

 

 

1. Identifikasi 

 kuman per gram makanan yang tercemar). Diagnosa juga ditegakkan 
dengan melakukan isolasi kuman dari tinja yang berasal dari 2 orang penderita atau lebih 
dan bukan dari tinja kontrol. Pemeriksaan enterotoksin sangat bermanfaat untuk 
penegakan diagnosa tetapi tidak mungkin dilakukan secara luas. 
Intoksikasi oleh bakteri ini ditandai dengan adanya serangan mendadak berupa mual, 
muntah-muntah, ada juga disertai dengan kolik dan diare. Lamanya sakit umumnya tidak 
lebih dari 24 jam dan jarang sekali menimbulkan kematian. Pada saat terjadi KLB, 
diagnosa ditegakkan dengan melakukan pembiakan kuantitatif dengan kultur media 
selektif untuk memperkirakan jumlah kuman pada makanan yang dicurigai (biasanya 
lebih dari 105

 

2. Toksin Penyebab (Toxic agent) 

 Organisme penyebab adalah Bacillus cereus, kuman anaerob pembentuk spora. Ada 2 
jenis enterotoksin yang dikenal, pertama yaitu enterotoksin tahan panas (heat stable) yang 
menyebabkan muntah-muntah, dan jenis lainnya adalah enterotoksin yang tidak tahan 
panas (heat labile) yang menyebabkan diare. 

3. Distribusi Penyakit 

 Bacillus cereas sangat dikenal sebagai penyebab penyakit akibat makanan di seluruh 
dunia, namun di Amerika Serikat jarang sekali dilaporkan. 

 

4. Reservoir 

 Organisme ini ada dimana-mana didalam tanah dan di lingkungan sekitar kita, biasanya 
ditemukan pada bahan makanan mentah, makanan kering dan makanan olahan. 

 

5. Cara-cara Penularan 

 Cara penularan adalah karena mengkonsumsi makanan yang disimpan pada suhu kamar 
setelah dimasak, yang memungkinkan kuman berkembang-biak. KLB yang disertai 
dengan muntah-muntah sering terjadi setelah memakan nasi yang disimpan pada suhu 
kamar sebelum dipanaskan kembali. Berbagai penyimpangan car-cara pengolahan 
makanan mengakibatkan terjadinya berbagai KLB dengan diare. 

 

6. Masa Inkubasi 

 Pada kejadian dimana gejala yang menonjol adalah muntah-muntah, masa inkubasi 
berkisar antara 1 sampai dengan 6 jam. Sedangkan pada Distribusi Penyakit dimana gejala 
yang menonjol adalah diare masa inkubasi berkisar 6 sampai dengan 24 jam. 

 

7. Masa Penularan : Tidak menular dari orang ke orang. 

 

8. Kerentanan dan Kekebalan: Belum diketahui. 

 

 


9. Cara-cara Pemberantasan 

A. Upaya Pencegahan 

Makanan seharusnya tidak disimpan pada suhu kamar setelah dimasak, karena spora 
B. cereus berada di mana-mana dan tahan pada suhu mendidih, dan kemudian tumbuh 
dan berkembang biak secara cepat pada suhu kamar. Segera dinginkan sisa makanan 
yang ada dengan cara yang tepat; panaskan kembali secepatnya untuk mencegah 
berkembang biaknya mikroorganime. 

 

B, C, dan D. Penanganan Penderita, Kontak dan Lingkungan Sekitar; Upaya 
Penanggulangan Wabah dan Implikasi bencana: Lihat intoksikasi makanan karena 
Staphylococcus (pada bagian I, 9B, 9C dan 9D, di atas). 

 

 

 

IV. KERACUNAN IKAN SCOMBROID ICD-9 988.0; ICD-10 T61.1 

 (Keracunan histamin – Histamine poisoning) 

 

Suatu sindroma gejala ditandai dengan gatal dan rasa panas di sekitar mulut, kemerahan 
pada wajah dan berkeringat, mual dan muntah, sakit kepala, jantung berdebar, pusing, 
ruam pada kulit yang muncul beberapa jam setelah makan ikan yang mengandung 
histamin bebas dengan kadar tinggi (lebih dari 20 mg/100 gram ikan). Hal ini terjadi 
apabila ikan mengalami dekomposisi oleh bakteri setelah ditangkap. Gejala ini dapat 
hilang segera dalam waktu 12 jam dan tidak ada gejala/sisa dalam jangka panjang. 

Keracunan ini dapat terjadi di seluruh dunia. Gejala ini dikaitkan dengan ikan yang 
termasuk dalam famili Scromboidea dan Scomberesocidae (ikan tuna, mackerel, skipjack 
dan bonito) yang banyak mengandung histidine dalam kadar tinggi yang dapat 
mengalami decarboksilasi membentuk histamin yang dilakukan bakteri dalam tubuh ikan. 
Namun demikian, keracunan dapat terjadi jika mengkonsumsi ikan-ikan yang bukan 
termasuk dalam famili Scromboid, seperti: mahi-mahi (ikan lumba-lumba), ikan biru 
(bluefish) dan salmon. Risiko terbesar dapat terjadi untuk jenis ikan yang diimpor dari 
daerah tropis atau subtropis dan ikan yang ditangkap oleh para pemancing yang sedang 
melakukan rekreasi, dimana mereka tidak memiliki sarana penyimpanan yang memadai 
untuk ikan ukuran besar. Diagnosa ditegakkan dengan ditemukannya histamin pada ikan 
yang secara epidemiologis diduga sebagai penyebab terjadinya keracunan. 

Proses pendinginan yang memadai maupun penyinaran radiasi yang dilakukan pada ikan 
yag ditangkap dapat mencegah pembusukan. Gejala-gejal tersebut biasanya akan segera 
hilang. Pada kasus yang berat, antihistamin mungkin cukup efektif untuk menghilangkan 
gejala-gejala yang ada. 

Ketika sebagian besar kejadian kercunan dikaitkan dengan ikan, beberapa jenis makanan 
(seperti keju) yang mengandung asam amino tertentu dalam jumlah yang cukup dan 
terkontaminasi oleh bakteri tertentu dan kemudian bakterinya berkembangbiak, dapat 
menimbulkan keracunan scromboid apabila mengkonsumsi makanan tersebut. 

 

 

 

 


V. KERACUNAN IKAN CIGUATERA ICD-9 988.0; ICD-10 T61.0 

 

Kumpulan gejala yang ditandai dengan gangguan saluran pencernaan dan gangguan saraf 
yang terjadi setelah 1 jam mengkonsumsi ikan karang tropis. Gejala gangguan saluran 
pencernaan (diare, muntah-muntah, nyeri abdominal) muncul lebih awal, biasanya dalam 
24 jam dari mengkonsumsi ikan yang tercemar. Pada kasus yang berat, penderita mungkin 
mengalami hipotensi dengan paradoxical bradycardia. Gejala gangguan sistem saraf 
dapat terjadi bersamaan waktu dengan gejala akut atau setelah 1-2 hari kemudian, gejala 
ini meliputi nyeri dan lemah pada bagian bagian tubuh bagian bawah (suatu gejala yang 
sangat khas di Karibia), ganggguan paresthesias circumoral dan peripheral, dan gejala ini 
bisa menetap untuk beberapa minggu atau bulan. 

Gejala lainnya yang khas dan sering dilaporkan seperti temperature reversal (es krim 
terasa panas, kopi panas terasa dingin) dan aching teeth. Pada kasus yang sangat berat 
(khususnya di Pasifik Selatan), gejala neurologis dapat berkembang menjadi koma dan 
respiratory arrest dalam 24 jam pertama kesakitan. Hampir semua penderita dapat 
sembuh total dalam beberapa minggu, namun gejala dapat kambuh dalam beberapa bulan 
sampai tahunan. 

Di daerah tropis, gejala tersebut disebabkan adanya toksin dalam ikan yang dihasilkan 
oleh dinoflagellata Gambierdiscus toxicus dan ganggang jenis lain yang hidup di karang 
di dasar laut. Ikan yang memakan ganggang menjadi beracun dan efeknya akan menjadi 
lebih berat pada rantai makanan dimana ikan predator akan lebih toksik. 

Ciguatera merupakan penyebab utama timbulnya kejadian kesakitan di wilayah yang pada 
umumnya mengkonsumsi ikan-ikan karang, di Karibia, Florida Selatan, Hawai, Pasifik 
Selatan dan Australia. Insidens di Pasifik Selatan diperkirakan 500 kasus/100.000 
penduduk/tahun dengan angka insidensi 50 kali lebih besar terjadi di beberapa gugus 
kepulauan tertentu. Di Pulau Virgin, Amerika Serikat, telah dilaporkan insidence rate 
sebesar 730 kasus/100.000 penduduk/tahun. Lebih dari 400 spesies ikan berpotensi 
menjadi toksik. Di seluruh dunia, 50.000 kasus keracunan ciguatera terjadi setiap 
tahunnya. Diagnosa ditegakkan dengan ditemukannya ciguatoksin pada ikan yang secara 
epidemiologis diduga tercemar dan diduga sebagai penyebab keracunan. 

Mengkonsumsi ikan predator besar sebaiknya dihindari khususnya di daerah karang. Di 
wilayah dimana terdapat fasilitas pengujian toksin pada ikan (misalnya di Hawai), risiko 
terjadi keracunan karena toksin dapat dikurangi dengan cara menyeleksi ikan ukuran besar 
yang berisiko tinggi sebelum dimakan. Kejadian ikan beracun bersifat sporadis dan tidak 
semua ikan yang termasuk dalam spesies tersebut atau yang berasal dari daerah tersebut 
akan menjadi beracun. 

Pemberian infus (cairan) mannitol secara intravena (1 g/kg BB dalam 20% larutan, 
diberikan dalam waktu 45 menit) akan memberikan efek perbaikan yang dramatis pada 
penderita dengan gejala akut karena keracunan ikan ciguatera, khususnya pada penderita 
keracunan berat. Perbaikan yang paling jelas dapat dilihat setelah pemberian mannitol -
adalah perbaikan terhadap gejala gangguan neurologis. Tindakan penyelamatan jiwa 
diperlukan untuk penderita yang mengalami koma. 

 

 

 

 


VI. KELUMPUHAN KARENA KERACUNAN KERANG-KERANGAN 

 ICD-9 988.0; ICD-10 T61.2 

 (Paralytic Shellfish Poisoning – PSP) 

 

Kelumpuhan karena keracunan kerang (PSP) yang klasik ditandai dengan kumpulan 
gejala yang khas (lebih banyak pada sistem saraf) yang muncul dalam beberapa menit 
sampai dengan beberapa jam setelah mengkonsumsi kerang (bivalve mollusca). Gejalanya 
ditandai dengan paresthesia pada mulut dan anggota gerak, seringkali disertai dengan 
gejala gangguan saluran pencernaan. Gejala biasanya hilang dalam beberapa hari. Pada 
kasus yang berat, muncul gejala ataksia, dysphonia, dysphagia dan paralysis otot total 
dengan berhentinya pernafasan dan dapat berakhir dengan kematian. Pada review secara 
retrospektif yang dilakukan terhadap KLB PSP yang terjadi di Alaska antara tahun 1973 
dan 1992, 29 orang (25% dari 117 penderita) memerlukan rujukan kedaruratan udara ke 
rumah sakit, 4 kasus (3%) memerlukan intubasi dan seorang meninggal dunia. 
Kesembuhan yang ditandai dengan hilangnya gejala dapat terjadi dalam beberapa jam 
sampai dengan beberapa hari setelah mengkonsumsi kerang-kerangan. 

Gejala yang timbul pada keracunan kerang ini disebabkan oleh adanya saxitoxins pada 
kerang yang dihasilkan oleh spesies Alexandrium dan dinoflagellata yang lain. 
Konsentrasi toksin tersebut pada tubuh kerang dapat terjadi yaitu pada saat ganggang 
diperairan itu tumbuh dengan pesat yang dikenal sebagai “gelombang pasang merah – red 
tide”, namun dapat juga terjadi tanpa adanya pertumbuhan ganggang tersebut. PSP 
biasanya terjadi pada kerang-kerangan yang dipanen dari daerah perairan yang lebih 
dingin di atas 30° Lintang Utara dan dibawah 30° Lintang Selatan, namun mungkin juga 
dapat terjadi di perairan tropis. Di Amerika Serikat, PSP merupakan masalah utama di 
negara bagian New England, Alaska, California dan Washington. Musim berkembangnya 
spesies Alexandrium dengan pesat terjadi beberapa kali dalam setiap tahunnya, dimulai 
pada bulan April sampai dengan bulan Oktober. Kerang menjadi beracun dan toksin 
menetap dalam tubuh kerang sampai beberapa minggu setelah musim berkembang 
pesatnya Alexandrium telah lewat. Ada juga beberapa spesies kerang yang tetap beracun . 
Sebagian besar kasus terjadi pada individu dan kelompok kecil yang mengumpulkan 
kerang-kerangan untuk konsumsi sendiri. Diagnosa dapat ditegakkan dengan ditemukan 
toksin pada makanan yang terkontaminasi. Dalam suatu percobaan (eksperimen) saxitoxin 
dapat ditemukan didalam serum selama fase akut dan didalam urin setelah sembuh dari 
gejala akut. 

Neurotoksin PSP bersifat tahan panas. Survailans pada daerah risiko tinggi penghasil 
kerang-kerangan di Amerika Serikat secara berkala dilakukan oleh Departemen Kesehatan 
Negara Bagian dengan menggunakan standar bioassay pada tikus. Daerah tersebut akan 
ditutup dan dilarang mengambil kerang apabila kadar toksin pada kerang melebihi 80 
µg/100 g. Pada saat kadar toksin melebihi nila tersebut, peringatan akan bahaya diberikan 
kepada masyarakat didaerah produksi kerang, peringatan ini ditempel di pantai dan 
disebar luaskan melalui media. 

 

 

 

 

 


VII. KERACUNAN NEUROTOKSIK AKIBAT KERANG 

 ICD-9 988.0; ICD-10 T61.2 

 (Neurotoxic Shellfish Poisoning) 

 

 

Keracunan neurotoksik akibat mengkonsumsi kerang dalam hal ini dikaitkan dengan 
pesatnya pertumbuhan Gymnodinium breve yang menghasikan brevetoksin. Gelombang 
merah (red tides) yang diakibatkan oleh G. breve terjadi di sepanjang pantai Florida 
selama berabad-abad yang menyebabkan kematian ikan, burung laut dan mamalia laut. 
Gejala yang timbul setelah mengkonsumsi kerang yang beracun berupa nyeri di sekitar 
mulut (circumoral paresthesias), paresthesia anggota gerak, ataksia dan pusing 
(dizziness), nyeri otot (muscle aches) dan gangguan saluran pencernaan. Gejala 
cenderung ringan dan dapat pulih secara cepat. Pada kasus KLB yang terjadi di Carolina 
Utara, nilai tengah (median) lamanya sakit adalah 17 jam (berkisar antara 1-72 jam). 
Pernah juga dilaporkan terjadinya iritasi pada saluran pernafasan dan iritasi pada mata 
akibat ledakan pertumbuhan G. breve yang diduga karena aerosolisasi toksin oleh gerakan 
angin dan ombak. 

 

 

 

VIII. DIARE KARENA KERACUNAN KERANG ICD-9 988.0; ICD-10 T61.2 

 

 (Diarrhetic Shellfish Poisoning) 

Penyakit yang muncul sebagai akibat mengkonsumsi sejenis remis/repah (mussels, 
scallop atau clam) yang telah memakan Dinophysis fortii atau Dinophysis acuminata. 
Gejala-gejalanya meliputi diare, mual, muntah-muntah dan nyeri perut. Laporan kejadian 
khususnya berasal dari Jepang, walaupun, diare akibat keracunan kerang ini juga terjadi di 
Perancis dan bagian lain Eropa, Kanada, Selandia Baru dan Amerika Selatan. Selama ini 
belum ada konfirmasi kasus terjadi di Amerika Serikat meskipun organisme penyebab 
dapat ditemukan di seluruh perairan pantai Amerika Serikat. 

 

 

 

IX. AMNESIA AKIBAT KERACUNAN KERANG ICD-9 988.0; ICD-10 T61.2 

 (Amnesic Shellfish Poisoning) 

 

Amnesia karena keracunan kerang disebabkan karena mengkonsumsi kerang-kerangan 
yang mengandung asam domoik (domoic acid) yang dihasilkan oleh diatom 
Pseudonitzschia pungens. Kasus-kasus yang disebabkan oleh toksin ini telah dilaporkan 
terjadi di Propinsi Atlantik, Kanada, pada tahun 1987. Gejala-gejalanya meliputi: muntah-
muntah, kejang perut, diare, pusing kepala dan kehilangan ingatan dalam waktu singkat. 
Pada tes neuropsycological yang dilakukan beberapa bulan setelah intoksikasi akut, pada 
penderita ditemukan kemunduran ingatan (antegrade memory deficit) yang berat dengan 
kelemahan relatif fungsi kognitif lainnya, dan penderita juga mengalami gejala klinis dan 
gejala elektromiografi lemahnya saraf motorik atau neurophaty serta axonopathy saraf 
sensorimotor. Studi neuropatologis yang dilakukan pada 4 pasien yang meninggal 


menunjukkan adanya kerusakan dan hilangnya jaringan saraf terutama pada hippocampus 
dan amygdala. Pemerintah Kanada saat ini melakukan analisis terhadap sejenis kerang 
(mussle dan clam) untuk melihat kadar asam domoik dan akan menutup tempat-tempat 
penangkaran kerang apabila kadarnya melebihi 20 µg/gram. 

Pada tahun 1991, asam domoik ditemukan pada razor clam dan Dungeness crabs di pantai 
Oregon dan Washington dan juga ditemukan pada sajian makanan laut di sepanjang pantai 
Texas. Tidak ada batas yang tegas terjadinya amnesia shellfish poisoning diketahui terjadi 
pada manusia diluar daerah KLB yang pertama kali terjadi di Kanada. Oleh karena itu 
dampak yang bermakna sebagai akibat masuknya asam domoik kedalam tubuh manusia 
karena mengkonsumsi kerang kerangan dan ikan kecil dari daerah dimana ditemukan 
spesies Pseudonitzschia, belum dikaitkan dengan jelas. 

 

 

 

X. KERACUNAN IKAN PUFFER ICD-9 988.0; ICD-10 T61.2 

 (Tetrodoksin) 

 

Keracunan ikan puffer ditandai dengan paresthesias, pening, gangguan saluran 
pencernaan dan ataxia, yang sering berkembang dengan cepat menjadi paralysis dan 
kematian dalam beberapa jam setelah mengkonsumsi ikan tersebut. Case Fatality Rate 
mencapai 60%. Toksin penyebab adalah tetrodoksin, tahan panas, neurotoksin nonprotein 
yang terdapat pada kulit dan bagian dalam ikan puffer, ikan porcupine, ocean sunfish, 
serta spesies newt dan salamander. Lebih dari 6.000 kasus telah dilaporkan, terbanyak 
terjadi di Jepang. Keracunan dapat dihindari dengan tidak mengkonsumsi spesies ikan 
atau binatang amfibia yang menghasilkan tetrodoksin. 

 

 

 

 

 

GASTRITIS YANG DISEBABKAN OLEH HELICOBACTER PYLORI 

 ICD-9 535; ICD-10 K29 

 

1. Identifikasi 

Adalah infeksi bakteri yang menyebabkan gastritis kronis, terutama pada bagian antrum 
dari lambung dan menyebabkan terjadinya ulous pada usus dua belas jari. Pengobatan 
untuk menghilangkan patogen penyebab dapat menyembuhkan gastritis dan ulcus 
duodenum. Terjadinya adenocarcinoma dan ulcus pada lambung secara epidemiologis 
dikaitkan juga dengan infeksi H. pylori. 

Diagnosa dibuat dengan spesimen biopsi lambung dengan kultur, pemeriksaan histologis 
atau dengan pemeriksaan urease dari H. pylori, menggunakan peralatan yang tersedia di 
pasaran. Organisme membutuhkan media makanan untuk tumbuh, seperti pada media 
Brain-Heart Infusion Agar dengan penambahan darah kuda. Media selektif dikembangkan 
untuk mencegah tumbuhnya kontaminan pada saat membiakkan spesimen biopsi 
lambung. Biakan harus dipanaskan pada suhu 37°C (98.7°F) pada kondisi mikroaerofilik 
selama 3 sampai dengan 5 hari. Pemeriksaan spesifik 13C atau 14C urea based breath tests 


juga bisa digunakan untuk menegakkan diagnosis dan prosedur pemeriksaan ini 
didasarkan pada aktivitas urease yang tinggi dari organisme tersebut. Pengukuran titer 
antibodi spesifik juga dapat dilakukan, biasanya dengan ELISA. 

 

2. Penyebab Penyakit 

 Helicobacter pylori adalah kuman Gram negatif, basil yang berbentuk kurva dan batang. 
Berbagai spesies yang berbeda dari Helicobacter telah ditemukan pada binatang lain; H. 
cinaedi dan H. fennelliae dikaitkan dengan terjadinya diare pada laki-laki homoseksual. 

 

3. Distribusi Penyakit 

H. pylori ditemukan tersebar di seluruh dunia. Hanya sebagian kecil saja orang yang 
terinfeksi bakteri ini akan menderita ulcus doudenum. Walaupun sebagian besar orang-
orang yang terinfeksi organisme ini mempunyai bukti histologis gastritis di lambung, 
namun sebagian besar penderita asimtomatis. Penelitian serologis yang dilakukan secara 
cross-sectional memperlihatkan bertambahnya prevalensi penyakit ini sesuai dengan 
pertambahan usia. Kelompok dengan tingkat sosial ekonomi lemah terutama anak-anak 
sering terserang infeksi ini. Di negara-negara berkembang, lebih dari 75% orang dewasa 
terinfeksi, dan infeksi sering terjadi terutama pada anak-anak. Sekitar 20-50% orang 
dewasa di negara-negara maju terinfeksi H. pylori. 

 

4. Reservoir 

 Hanya manusia yang menjadi reservoir H. pylori. Kebanyakan orang yang terinfeksi tidak 
menampakkan gejala dan apabila tidak diberi pengobatan penyakit ini akan bertahan 
seumur hidup. Isolasi dari H. pylori dari daerah selain lambung seperti dari ludah dan tinja 
pernah dilaporkan, namun jarang. 

 

5. Cara-cara Penularan 

 Cara-cara penularan belum diketahui dengan jelas, namun dapat dipastikan infeksi terjadi 
sebagai akibat menelan organisme penyebab penyakit tersebut. Penularan diasumsikan 
terjadi melalui oral-oral (mulut ke mulut) dan atau fekal-oral (anus-mulut). H. pylori 
ditularkan melalui alat-alat gastroskopi dan elektroda pH yang tidak didekontaminasi 
dengan sempurna. 

 

6. Masa Inkubasi 

 Data yang dikumpulkan dari 2 orang sukarelawan yang menelan 106 – 109 organisme 
menunjukkan bahwa gejala gastritis terjadi dalam waktu 5-10 hari. Tidak ada informasi 
lain tentang ukuran inoculum yang dapat menyebabkan sakit atau lamanya masa inkubasi. 

 

7. Masa Penularan 

 Tidak diketahui. Karena infeksi bisa terjadi dalam waktu yang lama, maka orang yang 
terinfeksi secara potensial dapat menularkan penyakit ini seumur hidupnya. Tidak 
diketahui apakah pasien yang terinfeksi akut akan lebih infeksius dibandingkan dengan 
orang yang terinfeksi dalam jangka waktu lama. Ada beberapa bukti yang menunjukkan 
bahwa penderita dengan kadar asam lambung rendah mungkin akan lebih infeksius. 

 

 


8. Kerentanan dan Kekebalan 

 Semua orang diperkirakan rentan terinfeksi. Walaupun bertambahnya usia dan tingkat 
sosial-ekonomi yang lemah merupakan dua faktor risiko terpenting untuk terkena infeksi, 
ada sedikit data yang tidak bisa diabaikan begitu saja tentang kerentanan atau kekebalan 
seseorang. Diperkirakan bahwa ada berbagai faktor pendukung (cofactor) penting untuk 
dapat terjadinya penyakit tersebut. Tidak timbul imunitas sesudah infeksi. 

 

9. Cara-cara Pemberantasan 

 A Upaya Pencegahan 

1) Orang yang tinggal di lingkungan yang tidak padat penduduk dan lingkungan yang 
bersih akan mempunyai risiko lebih kecil untuk terkena H. pylori 
2) Lakukan disinfeksi lengkap terhada alat-alat gastroskopi, elektroda pH dan alat-
alat medis lain yang pengoperasiannya dimasukkan kedalam perut. 





B Pengawasan Penderita, Kontak dan Lingkungan Sekitar 

1) Laporan kepada petugas kesehatan setempat: Laporan resmi tidak diperlukan, 
Kelas 5 (lihat pelaporan tentang penyakit menular) 
2) Isolasi: Tidak diperlukan. 
3) Disinfeksi serentak: Disinfeksi dilakukan pada alat-alat medis yang dimasukkan 
kedalam lambung. 
4) Karantina: Penderita yang terinfeksi H. pylori tidak perlu ditempatkan pada ruang 
karantina yang terpisah. 
5) Imunisasi kontak: Tidak ada vaksin yang tersedia pada saat ini. 
6) Investigasi kontak dan sumber infeksi: Tidak produktif. 
7) Pengobatan spesifik: Pengobatan bagi penderita asimtomatis tetap menjadi 
kontroversi. Ada berbagai cara pengobatan yang tersedia saat ini untuk 
menghilangkan infeksi pada orang-orang yang menunjukkan gejala yang 
diperkirakan disebabkan oleh H. pylori. Pengobatan yang paling berhasil adalah 
penderita diberi kombinasi antimikroba selama 2 hingga 4 minggu. Tujuan dari 
pengobatan ini adalah untuk memusnahkan dan menghilangkan infeksi bukan 
untuk menghilangkan secara sementara. Contoh dari kombinasi obat-obatan ini 
adalah: a) Metronidazole dan Amoxycillin atau Tetracycline dengan senyawa 
bismuth seperti Pepto-Bismol®, atau b) Metronidazole dan Amoxycillin dengan 
inhibitor pemompa proton seperti omeprazole (Prilosec®). Angka eradikasi 
mencapai hingga 90% telah dilaporkan dengan menggunakan kombinasi tersebut. 
Jika infeksi tidak hilang, dengan pengobatan ini sebaiknya dilakukan pemeriksaan 
isolat untuk tes resistensi terhadap antibiotika. Ulcus dapat terjadi lagi pada 
penderita yang sebelumnya telah diobati namun bakteri penyebabnya belum 
musnah. Di negara-negara berkembang, infeksi ulang sesudah dilakukan eradikasi 
terhadap organisme penyebab jarang terjadi. Tidak ada data mengenai angka 
infeksi ulang di negara berkembang. 





C. Penanggulangan Wabah: Tidak ada. 

 

D. Implikasi Bencana: Tidak ada. 

 

E. Tindakan Internasional: Tidak ada. 


PENYAKIT VIRUS AKUT, GASTROENTERITIS ICD-9 008.6; ICD-10 A08 

 

Gastroenteritis karena virus muncul sebagai penyakit endemis atau wabah pada bayi, anak-
anak dan orang dewasa. Beberapa jenis virus (rotavirus, adenovirus enterik, astrovirus dan 
kalisivirus termasuk virus yang menyerupai virus Norwalk) menginfeksi anak-anak usia 
dibawah satu tahun dan menyebabkan diare cukup parah yang dapat menyebabkan dehidrasi 
sehingga perlu dirawat di rumah sakit. Sebagai jenis virus misalnya virus Norwalk menjadi 
penyebab yang paling sering terjadinya KLB gastroenteritis pada anak-anak dan orang 
dewasa. Melihat gambaran epidemiologis, riwayat alamiah perjalanan penyakit dan gejala 
klinis dari infeksi berbagai jenis virus enterik maka diketahui dengan jelas bahwa rotavirus 
tipe A adalah penyebab diare pada bayi dan virus Norwalk sebagai penyebab diare pada orang 
dewasa. 

 

 

 

ENTERITIS KARENA ROTAVIRUS ICD-9 008.61; ICD-10 A08.0 

(Gastroenteritis sporadis akibat virus, Gastroenteritis berat akibat virus pada bayi dan anak-
anak) 

 

 

1. Identifikasi 

 Penyakit ini muncul secara sporadis, musiman, kadang-kadang disertai dengan 
gastroenteritis berat pada bayi dan anak kecil, ditandai dengan muntah, demam dan diare 
cair. Enteritis rotavirus kadang-kadang menyebabkan dehidrasi berat dan kematian pada 
anak-anak usia muda. Kasus klinis sekunder pada orang dewasa diantara anggota keluarga 
dapat terjadi, walaupun biasanya infeksi lebih sering bersifat subklinis. Infeksi rotavirus 
kadang-kadang menyerang penderita yang dirawat dibangsal anak dengan berbagai variasi 
gambaran klinis, namun infeksi virus ini diduga terjadi secara koinsidens dan sebagai 
penyebab utama. Rotavirus adalah penyebab utama diare nosokomial pada bayi dan 
neonatus. Walaupun diare yang disebabkan oleh rotavirus biasanya lebih parah daripada 
diare akut karena penyebab lain, namun penyakit yang disebabkan oleh rotavirus sulit 
dapat dibedakan dari penyakit yang disebabkan oleh virus enterik lain. 

 Rotavirus dapat ditemukan pada spesimen tinja atau apus dubur dengan mikroskop 
electron (EM), ELISA dan LA serta dengan teknik pemeriksaan imunologi lain yang 
kitnya tersedia di pasaran. Bukti adanya infeksi rotavirus dapat dilihat dengan teknik 
serologis, tetapi diagnosa biasanya didasarkan pada adanya antigen rotavirus pada tinja. 
Reaksi false positive pada pemeriksaan ELISA sering terjadi pada bayi baru lahir; reaksi 
positif membutuhkan konfirmasi dengan teknik pemeriksaan lain. 

 

2. Penyebab Penyakit 

 Gastro enteritis akut ini disebakan oleh rotavirus berukuran 70 nm termasuk dalam familia 
Reoviridae. Grup A sering menyerang bayi dan grup B jarang menyerang bayi di China, 
sedangkan grup C jarang menyerang manusia. Grup A, B, C, D, E dan F dapat menyerang 
binatang. Ada 4 serotipe major dan paling sedikit 10 serotipe minor dari rotavirus grup A 
pada manusia. Pembagian serotipe ini didasarkan pada perbedaan antigen pada protein 
virus 7 (VP7), yaitu protein permukaan pada capsid bagian luar. 


Antigen ini merupakan neutralizing antigen yang utama. Protein lain pada capsid bagian 
luar yang disebut dengan VP4 berperan dalam tingkat virulensi dari virus dan juga 
berperan dalam netralisasi virus. 

 

3. Distribusi Penyakit 

 Baik di negara berkembang maupun di negara maju, rotavirus sebagai penyebab sekitar 
1/3 kasus rawat inap diare pada bayi dan anak-anak di bawah usia 5 tahun. Infeksi 
rotavirus sering terjadi pada neonatal pada situasi tertentu, tetapi biasanya tanpa gejala. 
Anak-anak biasanya terinfeksi rotavirus pada usia 2-3 tahun pertama, dengan puncak 
insidensi klinis pada kelompok umur 6-24 bulan. KLB terjadi pada anak-anak di tempat 
penitipan anak-anak. Rotavirus lebih sering dikaitkan dengan diare berat daripada yang 
disebabkan oleh patogen enterik lainnya; di negara-negara berkembang, Rotavirus sebagai 
penyebab kematian sekitar 600.000 – 870.000 orang setiap tahun karena diare. 

Didaerah iklim sedang, diare yang disebabkan oleh rotavirus mencapai puncak selama 
musim dingin; sedangkan di daerah tropis kasus ditemukan sepanjang tahun, kadang-
kadang dengan sedikit kenaikan pada musim kering yang lebih dingin. Infeksi pada orang 
dewasa biasanya subklinis, tetapi KLB dengan gejala klinis terjadi di ruang perawatan 
manula (geriatric). 

 Rotavirus kadang-kadang menyerang para wisatawan dewasa traveler’s diarrhea dan 
menyerang orang-orang dengan daya tahan tubuh yang lemah (seperti pada penderita 
AIDS), orang tua dengan anak-anak yang menderita diare karena rotavirus dan manula. 

 

4. Reservoir 

 Kemungkinan manusia berperan sebagai reservoir. Virus pada binatang tidak 
menyebabkan penyakit pada manusia. Rotavirus kelompok B dan C yang ditemukan pada 
manusia berbeda dengan yang ditemukan pada binatang. 

5. Cara-cara Penularan 

 Cara penularan kemungkinan melaui rute fekal-oral atau kemungkinan penyebaran 
melalui pernafasan. Walaupun rotavirus tidak berkembang biak dengan baik pada saluran 
pernafasan, virus tersebut kemungkinan tertangkan didalam sekret saluran pernafasan. 
Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa rotavirus mungkin juga terdapat pada air 
yang tercemar. 

 

6. Masa Inkubasi 

 Masa inkubasi rata-rata sekitar 24 jam sampai dengan 72 jam. 

 

7. Masa Penularan 

 Penularan dapat terjadi selama fase akut dan selanjutnya penularan terus dapat 
berlangsung selama didalam tubuh orang itu masih ditemukan ada virus. Rotavirus 
biasanya tidak ditemukan sesudah hari ke-8 sejak infeksi, walaupun virus masih 
ditemukan selama 30 hari atau lebih pada penderita dengan gangguan sistem kekebalan 
(immunocompromised). Gejala klinis akan hilang rata-rata setelah 4 – 6 hari. 

 

8. Kerentanan dan Kekebalan 

 Usia 6-12 bulan paling rentan terhadap infeksi. Pada saat mencapai usia 3 tahun, 


kebanyakan orang telah mempunyai antibodi terhadap rotavirus. Orang-orang dengan 
sistem kekebalan rendah mempunyai risiko secara terus menerus mengeluarkan antigen 
rotavirus dalam jangka waktu yang lama dan mempunyai risiko menderita diare akibat 
intermiten. Diare jarang terjadi apabila infeksi rotavirus terjadi pada bayi yang berusia 
kurang dari 3 bulan. 

 

9. Cara-cara pemberantasan 

A. Upaya Pencegahan 

1) Pada bulan Agustus 1998, vaksin rotavirus hidup, oral, tetravalent – Rhesus based 
rotavirus vaccine (RRV-TV) telah diijinkan digunakan untuk bayi di Amerika 
Serikat. Vaksin ini sebaiknya diberikan kepada bayi pada usia 6 minggu – 1 tahun. 
Jadwal yang disarankan adalah 3 dosis yang diberikan secara berurutan pada usia 
2, 4 dan 6 bulan. Dosis pertama bisa diberikan pada usia 6 minggu – 6 bulan dosis 
berikutnya diberikan dengan interval waktu 3 minggu. Dosis pertama sebaiknya 
tidak diberikan kepada anak usia 7 tahun keatas karena akan meningkatkan 
kemungkinan terjadi reaksi demam. Dosis kedua dan ketiga sebaiknya diberikan 
sebelum ulang tahun yang pertama. Pemberian imunisasi rutin dengan vaksin 
tersebut akan menurunkan jumlah pasien gastroenteritis yang dirawat akibat 
rotavirus secara bermakna, yaitu dapat mencegah paling sedikit 2/3 dari anak-anak 
yang dirawat di rumah sakit dan yang meninggal karena rotavirus. 
Intussuscepsi (gangguan pada usus yang menyebabkan salah satu bagian usus 
masuk kebagian lain) ditemukan pada satu trial sebelum vaksin RRV-TV diizinkan 
beredar sebagai satu masalah yang potensial yang dapat terjadi pada pemberian 
RRV-TV. Oleh karena laporan tentang terjadinya intussescepsi ini terus menerus 
datang, maka CDC pada bulan Juli 1999, menunda beberapa penelitian yang akan 
dilakukan dan merekomendasikan agar menunda pemberian RRV-TV pada anak-
anak yang telah dijadwalkan untuk mendapatkan imunisasi sebelum bulan 
Nopember 1999. Rekomendasi ini termasuk ditujukan kepada mereka yang sudah 
mulai mendapat dosis awal RRV-TV. Semua kasus intussuscepsi yang terjadi 
setelah pemberian RRV-TV sebaiknya dilaporkan kepada Sistem Pelaporan 
Kejadian (Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)) (Vaccine Adverse Events Reporting 
System, VAERS, 800-822-7967); www.fda.gov/cber/vaers/report htm). Sebagian 
besar vaksin yang direkomendasikan untuk boleh dipakai saat ini akan diumumkan 
di website Divisi Imunisasi CDC (http://www.cdc.gov/nip). Dan juga pada website 
CCDM (http://www.ccdm.org). 


2) Efektifitas upaya-upaya pencegahan lain tidak diketahui dengan jelas. Perilaku 
hidup bersih dan sehat untuk mencegah penularan penyakit melalui jalan fekal-oral 
mungkin tidak efektif dalam mencegah penularan virus in, oleh karena virus dapat 
hidup untuk jangka waktu lama pada permukaan yang keras, pada air yang 
terkontaminasi dan di tangan. Rotavirus relatif kebal terhadap disinfektan yang 
umum digunakan tetapi dapat diinaktifvasi dengan Chlorin. 
3) Di tempat-tempat penitipan anak, mengenakan baju yang dapat menutup seluruh 
bagian tubuh bayi termasuk menutupi popok bayi, diketahui dapat menurunkan 
angka penularan infeksi. 
4) Cegah terjadinya pemajanan dari bayi dan anak kecil dengan orang yang menderita 
gastroenteritis akut di dalam lingkungan keluarga dan institusi (seperti di tempat-
tempat penitipan anak/orang tua dan rumah sakit). 



Pencegahan dilakukan dengan standar sanitasi yang baik, sedangkan melarang 
anak-anak untuk dititipkan tempat penitipan anak tidak diperlukan. 


5) Pemberian Imunisasi pasif dengan IG per oral terbukti memberikan perlindungan 
kepada BBLR dan anak dengan daya tahan tubuh rendah. Menyusui tidak 
menurunkan angka penularan, namun dapat mengurangi keparahan gastroenteritis. 





B. Pengawasan Penderita, Kontak dan Lingkungan sekitar 

1) Laporan kepada instansi kesehatan yang berwenang: Laporan wajib diberikan bila 
terjadi wabah; tidak ada laporan individu, Kelas 4 (lihat Pelaporan tentang 
Penyakit Menular). 
2) Isolasi: Tindakan pencegahan enterik dengan mewajibkan untuk melakukan cuci 
tangan berulang kali bagi mereka yang sedang merawat bayi. 
3) Disinfeksi serentak: pembuangan popok bayi harus dilakukan dengan cara yang 
saniter, pakaikan baju yang dapat menutup seluruh badan bayi untuk mencegah 
terjadinya rembesan dari popok. 
4) Karantina: Tidak perlu. 
5) Imunisasi kontak: Tidak perlu. 
6) Investigasi kontak dan sumber infeksi: Sumber infeksi sebaiknya dicari betul pada 
populasi risiko tinggi dan pada cohorted antigen excretter (sekelompok orang 
yang secara terus menerus mengeluarkan virus). 
7) Pengobatan spesifik: Tidak dilakukan. Terapi rehidrasi oral dengan oralit saja 
sudah cukup memadai diberikan kepada kebanyakan kasus. Cairan parenteral 
diperlukan pada penderita dehidrasi berat (kolaps vaskuler) atau pada penderita 
dengan muntah yang berat (lihat Kolera, 9B7). Antibiotika dan obat antimotilitas 
merupakan kontraindikasi. 


 




C. Cara-cara Penanggulangan wabah: Cari sumber penularan dan cara-cara penularan 
dengan melakukan penelitian epidemiologis. 

 

D. Implikasi bencana: sangat potensial terjadi penularan pada hunian yang padat 
ditempat-tempat penampungan pengungsian. 

 

E. Tindakan Internasional: Manfaatkan Pusat-pusat Kerjasama WHO. 

 

 

 

II. EPIDEMIC VIRAL GASTROENTEROPATHY 

 ICD-9 008.6, 008.8; ICD-10 A08.1 

 

(Penyakit akibat virus Norwalk, Penyakit karena virus seperti Norwalk, Gastroenteritis 
karena virus pada orang dewasa, gastroenteritis epidemika karena virus, Gastroenteritis 
akut akibat infeksi nonbakteri, Diare karena virus, diare epidemik disertai muntah-muntah, 
Penyakit muntah-muntah musim dingin, Epidemi mual dan muntah) 

 

 


1. Identifikasi 

 Biasanya penyakit ini akan sembuh dengan sendirinya, gejala penyakit ringan sampai 
sedang dan sering kali terjadi KLB dengan gejala klinis seperti mual, muntah, diare, nyeri 
perut, mialgia, sakit kepala, malaise, demam ringan atau kombinasi dari gejal-gejala 
tersebut. Gejala gastrointestinal yang khas akan berlangsung selama 24-48 jam. Virus 
dapat ditemukan pada tinja dengan pemeriksaan immune EM atau secara langsung dan 
untuk virus Norwalk dengan RIA atau dengan reverse transcription polymerase chain 
reaction (RT-PCR). Bukti serologis adanya infeksi bisa diperlihatkan dengan IEM atau 
untuk virus Norwalk dengan RIA. Untuk menegakkan diagnosa memerlukan jumlah tinja 
yang cukup banyak dengan penyimpanan sampel yang baik pada suhu 4°C (39°F) untuk 
EM dan pada suhu -20°C (-4°F) untuk pemeriksaan antigen. Pengambilan serum akut dan 
konvalesen (dengan interval waktu antara 3-4 minggu) penting untuk dilakukan agar dapat 
melakukan analisa kaitan antara partikel yang diamati dengan EM dengan etiologi 
penyakit tersebut. RT-PCR nampaknya lebih sensitif dari IEM dan dapat digunakan untuk 
menguji kaitan antara munculnya cluster penyakit yang menyebar luas. 

 

2. Penyebab Penyakit 

 Virus seperti virus Norwalk (Norwalk –like viruses) adalah mikroorganisme kecil 
berukuran 27-32 nm, virus RNA ini diklasifikasikan sebagai calicivirus, sebagai penyebab 
paling umum terjadinya KLB gastroenteritis nonbakteri. Beberapa jenis virus mempunyai 
bentuk yang mirip tetapi berbeda struktur antigen virusnya diketahui menyebabkan 
terjadinya KLB gastroenteritis; yaitu Hawaii, Taunton, Ditching atau W. Cokle, 
Parramatta, Oklahoma dan Snow Mountain agents. 

 

3. Distribusi Penyakit 

 Tersebar diseluruh dunia, sering menimbulkan KLB ataupun muncul sporadis. Semua 
golongan umur rentan terhadap infeksi. KLB yang terjadi di Amerika Serikat dikaitkan 
dengan kebiasaan makan kerang-kerangan mentah. Pada suatu penelitian 
seroepidemiologis di AS, diketahui bahwa terbentuknya antibodi terhadap virus Norwalk 
sangat lambat, pada usia lima puluhan, lebih dari 60% penduduk telah memiliki antibodi. 
Dari penelitian-penelitian yang dilakukan diberbagai negara berkembang menunjukkan 
bahwa antibodi terbentuk lebih awal. Respons serologis terhadap virus Norwalk sudah ada 
pada bayi dan anak-anak usia muda di Bangladesh dan Finlandia. 

 

4. Reservoir 

 Manusia diketahui sebagai satu-satunya reservoir. 

 

5. Cara-cara Penularan 

 Penularan mungkin melalui rute fekal-oral, walaupun kontak ataupun penularan melalui 
udara dan melalui pakaian dan peralatan dapat menjelaskan terjadinya penularan secara 
cepat di rumah sakit. Beberapa KLB yang terjadi baru-baru ini cara penularan 
diperkirakan melalui makanan pesta (foodborne), penularan melalui air (water borne) dan 
penularan karena mengkonsumsi kerang-kerangan diikuti dengan terjadinya penularan 
sekunder kepada anggota keluarga. 

 

 


6. Masa Inkubasi 

 Biasanya 24-28 jam, penelitian yang dilakukan pada sukarelawan yang ditulari dengan 
virus Norwalk, masa inkubasi berkisar antara 10-50 jam. 

 

7. Masa Penularan 

 Penularan terjadi selama fase akut, hingga 48 jam sesudah diare karena virus Norwalk 
berhenti. 

 

8. Kerentanan dan Kekebalan 

 Semua orang rentan terhadap infeksi virus ini. Kekebalan yang bertahan sampai 14 
minggu ditemukan pada sukarelawan yang secara sengaja diberi virus Norwalk. 
Kekebalan yang bertahan agak lama bervariasi dari orang ke oaring. Beberapa orang yang 
pernah sakit dapat sakit lagi pada waktu terjadinya reinfeksi 27-42 bulan setelah sembuh 
dari sakit. Titer antibody yang ada sebelumnya tidak ada hubungannya dengan tingkat 
kerentanan dan kekebalan seseorang. 

 

9. Cara-cara Pemberantasan 

 A. Upaya Pencegahan 

Upaya pencegahan sama dengan upaya untuk mencegah penularan penyakit melalui 
rute fekal-oral (lihat Demam Tifus, 9A). Secara khusus yang harus dilakukan adalah 
masaklah kerang-kerangan dengan benar sebelum dikonsumsi dan lakukan surveilans 
pada tempat-tempat pengembangbiakan kerang-kerangan agar dapat dicegah 
terjadinya infeksi dari sumber tersebut. 

 

 B. Pengawasan Penderita, Kontak dan Lingkungan sekitar 

1) Laporan kepada instansi kesehatan setempat: Laporan wajib dilakukan bila terjadi 
KLB; tidak ada laporan harus individu, Kelas 4 (lihat pelaporan tentang penyakit 
menular). 
2) Isolasi: Lakukan tindakan kewaspadaan enterik. 
3) Disinfeksi serentak: Tidak dilakukan. 
4) Karantina: Tidak dilakukan. 
5) Imunisasi Kontak: Tidak dilakukan. 
6) Investigasi kontak dan sumber infeksi: Dalam situasi KLB, cari sumber terjadinya 
penularan. 
7) Pengobatan spesifik: Beri cairan dan elektrolit pengganti pada kasus berat (lihat 
Cholera, 9B7). 





C. Upaya Penanggulangan wabah: Cari sumber dan perantara penularan. Lakukan 
investigasi untuk mendapatkan gambaran epidemiologis yang jelas tentang KLB ini. 

 

D. Implikasi bencana: Dapat menjadi masalah yang potensial terjadinya penularan 
ditempat-tempat pengungsian dan didaerah bencana. 

 

E. Tindakan Internasional: Tidak ada. 

 

 

 


GIARDIASIS ICD-9 007.1; ICD-10 A07.1 

(Enteritis karena Giardia) 

 

 

1. Identifikasi 

 Infeksi protozoa, terutama menginfeksi usus halus bagian atas, sering tanpa gejala. Infeksi 
kadang-kadang diikuti dengan berbagai gejala intestinal seperti diare kronis, steatorrhea, 
kejang perut, gembung, buang air besar berkali-kali, tinja pucat berlemak, lelah dan 
penurunan berat badan. Dapat terjadi gangguan absorpsi lemak ataupun vitamin yang larut 
dalam lemak. Biasanya tidak terjadi invasi ekstraintestinal, tetapi terjadi reaksi radang 
sendi dan pada giardiasis yang berat, mungkin dapat terjadi gangguan pada usus dua belas 
jari dan kerusakan sel mukosa jejunum. 

Diagnosa sederhana dapat ditegakkan dengan pemeriksaan tinja, apabila itemukan kita 
atau trofozoit didalam tinja berati positif mederita giardiasis. Untuk mengenyampingkan 
diagnosa giardiasis, diperlukan sedikitnya tiga kali pemeriksaan tinja dengan hasil 
berturut-turut tetap negatif. 

Diagnosa giardiasis juga dapat ditegakkan dengan ditemukannya trofozoit pada cairan 
derodenum (dengan aspirasi atau tes string) dilakukan dengan biopsi. Cara pemeriksaan 
cairan dan mukosa duodenum lbih dapat dipercaya apabila hasil pemeriksaan tinja 
meragukan. Namun cara ini jarang dilakukan. Oleh karena infeksi oleh giardian biasanya 
tanpa gejala maka ditemkannnya G. lamblia baik didalam tinja maupun di duodenum 
tidak berarti G. lamblia sebagai penyebab penyakit. Pemeriksaan dengan teknik EIA dan 
dengan teknik direce fluorescent antibody untuk mendeteksi adanya antigen didalam tinja 
lebih sesitif jika dibandingkan dengan pemeriksaan mikroskopis langsung. Kit teknik 
pemeriksaan ini tersedia luas dipasaran. 

 

2. Penyebab Infeksi 

 Giardia lamblia (G. intestinalis, G. duodenalis), satu jenis protozoa flagellata. 

 

3. Distribusi Penyakit 

 Penyakit ini tersebar di seluruh dunia. Infeksi lebih sering terjadi pada anak-anak daripada 
orang dewasa. Prevalensi lebih tinggi terjadi di daerah dengan sanitasi yang buruk dan di 
institusi dimana kebiasaan anak-anak untuk buang besar tidak benar, misalnya pada 
tempat penitipan anak. Prevalensi tinja positif mengandung kuman di beberapa daerah 
berkisar antara 1% dan 30%, tergantung pada golongan masyarakat dan golongan umur 
yang disurvei. Infeksi endemik di Amerika Serikat, Inggris, Meksiko, biasanya terjadi 
pada bulan Juli – Oktober biasanya menyerang anak-anak berusia kurang dari 5 tahun dan 
orang dewasa umur 25-39 tahun. Infeksi tersebut terjadi karena menggunakan sumber air 
permukaan yang tidak disaring atau menggunakan air dari sumur yang dangkal, berenang 
di badan air yang tercemar dan mempunyai anak yang dititipkan di tempat penitipan anak. 
KLB yang luas pernah terjadi di masyarakat dimana sumber penularannya berasal dari 
sumber air minum yang tidak difiltrasi. Beberapa KLB yang lebih kecil dilaporkan terjadi 
sehabis mengkonsumsi makanan yang tercemar, karena penularan dari orang ke orang 
yang terjadi di tempat penitipan anak dan penularan melalui air di tempat rekreasi yang 
tercemar misalnya di kolam renang dan mata air. 

 


4. Reservoir 

 Yang berperan sebagai reservoir adalah manusia, kadang-kadang juga berang-berang, 
binatang buas lainnya dan binatang peliharaan. 

 

5. Cara-cara Penularan 

 Penularan dapat terjadi dari orang ke orang melalui tangan yang mengandung kista dari 
tinja orang yang terinfeksi ke mulut orang lain, penularan terjadi terutama di asrama dan 
tempat penitipan anak. Cara-cara penularan seperti ini adalah yang paling utama. 
Hubungan seksual melalui anus juga mempermudah penularan. KLB terbatas dapat terjadi 
karena menelan kista dari air minum yang terkontaminasi tinja penderita, dan tempat 
rekreasi air yang tercemar dan jarag sekali penularan terjadi karena makanan yang 
terkontaminasi tinja. Kadar chlorine yang digunakan secara rutin untuk pengolahan air 
bersih tidak dapat membunuh kista Giardia, khususnya pada saat air dalam keadaan 
dingin; air kotor yang tidak disaring dan air danau yang terbuka terhadap kontaminasi oleh 
tinja manusia dan hewan merupakan sumber infeksi. 

 

6. Masa Inkubasi 

 Biasanya 3-25 hari atau lebih, nilai tengah (median) inkubasi berkisar antara 7-10 hari. 

 

7. Masa Penularan : Lamanya penularan oleh penderita seringkali berlangsung berbulan-
bulan. 

 

8. Kerentanan dan Kekebalan 

 Angka carrier asimtomatik sangat tinggi, infeksi umumnya sembuh dengan sendirinya. 
Penelitian klinis dapat digunakan untuk mengetahui patogenitas Giardia lamblia pada 
manusia. Orang dengan AIDS akan mengalami infeksi lebih parah dan infeksinya dapat 
berlangsung lebih lama. 

 

 

9. Cara-cara Pemberantasan 

 A. Upaya Pencegahan 

1) Berikan penyuluhan kepada keluarga, perorangan dan penghuni asrama khususnya 
kepada orang dewasa di tempat penitipan anak, tentang pentingnya menjaga 
kebersihan perorangan dan membudayakan kebiasaan cuci tangan sebelum 
menjamah makanan, sebelum makan dan setelah menggunakan kamar kecil 
(toilet). 
2) Lakukan filtrasi air pada instalasi air minum yang terpajan tinja manusia atau 
tercemar tinja binatang. 
3) Lindungi instalasi air minum dari kemungkinan kontaminasi tinja manusia dan 
hewan. 
4) Buang tinja pada jamban yang saniter. 
5) Masaklah air yang akan diminum sampai matang. Bila dimungkinkan air yang 
akan diminum diberi hipoklorit dan iodine; gunakan 0,1 sampai 0,2 ml (2-4 tetes) 
bahan pemutih yang bisa dipakai di dalam rumah tangga atau 0,5 ml tincture 
iodine 2% per liter selama 20 menit (lebih lama pada air dingin dan keruh). 






B. Pengawasan Penderita, Kontak dan Lingkungan sekitar 

1) Laporan ke instansi kesehatan yang berwenang: Laporan kasus diwajibkan untuk 
daerah tertentu, Kelas 3B (lihat pelaporan tentang penyakit menular). 
2) Isolasi: Lakukan kewaspadaan enterik. 
3) Disinfeksi serentak: Lakukan disinfeksi terhadap alat-alat dan tanah yang 
tercemar tinja. Di masyarakat dengan sistem pembuangan limbah yang modern 
dan memadai, tinja dapat langsung dibuang kedalam system pembuangan tanpa 
dilakukan disinfeksi terlebih dahulu. Lakukan pembersihan menyeluruh. 
4) Karantina: Tidak ada. 
5) Imunisasi kontak: Tidak ada. 
6) Investigasi terhadap kontak dan sumber infeksi: lakukan pemeriksaan mikroskopis 
terhadap tinja setiap anggota keluarga dan tersangka kontak yang lain khususnya 
yang tidak menunjukkan gejala. 
7) Pengobatan spesifik: Metronidazole (Flagyl®) atau tinidazole (tidak beredar di 
Amerika Serikat) adalah obat pilihan. Quinacrine dan Albendazole sebagai obat 
alternatif. Furazolidone tersedia dalam bentuk suspensi pediatrik untuk anak-anak 
dan bayi, paromomycin dapat diberikan selama kehamilan. Resistensi dan kambuh 
kembali dapat terjadi pada penggunaan obat apa saja. 





C. Upaya Penanggulangan wabah: 

Lakukan penyelidikan epidemiologi apabila ditemukan kasus secara klaster di suatu 
daerah atau asrama untuk mencari sumber infeksi dan untuk mengetahui cara-cara 
penularan. Perlu diperhatikan hal-hal berikut yang umum sebagai perantara penularan 
yaitu : air, makanan, tempat penitipan anak atau tempat rekreasi dan asrama. Lakukan 
upaya-upaya pencegahan dan pemberantasan. Untuk mencegah terjadinya penularan 
dari orang ke orang lakukan penekanan khusus pada membudayakan kebersihan 
perorangan dan kebersihan lingkungan serta pembuangan tinja yang saniter. 

 

D. Implikasi bencana : Tidak ada. 

 

E. Tindakan Internasional : Tidak ada. 

 

 

 

INFEKSI KARENA GONOCOCCUS ICD-9 098; ICD-10 A54 

 

Uretritis, epididimitis, proktitis, cervicitis, Bartholinitis, inflamasi panggul (salpingitis dan 
atau endometritis) dan faringitis pada orang dewasa, vulvovaginitis pada anak-anak; 
conjunctivitis pada bayi baru lahir dan dewasa semua yang disebutkan diatas adalah inflamasi 
yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae. Bakteriemia gonokokal mengakibatkan 
sindroma arthritis-dermatitis, kadang-kadang dapat menyebabkan endocarditis dan meningitis. 
Komplikasi lain dapat terjadi seperti perihepatitis dan sindroma infeksi amniotic pada 
neonatus. Secara klinis infeksi gonococcus mirip dengan infeksi pada alat genital yang 
disebabkan oleh Chlamidya trachomatis dan infeksi oleh penyebab lainnya. Infeksi simultan 
dengan organisme lain tidak jarang terjadi. 

 

 


INFEKSI KARENA GONOCOCCUS ICD-9 098.0-098.3; ICD-10 A54.0-A54.2 

(Gonorrhea, urethritis karena gonococcus, vulvovaginitis karena gonococcus, cervicitis karena 
gonococcus, Bratholinitis karena gonococcus, clap, strain, Gleet, Dose, GC) 

 

 

1. Identifikasi 

 Suatu penyakit menular seksual terbatas pada epitel columnair dan epitel transitional yang 
perjalanan penyakitnya berbeda antara pria dan wanita, berbeda pada derajat beratnya 
penyakit dan berbeda pada kemudahan mengenai gejala klinis penyakitnya. Pada pria 
infeksi gonococcus ditandai dengan keluarnya discharge purulen akut dari urethra 
anterior disertai dengan disuria dalam 2-7 hari setelah terpajan. Uretritis dapat diketahui 
dengan: a) adanya discharge mukopurulen atau purulen; dan b) Gram terhadap discharge 
uretra ditemukan adanya 5 atau lebih lekosit per lapangan pandang dengan menggunakan 
minyak emersi. Pengecatan dengan Gram mempunyai tingkat sensivitas yang tinggi dan 
spesifik untuk mengetahui terjadinya uretritis dan infeksi gonococcus simptomatis pada 
pria. Hanya sebagian kecil saja infeksi gonococcus pada pria adalah asimtomatis. Di 
Indonesia penyakit ini disebut juga dengan GO. 

 Pada wanita infeksi diikuti dengan terjadinya servisitis mukopurulen (MPC) yang 
seringkali asimptomatis, tetapi ada beberapa wanita mengeluarkan discharge abnormal 
dari vagina dan disertai dengan perdarahan vagina setelah bersenggama. Sekitar 20% dari 
mereka mengalami invasi uterin, sering terjadi pada menstruasi pertama, kedua atau pada 
saat menstruasi berikutnya. Invasi uterin ini ditandai dengan gejala endometritis, 
salpingitis atau peritonitis, didaerah pelvis, dan disertai dengan risiko infertilitas dan 
terjadinya kehamilan ektopik. Anak perempuan usia pubertas mungkin dapat mengidap 
vulvovaginitis karena gonococcus melalui kontak langsung dengan eksudat dari orang 
yang terinfeksi karena pelecehan seksual. 

 Pada wanita dan pria homoseksual, infeksi pharyngeal dan anorectal sering terjadi dan 
biasanya asimtomatis tetapi dapat timbul pruritus, tenesmus dan discharge. Konjungtivitis 
dapat terjadi pada bayi baru lahir dan jarang terjadi pada orang dewasa, dan dapat 
menyebabkan kebutaan jika tidak mendapat pengobatan yang adekuat. Septikemia dapat 
terjadi pada 0,5%-1% dari semua infeksi gonokokal, selain itu infeksi gonokokus dapat 
menyebabkan arthritis, lesi kulit dan jarang sekali endokarditis dan meningitis. Arthritis 
menyebabkan kerusakan sendi yang menetap jika pengobatan dengan antibiotika yang 
tepat terlambat diberikan. Kematian jarang sekali terjadi kecuali pada endokarditis. 

 Nongonococcal urethritis (NGU) dan nongonococcal MPC disebabkan oleh organisme 
penyebab penyakit menular seksual lain dan mengacaukan diagnosis klinis gonorrhea. 
Kira-kira sekitar 30-40% dari NGU di Amerika Serikat dan Inggris disebabkan oleh 
Chlamydia trachomatis (lihat infeksi Chlamydia). 

 Diagnosa infeksi gonococcus dibuat dengan pemeriksaan mikroskopis yaitu dengan 
pengecatan Gram terhadap discharge. Diagnosa dapat juga ditegakkan dengan kultur 
menggunakan media selektif (yaitu media dengan modifikasi Thayer Martin Agar), atau 
dengan tes yang dapat mendeteksi adanya asam nukleat dari gonococcus. Ditemukannya 
diplococcus intraseluler gram negative yang sangat khas pada preparat apus yang diambil 
dari discharge uretra pria, dianggap sebagai diagnosa pasti infeksi gonococcus pada pria. 

 Sedangkan jika ditemukan pada preparat apus cervix wanita juga dianggap sebagai kriteria 
diagnosa pada wanita (dengan spesifitas 90-97%). 


Kultur dengan menggunakan media selektif diikuti dengan identifikasi presumptive, baik 
secara mikroskopis maupun secara mikroskopis dan tes biokemis, cukup sensitif dan 
spesifik. Begitu juga tes asam nukleat juga cukup sensitif dan cukup spesifik. Pada kasus-
kasus pidana, spesimen harus dikultur dan isolat harus diberikan dengan dua metode yang 
berbeda untuk memastikan N. Gonorrhaeae. 

 

2. Penyebab Penyakit 

 Neisseria gonorrhoeae, suatu gonococcus. 

 

3. Distribusi Penyakit 

 Tersebar di seluruh dunia. Penyakit ini menyerang kedua jenis kelamin, terutama pada 
masa usia seksual aktif yaitu para remaja dan dewasa muda. Prevalensi tertinggi terjadi 
pada masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah. Di beberapa negara maju, 
insidensi GC menurun selama dua dekade yang lalu. Di Amerika Serikat, insidensi kasus 
yang dilaporkan telah menurun dari puncak 468/10.000 pada tahun 1975 menjadi 
122,5/100.000 pada tahun 1987. Di Kanada insidensi penyakit ini menurun tajam dari 
216,6/100.000 menjadi 18,6/100.000 pada tahun 1995. Akan tetapi prevalensi yang 
resisten terhadap penicillin dan tetracycline meluas, resistensi terhadap fluoroquinolon 
jarang sekali terjadi di Amerika Serikat (umum terjadi di banyak negara di timurjauh) dan 
resistensi terhadap cephalosporin tidak pernah dilaporkan. 

 

4. Reservoir: Penyakit ini hanya menyerang manusia. 

 

5. Cara-cara Penularan 

 Melalui kontak dengan eksudat dari membrana mukosa orang yang terinfeksi, hampir 
selalu infeksi terjadi sebagai akibat aktivitas seksual. Apabila infeksi terjadi pada anak-
anak usia lebih dari satu tahun, hal ini dapat dipakai sebagai indikator adanya pelecehan 
seksual. 

 

6. Masa Inkubasi 

 Biasanya 2-7 hari, kadang-kadang lebih lama baru timbul gejala. 

 

7. Masa Penularan 

 Masa penularan dapat memanjang sampai berbulan-bulan pada orang yang tidak diobati. 
Pengobatan yang efektif mengakhiri penularan dalam beberapa jam. 

 

8. Kerentanan dan Kekebalan 

 Semua orang rentan terhadap infeksi. Telah ditemukan terjadinya pembentukan antibodi 
humoral maupun antibodi sekretori pada infeksi gonokokus. Namun strain gonokokus, 
antigennya bersifat heterogen sehingga dapat terjadi reinfeksi. Wanita yang menggunakan 
IUD mempunyai risiko terkena Solpingitis lebih tinggi, tiga bulan setelah pemasangan 
IUD. 

 Orang-orang dengan defisiensi komponen komplemen lebih rentan terjadi bakteriemi. 
Oleh karena gonokokus hanya menyerang epitel columnair dan epitel transitional, maka 
epitel vagina padawanita dewasa resisten terhadap infeksi gonokokus (oleh karena epitel 
vagina pada wanita dewasa berbentuk stratified squamous). 


Sedangkan epitel vagina wanita usia pubertas berbentuk Columnair dan Aransitional 
sehingga rentan terhadap infeksi gonokokus. 

 

9. Cara-cara Pemberantasan 

 A. Upaya Pencegahan 

1) Sama dengan sifilis (lihat Sifilis, 9 A), kecuali untuk upaya-upaya yang spesifik 
untuk gonorrhoeae, misalnya penggunaan obat profilaksis pada mata bayi baru 
lahir (lihat bagian II, 9A2, dibawah) dan perhatian khusus (presumtif atau 
epitreatment) kepada mereka yang kontak dengan penderita (lihat 9B6 di bawah). 
2) Upaya pencegahan terutama didasarkan kepada perilaku seksual yang aman, 
misalnya monogami dengan satu pasangan yang tidak terinfeksi, menghindari 
berganti-ganti pasangan seksual atau dengan pasangan yang tidak dikenal, dan 
tetap menggunakan kondom dengan cara yang tepat pada semua pasangan yang 
tidak diketahui apakah bebas dari infeksi. 





B. Penanganan Penderita, Kontak dan Lingkungan sekitarnya 

1) Laporan kepada instansi kesehatan setempat: Laporan kasus dibutuhkan pada 
semua negara bagian dan di banyak negara, Kelas 2B (lihat Pelaporan tentang 
penyakit menular). 
2) Isolasi: Isolasi kontak dilakukan untuk bayi baru lahir dan anak prepubertas 
dengan infeksi gonococcus sampai dengan pengobatan antimikroba parenteral 
yang efektif telah dilaksanakan untuk 24 jam. Pemberian antibiotika yang efektif 
dalam dosis yang adekuat dengna cepat menyebabkan discharge yanga keluar 
menjadi non infeksion. Penderita harus menghenetikan melakukan hubungan 
seksual sampai dengan pengobatan antimikroba lengkap dan untuk menghindari 
reinfeksi, jangan melakukan hubungan seksual dengan pasangan seks sebelumnya 
sampai mereka mendapatkan pengobatan. 
3) Disinfeksi serentak: Disinfeksi dilakukan terhadap discharge dari lesi dan barang-
barang yang terpajan. 
4) Karantina: Tidak ada. 
5) Imunisasi kontak: Tidak ada. 
6) Investigasi kontak dan sumber infeksi: wawancarai penderita dan catat siapa 
pasangan seksualnya. Pewawancara yang terlatih akan memperoleh hasil yang 
terbaik dari penderita yang tidak kooperatif, dan dokter dapat memotivasi 
penderita itu untuk membantu pengobatan pada pasangan mereka. Kontak seksual 
dengan penderita harus diperiksa, dites dan diobati jika kontak seksual terakhir 
mereka dengan penderita dalam waktu 60 hari sebelum muncul gejala atau 
sebelum diagnosa ditegakkan. Pasangan seksual terakhir walaupun diluar batas 
waktu tersebeut harus diperiksa, dites dan diobati. Semua bayi yang lahir dari ibu 
yang terinfeksi harus diberikan pengobatan pencegahan. 
7) Pengobatan spesifik: Dengan pertimbangan klinis, laboratoris maupun 
epidemiologis (kontak dari kasus yang terdiagnosa), harus diberikan pengobatan 
yang tepat. Yaitu : untuk infeksi gocococcus tanpa komplikasi servik, rectum atau 
urethra pada orang dewasa, pengobatan yang dianjurkan adalah cefixime 400 mg 
oral dalam dosis tunggal, ceftriaxone 125 mg IM dalam dosis tunggal, 
ciprofloxacin 500 mg oral dalam dosis tunggal atau ofloxacin 400 mg dosis 
tunggal. 



Penderita yang dapat menerima cephalosporins dan quinolone boleh diobati dengan 
spectinomycin 2 gm IM dalam dosis tunggal. Oleh karena tingginya kemungkinan 
bahwa penderita yang terinfeksi dengan N. gonorrhoeae juga mendapat infeksi genital 
dengan Chlamydia trachomatis, dianjurkan juga untuk diberikan azithromycin 1 g PO 
dalam dosis tunggal atau doxycycline 100 mg PO 2 kali sehari selama 7 hari sebagai 
tambahan rutin untuk pengobatan gonorrhoeae tanpa komplikasi. 

Harus ditekankan bahwa penderita yang sedang mendapat pengobatan untuk 
gonorrhoeae harus juga diberi pengobatan yang efektif terhadap penyebab infeksi 
Chlamydia genital secara rutin, oleh karena infeksi Chlamydia sering terjadi pada 
pasien yang didiagnosa menderita gonorrhoeae. Pengobatan ini sekaligus juga akan 
mengobati sifilis dan dapat mencegah timbulnya gonococcus yang resisten terhadap 
antimikroba. Infeksi gonococcus pada faring lebih sulit diberantas daripada infeksi 
pada urethra, servik atau rectum. Beberapa jenis rejimen dapat mengobati infeksi 
faring dengan angka kesembuhan lebih dari 90%. Rejimen yang dianjurkan untuk 
infeksi ini adalah cefriaxone 125 mg IM dalam dosis tunggal atau ciprofloxacin 500 
mg oral dalam dosis tunggal. 

Timbulnya resitensi gonococcus terhadap antimikroba yang umum dipakai disebabkan 
penyebaran luas dari plasmid yang membawa gen untuk resisten. Oleh karena itu, 
banyak strain gonococcus resisten terhadap penicillin (PPNG), tetracycline (TRNG) 
dan fluoroquinolon (QRNG). Resistensi terhadap antimikroba generasi ketiga dan 
terhadap cephalosporin (cefriaxone dan cefimixe) tidak pernah dilaporkan, dan 
resistensi terhadap spectinomycine jarang terjadi. Yang terpenting untuk diperhatikan 
adalah resistensi terhadap fluoroquinolon (yaitu ciprofloxacin dan ofloxacin) yang 
menjadi luas di Asia dan dilaporkan sporadis di banyak tempat di dunia, termasuk 
Amerika Utara. Pada tahun 1997, resistensi terhadap fluoroquinolones ditemukan kira-
kira 0,1% dari isolat di Amerika Serikat. Oleh karena itu, rejimen fluoroquinolones 
tetap dapat digunakan untuk infeksi yang didapat di Amerika Serikat. Dengan 
demikian surveilans yang terus-menerus untuk mengamati terjadinya resistensi 
terhadap antimikroba sangat penting untuk dilakukan. 

Kegagalan pengobatan dengan rejimen antimikroba seperti yang disebutkan diatas 
jarang terjadi sehingga kultur rutin untuk tes keberhasilan pengobatan tidak 
diperlukan. Jika gejala menetap, kemungkinan terjadi reinfeksi oleh karena itu 
spesimen harus diambil untuk kultur mikrobiologi dan tes resistensi. Pemeriksaan 
ulang terhadap pasien risiko tinggi setiap 1-2 bulan perlu dilakukan untuk menemukan 
reinfeksi asimtomatis. Penderita dengan infeksi gonococcus mempunyai risiko 
terinfeksi HIV dan terhadap mereka harus ditawari untuk dilakukan konseling dan 
pemeriksan yang bersifat rahasia (confidential). 

 

C. Upaya Penanggulangan Wabah 

Intensifkan semua prosedur rutin, terutama pengobatan kontak atas dasar informasi 
epidemiologis. 

 

D. Implikasi Bencana: Tidak ada. 

 

E. Penanganan Internasional: Lihat Sifilis, 9 E. 

 


II. GONOCOCCAL CONJUCTIVITIS (NEONATORUM) 

 ICD-9 098.40; ICD-10 A54.3 

 (Gonorrheal ophthalmia neonatorum) 

 

 

1. Identifikasi 

 Kemerahan akut dan bengkak pada konjungtiva pada satu atau kedua mata, dengan 
discharge yang mukopurulen atau purulen dimana gonococcus dapat ditemukan dengan 
mikroskop dan metode kultur. Ulcus cornea, perforasi dan kebutaan dapat terjadi jika 
pengobatan spesifik tidak diberikan dengan cepat. 

 Ophthalmia gonococcal neonatorum adalah salah satu dari sekian banyak jenis 
peradangan akut pada mata dan konjungtiva terjadi dalam waktu 3 minggu pertama 
setelah lahir, secara umum disebut dengan opthalmia neonatorum. Ophthalmia yang 
disebabkan oleh Gonococcus adalah yang paling serius, namun bukan sebagai penyebab 
infeksi yang paling serius. Infeksi yang paling sering disebabkan oleh Chlamydia 
trachomatis yang menyebabkan inclusion conjunctivitis dan cenderung kurang begitu akut 
dibandingkan gonococcal conjunctivitis dan biasanya nampak 5-14 hari sesudah lahir 
(lihat Conjunctivitis, Chlamydia). Setiap Conjunctivitis neonatal purulen harus dianggap 
disebabkan oleh infeksi gonococcus sampai terbukti bukan. 

 

2. Penyebab Penyakit - Neisseria gonorrhoeae, gonococcus. 

 

3. Distribusi Penyakit 

 Tersebar luas diseluruh dunia. Bervariasi sesuai dengan tingkat prevalensi infeksi 
maternal dan tersedianya upaya untuk mencegah infeksi mata pada bayi baru lahir pada 
saat persalinan; ophthalmia neonatorum yang disebabkan oleh gonococcus jarang terjadi 
apabila mata bayi yang baru lahir diprofilaksis dengan adekuat. Penyakit ini sampai 
sekarang tetap menjadi penyebab penting terjadinya kebutaan di dunia. 

4. Reservoir: Infeksi dari servik dari ibunya. 

 

5. Cara-cara Penularan 

 Kontak dengan jalan lahir selama persalinan. 

 

6. Masa Inkubasi - Biasanya 1-5 hari. 

 

7. Masa Penularan 

 Masa penularan berlangsung selama discharge masih ada yaitu jika tidak diobati, masinh 
tetap menular sampai dengan 24 jam setelah dimulai pengobatan spesifik. 

 

8. Kerentanan dan Kekebalan – semua orang rentan terhadap infeksi. 

 

9. Cara-cara Pemberantasan 

A. Cara-cara Pencegahan 

1) Lakukan upaya pencegahan infeksi maternal (lihat bagian I, 9A di atas dan lihat 
Sifilis, 9 A). Tegakkan diagnosa gonorrhoeae pada wanita hamil dan segera beri 
pengobatan kepada wanita tersebut dan pasangan seksualnya. 



Kultur rutin dari servik dan rektum terhadap gonococci harus dipertimbangkan 
untuk dilakukan selama masa sebelum kelahiran, terutama pada trimester III 
dimana pada saat itu infeksi gonococcus cukup prevalens. 


2) Berikan obat mata yang efektif yang sudah biasa digunakan untuk perlindungan 
mata pada bayi segera setelah lahir; penetesan obat mata berupa larutan perak 
nitrat 1% dalam air yang disimpan dalam kapsul lilin sampai saat ini masih 
digunakan secara luas. Erythromycin ophthalmic ointment (0,5%), dan salep mata 
tetrasiklin 1% juga cukup efektif. Satu penelitian yang dilakukan di Kenya 
menemukan bahwa bayi baru lahir yang diberi obat tetes mata berupa larutan 
providone-iodine 2,5%, insidensi ophthalmia neonatorum jauh lebih rendah secara 
bermakna jika dibandingkan dengan bayi yang diberi larutan perak nitrat 1% atau 
salep mata eritromisin 0,5%. 





B. Penanganan Penderita, Kontak dan Lingkungan sekitar 

1) Laporan kepada instansi kesehatan: Laporan kasus diharuskan di semua negara 
bagian dan dibanyak negara didunia, Kelas 2B (lihat pelaporan tentang penyakit 
menular). 
2) Isolasi: Isolasi kontak dilakukan selama 24 jam pertama sesudah mendapat 
pengobatan yang efektif. Penderita harus tetap tinggal di rumah sakit bila 
mungkin. Untuk menilai hasil pengobatan harus ditegakkan dengan kultur. 
3) Disinfeksi serentak: Disinfeksi dilakukan terhadap discharge konjungtiva dan 
semua benda dan peralatan yang terkontaminasi. 
4) Karantina: Tidak ada. 
5) Imunisasi terhadap kontak: Tidak dilakukaan. Pengobatan segera diberikan 
apabila diagnosa sudah ditegakkan atau secara klinis dicurigai terinfeksi. 
6) Investigasi kontak dan sumber infeksi: lakukan pemeriksaan dan pengobatan 
terhadap ibu dan pasangan seksual mereka. 
7) Pengobatan spesifik: Untuk infeksi gonococcus dimana sensitivitas terhadap 
antibiotika yang sensitive tidak diketahui, atau untuk organisme yang resisten 
terhadap penicillin, berikan dosis tunggal ceftriaxone 25-50 mg/kg BB (tidak boleh 
melebihi l25 mg) IV atau IM. Kepada ibu dan bayi juga diberi pengobatan untuk 
infeksi Chlamydia. 





C. Penanggulangan Wabah: Tidak ada. 

 

D. Implikasi bencana: Tidak ada. 

 

E. Tindakan Internasional: Tidak ada. 

 

 

 

 

 

 

GRANULOMA INGUINALE ICD-9 099.2; ICD-10 A.58 

(Donovanosis) 




 

1. Identifikasi 

 Granuloma inguinale adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakte\ri, menyerang 
kulit dan selaput lendir genitalia externa, daerah inguinal dan anal. Penyakit ini 
berlangsung kronis, progresif dan destruktif, penularannya sangat lambat. Penyakit 
ditandai dengan munculnya nodula, papula menyebar secara pelaha-lahan, tidak lunak, 
exuberant, granulomatous, ulcerative dan terjadi pembentukan jaringan parut. 

 Lesi berbentuk khas berupa granuloma berwarna merah seperti daging sapi, meluas 
kepinggir dengan ciri khas pada ujungnya menggulung dan akhirnya membentuk jaringan 
ikat. Lesi tidak mudah remuk (nontriable). Lesi biasanya muncul pada bagian-bagian 
tubuh yang hangat dan lembab, misalnya didaerah lipat paha, daerah perianal, serotum, 
vulca dn vagina. Hampir 90% daerah yang terkena adalah daerah genitalia, daerah 
inguinal sekitar 10%, daerah anal sekitar 1-5%. 

 Apabila tidak diobati penyakit ini sangat destruktif dan dapat merusk struktur alat kelamin 
dan menyebar denan cara auto inokulasi kebagian lain dari tubuh. Diagnosa ditegakkan 
dengan pemeriksaan laboratorium yaitu dengan ditemukannya Donovan bodies yaitu 
organisme berbentuk batang didalam sitoplasma. Donovan bodies dapat dilihat pad 
preparat jaringn granulasi yag diwarnai dengan pengecatan Wright atau Giemsa. 
Pemeriksaan histologis juga dapat dilakukan terhadap jaringan biopsi. Tanda 
phatoguonomis dan penyakit ini adalah pada pemeriksaan mikroskopis sel-sel 
mononuklear yang terinfeksi dipenuhi dengan Donovan bodies.Tidak dilakukan kultur, 
oleh karena sangat sulit dilakukan. Pemeriksaan serologis dan pemeriksaan PCR hanya 
dilakukan untuk tujuan penelitian. Untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi disebabkan 
oleh Haemophilus ducrey dapat dilakukan dengan kultur menggunakan media selektif. 

 

 

2. Penyebab Penyakit 

 Calymmatobacterium granulomatis (Donovania granulomatis), basil gram negatif, diduga 
sebagai penyebab, namun belum pasti. 

 

3. Distribusi Penyakit 

 Jarang ditemukan di negara maju (jarang ditemukan di Amerika Serikat, KLB kadang-
kadang juga terjadi). Penyakit ini endemis di wilayah tropis dan subtropis seperti: India 
Selatan, Papua Nugini, Australia tengah dan utara, kadang-kadang Amerika Latin, 
Kepulauan Karibia, Afrika bagian tengah dan timur selatan. Lebih sering ditemukan pada 
pria daripada wanita dan pada orang dengan status sosial ekonomi rendah; dapat terjadi 
pada anak berumur 1-4 tahun, tetapi paling dominan pada usia 20-40 tahun. 

 

4. Reservoir: Manusia. 

 

5. Cara Penularan 

 Diduga melalui kontak langsung dengan lesi selama melakukan hubungan seksual tetapi 
dalam berbagai studi hanya 20-65% pasangan seksual yang terinfeksi, ada beberapa kasus 
penularan bukan melalui hubungan seksual. 

 


6. Masa Inkubasi: Tidak diketahui, mungkin antara 1 sampai 16 minggu. 

 

7. Masa Penularan 

 Tidak diketahui, penularan mungkin tetap berlangsun selama masih ada lesi terbuka pada 
kulit atau membrana mukosa. 

 

8. Kerentanan dan Kekebalan 

 Kerentanan sangat bervariasi, tidak terbentuk setelah mendapatkan infeksi. 

 

9. Cara-cara Pemberantasan 

 A. Upaya Pencegahan 

Kecuali cara-cara yang dapat diterapkan hanya untuk sifilis, maka cara-cara 
penanggulangan untuk sifilis, seperti yang diuraikan pada 9A berlaku juga untuk 
pencegahan granuloma inguinalae. Program penyuluhan kesehatan masyarakat pada 
daerah endemis ditekankan mengenai pentingnya diagnosa dini dan pengobatan dini. 

 

 B. Penanganan Penderita, Kontak dan Lingkungan sekitar 

1) Laporan kepada instansi kesehatan setempat: Penyakit ini wajib dilaporkan di 
semua negara bagian di Amerika Serikat dan negara lain didunia, Kelas 3B (lihat 
pelaporan tentang penyakit menular). 
2) Isolasi: Tidak ada, hindari kontak yang erat dengan penderita sampai lesi sembuh. 
3) Disinfeksi serentak: Disinfeksi dilakukan terhadap discharge dari lesi dan 
terhadap barang-barang yanga tercemar. 
4) Karantina: Tidak ada. 
5) Imunisasi Kontak: Tidak dilkakukan, berikan pengobatan dengan segera apabila 
secara klinis dicurigai telah terjadi infeksi. 
6) Investigasi kontak dan sumber infeksi: Lakukan pemeriksaan terhadap kontak 
seksual. 
7) Pengobatan spesifik: Erythromycin, TP-SMX dan doxycycline, dilaporkan cukup 
efektif tetapi strain resisten terhadap obat dapat terjadi. Pengobatan diteruskan 
selama 3 minggu sampai lesi sembuh, kambuh jarang terjadi tetapi kalau terjadi 
maka respons terhadap pengobatan kedua kurang. Dosis tunggal dengan 
cefriaxone IM atau ciprofloxacin PO dilaporkan juga cukup efektif. 





C. Penanggulangan wabah: Tidak dilakukan. 

 

D. Implikasi bencana: Tidak ada. 

 

E. Tindakan Internasional: Lihat Sifilis, 9 E. 

 

 

 

 




 

 

HANTAVIRAL DISEASE 

 

 

Hantavirus yang menginfeksi binatang pengerat ditemukan tersebar luas didunia. Beberapa 
spesies virus diketahui kadang-kadang menyerang manusia dengan gejala klinis yang 
bervariasi mulai dari yang ringanm dampai dengan yang berat.Yang pertama kali terserang 
adalah enddotolium pembuluh darah dan menyebabkan terjadinya peningkatan permeabilitas 
pembuluh darah, manifestasi perdarahan disertai dengan syoknhipotensif. Banyak sekali 
spesies virus ini yang pernah diisolasi dari rodentia namun tidak ada kaitannyan demgan virus 
yang menyebabkan penyakit pada manusia. Pada tahun 1993 di Amerika Serikat terjadi KLB 
yang disebabkan oleh hantavirus yang sebelumnya tidak dikenal; dimana target organ yang 
disearang adalah paru-paru bukan ginjal. Oleh karena kedua penyakit ini disebabkan oleh 
virus yang mirip dan menyebabkan penyakit dengan gambaran epidemiologis dan patologis 
sama, maka kedua sindroma penyakit ini disajikan dibawah judul Hantavairal diseases 
(Penyakit penyakit yang disebabkan oleh hantavirus). Gambaran patologis yang khas dari 
pernyakit penyakti ini adalah didahului dengan demam, trombositopenia, lekositosis dan 
kebocoran dinding kapiler. 

 

I. DEMAM BERDARAH DENGAN GEJALA GINJAL ICD-9 078.6; ICD-10 A98.5 

(Demam Berdarah Epidemika, Demam Berdarah Korea, Nephropathia Epidemica, 
Hemorrhagic nephrosonephritis, HFRS). 

 

 

1. Identifikasi 

Adalah penyakit zoonosis akut yang disebabkan oleh virus ditandai dengan serangan 
demam mendadak, sakit pinggang dan diikuti dengan berbagai tingkatan perdarahan, 
disertai dengan kelainan pada ginjal. Penyakit dengan gejala klinis yang berat disebabkan 
ole Hantaan virus (terutama Asia) dan virus Dobrava (Balkan). Ciri khas penyakit ini 
adalah timbulnya lima fase gejala klinis yang kadang kala tumpang tindih satu sama lain. 
Lima fase gejala klinis tersebut adalah : demam, hipotensi, diuresis, konvalesens. Demam 
tinggi, pusing, tidak enak badan dan anoreksia diikuti dengan sakit perut dan lesu, sering 
disertai mual dan muntah, facial flushing, petechiae dan conjunctiva injection, merupakan 
ciri-ciri fase febrile 3-7 hari. Fase hipotensif dari beberapa jam sampai dengan 3 hari 
dengan ciri-ciri penurunan suhu badan dan serangan mendadak hipotensi yang akan 
mengakibatkan shock dan lebih lanjut terlihat perdarahan. Tekanan darah akan kembali 
normal atau tinggi pada fase oliguri yang terjadi 3-7 hari terakhir, mual dan muntah 
mungkin tetap berlangsung, perdarahan berat mungkin dapat terjadi dan sering terjadi 
berkurangnya air seni secara drastis. Kematian yang terbanyak (CFR bervariasi umumnya 
antara 5-15%) terjadi selama fase hipotensif dan oliguri. Terjadinya perbaikan pada 
penyakit, pada kebanyakan kasus ditandai dengan polyuria 3-6 liter setiap hari. Fase 
konvalesen memerlukan waktu berminggu minggu sampai dengan berbulan bulan. 

Penyakit yang agak ringan (CFR + 1%) disebabkan oleh virus Puumula dan penyakit ini 


dinamakan nephropathia epidemik terutama terjadi di Eropa. Infeksi oleh virus Seoul, 
dibawa oleh tikus coklat atau tikus Norwegia, gejala klinisnya juga ringan; beberapa 
penyakit berat mungkin juga terjadi oleh infeksi strain virus ini. Fase perjalanan penyakit 
karena infeksi virus ini sulit membedakan satu sms lainnya. 

Diagnosa dibuat dengan ditemukannya antibodi spesifik dengan Elisa atau IFA: 
kebanyakan penderita sudah mempunyai antibodi IgM pada waktu dirawat di Rumah 
Sakit. Adanya protenuria, lekositosis, hemokonsentrasi, trombositopenia dan peningkatan 
urea nitrogen darah mendukung diagnosa. Hantavirus dapat dibiakkan pada jarak kultur 
sel yang terbatas dan pada tikus untuk tujuan penelitian. Lestospirosis dan rickettsioses 
adalah penyakit penyakit yang harus dipertimbangkan untuk diagnosis banding.. 

 

2. Penyebab Penyakit 

Hantavirus (genus dari famili Bunyaviridae),; virus dengan 3 segmen RNA dengan bentuk 
partikel sferis sampai oval, diameter 95-110 nm. Ditemukan ada lebih dari 25 spesies 
virus yang antigen masing masing virus berbeda. Masing msing virus terkait dengan satu 
spesies binatang pengerat. Virus hantaan terutama ditemukan di Asia dan jarang 
ditemukan di Eropa, virus Dobrava (Belgrade) ditemukan di bekas Yugoslavia, virus 
Puumala ditemukan di Eropa dan virus Seoul tersebar di seluruh dunia (lihat bagian 4, di 
bawah). 

 

3. Distribusi Penyakit 

Sebelum perang dunia II, dua orang penulis Jepang dan Soviet menulis tentang HFRS 
yang terjadi di sepanjang sungai Amor. Pada tahun 1951, penyakit ini ditemukan di Korea 
menuerang pasukan PBB, semenjak itu penyakit ini menyerang baik tentara maupun sipil. 
Virus hantaan masalah kesehatan masyarakat yang serius di Cina dan Korea Selatan. 
Penyakit ini bersifat musiman dimana puncak kasus ditemukan pada akhir musim gugur 
dan awal musim dingin, menyerang terutama penduduk pedesaan. 

Dinegara negara Balkan, bentuk klinis berat dari penyakit ini disebabkan oleh virus 
Dobrava, dengan jumlah penderita mencapai ratusan orang setiap tahun, CFR sama 
dengan di Asia. Kebanyakan kasus muncul pada musim semi dan awal musim panas. 

Neophropathia epidemica yag disebabkan oleh virus Puumala kebanyakan muncul di 
negara negara Eropa, termasuk Rusia, pegunungan Ural bagian barat dan di Balkan. Lebih 
banyak ditemuka pada musim panas, musim gugur dan awal musim dingin. Variasi 
musiman dari penyakit ini disebabkan oleh kegiatan rekreasi dan adanya pekerjaan yang 
bersifat musiman disamping adanya siklus perubahan musim dan iklim, serta pengaruh 
faktor ekologilainnya yang berpengaruh terhadap densitas populasi rodentia. Kasus HFRS 
dikalangana penelliti dan karyawan yang menangaani binatang percobaan, ternyata 
disebabkan oleh tikus laboratorium yang terinfeksi oleh virus Seoul. Viurs Aseoul 
ditemukan pad tikus tikus yang ditangkan di kota kota besar di dunia seperti di Thailand, 
AS, Brasilia, Argentina. Namun virus ini selalu menyebabkan penyakit pada manusia di 
Asia. Dengan adanya berbagai teknik diagnostik terbaru, maka penyebaran hantavairus 
dan infeksi hantavirus secara global makin dikenal. 

 

4. Reservoir 

Reservoir adalah binatang pengerat di luar rumah (Apodemus spp. untuk virus Hantaan 
dan virus Dobrava Belgrade di Asia dan Balkan; Clethrionomys spp untuk Puumala di 
Eropa; Rattus spp. untuk virus Seoul di seluruh dunia). Manusia menjadi tuan rumah 
secara kebetulan. 


5. Cara Penularan 

Diduga penyakit ini ditularkan secara aerosol dari kotoran binatang pengerat (penularan 
secara aerosol ini dibuktikan pada percobaan laboratorium). Namun perkiraan ini tidak 
bisa menjelaskan timbulnya kasus penyakit ini pada manusia dan penularan yang terjadi 
pada binatang pengerat. Virus ditemukan pada urin, kotoran dan air liur binatang pengerat 
yang terinfeksi namun tidak sakit; konsentrasi tertinggi virus ditemukan pada paru-paru 
binatang ini. Pernah dilaporkan terjadi infeksi nosokomial di rumah sakit, namun sangat 
jarang. 

 

6. Masa Inkubasi 

Masa inkubasinya pendek hanya dalam beberapa hari, paling lama 2 bulan, namun 
biasanya rata-rata dalam 2-4 minggu. 

 

7. Masa Penularan 

Tidak diketahui dengan jelas. Penularan dari orang ke orang jarang terjadi. 

 

8. Kerentanan dan kekebalan 

Mereka yang secara serologis tidak ada bukti pernah mengalami infeksi semuanya rentan 
terhadap infeksi. Infeksi bisa terjadi tanpa gejala (inapparent), dan terjadinya infeksi ulang 
belum diketahui dengan jelas. 

 

9. Cara-cara Pemberantasan 

A. Upaya Pencegahan 

1) Lakukan upaya untuk mencegagh binatang pengerat masuk ke dalam rumah dan 
bangunan lainnya. 
2) Toko yang menjual makanan untuk manusia dan untuk binatang konstruksinya 
harus dibuat sedemikian rupa sehingga tidak bisa dimasuki tikus. 
3) Lokasi yang terkontaminasi binatang pengerat hendaknya didisinfeksi dengan 
menyemprotkan disinfektan (misalnya dengan cairan pemutih) sebelum 
dibersihkan. Jangan menyapu dan menyedot debu (vacuum) di daerah yang 
tercemar tikus; gunakan pengepel basah atau handuk yang sudah dibasahi dengan 
disinfektan. Hindari menghirup debu pada saat membersihkan tempat yang 
sebelumnya tidak pernah dihuni. Untuk menghindari agar tidak menghirup debu, 
gunakan respirator yang memenuhi syarat. 
4) Tangkap dan bunuh binatang pengerat dan buang secara hati-hati dengan tindakan 
kewaspadaan yang tepat. Penangkapan hidup-hidup tidak dianjurkan. 
5) Di daerah enzootic, hindari jangan sampai terpajan dengan binatang pengerat liar 
dan kotorannya 
6) Tikus percobaan yang dipelihara di laboratorium, khususnya Rattus norvegicus, 
harus diperiksa untuk menyakinkan bahwa tikus tersebut benar-benar bebas dari 
infeksi hantavirus asimtomatis. 





B. Penanganan Penderita, Kontak dan Lingkungan sekitar 

1) Laporan ke instansi kesehatan setempat; Di beberapa negara endemis tertentu, 
laporan diperlukan, Kelas 3A (lihat pelaporan tentang penyakit menular). 
2) Isolasi: Tidak ada. 



3) Disinfeksi serentak: Tidak ada. 
4) Karantina: Tidak diperlukan. 
5) Imunisasi kontak: Tidak ada. 
6) Penyelidikan kontak dan sumber infeksi: Musnahkan binatang-binatang pengerat 
di dalam dan sekitar rumah tangga jika memungkinkan. 
7) Pengobatan spesifik : Istirahat total di tempat tidur, perawatan dan pengobatan 
sedini mungkin adalah hal yang paling penting untuk dilakukan. Berdasarkan 
didalam kabin pesawat dan efek dari penurunan tekanan atmosfer selama 
dilakukan evakuasi udara terhadap penderita berat dapat membahayakan jiwa 
penderita yang terinfeksi hantavirus. Manajemen yang tepat dan hati-hati pada 
pemberian cairan sangat penting dilakukan untuk mengurangi kelebihan cairan dan 
mengurangi efek shock dan gagal ginjal. Dialisis sering diperlukan. Pemberian 
ribavirin IV sesegera mungkin pada hari-hari pertama sakit sangat bermanfaat. 





C. Upaya penanggulangan wabah : Lakukan pengendalian terhadap binatang pengerat, 
dan lakukan surveilans terhadap hantavirus pada binatang pengerat liar. Jika terjadi 
KLB yag berkaiyan dengan laboratorium maka segera lakukan evaluasi terhadap tikus 
percobaan yang ada di laboratorium,apabila terbukti infeksi positif, musnahkan 
binatang pengerat yang terinfeksi tersebut dan lakukan disinfeksi secara seksama. 

 

D. Implikasi bencana: Bencana alam dan peperangan sering mengakibatkan 
meningkatnya jumlah binatang pengerat dan yang menyebabkan meningkatnya kontak 
antara binatang pengerat dan manusia. Hal ini sangat potensial menyebabkan 
terjadinya penularan. 

 

E. Tindakan Internasional: Lakukan pengawasan terhadap lalulintas barang yang dapat 
menjadi reservoir binatang pengerat liar. 

 

 

 

II. HANTAVIRUS PULMONARY SYNDROME ICD-9 480.8; ICD-10 J12.8 

 (Sindroma Radang Paru-paru Akibat Hantavirus) 

 (Hantavirus adult respiratory distress syndrome, Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome) 

 

1. Identifikasi 

Penyakit zoonotik akibat virus akut, ditandai dengan gejala demam, mialgia dan gangguan 
pada saluran pencernaan yang diikuti dengan serangan tiba-tiba kesulitan bernafas dan 
hipotensi. Selanjutnya dapat terjadi kegagalan pernafasan yang berat dan shock. Tingginya 
hematokrit, hipoalbuminemia dan trombositopeni terjadi pada sebagian besar kasus. 
Angka kematian kasar penyakit ini berkisar antara 40-50%; merupakan 43% dari 217 
kasus pertama yang ditemukan. Pada penderita yang masih hidup, penyembuhan dari 
serangan akut sangat cepat namun pemulihan secara menyeluruh memerlukan waktu 
beberapa minggu sampai dengan berbulan-bulan. Perbaikan fungsi paru-paru pada 
umumnya berjalan dengan baik terjadi, tetapi fungsi paru-paru sebagian penderita akan 
masih belum pulih sepenuhnya. Kelainan pada ginjal dan perdarahan biasanya tidak 
terjadi kecuali pada kasus yang berat. 


Diagnosa dibuat dengan pemeriksaan antibodi spesifik IgM dengan Elisa, Western Blot 
atau teknik-teknik strip Immunoblot. Sebagian besar pasien sudah mempunyai antibodi 
IgM pada waktu dalam perawatan di rumah sakit. Analisis PCR jaringan autopsi atau 
biopsi dan pemeriksaan immunohistochemistry juga merupakan teknik-teknik diagnosa 
yang tepat dan harus dikerjakan didalam laboratorium yang khusus. 

 

2. Penyebab Penyakit 

Banyak jenis hantavirus telah ditemukan di Amerika; antara lain virus Sin Nombre 
sebagai penyebab wabah pada tahun 1993 di bagian barat daya Amerika Serikat dan 
banyak kasus lainnya ditemukan di Amerika Utara. Strain lain yang dihubungkan dengan 
penyakit pada manusia adalah virus Black Creek Canal dan virus Bayou (di sebelah 
tenggara Amerika Serikat), virus New York-1 dan virus Monongahela (di sebelah timur 
Amerika Serikat), virus Andes (Argentina, Chili), virus Laguna Negra (Paraguay, Bolivia) 
dan virus Juquitiba (Brasil). 

 

3. Distribusi Penyakit 

Penyakit ini ditemukan pertama kali pada musim semi dan musim panas pada tahun 1993 
di daerah Four Corners di New Meksiko dan Arizona, khususnya menyerang penduduk 
asli Amerika. Sejak itu, kasus kemudian ditemukan di sebagian besar negara bagian 
disebelah barat dan Kanada. Kasus sporadis terjadi di bagian timur Amerika Serikat. 
Kasus sporadis dan beberapa KLB dilaporkan terjadi di beberapa negara di Amerika 
Selatan (seperti Argentina, Bolivia, Paraguay, Chili, Brasil). Penyakit ini tidak menyerang 
etnik tertentu. Penyakit ini muncul sangat erat kaitannya dengan penyebaran geografis, 
tingkat kepadatan penduduk dan proporsi binatang pengerat carrier yang terinfeksi. 

 

4. Reservoir 

Reservoir utama dari virus Sin Nombre nampaknya adalah tikus kijang Peromyscus 
maniculatus. Antibodi juga telah ditemukan pada spesies Peromyscus yang lain, tikus 
pack, tupai dan binatang pengerat lainnya. Strain hantavirus yang lain ditemukan terutama 
pada spesies binatang pengerat sigmodontine yang lain. 

 

5. Cara Penularan 

Oleh karena infeksi hantavirus dapat mengakibatkan demam berdarah (hemorrhagic fever) 
dengan sindroma ginjal, sehingga diperkirakan penularannya melalui cara aerosol dari 
ekskreta binatang pengerat. Riwayat alamiah (natural history) dari infeksi virus ini pada 
binatang pengerat pejamu belum diketahui dengan jelas. Penularan terutama karena terjadi 
pemajanan di dalam ruangan, rumah dengan ventilasi yang buruk, kendaraan dan 
bangunan di luar rumah yang memungkinkan berkembang biaknya binatang pengerat. 

 

6. Masa Inkubasi 

Belum pernah diketahui dengan jelas tetapi diperkirakan rata-rata berlangsung 2 minggu 
dengan kemungkinan besar berkisar antara beberapa hari sampai dengan 6 minggu. 

 

7. Masa Penularan 

Di Amerika Serikat, virus hantavirus tidak disebarkan dari orang ke orang. Namun 
penularan dari orang ke orang dilaporkan terjadi selama munculnya KLB di Argentina. 


8. Kerentanan dan Kekebalan 

Semua orang yang belum pernah mengalami infeksi diperkirakan rentan terhadap penyakit 
ini. Tidak ditemukan adanya infeksi yang tersembunyi (inapparent infection), tetapi 
ditemukan infeksi sedang tanpa oedema paru. Tidak ditemukan serangan kedua kalinya 
pada seorang penderita tetapi tingkat perlindungan dan lamanya kekebalan bertahan 
setelah infeksi sebelumnya tidak diketahui dengan jelas. 

 

9. Cara-cara pemberantasan 

A. Cara Pencegahan: Lihat bagian I, 9A, di atas. 

 

B. Penanganan Penderita, Kontak dan Lingkungan sekitar 

1), 2), 3), 4), 5) dan 6) laporan kepada instansi kesehatan yang berwenang, Isolasi, 
Disinfeksi serentak, karantina, Imunisasi kontak, Penyelidikan kontak dan sumber 
infeksi: Lihat pada seksi I, 9B1 sampai dengan 9B6 di atas. 

7) Pengobatan spesifik; Berikan manajemen perawatan intensif pernafasan, hindari 
kelebihan cairan yang dapat memperburuk oedema paru-paru. Berikan obat 
kardiotonik dan obat-obat vasopressors dengan segera dan hati-hati untuk 
mencegah shock. Hindari terjadinya hipoksia, khususnya jika proses evaluasi 
dilakukan dengan cara-cara yang kurang tepat. Pengobatan dengan Ribavirin 
masih dalam taraf penelitian dan manfaatnya belum diketahui. Extracorporeal 
membrane oxygenation telah digunakan dengan banyak keberhasilan. 

 

C. Cara-cara penanggulangan :Berikan Penyuluhan kepada masyarakat tentang 
pentingnya upaya menghindari kontak dan mengendalikan populasi binatang pengerat 
di dalam dan diluar rumah. Penyuluhan dilakukan terus menerus pada keadaan 
endemis dan lebih diintensifkan lagi selama wabah berlangsung. Monitoring terhadap 
jumlah binatang pengerat dan terhadap angka infeksi diperlukan tetapi manfaatnya 
belum diketahui dengan jelas. Lihat bagian I, 9C, di atas. 

 

D. Implikasi bencana: Lihat uraian pada seksi I, 9D, di atas. 

 

E. Tindakan Internasional: Lakukan pengawasan terhadap pengangkutan/lalu lintas 
rodentia eksotik yang dapat berperan sebagai reservoir. Rodentia ini biasanya 
diperdagangkan untuk dijadikan binatang peliharaan yang eksotik. 

 

 

 

HENDRA AND NIPAH VIRAL DISEASES ICD-9 078.8; ICD-10 B33.8 

(Penyakit akibat infeksi virus Hendra dan Nipah) 

 

1. Identifikasi 

Penyakit ini merupakan penyakit virus bersumber binatang yang baru saja ditemukan 
dengan gejala utama encephalitis, nama ini diberikan sesuai dengan nama tempat di 
Australia dan Malaysia dimana virus ini pertama kali diisolasi dan ditemukan pada 
manusia pada tahun 1994 dan 1999. Perjalanan pnyakit ini masih belum jelas diketahui, 
namun spektrum perjalanan penyakit tersebut bervariasi mulai dari yang paling ringan 
sampai dengan koma dan diakhiri dengan kematian, gejala penyakit ini antara lain berupa 


demam, sakit kepala dengan derajat yang berbeda, sakit tenggorokan, dizziness, 
drowsiness dan disorientasi. Pneumonitis merupakan gejala menonjol pada kasus Hendra 
yang pertama kali ditemukan, seorang diantaranya meninggal. Koma biasanya 
mengakibatkan kematian dalam 3-30 hari. CFR (case fatality rate) sekitar 50%; infeksi 
subklinis mungkin sering terjadi. 

Penegakan diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan serologis dengan ditemukannya 
antibodi IgM dan IgG dengan menggunakan teknik antibody Capture ELISA atau 
netralisasi serum. Diagnosis pasti ditegakkan dengan melakukan isolasi virus yang berasal 
dari jaringan yang terinfeksi. 

 

2. Penyebab Penyakit 

Virus Hendra dan virus Nipah adalah anggota famili Paramyxoviridae. 

 

3. Distribusi Penyakit 

Virus Hendra mengakibatkan penyakit pada kuda di Queensland, Australia. Tiga kasus 
yang ditemukan pada manusia pada tahun 1994 dan 1995 terjadi karena orang tersebut 
kontak dekat dengan kuda yang sakit. Virus Nipah menyerang babi pada peternakan di 
provinsi Perak, Negeri Sembilan, dan di Selangor, Malaysia. Kasus pertama pada manusia 
diduga sudah terjadi pada tahun 1996, meskipun kebanyakan penderita baru ditemukan 
pada akhir tahun 1998 dan awal tahun 1999, dengan 100 kematian pada pertengahan tahun 
1999. 

4. Reservoir 

Yang berperan sebagai reservoir adalah kelelawar buah untuk virus Hendra dan dengan 
analogi, maka virus Nipah diperkirakan mempunyai reservoir yang sama. Virus Hendra 
pada kuda dan Virus Nipah pada ternak babi mengakibatkan demam akut, yang 
mengakibatkan gangguan pernafasan berat dan gangguan susunan syaraf pusat (CNS) 
yang dapat mengakibtkan kematian. Anjing yang tertular oleh virus Nipah menunjukkan 
gejala mirip dengan penyakit distemper tetapi peran anjing secara epidemiologis belum 
diketahui dengan jelas. Kuda dengan hasil seropositif terhadap virus Nipah juga 
ditemukan, tetapi peran mereka terhadap infeksi pada manusia secara epidemiologis 
belum jelas. Pemeriksaan serologis virus Nipah pada kucing, kambing, ternak, tikus dan 
burung telah dilakukan pada pertengahan 1999 namun pemeriksaan ini belum tuntas. 

 

5. Cara Penularan 

Bukti-bukti menunjukkan bahwa penularan dapat terjadi terutama melalui kontak 
langsung dengan kuda yang terinfeksi (virus Hendra) atau dengan babi (virus Nipah) atau 
dengan jaringan yang terkontaminasi. Rute penularan melalui oral dan nasal dicurigai 
terjadi pada beberapa kasus namun tidak dapat dibuktikan. Belum ada bukti penularan 
terjadi melalui orang per orang. 

 

6. Masa Inkubasi 

Masa inkubasi berlangsung dari 4 sampai dengan 18 hari, kecuali virus Hendra sampai 
dengan 3 bulan. 

 

7. Masa Penularan: Tidak diketahui. 

 


8. Kerentanan dan Kekebalan: Belum jelas. 

 

9. Cara-cara Penanggulangan 

A. Cara Pencegahan 

Penyuluhan kesehatan dilakukan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat 
tentang cara-cara pencegahan yang baik antara lain yang perlu dilakukan adalah 
menjauhi kelelawar pemakan buah. 

 

B. Penanganan Penderita, Kontak dan Lingkungan sekitar 

1) Laporan kepada instansi kesehatan setempat: laporan kasus wajib dilakukan 
apabila ditemukan kasus penyakit ini, kelas 2A (lihat pelaporan tentang penyakit 
menular). 
2) Isolasi: Lakukan isolasi terhadap kuda atau babi yang terinfeksi; tidak ada bukti 
terjadi penularan dari orang ke orang. 
3) Disinfeksi serentak: Lakukan pemusnahan massal terhadap kuda dan babi yang 
terinfeksi dengan mengubur atau membakar bangkai binatang tersebut dibawah 
pengawasan yang ketat dari pemerintah. 
4) Karantina: Lakukan larangan yang ketat untuk memindahkan kuda atau babi dari 
peternakan yang terinfeksi ke tempat lain. 
5) Imunisasi kontak: Tidak ada. 
6) Investigasi kontak dan sumber infeksi: Cari dan temukan kasus yang hilang. 
7) Pengobatan spesifik: Tidak ada. 





C. Penanganan wabah: 

1) Kewaspadaaan agar tidak tertulari dengan cara yang tepat harus dilakukan oleh 
para pekerja dipeternakan seperti penggunaan pakaian pelindung, sepatu boots, 
sarung tangan, baju panjang, kacamata dan pelindung muka, dan mencuci tangan 
dan bagian tubuh lainnya dengan sabun sebelum meninggalkan peternakan babi. 
2) Pemusnahan secara massal kuda dan babi yang terinfeksi dengan mengubur dan 
membakar bangkainya dibawah pengawasan yang ketat dari pemerintah. 
3) Memberlakukan pelarangan pemindahan kuda atau babi dari peternakan yang 
terinfeksi ke tempat lain. 





D. Implikasi bencana: Tidak ada. 

 

E. Tindakan Internasional: Berlakukan pelarangan ekspor kuda atau babi dan produk 
dari hewan tersebut dari daerah terjangkit. 

 

 

 

HEPATITIS, VIRUS ICD-9 070, ICD-10 B15-B19 

 

Beberapa jenis infeksi oleh virus ini dikelompokkan kedalam viral hepatitides oleh karena 
virus tersebut merupakan virus hepatotropik dan mempunyai persamaan dalam gejala klinis, 
namun berbeda dalam etiologi dan dalam beberapa ciri epidemiologis, imunologis, klinis dan 
patologis. Upaya pencegahan dan pemberantasan terhadap masing-masing virus sangat 
berbeda. Sehingga masing-masing akan dibahas lebih lanjut secara terpisah. 


I. VIRAL HEPATITIS A ICD-9 070.1; ICD-10 B15 

(Infectious hepatitis, Epidemic hepatitis, Epidemic jaundice, Catarrhal jaundice, hepatitis 
tipe A, HA) 

 

1. Identifikasi 

Gejala hepatitis A pada orang dewasa di wilayah nonendemis biasanya ditandai dengan 
demam, malaise, anoreksia, nausea dan gangguan abdominal, diikuti dengan munculnya 
ikterus dalam beberapa hari. Di sebagain besar negara bekembang, infeksi virus hepatitsi 
A terjadi pada masa kanak-kanak umumnya asimtomatis atau dengan gejala sakit ringan. 
Infeksi yang terjadi pada usia selanjutnya hanya dapat diketahui dengan pemeriksaan 
laboratorium terhadap fungsi hati. Penyakit ini mempunyai gejala klinis dengan spektrum 
yang bervariasi mulai dari ringan yang sembuh dalam 1-2 minggu sampai dengan 
penyakit dengan gejala yang berat yang berlangsung sampai beberapa bulan. Lebih jauh, 
perjalanan penyakit yang berkepanjangan dan kambuh kembali dapat terjadi dan penyakit 
berlangsung lebih dari 1 tahun ditemukan pada 15% kasus; tidak ada infeksi kronis pada 
hepatitis A. Konvalesens sering berlangsung lebih lama. Pada umumnya, penyakit 
semakin berat dengan bertambahnya umur, namun penyembuhan secara sempurna tanpa 
gejala sisa dapat terjadi. Kematian kasus dilaporkan terjadi berkisar antara 0.1% - 0.3%, 
meskipun kematian meningkat menjadi 1.8% pada orang dewasa dengan usia lebih dari 50 
tahun; seseorang dengan penyakit hati kronis apabila terserang hepatitis A akan meningkat 
risikonya untuk menjadi hepatitis A fulminan yang fatal. Pada umumnya, hepatitis A 
dianggap sebagai penyakit dengan case fatality rate yang relatif rendah. 

Diagnosis ditegakkan dengan ditemukannya antibodi IgM terhadap virus hepatitis A (IgM 
anti-HAV) pada serum sebagai pertanda yang bersangkutan menderita penyakit akut atau 
penderita ini baru saja sembuh. IgM anti-HAV terdeteksi dalam waktu 5-10 hari setelah 
terpajan. Diagnosa juga dapat ditegakkan dengan meningkatnya titer antibodi spesifik 4 
kali atau lebih dalam pasangan serum, antibodi dapat dideteksi dengan RIA atau ELISA. 
(Kit untuk pemeriksaan IgM dan antibodi total dari virus tersedia luas secara komersial). 
Apabila pemeriksaan laboratorium tidak memungkinkan untuk dilakukan, maka bukti-
bukti epidemiologis sudah dapat mendukung diagnosis. 

 

2. Penyebab Penyakit 

Penyebab penyakit adalah virus hepatitis A HAV), picornavirus berukuran 27-nm (yaitu 
virus dengan positive strain RNA). Virus tersebut dikelompokan kedalam Hepatovirus, 
anggota famili Picornaviridae. 

 

3. Distribusi Penyakit 

Tersebar di seluruh dunia, muncul sporadis dan sebagai wabah, dahulu dengan 
kecenderungan muncul secara siklis. Di negara sedang berkembang, orang dewasa 
biasanya sudah kebal dan wabah hepatitis A (HA) jarang terjadi. Namun adanya perbaikan 
sanitasi lingkungan di sebagian besar negara di dunia ternyata membuat penduduk 
golongan dewasa muda menjadi lebih rentan sehingga frekuensi terjadi KLB cenderung 
meningkat. Di negara-negara maju, penularan penyakit sering terjadi karena kontak dalam 
lingkungan keluarga dan kontak seksual dengan penderita akut, dan juga muncul secara 
sporadis di tempat-tempat penitipan anak usia sebaya, menyerang wisatawan yang 
bepergian ke negara dimana penyakit tersebut endemis, menyerang pengguna suntikan 


pecandu obat terlarang dan pria homoseksual. Didaerah dengan sanitasi lingkungan yang 
rendah, infeksi umumnya terjadi pada usia sangat muda. Di Amerika Serikat, 33% dari 
masyarakat umum terbukti secara serologis sudah pernah terinfeksi HAV. 

Dinegara maju wabah sering berjalan dengan sangat lambat, biasanya meliputi wilayah 
geografis yang luas dan berlangsung dalam beberapa bulan; wabah dengan pola ”Common 
source” dapat meluas dengan cepat. Di Amerika Serikat, puncak siklus wabah secara 
nasional terjadi pada tahun 1961, 1971 dan 1989. Selama terjadi KLB, petugas dan para 
pengunjung tempat penitipan anak, pria dengan banyak pasangan seksual dan para 
pecandu Napza yang menggunakan suntikan mempunyai risiko lebih tinggi tertulari 
daripada penduduk pada umumnya. Namun, hampir separuh dari kasus, dan sumber 
infeksi tidak diketahui. Penyakit ini sangat umum menyerang anak-anak sekolah dan 
dewasa muda. Pada tahun-tahun belakangan ini, KLB yang sangat luas penularannya 
umumnya terjadi di masyarakat, namum KLB karena pola penularan ”Common source” 
berkaitan dengan makanan yang terkontaminasi oleh penjamah makanan dan produk 
makanan yang terkontaminasi tetap saja terjadi. KLB pernah dilaporkan terjadi diantara 
orang-orang yang bekerja dengan primata yang hidup liar. 

 

4. Reservoir 

Manusia berperan sebagai reservoir, jarang terjadi pada simpanse dan primata bukan 
manusia yang lain. 

 

5. Cara Penularan 

Dari orang ke orang melalui rute fekal-oral. Virus ditemukan pada tinja, mencapai puncak 
1-2 minggu sebelum timbulnya gejala dan berkurang secara cepat setelah gejala disfungsi 
hati muncul bersamaan dengan munculnya sirkulasi antibodi HAV dalam darah. 

Sumber KLB dengan pola ”Common source”umumnya dikaitkan dengan air yang 
tercemar, makanan yang tercemar oleh penjamah makanan, termasuk makanan yang tidak 
dimasak atau makanan matang yang tidak dikelola dengan baik sebelum dihidangkan; 
karena mengkonsumsi kerang (cumi) mentah atau tidak matang dari air yang tercemar dan 
karena mengkonsumsi produk yang tercemar seperti sla (lettuce) dan strawberi. Beberapa 
KLB di Amerika Serikat dan Eropa dikaitkan dengan penggunaan obat terlarang dengan 
jarum suntik mauoun tanpa jarum suntik dikalangan para pecandu. Meskipun jarang, 
pernah dilaporkan terjadi penularan melalui transfunsi darah dan faktor pembekuan darah 
yang berasal dari donor viremik dalam masa inkubasi. 

 

6. Masa Inkubasi 

 Masa inkubasi adalah 15 sampai dengan 50 hari, rata-rata 28-30 hari 

 

7. Masa Penularan 

Dari berbagai penelitian tentang cara-cara penularan pada manusia dan dari berbagai bukti 
epidemiologis menunjukkan bahwa infektivitas maksimum terjadi pada hari-hari terakhir 
dari separuh masa inkubasi dan terus berlanjut sampai beberapa hari setelah timbulnya 
ikterus (atau pada puncak aktivitas aminotransferase pada kasus anicteric). Pada sebagian 
besar kasus kemungkinan tidak menular pada minggu pertama setelah ikterus, meskipun 
ekskresi virus berlangsung lebih lama (sampai 6 bulan) telah dilaporkan terjadi pada bayi 
dan anak-anak. Ekskresi kronis HAV dalam tinja tidak pernah dilaporkan terjadi. 


8. Kerentanan dan Kekebalan 

Semua orang rentan terhadap infeksi. Penyakit ini pada bayi dan anak-anak prasekolah 
jarang sekali menunjukkan gejala klinis, hal ini sebagai bukti bahwa infeksi ringan dan 
anicteric umum terjadi. Imunitas homologous setelah mengalami infeksi mungkin 
berlangsung seumur hidup. 

 

9. Cara-cara Pemberantasan 

A. Cara-cara Pencegahan 

1) Berikan penyuluhan kepada masyarakat tentang sanitasi yang baik dan higiene 
perorangan dengan penekanan khusus tentang pentingnya untuk mencuci tangan 
secara benar dan pembuangan tinja pada jamban yang saniter. 
2) Sediakan fasilitas pengolahan air bersih, sistem distribusi air yang baik dan sistem 
pembuangan air limbah yang benar. 
3) Dua jenis vaksin hepatitis A inaktivasi saat ini tersedia di Amerika Serikat untuk 
imunisasi pra pajanan bagi anak yang berusia 2 tahun keatas. Vaksin tersebut aman 
dipakai, dalam uji coba ternyata cukup imunogenik dan mempunyai efikasi yang 
baik. Perlindungan terhadap hepatitis A klinis mungkin sudah dimulai pada 
sebagian besar orang 14-21 hari setelah pemberian dosis tunggal vaksin dan 
hampir semua orang sudah mempunyai antibodi protektif dalam 30 hari setelah 
pemberian dosis pertama. Dosis kedua biasanya diberikan untuk perlindungan 
jangka panjang. Vaksin tersebut di Amerika Serikat tidak diberi izin untuk 
diberikan pada anak yang berusia kurang dari 2 tahun; dosis optimal dan jadwal 
pemberian tepat untuk meningkatkan perlindungan pada seseorang supaya tidak 
terjadi interferenssi dengan antibodi yang didapat secara pasif dari ibunya belum 
diketahui dengan jelas. 
4) Di Amerika Serikat, saat ini sedang disusun rekomendasi penggunaan vaksin 
hepatitis A termasuk imunisasi pra pajanan bagi orang-orang seperti yang 
diuraikan sebagai berikut: 
a) seseorang dengan risiko tinggi terinfeksi HAV dengan segala konsekuensinya 
(seseorang dengan penyakit hati kronis atau kelainan faktor pembekuan darah, 
pria homoseksual, penggunaan suntikan pada penyalahgunaan obat-obatan, 
wisatawan perorangan yang bepergian ke negara endemis HAV, seseorang 
yang bekerja dengan primata yang terinfeksi HAV atau mereka yang bekerja di 
laboratorium riset HAV). 
b) Anak-anak yang tinggal di lingkungan masyarakat yang secara terus-menreus 
mempunyai angka peningkatan risiko untuk terkena HAV. 


Kontak perorangan yang terdekat (misalnya keluarga, pasangan seksual) dari 
pasien hepatitis A perlu diberikan pencegahan pasca pajanan dengan IG dalam 2 
minggu setelah pajanan terakhir. Jika diperlukan, vaksin hepatitis A dapat 
diberikan secara simultan pada tempat penyuntikan yang terpisah. Efikasi vaksin 
hepatitis A sendiri dibandingkan dengan IG untuk pencegahan pasca pajanan 
belum diketahui dengan jelas. 
5) Pengelolaan tempat penitipan anak dan panti-panti asuhan sebaiknya menekankan 
kepada upaya untuk mengurangi kemungkinan terjadi penularan melalui rute 
fekal-oral, termasuk dengan memberdayakan kebiasaan cuci tangan setiap saat dari 
toilet setelah mengganti popok dan sebelum makan. 



Jika ditemukan satu orang penderita hepatitis A atau lebih pada suatu institusi, atau 
jika ditemukan penderita pada 2 atau lebih keluarga dari pengunjung institusi 
tersebut, maka IG harus diberikan pada para staf dan para pengunjung. Pemberian 
IG perlu dipertimbangkan bagi kontak anggota keluarga yang mengunjungi tempat 
penitipan anak dimana KLB terjadi, dan kasus tambahan ditemukan pada 3 
keluarga atau lebih. Bila perlu sebagai bagian dari imunisasi rutin atau bagian dari 
upaya pengendalian KLB yang luas, perlu dipertimbangkan pemberian imunisasi 
hepatitis A kepada para pengunjung dan staf yang terlibat ataupun tidak di tempat 
tersebut. 


6) Semua wisatawan yang bepergian ke daerah endemis tinggi atau sedang, termasuk 
Afrika, Timur Tengah, Asia, Eropa Timur, Amerika Tengah dan Selatan, perlu 
diberikan IG atau vaksin hepatitis A sebelum keberangkatan. Wisatawan 
diperkirakan terlindungi 4 minggu setelah pemberian vaksin dosis inisial tersebut. 
Vaksin hepatitis A diprioritaskan untuk diberikan kepada mereka yang 
merencanakan bepergian berulangkali atau bagi mereka yang akan tinggal dalam 
waktu yang cukup lama di daerah endemis HAV baik yang endemis tinggi maupun 
menengah. IG dalam dosis tunggal 0.02 ml/kg, atau 2 ml diberikan untuk orang 
dewasa, yang akan terpajan lebih dari 3 bulan, untuk pemajanan yang lebih lama, 
diberikan 0.06 ml/kg atau 5 ml dan diulang setiap 4-6 bulan apabila proses 
pemajanan terus berlangsung. 
7) Vaksin hepatitis A harus dipetimbangkan untuk diberikan bagi masyarakat lain 
dengan risiko tinggi terkena hepatitis A, misalnya pria homoseksual, kepada para 
pemakai obat-obatan terlarang dengan suntikan dan kepada mereka yang bekerja 
dengan primata yang terinfeksi HAV atau bagi nereka yang bekerja di tempat-
tempat riset penelitian HAV. 
8) Tiram, kerang-kerangan yang berasal dari daerah tercemar harus dipanaskan pada 
suhu 85°- 90°C (185°-194°F) terlebih dahulu selama 4 menit atau diuapkan selama 
90 detik sebelum dimakan. 





B. Penanganan Penderita, Kontak dan Lingkungan sekitar. 

1) Laporan kepada instansi kesehatan setempat: Laporan wajib diberikan di semua 
negara bagian di Amerika Serikat dan di Kanada, meskipun saat ini laporan tidak 
diperlukan lagi di banyak negara; Kelas 2A (lihat pelaporan tentang penyakit 
menular). 
2) Isolasi: bagi yang terbukti positif hepatitis A, perlu dilakukan kewaspadaan enterik 
selama 2 minggu pertama sakit, namun tidak lebih dari 1 minggu setelah 
timbulnya demam dengan ikterus; pengecualian dilakukan kalau KLB terjadi di 
tempat pelayanan intensif neonatal dimana kewaspadaan enterik harus dilakukan 
secara berkelanjutan. 
3) Disinfeksi serentak: pembuangan tinja, urin dan darah dilakukan dengan cara yang 
saniter. 
4) Karantina: Tidak diperlukan. 
5) Imunisasi kontak: Imunisasi pasif dengan IG (IM) 0.02 ml/kg BB, harus diberikan 
sesegera mungkin setelah terpajan, selama 2 minggu. Oleh karena hepatitis A tidak 
dapat diketahui hanya dengan melihat gejala klinis saja, maka penegakan diagnosa 
secara serlogis dari infeksi HAV perlu dilakukan terhadap kasus index dengan 



pemeriksaan IgM anti-HAV, dan harus dilakukan sebelum pemberian pengobatan 
pasca pajanan kepada kontak. Seseorang yang sudah menerima satu dosis vaksin 
hepatitis A sekurang-kurangnya 1 bulan sebelum terpajan tidak memerlukan IG. 
IG tidak diperlukan bagi kontak dengan penderita satu kantor, satu sekolah atau 
satu perusahaan. IG harus diberikan kepada mereka yang sebelumnya belum 
pernah diimunisasi dan yang berada dalam keadaan seperti yang diuraikan berikut 
ini. Jika diperlukan, vaksin hepatitis A dapat diberikan bersamaan pada tempat 
suntikan yang terpisah: 


a) Kontak personal yang sangat dekat, termasuk anggota rumah tangga dari 
penderita, pasangan seksual, pengguna obat-obatan terlarang dan kontak 
personal dekat lainnya. 
b) IG diberikan kepada mereka yang bekerja di tempat penitipan anak jika satu 
atau lebih kasus hepatitis A ditemukan pada anak-anak dan pekerja atau jika 
kasus ditemukan pada dua atau lebih keluarga yang pernah berkunjung ke 
tempat tersebut. IG hanya diberikan untuk kontak teman sekelas dari kasus 
index di tempat tersebut dimana orang tersebut tidak mengerjakan pekerjaan 
mengganti popok. 
c) Pada KLB dengan pola ”Common source”, jika pada salah seorang penjamah 
makanan ditemukan menderita Hepatitis A, maka IG harus diberikan kepada 
seluruh penjamah makanan yang lain di tempat yang sama. Namun pemberian 
IG biasanya tidak diwajibkan, hal tersebut perlu dipertimbangkan jika i) 
penjamah makanan tersebut bertugas dalam penyiapan jenis makanan yang 
tidak dipanaskan; ii) terlihat bahwa penjamah makanan tersebut kebersihan 
perorangannya jelek atau penjamah makanan tersebut menderita diare; dan iii) 
IG dapat diberikan dalam 2 minggu setelah pajanan terakhir. 


6) Investigasi kontak dan sumber infeksi: Cari kasus yang hilang dan lakukan 
surveilans terhadap kontak pada keluarga pasien secara terus menerus atau kalau 
pola KLB adalah ”Common source” maka semua penderita biasanya terpajan pada 
faktor risiko yang sama. Maka temukan faktor risiko yang sama tersebut. 
7) Pengobatan spesifik: Tidak ada. 





C. Penanganan wabah 

1) Selidiki cara-cara penularan dengan teknik investigasi epidemiologis, apakah 
penularan terjadi dari orang ke orang atau dengan cara ”Common source” dan 
carilah populasi yang terpajan. Bila ditemukan musnahkan sumber infeksi 
“Common source”. 
2) Agar pemberian vaksin hepatitis A secara efektif dalam situasi KLB yang luas di 
masyarakat dapat dilakukan harus mempertimbangkan beberapa faktor, antara lain 
penentuan kelompok sasaran yang tepat untuk diberi imunisasi, kapan pemberian 
imunisasi awal pada kejadian KLB harus dimulai dan cakupan imunisasi dosis 
pertama yang tingi secara cepat harus dapat dicapai (sekitar 70% atau lebih). 
Upaya spesifik untuk menanggulangi KLB harus dilakukan dengan 
memperhatikan karakteristik epidemiologis dari hepatitis A dan ada tidaknya 
program imunisasi rutin hepatitis A di masyarakat. Strategi yang mungkin dapat 
dilakukan antara lain a) Diwilayah dimana program imunisasi hepatitis A rutin 
sudah ada maka lakukan percepatan pemberian imunisasi kepada anak-anak usia 



lebih tua yang belum pernah mendapatkan imunisasi sebelumnya; b) Pada bentuk 
KLB yang lain, seperti KLB yang terjadi pada tempat penitipan anak, rumah sakit, 
lembaga dan sekolah, maka pemberian imunisasi hepatitis A rutin tidak dapat 
dijamin hasilnya; dan c) apabila sasaran pemberian imunisasi adalah kelompok 
atau wilayah (sebagai contoh: kelompok usia, kelompok risiko, wilayah cacah 
sensus), maka kelompok tersebut harus dipastikan dulu, kelompok mana yang 
mempunyai angka penyakit yang tertinggi, didasarkan pada surveilans setempat 
dan data epidemiologi. Dilain pihak, program imunisasi tersebut mungkin dapat 
mengurangi insidens penyakit hanya pada kelompok sasasaran imunisasi saja; 
efektivitas strategi ini untuk menghentikan KLB pada kelompok masyarakat 
tertentu belum diketahui dengan jelas. Penilaian terhadap efektivitas stretegi ini 
harus merupakan bagian dari upaya penangulangan KLB. Pemberian IG tetap 
merupakan strategi pokok dalam penanggulangan KLB dalam situasi tersebut 
diatas. Akan tetapi, apabila ada indikasi sebagai bagian dari pemberian imunisasi 
rutin atau sebagai bagian dari program penanggulangan KLB yang luas maka 
imunisasi hepatitis A dapat dipertimbangkan untuk diberikan sama dengan IG. 
3) Lakukan upaya secara khusus untuk meningkatkan sanitasi lingkungan dan 
kebersihan perorangan untuk mengurangi kontaminasi makanan dan air dengan 
tinja. 
4) Apabila KLB terjadi pada institusi, maka perlu dilakukan upaya pencegahan 
massal dengan pemberian IG dan dipertimbangkan juga pemberian imunisasi. 





D. Implikasi bencana: Masalah potensial pada kelompok masyarakat dengan kepadatan 
hunian, sanitasi dan suplai air yang buruk; apabila ditemukan penderita maka lakukan 
upaya untuk memperbaiki sanitasi lingkungan dan memenuhi kebutuhan air bersih 
yang aman. Pemberian IG secara massal tidak dapat menggantikan upaya penanganan 
lingkungan. 

 

E. Tindakan Internasional: Tidak ada. 

 

 

 

II. HEPATITIS B AKIBAT VIRUS ICD-9 070; ICD-10 B16 

 (Hepatitis tipe B, serum hepatitis, homologous serum jaundice, Australia antigen hepatitis, 
HB) 

 

1. Identifikasi 

Hanya sedikit saja dari mereka yang terinfeksi hepatitis B (HBV) akut yang menunjukkan 
gejala klinis; kurang dari 10% pada anak-anak dan 30%-50% pada orang dewasa dengan 
infeksi virus hepatitis b (HBV) akut akan berkembang menjadi penyakit dengan icteric. 
Pada penderita yang menunjukkan gejala klinis, timbulnya gejala biasanya insidious, 
dengan anorexia, gangguan abdominal yang samar-samar, mual dan muntah, kadang-
kadang disertai arthralgia dan rash, dan sering berkembang menjadi jaundice. Demam 
mungkin tidak ada atau ringan. Spektrum penyakit dari kasus tanpa gejala klinis yang 
jelas dan hanya diketahui dengan pemeriksaan fungsi hati sampai dengan kasus hepatitis 
fulminan yaitu kasus fatal dengan nekrosis hati akut. CFR pada pasien yang dirawat 


sekitar 1%; lebih tinggi pada mereka yang berusia 40 tahun keatas. Infeksi HBV fulminan 
juga pernah terjadi pada wanita hamil dan pada bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi. 

Infeksi HBV kronis ditemukan pada sekitar 0,5% dari orang dewasa di Amerika Utara dan 
sekitar 0,1%-20% penduduk dari bagian lain di dunia. Setelah terjadi infeksi HBV akut, 
maka risiko akan berkembang menjadi infeksi kronis berbanding terbalik dengan usia; 
infeksi kronis HBV terjadi sekitar 90% pada bayi yang terinfeksi waktu proses kelahiran, 
0%-50% pada anak-anak yang terinfeksi pada usia 1-5 tahun dan sekitar 1%-10% pada 
orang yang terinfeksi pada anak-anak usia yang lebih tua dan dewasa. Infeksi HBV kronis 
juga dapat terjadi pada orang dengan imunodefisiensi. Mereka yang mengalami infeksi 
HBV kronis mungkin saja tidak ada riwayat hepatitis secara klinis. Sekitar 1/3 dari 
penderita menunjukkan adanya peningkatan aminotransferase, biopsi yang dilakukan 
menunjukkan hasil normal sampai dengan hepatitis aktif kronis, dengan atau tanpa 
cirrhosis. Prognosa penyakit hati berbeda untuk tiap individu. Diperkirakan 15%-25% 
orang dengan infeksi HBV kronis akan meninggal lebih awal dengan cirrhosis atau 
carcinoma hepatocellular. HBV mungkin sebagai akibat sampai 80% dari semua kasus 
carcinoma hepatocellular didunia, merupakan urutan kedua penyebab kanker pada 
manusia sebagai akibat tembakau. 

Diagnosa ditegakkan dengan ditemukannya antigen dan atau antibodi spesifik pada serum. 
Ada tiga bentuk sistem antigen-antibodi yang sangat bermanfaat secara klinis yang 
ditemukan pada infeksi hepatitis B yaitu : 1) antigen permukaan hepatitis B (HBsAg) dan 
antibodi terhadap HBsAg (anti-HBs); 2) antigen core hepatitis B(HBcAg) dan antibodi 
terhadap HBcAg (anti-HBc); dan 3) antigen e hepatitis B (HBeAg) dan atibodi terhadap 
HBeAg (anti-HBe). Perangkat komersial (RIA dan ELISA) tersedia dipasaran untuk 
pemeriksaan semua hep. B marker tersebut kecuali HBcAg. HBsAg dapat ditemukan pada 
serum beberapa minggu sebelum timbulnya gejala sampai dengan beberapa hari, beberapa 
minggu atau beberapa bulan setelah timbulnya gejala; pada penderita infeksi kronis 
bertahan seumur hidup. Anti-HBc muncul pada saat timbul gejala sakit dan lamanya 
bertahan tidak diketahui. Ditemukannya anti-HBc dalam serum sebagai pertanda bahwa 
infeksi HBV terjadi pada saat ini atau pada masa lalu; IgM anti-HBc muncul dengan titer 
yang tinggi selama infeksi akut dan biasanya menghilang setelah 6 bulan, meskipun IgM 
anti HBc ini bertahan pada sebagian kasus hepatitis kronis; oleh karena itu, pemeriksaan 
marker ini cukup dapat dipercaya untuk menegakkan diagnosa infeksi HBV akut. HBsAg 
muncul dalam serum selama infeksi akut dan tetap ditemukan selama infeksi kronis. 
Ditemukannya HBsAg dalam darah menunjukkan bahwa orang tersebut potensial untuk 
menularkan. Ditemukannya HBeAg artinya orang tersebut sangat menular. 

 

2. Penyebab Penyakit 

Virus hepatitis b (HVB), termasuk hepadnavirus, berukuran 42-nm double stranded DNA 
virus dengan terdiri dari nucleocapsid core (HBc Ag) berukuran 27 mm, dikelilingi oleh 
lapisan lipoprotein di bagian luarnya yang berisi antigen permukaan (HBsAg). HBsAg 
adalah antigen heterogen dengan suatu common antigen yang disebut a, dan dua pasang 
antigen yang mutually exclusive yaitu antigen d, y, dan w (termasuk beberapa 
subdeterminan) dan r, yang menghasilkan 4 subtipe utama: adw, ayw, adr dan ayr. 
Penyebaran subtipe-subtipe ini bervariasi secara geografis; dikarenakan oleh perbedaan a 
determinan common antigen, perlindungan terhadap satu subtipe muncul untuk 
merangsang perlindungan terhadap subtipe yang lain dan tidak ada perbedaan manifestasi 
gejala klinis pada subtipe yang berbeda. 


3. Distribusi Penyakit 

Tersebat di seluruh dunia; endemis dengan variasi musiman. WHO memperkirakan lebih 
dari 2 milyar orang terinfeksi oleh HBV (termasuk 350 juta dengan infeksi kronis). Setiap 
tahun sekitar 1 juta orang meningal akibat infeksi HBV dan lebih dari 4 juta kasus klinis 
akut terjadi. Di negara dimana HBV endemis tinggi (prevalensi HBsAg berkisar diatas 
8%), infeksi biasanya terjadi pada semua golongan umur, meskipun angka infeksi kronis 
tinggi terutama disebabkan karena terjadi penularan selama kehamilan dan pada masa bayi 
dan anak-anak. Di negara-negara dengan endemisitas yang rendah (prevalensi HBsAg 
kurang dari 2%), sebagian besar infeksi terjadi pada dewasa muda, khususnya diantara 
orang yang diketahui sebagai kelompok risiko. Namun, walaupun di negara dengan 
endemisitas HBV rendah, proporsi infeksi kronis yang tinggi mungkin didapat selama 
masa anak-anak oleh karena perkembangan menjadi infeksi kronis sangat tergantung 
dengan umur. Sebagian besar infeksi tersebut tidak akan dapat dicegah dengan program 
imunisasi hepatitis B perinatal oleh karena infeksi terjadi pada anak-anak yang ibunya 
mempunyai HBsAg negatif. 

Di Amerika Serikat dan Kanada, dari hasil pemeriksaan serologis terbukti bahwa infeksi 
sebelumnya sangat bervariasi dan tergantung pada umur dan tingkat sosial ekonomi. 
Secara keseluruhan, 5% penduduk dewasa Amerika Serikat memiliki anti-HBc dan 0,5% 
dengan HBsAg positif. Pemajanan terhadap HBV sering terjadi pada kelompok risiko 
tinggi, antara lain para penyalahgunaan obat-obatan dengan suntikan, heteroseksual 
dengan banyak pasangan, homoseksual, kontak keluarga dan pasangan seksual dengan 
orang yang tertular HBV, petugas kesehatan dan petugas keselamatan umum yang 
mempunyai risiko terpajan dengan darah dalam melaksanakan tugasnya, pelanggan dan 
staf pada lembaga yang menangani orang cacat, pasien hemodialisa dan teman sekamar di 
lembaga pemasyarakatan. 

Dahulu sebelum dilakukan skrining terhadap darah donor, penderita yang menerima darah 
dari donor carrier hepatitis B, risiko mereka tertulari sangat tinggi. Namun sekarang 
sebagian besar negara-negara didunia menyediakan fasilitas skrining untuk HbsAg 
terhadap darah donor sebelum diberikan kepada penderita yang memerlukan. 

Skrining ini wajib dilakukan terhadap darah donor. Begitu pula terhadap faktor 
pembekuan darah (terutama faktor antihemofili) diproses terlebih dulu untuk membunuh 
virus sebelum di pooled untuk sewaktu waktu diberikan kepada penderita yang 
membutuhkan. Dengan demikian risiko penderita yang menerima darah dan produk darah 
dari donor tertulari virus hepatitis B boleh dikatakan tidak ada. Namun risiko ini masih 
tetap tinggi disebagian negara berkembang. Penggunaan semprit dan jarum suntik yang 
tidak steril diklinik-klinik dan rumah sakit dapat menyebabkan terjadinya KLB hepatitis 
B. Saat ini, penggunaan alat suntik yang tidak steril sebagai cara penularan hepatitis B 
yang mencemaskan didunia. Pernah juga dilaporkan penularan hepatitsi B terjadi di klinik 
akupungtur dan tempat-tempat tattoo. 

Jarang sekali terjadi penularan dari petugas kesehatan pengidap dilaporkan terjadi pada 
penderita hemodialisis dipusat-pusat hemodialisis. Hal ini terjadi oleh karena standard 
pencegahan penularan penyakit-penyakit infeksi melalui darah dilaksanakan dengan baik. 

 

 

 

 


4. Reservoir 

Manusia berperan sebagai reservoir. Simpanse juga rentan terhadap infeksi, tetapi 
reservoir pada binatang di hutan tidak ditemukan. Virus yang mirip dengan hepadnavirus 
ditemukan pada woodchuck (sejenis marmut), itik dan binatang lainnya; tidak satupun 
dari virus tersebut diketahui mengakibatkan penyakit pada manusia. 

 

5. Cara Penularan 

Bagian tubuh yang memungkinkan terjadinya penularan HBV antara lain darah dan 
produk darah, air ludah, cairan cerebrospinal, peritoneal, pleural, cairan pericardial dan 
synovial; cairan amniotik, semen, cairan vagina, cairan bagian tubuh lainnya yang berisi 
darah, organ dan jaringan tubuh yang terlepas. Ditemukannya antigen e atau DNA virus 
menunjukkan bahwa titer virus dalam tubuh orang tersebut tinggi dan tingkat penularan 
lebih tinggi pada cairan tersebut. Penularan dapat terjadi perkutan (IV, IM, SC atau 
intradermal) dan terjadi pemajanan permukosal apabila terjadi pemajanan terhadap cairan 
tubuh yang infeksius. Oleh karena HBV dapat tahan hidup pada permukaan lingkungan 
paling sedikit selama 7 hari, inokulasi tidak langsung HBV dapat juga terjadi melalui 
obyek tersebut. Penularan fekal-oral atau melalui vector belum terbukti. 

Cara penularan HBV yang paling sering terjadi antara lain meliputi kontak seksual atau 
kontak rumah tangga dengan seseorang yang tertular, penularan perinatal terjadi dari ibu 
kepada bayinya, penggunaan alat suntik pada para pecandu obat-obatan terlarang dan 
melalui pajanan nosokomial di rumah sakit. Penularan seksual dari pria yang terinfeksi 
kepada wanita sekitar 3 kali lebih cepat daripada penularan pada wanita yang terinfeksi 
kepada pria. Hubungan seksual melalui anal, baik penerima maupun pemberi, mempunyai 
risiko sama terjadinya infeksi. Penularan HBV di antara anggota rumah tangga terutama 
terjadi dari anak ke anak. Secara umum, kadang-kadang penggunaan pisau cukur dan sikat 
gigi bersama dapat sebagai perantara penularan HBV. Penularan perinatal biasa terjadi 
pada saat ibu pengidap HBV dengan positif HBeAg. Angka penularan dari ibu yang postif 
HBsAg, dan juga dengan HBeAg positif adalah lebih dari 70%, dan angka penularan 
untuk ibu yang positif HBsAg , dengan HBeAg negatif adalah kurang dari 10%. Penularan 
yang dikaitkan dengan penggunaan obat suntik para pecandu Napza dapat terjadi melalui 
darah yang tercemar HBV melalui alat suntik yang dipakai bersama baik secara langsung 
melalui alat suntik atau karena kontaminasi perlengkapan untuk menyiapkan obat. Pajanan 
nosokomial yang mengakibatkan terjadinya penularan HBV termasuk melalui transfusi 
darah atau poduk darah, hemodialisa, akupunktur dan karena tertusuk jarum suntik secara 
tidak sengaja atau luka lain yang disebabkan karena tertusuk peralatan yang tajam adalah 
cara-cara penularan yang dilakukan oleh petugas rumah sakit. IG, fraksi protein plasma 
yang dilakukan pemanasan, albumin dan fibrinolisin dianggap aman untuk diberikan. 

 

6. Masa Inkubasi 

Masa inkubasi biasanya berlangsung 45 – 180 hari, rata-rata 60-90 hari. Paling sedikit 
diperlukan waktu selama 2 minggu untuk bisa menentukan HbsAg dalam darah, dan 
jarang sekali sampai selama 6-9 bulan; perbedaan masa inkubasi tersebut dikaitkan 
dengan berbagai faktor antara lain jumlah virus dalam inoculum, cara-cara penularan dan 
faktor pejamu. 

 

 


7. Masa Penularan 

Semua orang dengan HBsAg positif berpotensi untuk menular. Darah dari sukarelawan 
yang diinfeksi secara sengaja menjadi infektif beberapa minggu sebelum timbulnya gejala 
pertama dan tetap infektif selama perjalanan klinis akut dari penyakit tersebut. Tingkat 
penularan pada sesorang yang mengalami infeksi kronis berbeda mulai dari sangat 
menular (positif HBeAg) sampai dengan infeksius ringan (positif anti-HBe). 

 

8. Kerentanan dan Kekebalan 

Semua orang rentan terhadap infeksi umum. Biasanya penyakit lebih ringan dan sering 
anicteric pada anak-anak, dan pada bayi biasanya asimtomatis. Kekebalan protektif 
terbentuk setelah terjadi infeksi apabila terbentuk antibodi terhadap HBsAg (anti-HBs) 
dan HBsAg negatif. Seseorang dengan sindroma Down, penyakit lymphoproliferative, 
infeksi HIV dan mereka yang sedang menunjukkan hemodialisis lebih mudah menderita 
infeksi kronis. 

 

9. Cara-cara Pmberantasan 

A. Cara-cara Pencegahan 

1) Vaksin hepatitis B yang efektif sudah ada sejak tahun 1982. Ada dua jenis vaksin 
hepatitis B yan diberi lisensi untuk dipakai di Amerika Serikat dan Kanada. Kedua 
jenis vaksin tersebut aman dan mempunyai daya perlindungan tinggi terhadap 
semua jenis subtipe HBV. Tipe pertama dibuat dari plasma seseorang dengan 
HBsAg positif, tidak lagi diproduksi di Amerika Serikat tetapi masih digunakan 
secara luas. Tipe kedua dibuat dengan teknologi rekombinan DNA (rDNA); vaksin 
ini dibuat dengan menggunakan sintesa HBsAg dengan menggunakan 
Saccharomyces cerevisiae (ragi yang biasa dipakai untuk membuat kue), kedalam 
ragi ini di insersi plasmida yang berisi gen HBsAg. Kombinasi imunoprofilaksis 
pasif-aktif antara hepatitis B immunoglobulin (HBIG) dengan vaksin terbukti dapat 
merangsang terbentuknya anti-HBs sebanding dengan vaksin yang diberikan 
sendiri. 

a) Di semua negara, imunisasi bayi secara rutin hendaknya menjadi strategi 
utama untuk pencegahan infeksi HBV. Imunisasi pada cohort bayi secara 
berkesinambungan akan menghasilkan herd immunity (kekekabalan penduduk) 
yang cukup tinggi untuk dapat memutuskan rantai penularan. Di negara-
negara endemis HBV tinggi, imunisasi bayi secara rutin akan dengan cepat 
dapat menghilangkan penularan oleh karena semua infeksi kronis yang muncul 
penularannya terjadi pada waktu anak-anak. Sedangkan dinegara-negara 
dengan tingkat endemisitas HBV menengah dan rendah, pemberian imunisasi 
saja kepada bayi tidak akan menurunkan insidensi penyakit oleh karena 
sebagian besar infeksi terjadi pada orang dewasa dan anak-anak usia muda. 
Oleh karena itu di negara-negara tersebut, vaksinasi sangat tepat jika diberikan 
kepada anak-anak yang berusia lebih tua, dewasa remaja dan dewasa. Strategi 
tersebut yang ditujukan untuk meningkatkan cakupan vaksinasi pada cohort 
kelompok umur yang berkesinambungan akan lebih efektif dalam upaya 
memutuskan rantai penularan HBV. Sebagai tambahan, satu strategi imunisasi 
lagi dapat dibuat yang ditujukan kepada kelompok risiko tinggi, yaitu 



kelompok yang terhitung paling banyak menyumbangkan terjadinya kasus 
diantara remaja dan dewasa. 
b) Pemeriksaan darah untuk mengeluarkan orang orang yang telah mempunyai 
anti-HBs atau anti-HBc sebelum dilakukan imunisasi tidak praktis dan tidak 
dilakukan, tetapi mungkin untuk menghemat biaya skrining darah ini dapat 
dilakukan pada masyarakat dengan tingkat infeksi yang sangat tinggi. 
c) Kekebalan terhadap HBV dipercaya akan bertahan paling sedikit selama 15 
tahun setelah pemberian imunisasi lengkap. 
d) Vaksin yang diizinkan beredar diberbagai negara di dunia ini kemungkinan 
berbeda dalam dosis dan jadwal pemberiannya; vaksin yang beredar saat ini di 
Amerika Serikat biasanya diberikan dalam 3 dosis IM: setelah dosis pertama 
diberikan maka dosis kedua diberikan dengan interval 1-2 bulan, dan dosis 
ketiga dengan interval 6 – 18 bulan; untuk bayi, dosis awal diberikan segera 
setelah kelahiran atau pada usia 1-2 bulan. Untuk bayi yang dilahirkan dari 
wanita dengan HbsAg positif, jadwal pemberian imunisasi harus diberikan 
segera setelah kelahiran, dosis berikutnya pada usia 1-2 dan 6 bulan. Bayi-bayi 
yang lahir dari ibu pengidap hepatitis B tersebut juga harus diberikan 0,5 ml 
HBIG (lihat pada seksi 9B5a, di bawah). Dosis vaksin dapat berbeda 
tergantung dari perusahaan yang memproduksinya, bacalah petunjuk yang 
tertulis pad brosur kemasan vaksin. Pada pertengahan tahun 1999, diketahui 
bahwa sangat sedikit bayi yang telah menerima dosis vaksin secara berulang 
yang berisi thimerosal ternyata bisa menerima pajanan terhadap mercury 
melebihi batas yang diijinkan apabila didasarkan pada standar yang berlaku 
saat ini. Disarankan untuk melakukan pengurangan atau pemusnahan 
thimerosal pada vaksin secepat mungkin. Sejak pertengahan tahun 1999, 
beberapa jenis vaksin inaktivasi dan semua jenis vaksin hidup sudah bebas dari 
thimerosal. Pada pertengahan tahun 1999, diketahui bahwa hanya vaksin 
hepatitis B yang digunakan untuk bayi baru lahir yang berisi thimerosal. Oleh 
karena itu disarankan untuk menunda pemberian imunisasi hepatitis B sampai 
usia 2-6 bulan bagi bayi yang lahir dari ibu yang HBsAgnya negatif kecuali 
tersedia vaksin hepatitis B yang tidak mengandung thimerosal. Untuk bayi 
yang dilahirkan dari ibu yang positif HbsAg dan ibu yang tidak diskrining 
selama kehamilan, saran tersebut semua dan vaksin harus diberikan segera 
pada saat lahir. Vaksin hepatitis B antigen tunggal yang bebas dari bahan 
pengawet telah tersedia di Amerika Serikat pada pertengahan bulan September 
1999. 
e) Kehamilan bukan merupakan kontraindikasi untuk diberikan vaksin hepatitis 
B. 


2) Strategi pencegahan hepatitis B yang saat ini berlaku di Amerika Serikat meliputi 
kegiatan sebagai berikut: a) Malakukan skrining terhadap semua wanita hamil 
untuk menemukan HbsAg, memberikan HBIG dan vaksinasi hepatitis B pada bayi 
yang lahir dari ibu dengan HbsAg positif, dan memberikan vaksinasi hepatitis B 
untuk kontak anggota keluarga yang rentan (lihat 9B5, di bawah); b) memberikan 
imunisasi hepatitis B rutin untuk semua bayi; c) memberikan imunisasi susulan 
(catch-up) untuk anak-anak yang berada didalam kelompok dengan prevalensi 
infeksi HBV kronis tinggi (penduduk asli Alaska, penduduk Pacific Island dan 



anak-anak para pendatang generasi pertama dari negara-negara dengan prevalensi 
infeksi HBV kronis tinggi); d) imunisasi susulan (catch-up) pada anak-anak dan 
remaja yang sebelumnya tidak diimunisasi, dengan prioritas utama pada anak-anak 
berumur 11-12 tahun; dan e) dan melakukan upaya yang intensif untuk 
memberikan imunisasi kepada remaja dan orang dewasa pada kelompok risiko 
tinggi tertentu (lihat penjelasan pada seksi 9A3, berikutnya). 
3) Orang-orang dengan risiko tinggi yang harus menerima imunisasi pra pajanan 
hepatitis B secara berkala adalah : a) pria dan wanita yang secara aktif melakukan 
hubungan seks secara heteroseksual, yaitu mereka yang ditemukan sedang 
menderita penyakit kelamin jenis lain dan mereka yang mempunyai riwayat 
melakukan hubungan seksual lebih dari satu orang pasangan dalam 6 bulan 
terakhir; b) Pria homoseksual; c) pasangan seksual dan kontak anggota keluarga 
yang HbsAg positif; d) Teman satu ruangan di lembaga pemasyarakatan, termasuk 
lembaga pemasyarakatan untuk anak-anak, penjara dan ruang tahanan; e) petugas 
kesehatan dan petugas pelayanan umum yang karena tugsnya memounyai risiko 
kontak dengan darah atau cairan darah yang terkontaminasi; f) Penghuni, klien dan 
staf dari lembaga yang merawat orang cacat; g) penderita hemodialisis; h) 
penderita dengan penyakit perdarahan yang menerima produk darah; dan i) 
wisatawan asing yang merencanakan tinggal selama lebih dari 6 bulan di daerah 
dengan angka prevalensi infeksi HBV kronis yang tinggi (2% atau lebih) dan 
terhadap mereka yang akan kontak dengan penduduk setempat. 
4) Lakukan sterilisasi dengan baik terhadap semua alat suntik dan jarum (termasuk 
jarum akupunktur) dan alat tusuk jari, atau lebih baik menggunakan peralatan yang 
sekali pakai (disposable) jika memungkinkan. Pemakaian alat suntik dan jarum 
yang steril sangat penting bagi orang yang akan dilakukan Skin test, inokulasi 
parenteral atau venipuncture. Kurangi kegiataan tattoo; lakukan tattoo secara 
aseptic dan saniter diruangan tattoo. 
5) Pada bank darah, semua darah yang akan didonorkan harus dilakukan pemeriksaan 
dengan teknik yang sensitif untuk melihat adanya HbsAg dalam darah donor (RIA 
atau EIA); tolak darah dari seseorang dengan riwayat mempunyai hepatitis akibat 
virus; mereka yang memiliki riwayat penyalahgunaan obat-obatan terlarang atau 
yang menunjukkan bukti ketergantungan obat atau dari mereka yang menerima 
transfunsi darah atau tattoo selama 6 bulan terakhir. Donor bayaran diterima 
hanya pada saat yang sangat mendesak. 
6) Batasi pemberian darah yang tidak diseleksi atau produk darah yang potensial 
berbahaya untuk pasien yang jelas sangat membutuhkannya dengan segera sebagai 
upaya pengobatan. 
7) Lakukan surveilans berkala untuk semua kasus yang menderita hepatitis pasca 
transfusi, simpan catatan semua orang yang pernah mendonorkan darah untuk 
setiap kasus. Baritahukan petugas bank darah mereka yang berpotensi menjadi 
carrier sehingga di masa yang akan datang apabila mereka akan menjadi donor 
sudah dapat dikenal dengan baik. 
8) Tenaga medis dan dokter gigi yang tertular oleh HBV dan kemudian positif 
HbeAg tidak boleh melakukan tindakan invasif kecuali mereka sudah mendapat 
clearance dari review panel dari para pakar tindakan invesif apa saja yang boleh 
mereka lakukan. 



B. Penanganan Penderita, Kontak dan Lingkungan sekitar 

1) Laporan kepada instansi kesehatan setempat: Laporan wajib dilakukan di Amerika 
Serikat, meskipun saat ini diwajibkan di banyak negara didunia; Kelas 2A (lihat 
pelaporan tentan penyakit menular). 
2) Isolasi; Kewaspadaan universal untuk mencegah pajanan pada darah dan cairan 
tubuh. 
3) Disinfeksi serentak: Dilakukan disinfeksi pada semua peralatan yang 
terkontaminasi oleh darah atau cairan tubuh yang dapat menularkan. 
4) Karantina: Tidak ada. 
5) Imunisasi kontak: tersedia produk untuk pencegahan pasca pajanan seperti HBIG 
dan vaksin hepatitis B. HBIG mempunyai titer tinggi anti-HBs (lebih dari 1: 
100.000). Apabila diperlukan, berikan HBIG sesegera mungkin setelah terjadi 
pajanan. Dibawah ini dapat dipakai sebagai pedoman pemberian vaksinasi dan 
HBIG : 
a) Bayi yang terlahir dari ibu yang positif HbsAg harus diberikan dosis tunggal 
HBIG (0,5 ml IM) dan lakukan vaksinasi dalam waktu 12 jam setelah 
kelahiran. Dosis pertama vaksin harus diberikan bersamaan dengan HBIG 
sesaat setelah bayi lahir pada tempat yang berbeda. Pemberian vaksin dosis 
kedua dan ketiga (tanpa HBIG) dengan interval 1-2 dan 6 bulan kemudian. 
Disarankan agar dilakukan pemeriksaan HbsAg dan anti-HBs pada bayi pada 
saat berumur 9-15 bulan untuk memantau keberhasilan atau kegagalan 
pengobatan. Bayi yang positif anti-HBs dan negatif HbsAg telah terlindungi 
dan tidak memerlukan dosis vaksin lebih lanjut. Bayi yang pada pemeriksaan 
didapatkan anti-HBs negatif dan HBsAg negatif harus diberikan imunisasi 
ulang. 
b) Setelah terjadi pemajanan melaui membrana mukosa atau per kutan 
(contohnya karena tertusuk jarum) akan terpajan dengan darah yang 
mengandung atau mungkin mengandung HbsAg, pertimbangan untuk 
memberikan pencegahan pasca pajanan harus dengan memperhatikan beberapa 
faktor: i) apakah sumber pemajanan adalah dari darah; ii) harus dilihat status 
HbsAg sumber pemajanan; dan iii) bagaimana status imunisasi hepatitis B 
seseorang yang terpajan. Untuk mereka yang tidak diimunisasi sebelumnya 
dan terpajan dengan darah dari sumber yang positif HbsAg, maka berikan 
dosis tunggal HBIG (0,06 ml/kg, atau 5 ml untuk dewasa) dan harus diberikan 
sesegera mungkin, yaitu dalam waktu paling sedikit 24 jam setelah pajanan 
dengan jarum suntik risiko tinggi, dan pemberian seri vaksin hepatitis B harus 
segera dimulai. Apabila imunisasi aktif tidak dapat diberikan, maka dosis 
kedua HBIG harus diberikan 1 bulan setelah pemberian pertama. HBIG tidak 
harus diberikan kepada mereka yang mengalami pajanan dengan jarum suntik 
pada darah yang tidak diketahui atau kemungkinan besar tersangka positif 
HBSAg, oleh karena risiko infeksi dalam keadaan seperti ini rendah; akan 
tetapi, pemberian imunisasi hepatitis B awal disarankan apabila orang tersebut 
tidak pernah diimunisasi sebelumnya. Untuk mereka yang sudah pernah 
diimunisasi dan terpajan dengan sumber yang positif HbsAg, pencegahan 
pasca pajanan tidak diperlukan apabila mereka telah memiliki titer antibodi 
protektif yaitu (10 mili-IU/ml anti-HBs atau lebih). 





Bagi orang yang responsnya terhadap imunisasi tidak diketahui dengan jelas, 
maka vaksin hepatitis B dan atau HBIG harus segera diberikan. 


c) Setelah terjadi pajanan secara seksual dengan seseorang yang terinfeksi HBV 
akut, maka dosis tunggal HBIG (0,06 ml/kg) disarankan untuk diberikan dalam 
14 hari setelah hubungan seksual terakhir. Terhadap mereka semua yang 
terpajan melalui kontak seksual dengan orang yang terinfeksi HBV akut dan 
kronis, pemberian vaksin harus dilakukan. 


6) Investigasi kontak dan sumber infeksi: lihat 9C di bawah. 
7) Pengobatan spesifik: Tidak ada Pengobatan spesifik tersedia untuk hepatitis B 
akut. Alpha interferon dan lamivudine diijinkan beredar untuk pengobatan 
hepatitis B kronis di Amerika Serikat. Para calon yang akan menerima pengobatan 
sebaiknya sudah terbukti menderita hepatitis B kronis yaitu dengan melihat hasil 
biopsi; pengobatan dengan interferon dan lamividine ini paling efektif jika 
diberikan pada seseorang dengan infeksi pada fase replikasi tinggi (positif HbeAg) 
karena mereka paling sering simtomatis, infeksius dan risiko tinggi terjadi gejala 
sisa dalam jangka waktu lama. Penelitian menunjukkan bahwa alpha interferon 
telah berhasil menghentikan perkembangan virus sekitar 25% - 40% dari pasien 
yang diobati. Rata-rata 10% dari pasien memberi respons lenyapnya HbsAg 
dalam waktu 6 bulan setelah pengobatan. Uji klinis pengobatan jangka panjang 
dengan lamivudine memperlihatkan terjadinya pengurangan DNA HBV secara 
berkelanjutanpada serum, diikuti dengan perbaikan kadar serum aminotransferase 
dan terjadi perbaikan histologis. 





C. Penanggulangan wabah 

Apabila ditemukan dua atau lebih kasus yang timbul karena pola penularan Common 
source maka lakukan investigasi untuk menemukan kasus tambahan. Terapkan teknik 
aseptik yang ketat setiap melakukan tindakan yang berisiko terjadi penularan. Apabila 
derivat plasma seperti faktor antihemofili, fibrinogen pooled plasma atau thrombin 
diduga sebagai sumber infeksi tarik semua produk darah tersebut dengan segera. 
Segera lakukan pelacakan terhadap semua resipien yang tela menerima derivat plasma 
dati lot yang sama, cari dan temukan kasus tambahan pada resipien tersebut. 

 

D. Implikasi bencana 

Apabila kewaspadaan terhadap konsep aseptik dikendorkan dan pemakaian darah 
tanpa skrining meningkat maka akan terjadi peningkatan jumlah kasus. 


pengobatan aspirin jangka panjang 











DAFTAR SINGKATAN 

 

 

AIDS : Acquired Immunodeficiency Syndrome 

AS : Amerika Serikat 

AZT : Azidothymidine 

Ae : Aedes 

ASPA : Allergic Bronchopulmonary Aspergillus 

AHC : Acute Haemorrhagic Conjunctivity 

ASI : Air susu ibu 

ATL : Adult T-cell Leukimia 

ACIP : Immunization Practices Advisory Committee 

ATS : Anti Tetanus Serum 

 

BCG : Basillus Calmette Guerine 

BBLR : Berat Badan Lahir Rendah 

BSL : Biosafety Level 

BPF : Brazilian Purpuric Fever 

BSE : Bovine Spongiform Encephalitis 

BTA : Basil Tahan Asam 

 

CDC : Communicable Disease Control 

CD : Complement Determinant 

cc mm : Cubic millimeter 

0C : Celcius 

C : Culex 

CF : Complement Fixation 

CFR : Case Fatality Rate 

CEE : Central European Tick born Encephalitis 

CTF : Colorado Tick Fever 

CSD : Cat Scratch Disease 

CMV : Cytomegalo Virus 

CA : Cold Hemaglutinin 

RS : Congenital Rubella Syndrome 

C 

DHF : Dengue hemorrhagic Fever 

DNA : Deoxyribonucleic Acid 

DBD : Demam berdarah 

DSS : Dengue shock syndrome 

DHF : Dengue Haemorrhagic Fever 

DAEC : E. Coli Diffuse Adherence 

DAT : Diphteria arititoxin 

DEC : Diethylcarbamazine 

DIC : Disseminated Intravaccular Coagulation 

DPT : Diptheri Pertussis Tetanus 

DFMO : Difluoro Methylo Mithne 

DOTS : Directly Observed Supervised Treatment Shortcourse 




ELISA/EIA : Enyzm Linked Immuno Sorbent Assay/Enyzme Immunoassay 

EPI : Expanded Program Immunization 

EEE : Eastern Equine Encephalitis 

EKC : Epidemic Keratoconjunctivitis 

EHEC : Entero Hemorrhagica E. Coli 

ETEC : Entero Toksigenik E. Coli 

EIEC : Entero Invasive E. Coli 

EPEC : Entero Pathogenic E. Coli 

ESR : Erythrocyte sedimentation rate 

ERIG : Equine Rabies Immunoglobulin 

 

F : Fahrenheit 

FBI : Federal Bureau of Investigation 

FA : Fluorescent Antibody 

FEE : Far Eastern Encephalitis 

FAO : Food and Agriculture Organization 

FTAAbs : Fluorescent Treponema Antibody Absorbed 

 

G : Gram 

GC : Gonococcus 

 

HIV : Human Immunodeficiency Virus 

HEPA : High-efficiency Particle Air 

HLA : Human Leukocyte Antigen 

HI : Hemorrhagic Inhibition 

HA : Hemaglutination 

HUS : Haemolitic Uremia syndrome 

HBV : Hepatitis B Virus 

HCV : Hepatitis C Virus 

HAV : Hepatitis a Virus 

Hdv : Hepatitis D VIRUS 

Hev : Hepatitis E virus 

HSV : Herpes Simplex Virus 

HDCU : Human Diploid Cell Vaccine 

RIG : Human Rabies Immunoglobulin 

H 

ICD : International Classification of Disease 

IFA : Indirect Immunoflourescent Antibody Test 

IgM : Immunoglobulin M 

IgG : Immunoglobulin G 

ICU : Intensive Care Unit 

IU : International Unit 

IVIG : Immunoglobuline intravena 

IF : Immunoflourescent 

ITP : Idiopathic Thrombocytopenic Purpura 

IM : Intramuscular 


ID : Intradermal 

IGIV : Immunoglobuline intravena 

 

JE : Japanese Encephalitis 

 

KLB : Kejadian Luar Biasa 

KFD : Kyasanur Forest Disease 

KIA : Kesehatan Ibu dan Anak 

 

LCS : Liquor Cerebro Spinalis 

L : Liter 

LED : Laju Endap Darah 

 

MTBC : Mycobacterium Tuberculosis 

MMR : Measles-Mumps-Rubella 

MV : Murray Valley 

 

Nm : Nanometer 

NAAT : Nucleid Acid Amplification Test 

NAPZA : Narkotika Psikotropika dan Zat-Zat Adiktif yang berbahaya 

 

OHF : Omsk Haemorrhagic Fever 

OPV : Oral polio vaccine 

OAT : Obat Anti Tuberkolosis 

 

PCR : Polymerase Chain Reaction 

PEP : Post exposure Prophylaxis 

PE : Powassan Encephalitis 

PCF : Pharyngo Conjunctivital Fever 

PCP : Plasma cell pneumonia 

PIN : Pekan imunisasi nasional 

PAHO : Pan American Health Organization 

PCBC : Purified Chick Embryo Cell Vaccine 

 

QBC : Quantitative Bufy Coat 

 

RNA : Ribo Nuclide Acid 

RVA : Rabies Vaccine Absorbed 

RIA : Radio Immunoassay 

RSV : Respiratory Syncytial Virus 

RDR : Rapid Plasma Reagent 

RVF : Rift Valley Fever 

 

 

STD : Sexual Transmitted Disease 


SCBA : Self Contained Breathing Apparatus 

STEC : Shiga Toxin E. Coli 

SSP : Susunan Saraf Pusat 

SLE : St. Louis Encephalitis 

 

TB : Tuberculosis 

TMP/SMX : Lo-Trimoxasole (trimethoperin-sulfamethoxazole) 

TSS : Toxic Shock Syndrome 

TT : Tetanus Toxoid 

 

USFDA : Unites states food & drug agency 

UNDP : United Nation Development Program 

 

VZIG : Varicella Zoster Immune Globulin 

VTEC : Vero Toxin E. Coli 

VDRI : Veneral Disease Research Laboratory 

 

WHO : World health Organization 

WEE : Western Equine Encephalitis 

 

ZDV : Zidovudine 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Definisi – Definisi 

( Arti terminology yang digunakan dalam teks) 

 

 


 

1. “Carrier” – Orang atau binatang yang mengandung bibit penyekit tertentu tanpa 
menunjukkan gejala klinis yangjelas dan berpotensi sebagai sumber penularan 
penyakit. Status sebagai “carrier” bisa bertahan dalam individu dalam waktu yang 
lama dalam perjalanan penyakit tanpa menunjukkan gejala klinis yang jelas, (dikenal 
sebagai carrier sehat atau “asymptomatic carrier”). Bisa juga status “carrier” ini terjadi 
pada waktu masa inkubasi, pada masa “convalescence” atau sesudah masa 
“convalescence” dimana disini gejala klinis penyakitnya jelas (dikenal sebagai 
“carrier” inkubasi atau “concalescence carrier”). Dari berbagai jenis “carrier” diatas, 
status “carrier” bisa pendek bisa sangat panjang (disebuat sebagai “carrier” sementara 
atau “transient carrier” atau “carrier” kronis). 


 

2. “Case Fataly Rate” - (Angka Kematian Kasus) : Biasanya dinyatakan dalam 
presentase orang yang didiagnosa dengan penyakit tertentu kemudian meninggal 
karena penyakit tersebut dalam kururn waktu tertentu. 



3. “Chemoprophylaxis” – Pemberian bahan kimia termasuk antibiotik yang ditujukan 
untuk mencegah berkembangnya infeksi atau berkembangnya infeksi menjadi 
penyakit yang manifes. “Chemoprophylaxis” juga dimaksudkan untuk mencegah 
penularan penyakit kepada orang lain. Sedangkan “Chemotherapy” dimaksudkan 
pemberian bahan kimia dengan tujuan untuk mengobati suatu penyakit yang secara 
klinis sudah manifes dan untuk mencegaj perkembangan penyakit lebih lanjut. 



4. Pembersihan – Menghilangkan bahan organic atau bahan infeksius dri suatu 
permukaan dengan cara mencuci dan menggosok menggunakan deterjen atau 
pembersih vacuum dimana agen infeksi ini kemungkinan tempat yang cocok untuk 
hidup dan berkembang biak pada permukaan tersebut. 



5. Penyakit Menular – Penyakit yang disebabkan oleh bibit penyakit tertentu atau oleh 
produk toxin yang didapatkan melalui penularan bibit penyakit atau toxin yang 
diproduksi oleh bibit penyakit tersebut dari orang yang terinfeksi, dari binatang atau 
dari reservoir kepada orang yang rentan; baik secara langsung maupun tidak langsung 
melalui tumbuh-tumbuhan atau binatang pejamu, melalui vector atau melalui 
lingkungan. 



6. Masa Penularan – Adalah waktu pada saat dimana bibit penyakit mulai ditularkan 
baik secara langsung maupun tidak langsung dari orang yang sakit ke orang lain, dari 
binatang yang sakit ke manusia atau dari orang yang sakit ke binatang termasuk ke 
arthropoda. Untuk penyakit tertentu seperti Diptheria dan Infeksi Streptococcus 
dimana selaput lendir terkena sejak awal masuknya bibit penyakit, maka masa 
penularannya dihitung mulai dari saat kontak pertama dengan sumber infeksi sampai 
dengan saat bibit penyakit tidak lagi ditularkan dari selaput lendir yang terinfeksi, 
yaitu waktu sebelum munculnya gejala prodromal sampai berhentinya status sebagai 
carrier, jika yang bersagkutan berkembang menjadi carrier. 
Ada penyakit-penyakit tertentu justru lebih menular pada masa inkubasi dibandingkan 
dengan pada waktu yang bersangkutan memang benar-benar jatuh sakit (contohnya 
adalah Hepatitis A, campak). Pada penyakit-penyakit sepeti TBC, kusta, sifilis, 
gonorrhea dan jenis salmonella tertentu masa penularannya berlangsung lama dan 
terkadang intermiten pada saat lesi kronis secara terus menerus mengeluarkan cairan 
yang infeksius dari permukaan atau lubang-lubang tubuh. 

Untuk penyakit yang ditularkan oleh arthropoda seperti malaria, demam kuning, masa 
penularannya atau masa infektivitasnya adalah pada saat bibit penyakit ada dalam 
jumlah cukup dalam tubuh manusia baik itu dalam darah maupun jaringan tubuh 
lainnya dari orang yang terinfeksi sehingga memungkinkan vector terinfeksi dan 
menularkannya kepada orang lain. 

Masa penularan untuk vector arthropoda yaitu pada saat bibit penyakit dapat 
disemikan dalam jaringan tubuh arthropoda dalam bentuk tertentu dalam jaringan 
tertentu (stadium infektif) sehingga dapat ditularkan. 

 





7. Kontak – Orang atau binatang sedemikian rupa mempunyai hubungan dengan orang 
atau binatang yang sakit atau dengan lingkungan yang tercemar yang menyebabkan 
mereka kemungkinan besar terkena infeksi 



8. Kontaminasi – Ditemukannya bibit penyakit dipermukaan tubuh, pakaian, tempat 
tidur, mainan anak-anak, instrumen, duk atau pada benda-benad lainnya termasuk air 
dan makanan. Polusi berbeda dengan kontaminasi, dimana polusi diartikan adanya 
bahan pencemar dalam jumlah yang berlebihan di dalam lingkungan dan tidak harus 
berupa agen insfeksius. Kontaminasi permukaan tubuh manusia tidak berati orang 
tersebut berperan sebagai “carrier”. 



9. Disinfektan – Upaya untuk membunuh bibit penyakit di luar tubuh manusia dengan 
menggunakan bahan kimia atau bahan fisis. 
Disinfektan pada tingkat yang tinggi akan membunuh semua mikro organisme kecuali 
spora. Diperlukan upaya lebih jauh untuk membunuh spora dari bakteri. 

Untuk membunuh spora diperlukan kontak yang lebih lama dengan disinfektan dalam 
konsentrasi tertentu setelah dilakukan pencucian dengan deterjen secara benar. 

Konsentrasi bahan kimia yang diperlukan antara lian Glutaraldehyde 2%, H2O2 6% 
yang sudah distabilkan, Asam paracetat 1%, paling sedikitnya diberikan minimal 20 
menit. Disinfektan pada tingkat menengah tidak membunuh spora. Spora akan mati 
jika dilakukan pasteurisasi selama 30 menit 75o C (167o F) atau dengan menggunakan 
disinfektan yang sudah direkomendasikan oleh EPA. 

 

Disinfektasi Segera, adalah disinfektasi yang dilakukan segera setelah lingkungan 
tercemar oleh cairan tubuh dari orang yang sakit atau suatu barang yang tercemar oleh 
bahan infeksius. Sebelum dilakukan disinfektasi terhadap barang atau lingkungan 
maka upayakan agar sesedikit mungkin kontak dengan cairan tubuh atau barang-
barang yang terkontaminasi tersebut. 

 

Disinfektasi Terminal, adalah upaya disinfektasi yang dilakukkan setelah penderita 
meninggal, atau setelah penderita dikirm ke Rumah Sakit, atau setelah penderita 





berhenti sebagai sumber infeksi, atau setelah dilakukan isolasi di Rumah Sakit atau 
setelah tindakan-tindakan lain dihentikan. Disinfektasi terminal jarang dilakukan; 
biasanya melakukan pemebersihan terminal sudah mencukupi dilakukan bersama-
sama dengan aerasi kamar serta membiarkan sinar matahari masuk kamar sebanya-
banyaknya menyinari ruangan tempat tidur dan meja kursi. 

Disinfektasi hanya diperlukan untuk penyakit yang ditularkan secara tidak langsung; 
sentralisasi dengan uap atau Insenerasi tempat tidur dan peralatan lain dianjurkan 
untuk penyakit demam Lassa atau penyakit yang sangat infeksius lainnya. 

 

Sterilisasi, adalah penghancuran semua bentuk dari bibit penyakit baik dengan cara 
memanaskan, penyinaran, menggunakan gas (ethylene oksida, formaldehyde) atau 
denganpemberian bahan kimia. 

 




10. Disnfestasi – Tindakan yang dilakukan baik fisis maupun kimiawi dengan maksud 
untuk menghancurkan atau menghilangkan binatang-binatang kecil yang tidak 
diinginkan khususnya arthropoda atau rodensia yang hadir di lingkungan manusia, 
binatang peliharaan, dipakaian (lihat Insektisida dan Rodentisida). 
Disinfestasi termasuk menghilangkan kutu yaitu Pediculus humanus, pada manusia. 

Synonim dari disinfestsai adalah disinseksi, disinsektisasi jika yang dihilangkan hanya 
insekta. 

 


11. Endemis – Suatu keadaan dimana suatu penyakit atau agen infeksi tertentu secara 
terus menerus ditemukan disuatu wilayah tertentu, bisa juga dikatakan sebagai suatu 
penyakit yang umum ditemukan disuatu wilayah. 
Sedangkan Hyperendemis adalah keadaan diman penyakit tertentu selalu ditemukan 
di suatu wilayah dengan insiden yang tinggi. Dan Holoendemis adalah keadaan 
dimana suatu penyakit selalau ditemukan di suatu wilayah dengan prevalensi yang 
tinggi, awalnya menyerang penduduk usia muda dan menimpa sebagian besar 
penduduk contohnya malaria di daerah tertentu (lihat zoonosis). 

 





12. Epidemi (Wabah) - Timbulnya suatu penyakit yang menimpa sekelompok 
masyarakat atau suatu wilayah dengan angka kejadian yang melebihi angka normal 
dari kejadian penyakit tersebut. 


Beberapa jumlah penderita untuk bisa dikatakan telah terjadi Epidemi sangat 
tergantung dari jenis penyakit, jumlah dan tipe penduduk yang tertimpa, pengalaman 
masa lalau, jarangnya terpajan dengan penyakit tersebut, waktu dan tempat kejadian. 
Dengan demikian epidemisitas sangat relatif tergantung kepada bagaumana kejadian 
biasanya dari penyakit tersebut di suatu wilayah yang sama, pada penduduk tertentu 
pada musim yang sama. 

Sebagai contoh satu kasus penyakit tertentu yang lama tidak muncul kemudian tiba-
tiba muncul atau suatu kasus penyakit yang sebelumnya belum pernah dikenal, 
muncul maka segera harus dilakukan penyelidikan epidemiologis dan juika kemudian 
penyakit tersebut menjadi dua kasus dalam waktu yang cepat di tempat tersebut maka 
ini sebagai bukti telah terjadi penularan dan dianggap telah terjadi epidemi (lihat 
laporan suatu penyakit dan zoonosis). 

 


13. Penyinaran Makanan - Teknologi tertentu yang dapat memberikan dosis spesifik 
dari radiasi pengion dari suatu sumber radio isotope (Cobalt 60) atau dari mesin yang 
dapat menghasilkan sinar electron atau sinar X. Dosis yang diperlukan untuk 
penyinaran makanan dan alat-alat : rendah yaitu sekitar 1 kilo Grays (kGy) atau 
kurang, digunakan untuk sisinfeksi insekta dari buah-buahan, bumbu atau biji-bijian; 
disinfeksi parasit dari ikan dan daging; medium 1 – 10 kGy (biasanya 1-4 kGy), 
dipakai untuk pasteurisasi dan untuk menghancurkan bakteri dan jamur, dan tinggi 10 
– 15 kGy, digunakan untuk sterilisasi makanan, peralatan medis dn alat kesehatan 
(cairan iv, implan, semprit, jarum suntik, benang, klip, jas operasi, duk). 



14. Fumigasi – Proses yang ditujukan untik membunuh binatang tertentu seperti 
arthropoda dan rodensia dengan menggunakan gas kimia (lihat insektisida dan 
rodentisida). 






15. Penyuluhan Kesehatan - Adalah suatu proses yang ditujukan kepada individu atau 
kelompok penduduk agar mereka bisa berperilaku sehat dalam menjaga dan 
memelihara kesehatan mereka. Penyuluhan kesehatan dimulai dari masyarakat dalam 
keadaan seperti apa adanya yaitu pandangan mereka selama ini terhadap masalah 
kesehatan. 


Dengan memebrikan penyuluhan kesehatan kepada mereka dimaksudkan untuk 
mengembangkan sikap dan tanggung jawab sebagai individu, anggota keluarga, 
anggota masyarakat dalam masalah kesehatan. Khusus kaitannya dengan 
pemberantasan penyakit menular maka penyuluhan kesehatan ditujukan kepada upaya 
peningkatan pengetahuan masyarakat tentang penyakit menular, penilaian terhadap 
perilaku masyarakat yang ada kaitannya dengan penyebaran serta peningkatan 
frekuensi penyakit menular, pengenalan cara-cara pengobatan (Synonim : pendidikan 
penderita, pendidikan untuk kesehatan, pendidikan kepada masyarakat, pendidikan 
kesehatan masyarakat). 

 


16. Kekebalan Kelompok (Herd inmunixty) – Adalah kekebalan dari sekelompk orang 
atau masyarakat. Kemampuan dari sekelompok orang untuk menanngkal invasi atau 
penyebaran suatu penyakit infeksi jika mereka yang kebal mencapai proporsi yang 
cukup tinggi di masyarakat. 



17. Pejamu/Tuan Rumah/Inang – Disebut juga “Host”, hospes ialah orang atau binatang 
termasuk burung dan arthropoda yang mengandung bibit penyakit tertentu yang 
didapatkan secara alamiah (bukan sebagai hasil eksperimen). Protozoa dab cacing 
tertentu mempunyai beberapa oejamu dari spesies binatang yang berbeda dalam 
stadium perkembangan mereka. Pejamu dimana parasit mencapai maturitas atau 
melewatkan stadium seksual mereka disebut sebagai pejamu perimer atau pejamu 
difinitif, sedangkan pejamu dimana parasit melewatkan stadium larva atau stadium 
asexual disebuet sebagai pejamu sekunder atau pejamu intermediair. Pejamu perantara 
(transport host) adalah “carrier” dimana organisme bertahan hidup tetapi tidak 
mengalamui perkembangan. 



18. Individu Yang Kebal – Orang atau binatang yang memiliki antibody spesifik dan 
atau memiliki antibody seluler akibat infeksi atau pemberian imunisasi yang dialami 
sebelumnya. Atau suatu kondisi sebagai akibat pengalaman spesifik sebelumnya 
sebagai suatu respons sedemikian rupa yang mencegah berkembangnya penyakit 
terhadap reinfeksi dari bibit penyakit tertentu. 


Tingkat imunitas seseorang sangat relatif; tingkat perlindungan tertentu mungkin 
cukup kuat terhadap infeksi yang biasanya tetapi tidak mencukupi untuk infeksi yang 
berat atau infeksi yang melewati “Port d’entre” yang tidak biasanya; Daya lindung 
juga berkurang pada pemberian pengobatan “immumosuppressive” atau karena 
menderita penyakit lain dan proses ketuaan (lihat Resistensi). 

 


19. Imunitas – Kekebalan yang dikaitkan dengan adanya antibody atau sel yang 
mempunyai tanggap kebal terhadap mikro organisme dari penyakit infeksi tertentu 
atau terhadap toksinnya. Kekeblan yang efektif meliputi kekebalan seluler berkaitan 
dengan sentisisai T-Lymphocite dan atau imunitas humoral yang didasarkan kepada 
reaksi B-Lymphocite. 
Kekebalan Pasif di dapat baik secara alamiah maupun didapat dari ibu melalui ari ari, 
atau didapat secara buatan dengan memberikan suntikan zat kebal (dari serum 
binatang yang sudah dikebalkan, serum hiperium dari orang yang baru sembuh dari 
penyakit tertentu atau “human immune serum globulin”; kekebalan yang diberikan 
relatif pendek (beberapa hari atau beberapa). 

Imunitas humorial aktif, hilang setelah beberapa tahun yang didapat baik secara 
alamiah karena infeksi dengan atau tanpa gejala klinis atau diperoleh secara buatan 
dengan menyuntikkan agen infeksi yang sudah dibunuh atau dilemahkan atau dalam 
bentuk vaksinnya ke dalam tubuh manusia. 

 


20. Infeksi yang tidak kelihatan (Inapparent Infection) – Adalah terjadinya infeksi 
pada pejamu tanpa disertai dengan gejala klinis yang jelas. Infeksi ini hanya bisa 
diketahui melalui pemeriksaan laboratorium seperti melalui pemeriksaan darah, skin 
test (Synonim; asymptomatik, subklinis, “occult infection”) 



21. Angka Insidensi (Incidence Rate) – Jumlah kasus baru penyakit tertentu yang 
dilaporkan pada periode waktu tertentu, tempat tertentu dibagi dengan jumlah 
penduduk dimana penyakit tersebut berjanngkit. 
Biasanya dinyatakan dalam jumlah kasus per 1000 dtau per 100.000 penduduk per 
tahun. Angka ini bisa diberlakukan bagi umur tertentu, jenis kelamin tertentu atau 
karakteristik spesifik dari penduduk. (lihat Angka morbiditas, Angka Prevalensi). 

“Attack rate” atau “Case Rate” adalah proporsi yang menggambarkan insidensi 
kumulatif dari kelompok tertentu, yang diamati dalam waktu yang terbatas dalam 
situasi tertentu misalnya pada waktu terjadi kejadian luar biasa atau wabah. 
Dinyatakan dalam prosentase (jumlah kasus per 100 penduduk). 

Sedangkan “Attack rate” Sekunder adalah jumlah penderita baru yang terjadi dalam 
keluarga atau institusi dalam periode masa inkubasi tertentu setelah terjadi kontak 
dengan kasus primer, dihubungkan dengan total keseluruhan kontak; 
deniominatornya/penyebutnya bisa terbatas hanya kepada kontak yang rentan saja jika 
hal ini diketahui dengan jelas. 

Angka Infeksi adalah proporsi yang menggambarkan insidensi dari semua infeksi 
yang terjadi baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. 

 


22. Masa Inkubasi – Yaitu interval waktu antara kontak awal dengan bibit penyakit dan 
awal munculnya gejala penyakit yang dikaitkan dengan infeksi tersebut. Didalam 
tubuh vector adalah waktu antara msauknya mikro organisme ke dalam tubuh vector 
dan waktu dimana vector tersebut mampu menyebarkan penyakit (Masa Inkubasi 
Ekstrinsik). 
Waktu antara orang terpajan dengan parasit sampai ditemukannya parasit tersebut 
dalam darah atau feces dinamakan masa percobaan. 

 


23. Orang yang terinfeksi – Seseorang atau binatang yang mengandung bibit penyakit 
baik dia menunjukkan gejala klinis maupun tidak (lihat pasien atau orang sakit), atau 
infeksi yang tidak kelihatan (lihat Carrier). Orang atau binatang yang infeksius adalah 
dari mana bibit penyakit secara alamiah bisa didapat. 






24. Infeksi – masuk dan berkembang biaknya bibit penyakit atau parasit ke dalam tubuh 
manusia atau binatang. Infeksi tidak sama dengan penyakit infeksius; akibatnya 
mungkin tidak kelihatan (lihat infeksi yang tidak kelihatan) mungkin juga manifes 
(lihat penyakit infeksi). Ditemukannya bibit penyakit di permukaan tubuh, 
dipermukaan alat-alat, pada alat-alat yang tercemar tanah disebut sebagai kontaminasi 
(lihat infestrasi dan kontaminasi) bukan infeksi. 



25. Agen Infeksius – Adalah organisme (virus, rickettsia, bacteria, fungus, protozoa, 
cacing) yang bisa menimbulkan infeksi atau penyakit infeksi. Infektivitas 
menunjukkan kemampuan dari agen infeksius untuk masuk, hidup dan berkembang 
biak di dalam tubuh pejamu; Tingkat infeksius adalah tingkat kemudahan dari bibit 
penyakit tertentu ditularkan dari satu pejamu ke pajamu lain 



26. Penyakit Infeksius – Penyakit pada manusia atau binatang yang manifes secara klinis 
sebagai akibat dari infeksi (lihat infeksi) 



27. Infestasi – Berlaku untuk orang atau binatang yaitu hinggap dan berkembang 
biakanya arthropoda di permukaan tubuh manusia atau di pakaian. Sedangkan tempat 
atau peralatan yang terinfestasi adalah apabila alat atau tenpat tersebut memberikan 
tempat berteduh bagi arthropoda atau rodensia. 



28. Insektisida - Bahan kimia yang dipakai untuk memusnahkan insekta, pemakaiannya 
bisa dalam bentuk tepung, cairan, cairan yang dibuat menjadi pertikel, aerosol, 
disemprotkan baik yang menggunakan residu maupun tidak. 
Sedangkan Larvasida istilah yang digunakan bagi bahan kimia yang dipakai untuk 
bahan kimia yang digunakan untuk membunuh bentuk dewasa dari arthropoda. Istilah 
Insektisida kerap dipakai untuk membunuh kutu dan agas. Istilah-istilah lain seperti 
lousisida, mitisida juga kadang-kadang dipakai. 

 

 

 





29. Isolasi – Dilakukan terhadap penderita, isolasi menggambarkan pemisahan penderita 
atau pemisahan orang atau binatang yang terinfeksi selama masa inkubasi dengan 
kondisi tertentu untuk mencegah/mengurangi terjadinya penularan baik langsung 
maupun tidak langsung dari orang atau binatang yang rentan. 
Sebaliknya, karantina (q.v.) adalah tindakan yang dilakukan untuk membatasi ruang 
gerak orang yang sehat yang diduga telah kontak dengan penderita penyakit menular 
tertentu. 

CDC telah merekomendasikan suatu “Unversal Precaution/Kewaspadaan Umum” 
yang harus diberlakkan untuk semua penderita baik yang dirawat maupun yang tidak 
dirawat di Rumah Sakit terlepas dari apakah penyakit yang diderita penularanya 
melalui darah atau tidak. 

Hal ini dilakukan dengan asumsi bahwa darah dan cairan tubuh dari penderita (sekresi 
tubuh biasanya mengandung darah, sperma, cairan vagina, jaringan, Liquor 
Cerebrospinalis, cairan synovia, pleura, peritoneum, pericardial dan amnion) dapat 
mengandung Virus HIV, Hepatitis B dan bibit penyakit lainnya yang ditularkan 
melalui darah. 

Tujuan daripada dilakukannya “Kewaspadan Umum” ini adalah agar para petugas 
kesehatan yang merawat pasien etrhindar dari penyakit-penyakit yang ditularkan 
melalui darah yang dapat menulari mereka melalui tertusuk jarum karena tidak 
sengaja, lesi kulit, lesi selaput lendir. 

Alat-alat yang dipakai untuk melindungi diri antara lain pemakaian sarung tangan, Lab 
jas, masker, kaca mata atau kaca penutup mata. Ruangan khusus diperlukan jika 
hygiene penderita jelek. Limbah Rumah Sakit diawasi oleh pihak yang berwenang. 

 

Ada dua hal pokok yang dibutuhkan dan umum diterapkan dalam perawatan 
penderita penyakit menular : 


• Cuci tangan dengan baik setalah memegang pasien atau memegang peralatan 
yang terkontaminasi sebelum memegang pasien berikutnya. 
• Benda – benda yang terkontaminasi oleh agen infeksius dibuang dengan benar 
atau tempatkan dalam kantong yang diberi label sebelum dikirim untuk dilakukan 
dekontaminasi atau diproses kembali. 





Rekomendasi yang diberikan untuk isolasi penderita yang ada pada seksi 9B2 untuk 
tiap-tiap penyakit my be allude terhadap metode yang direkomendasikan oleh CDC 
(CDC Guideline for Isolation Precaution in Hospital) merupakan “category specific 
isolation precaution” sebagai tambahan terhadap “Universal Precaution” yang 
didasarkan kepada cara-cara penularan penyakit tertentu. 


Kategori-kategori tersebut adalah sebagai berikut : 


1. Isolasi ketat; kategori ini dirancang untuk mencegah transmisi dari bibit penyakit 
yang sangat virulen yang dapat ditularkan baik melalui udara maupun melalui 
kontak lanngsung. 
Cirinya adalah selain disediakan ruang perawatan khusus bagi penderita juga bagi 
mereka yang keluar masuk ruangan diwajibkan memakai masker, lab jas, sarung 
tangan. 

Ventilasi ruangan tersebut juga dijaga dengan tekanan negatif dalam ruangan. 

 


2. Isolasi kontak; Diperlukan untuk penyakit-penyakit yang kurang menular atau 
infeksi yang kurang serius, untuk penyakit-penyakityang terutama ditularkan 
secara langsung sebagai tambahan terhadap hal pokok yang dibutuhkan, 
diperlukan kamar tersendiri, namun penderita dengan penyakit yang sama boleh 
dirawat dalam satu kamar, masker diperlukan bagi mereka yang kontak secara 
langsung dengan penderita, lab jas diperlukan jika kemungkinan terjadi kontak 
dengan tanah atau kotoran dan sarung tangan diperlukan jika menyentuh bahan-
bahan yang infeksius. 



3. Isolasi pernafasan; Dimaksudkan untuk mencegah penularan jarak dekat melalui 
udara, diperlukan ruangan bersih untuk merawat penderita, namun mereka yang 
menderita penyakit yang sama boleh dirawat dalam ruangan yang sama. Sebagai 
tambahan terhadap hal-hal pokok yang diperlukan, pemakaian masker dianjurkan 
bagi mereka yang kontak dengan penderita, lab jas dan sarung tangan tidak 
diperlukan. 








4. Isolasi terhadap Tuberculosis (Isolasi BTA); Ditujukan bagi penderita TBC 
paru dengan BTA positif atau gambaran radiologisnya menunjukkan TBC aktif. 
Spesifikasi kamar yang diperlukan adalah kamar khusus dengan ventilasi khusus 
dan pintu tertutup. 
Sebagai tambahan terhadap hal-hal pokok yang dibutuhkan masker khusus tipe 
respirasi dibutuhkan bagi mereka yang masuk ke ruangan perawatan, lab jas 
diperlukan untuk mencegah kontaminasi pada pakaian dan sarung tangan atidak 
diperlukan. 

 


5. Kehati-hatian terhadap penyakit Enterie; Untuk penyakit-penyakit infeksi yang 
ditularkan langsung atau tidak langsung melalui tinja. Sebagai tambahan terhadap 
hal-hal pokok yang diperlukan, perlu disediakan ruangan khusus bagi penderita 
yang hygiene perorangannya jelek. Masker tidak diperlukan jika ada 
kecenderungan terjadi soiling dan sarung tangan diperlukan jika menyentuh bahan-
bahan yang terkontaminasi. 





30. Moluskasida – Bahan kimia yang dipakai untuk membunuh keong dan mollusca 
lainnya. 



31. Angka Kesakitan – Adalah angka insidensi (q.v) yang dipakai untuk menyatakan 
jumlah keseluruhan orang yang menderita penyakit yang menimpa sekelompok 
penduduk pada periode waktu tertentu. Sekelompok penduduk bisa mengacu pada 
jenis kelamin tertentu, umur tertentu atau yang mempunyai cirri-ciri tertentu. 



32. Angka Kematian – Angka yang perhitungannya sama dengan perhitungan angka 
insidensi yaitu pembilangnya (Numerator) adalah jumlah mereka yang mati pada 
periode waktu tertentu yang menimpa sekelompok penduduk, biasanya dalam satu 
tahun, sedangkan penyebutnya (Denominator) adalah jumlah orang yang mempunyai 
resiko mati pada paeriode yang sama. 
Angka Kematian Kasar dinyatakan dalam seluruh kematian oleh karena semua 
sebab, biasanya kematian per 1000 penduduk. 





Angka Kematian Spesifik untuk penyakit tertentu adalah jumlah kematian oleh sebab 
penyakit tertentu saja, biasanya terhadap 100.000 penduduk. Penduduk bisa dirujuk 
berdasarkan umur, jenis kelamin atau cirri-ciri lainya. Angka kematian ini jangan 
disalah artikan dengan Angka Fatalitas/case fatality Rate (q.v), (Synonim : Angka 
Mortalitas). 

 


33. Infeksi Nosokomial – Infeksi yang terjadi pada pnederita yang sedang dirawat di 
Rumah Sakit dimana infeksi ini belum ada pada waktu penderita masuk ke Rumah 
Sakit; atau infeksi residual pada waktu dirawat di Rumah Sakit sebelumnya. Termasuk 
juga infeksi yang muncul setelah penderita keluar Rumah Sakit, dan juga infeksi yang 
mengenai staf dan fsailitas Rumah Sakit (synonym : infeksi yang didapat di Rumah 
Sakit) 



34. Patogenisitas – adalah kemampuan yang dimiliki oleh bibit penyakit untuk membuat 
orang menjadi sakit, atau untuk membuat sekelompok penduduk yang terinfeksi 
menjadi sakit. 



35. Penderita atau Orang Sakit – adalah orang yang menderita suatu penyakit. 



36. Higiene Perorangan – Dalam bidang peberantasan penyakit menular maka upaya 
untuk mellindungi diri terhadap penyakit menjadi tanggung jawab individu dalam 
menjaga kesehatan mereka dan mengurangi penyebaran penyakit, terutama penyakit 
yang ditularkan melalui kontak langsung. 
Upaya – upaya yang dapat dilakukan oleh setiap orang adalah : 


1. Selalu mencuci tangan setelah kencing dan buang air besar dan sebelum makan 
dan minum 
2. jauhkan tangan dan peralatan yang kotor atau barang-barang lain yang dipakai 
untuk keperluan WC dari mulut, hidung, mata, telinga, alat kelamin dan luka 
3. Hindari pemakaian alat-alat untuk makan dn minum tidak bersih begitu juga 
hindari pemakaian handuk, saputangan, sisir, sikat rambut dan pipa rokok yang 
kotor. 





4. jauhi percikan dari orang lain pada saat mereka batuk, bersih, tertawa atau 
berbicara. 
5. Cuci tangan setelah menyentuh penderita dan memegang barang-barang milik 
penderita 
6. Jaga kebersihan tubuh dengan setiap saat mandi secara teratur dengan air 
bersih dn sabun. 





37. Angka Prevalensi - Jumlah keseluruhan orang yang sakit yang menggambarkan 
kondisi tertentu yang menimpa sekelompok penduduk tertentu pada titik waktu 
tertentu (Point Prevalence), atau pada periode waktu tertentu (Period Prevalence), 
tanpa melihat kapan penyakit itu mulai dibagi dengan jumlah penduduk yang 
mempunyai resiko tertimpa penyakit pada titik waktu tertentu atau periode waktu 
tertentu. 



38. Karantina – Pembatasan aktivitas yang ditujukan terhadap orang atau binatang yang 
telah kont ak dengan orang/binatang yang menderita penyakit menular pada masa 
penularan (lihat Kontak). Tujuannya adalah untuk mencegah penularan penyakit pada 
masa inkubasi jika penyakit tersebut benar-benar diduga akan terjadi. Ada dua jenis 
tindakan karantina yaitu : 



1. Karantina Absolut atau Karantina Lengkap : ialah pembatasan ruang gerak 
terhadap mereka yang telah terpajan dengan penderita penyakit menular. 
Lamanya pembatasan ruang gerak ini tidak lebih dari masa inkubsai terpajang 
penyakit menular tersebut. Tujuan dari tindakan ini adalah untuk mencegah orang 
ini kontak dengan orang-orang lain yang belum terpajan. 

 


2. Karantina yang dimodifikasi : Suatu tindakan selektif berupa pembatasan gerak 
bagi mereka yang terpajan dengan penderita penyakit menular. Biasanya 
pertimbangannya adalah perkiraan terhadap adanya perbedaan tingkat kerentanan 
terhadap bahaya penularan. Modifikasi ini dilakukan untuk menghadapi situasi 
tertentu. Sebagai contoh misalnyamelarang anak-anak tertentu masuk sekolah. 





Pengecualian terhadap anak-anak yang sudah dianggap kebal terhadap tindakan-
tindakan tertentu yang ditujukan kepada anak-anak yang rentan. Pembatasan yang 
dilakukan terhadap annggota militer pada pos-pos atau asrama-asrama militer. 
Kegiatan karantina yang dimodifikasi meliputi : 


- Surveilans Individu, yaiut pengamatan medis yang ketat dilakukan terhadap 
individu yang diduga terpajan dengan sumber penyakit agar timbulnya gejala 
penyakit dapat segera diketahui tanpa membatasi ruang gerak mereka. 
- Segregasi, yaitu pemisahan sebagian kelompok (orang atau binatang) dari 
induk kelompoknya dengan tujuan dan pertimbangan khusus agar dapat 
dilakukan pengamatan dengan baik; pemisahan anak-anak yang rentan dari 
anak-anak yang sudah kebal; pembuatan perbatasan penyangga yang sanitair 
untuk melindungi mereka yang belum terinfeksi dari mereka yang sudah 
terinfeksi. 







39. Repelan – adalah bahan kimia yang digosokkan di kulit, pakaian atau tempat lain 
dengan maksud : 
1. Mencegah serangga menggigit/menyerang 
2. Mencegah larva cacing masuk melalui kulit 





40. Pelaporan Penyakit – Adalah laporan resmi yang ditujukan kepada pejabat kesehatan 
yang berwenang yang berisikan kejadian penyakit yang menimpa orangatau binatang. 
Penyakit yang menimpa manusia dilaporkan ke Dinas Kesehatan setempat sedangkan 
penyakit yang menyerang binatang/ternak dilaporkan kepada Dinas Pertanian/Dinas 
Peternakan. Sedangkan penyakit-penyakit hewan tertentu (200 jenis) yang juga 
menyerang hewan maupun manusia dilaporkan baik kepada Dinas Kesehatan maupun 
Dinas Pertanian/Dinas Peternakan. 

Pejabat Kesehatan yang berwenang akan menrbitkan daftar dari penyakit-penyakit 
yang harus dilaporkan sesuai dengan keperluan (lihat Pelaporan Penyakit Menular). 

 

 

 





Laporan penyakit ini juga meliputi penyakit-penyakit yang diduga mempunyai arti 
penting dalam bidang kesehatan masyarakat, biasanya penyakit-penyakit yang 
memerlukan tindakan investigasi atau yang memerlukan tindakan pemberantasan 
tertentu jika seseorang mendapatkan infeksi dri daerah tertentu sedangkan laporan 
penyakitnya dilaporkan di daerah lain, maka pejabat kesehatan yang menerima laporan 
kasus tersebut hendaknya memberitahukan pejabat kesehatan dari daerah dimana 
infeksi tersebut didapat. 

Hal ini penting dilakukan terutama jika diperlukan pemeriksaan kontak (contact 
person), pemeriksaan makanan atau jika diperlukan pemeriksaan air atau brang-barang 
lain yang diduga sebagai sumber infeksi. 

Notifikasi ini diperlukan tidak hanya terhadap penyakit-penyakit yang rutin harus 
dilaporkan tetapi juga terhadap penyakit-penyakit yang timbul KLB/Wabah walaupun 
penyakit tersebut tidak masuk dalam daftar penyakit yang wajib dilaporkan (lihat 
Wabah). Pelaporan khusus yang diperlukan dalam IHR (International Health 
Regulation) tercantum dalam Pelaporan Penyakit Menular. 

 


41. Reservoir (dari penyakit infeksi) – Setiap orang, binatang, arthropoda, tumbuh-
tumbuhan, tanah atau barang-barang (atau kombinasi dari keduanya) dimana bibit 
penyakit biasanya hidup dan berkembang biak serta hiduonya sangat tergantung pada 
inang tempatnya menumpang. Bibit penyakit tersebut biak sendemikian rupa sehingga 
dapat ditularkan kepada inang lain yang rentan. 


 

42. Resistensi – Merupakan Resultante dari mekanisme tubuh yang dapat menghalang-
halangi atau mencegah invasi, multipliksi dari bibit penyakit kedalam tubuh atau 
mencegah terjadinya kerusakan jaringan yang diakibatkan oleh racun yang dikelurkan 
oleh bibit penyakit. 
Resistensi Inheren – Adalah kemapuan tubuh bertahan terhadap serangan bibit 
penyakit yang tidak tergantung kepada kekebalan spesifik baik humoral maupun 
seluler; daya tahan ini biasanya daladm bentuk struktur anatomis dan fisiologis yang 
menjadi cirri individu yang didapatkan secara genetis baik yang bersifat permanen 
ataupun temporer (lihat Imunitas) (Synonim : Imunitas nonspesifik) 





43. Rodentisida – Suatu bahan kimia yang dipergunakan untuk membunuh rodensia, 
umumnya setelah ditelan oleh rodensia tersebut. 



44. Sumber Infeksi – Orang, binatang, barang/bahan dari mana bibit penyakit ditularkan 
pada orang lain. 
Sumber infeksi harus dibedakan dengan Sumber Kontaminasi yaitu sebagai contoh 
septic tank yang meluap mencemari sumber air atau juru masak yang terinfeksi 
mencemari salad yang disajikan. 

 


45. Surveilans Penyakit – Berbeda dengan surveilans terhadap manusia (lihat Karantina 
2), surveilans penyakit adalah kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dengan 
melihat seluruh aspek dari muncul dan menyebarnya suatu penyakit agar dapat 
dilakukan penanggulangan yang efektif. Didalamnya meliputi pengumpulan secara 
sistematik dan evaluasi dari : 
1. Laporan Kesakitan dan Kematian 
2. Laporan khusus dari hasil investigasi atau dari kasus perorangan 
3. Isolasi dan identifikasi dari bahan infeksius oleh laboratorium. 
4. Data tentang ketersediaan dan pemakaian serta dampak dari pemakaian vaksin 
dan toxoids, globulin imun, insektisida dan bahan-bahan yang digunakan 
dalam pemberantasan. 
5. Informasi yang berkaitan dengan tingkat imunitas dari segmen masyarakat 
tertentu. 
6. Data epidemiologis yang dianggap relevan. 





Laporan yang berisikan rangkukman dari data-data diatas hendaknya dibuat dan 
disebar luaskan kepada mereka yang membutuhkan yang ingin mengetahui hasil 
dari kegiatan surveilans. 
Prosedur diatas berlaku umum di semua tingkatan secara local maupun 
internasional. 




 


Surveilans Serologis – Kegiatan yang mengidentifikasikan pola infeksi masa lalu dan 
sampai saat ini dengan menggunakan pemeriksaan serologis. 

 

46. Susceptible (Rentan) – Seseorang atau binatang yang tidak memiliki daya tahan yang 
cukup untuk melawan bibit penyakit tertentu untuk mencegah dirinya tertulari jika 
mereka terpajan dengan bibit penyakit tersebut. 



47. Tersangka – Tersangka dalam pemberantasan penyakit menular dimaksudkan adalah 
kesakitan yang diderita seseorang dimana gejala dan perjalanan penyakitnya 
megidentifikasikan bahwa mereka kemungkinan menderita sesuatu penyakit menular 
tertentu. 



48. Penularan Penyakit Infeksi – Mekanisme dimana penyakit infeksi ditularkan dari 
suatu sumber atau reservoir kepada seseorang. Mekanisme tersebut adalah sebagai 
berikut : 



1. Penularan Langsung; mekanisme ini menularkan bibit penyakit langsung dari 
sumbernya kepada orang atau binatang lain melalui “Port d’entre”. Hal ini bisa 
melalui kontak langsung seperti melalui sentuhan, gigitan, ciuman, hubungan 
seksual, percikan yang mengenai conjunctiva, selaput lendir dari mata, hidung atau 
mulut pada waktu orang lain bersin, batuk, meludah, bernyanyi atau bercakap 
(biasanya pada jarak yang kurang dari 1 meter) 



2. Penularan Tidak Langsung 
a. Penularan Melalui Alat – Alat yang terkontaminasi seperti mainan anak-anak, 
saputangan, kain kotor, tempat tidur, alat masak atau alat makan, instrumen 
bedah atau duk; air, makanan, susu, produk biologis seperti darah, serum, 
plasma, jaringan organ tubuh, atau segala sesuatu yang berperan sebagai 
perantara dimana bibit penyakit di “angkut” dibawa kepada orang/binatang 
yang rentan dan masuk melalui “Port d’entre” yang sesuai. 










Bibit penyakit tersebut bisa saja berkembang biak atau tidak pada alat tersebut 
sebelum ditularkan kepada orang/binanat yang rentan. 


b. Penularan Melalui Vektor – (i) Mekanis : Cara mekanis ini meliputi hal-hal 
yang sederhana seperti terbawanya bibit penyakit pada saat serangga merayap 
ditanah baik terbawa pada kakinya atau pada belalainya, begitu pula bibit 
penyakit terbawa dalam saluran pencernaan serangga. 
Bibit penyakit tidak mengalami perkembangbiakan. (ii) Biologis : cara ini 
meliputi terjadinya perkembangbiakan (propagasi/multiplikasi), maupun 
melalui siklus perkembangbiakan atau kombinasi kedua-duanya. 

(“cyclopropagative”) sebelum bibit penyakit ditularkan oleh serangga kepada 
orang/binatang lain. 

Masa inkubsi ekstrinsik diperlukansebelum serangga menjadi infektif. Bibit 
penyakit bisa ditularkan secara vertical dari induk serangga kepada anaknya 
melalui telur (“transovarium transmission”); atau melalui transmis transtadial 
yaitu Pasasi dari satu stadium ke stadium berikutnya dari siklus hidup parasit 
didalam tubuh serangga dari bentuk nimfe ke serangga dewasa. 

Penularan dapat juga terjadi pada saat serangga menyuntikkan air liurnya 
waktu menggigit atau dengan cara regurgitasi atau dengan cara deposisi 
kotoran serangga pada kulit sehingga bibit penyakit dapat masuk kedalam 
tubuh manusia melalui luka gigitan serangga, luka garukan. Cara penularan 
seperti ini bukanlah cara penularan mekanis yang sederhana sehingga serangga 
yang menularkan penyakit dengan cara ini masih bisa disebut sebagai vektor 
penyakit. 

 




3. Penularan Melalui Udara – Penyebaran bibit penyakit melalui “Port d’entre” 
yang sesuai, biasanya saluran pernafasan. Aerosol berupa berupa partikel ini 
sebagian atau keseluruhannya mengandung mikro organisme. Partikel ini bisa 
tetap melayang-layang diudara dalam waktu yang lama sebagian tetap infektif dan 
sebagian lagi ada yang kehilangan virulensinya. 
Partikel yang berukuran 1 – 5 micron dengan mudah masuk kedalam alveoli dan 
tertahan disana. 







Percikan (droplet) dan partikel besar lainnya tidak dianggap sebagai penularan 
melalu udara (airborne); (lihat Penularan Langsung) 


a. “Droplet Nuclei” – Biasanya berupa residu ukuran kecil sebagai hasil 
penguapan dari cairan percikan yang dikeluarkan oleh inang yang terinfeksi. 
“Droplet Nuclei” ini bisa secara sengaja dibuat dengan semacam alat, atau 
secara tidak sengaja terjadi di labortorium mikrobiologi dan tempat 
pemotongan hewan, di tempat perawatan tanaman atau di kamr otopsi. 

Biasanya “Droplet Nuclei” ini bertahan cukup lama di udara. 

 


b. Debu – Partikel dengan ukuran yang berbeda yang muncul dari tanah 
(misalnya spora jamur yang dipisahkan dari tanah oleh udara atau secara 
mekanisme), dari pakaian, dari tempat tidur atau kutu yang tercemar. 







49. Kewaspadaan Universal - (lihat di bawah judul isolasi), merupakan kewaspadaan 
universal terhadap darah dan cairan. 



50. Virulensi – Adalah tingkat patogenisitas dari bibit penyakit yang digambarkan dengan 
“Case Fatality Rate” dan atau dengan kemampuan dari bibit penyakit menembus dan 
merusakkan jaringan tubuh dari inang. 



51. Zoonosis – Infeksi atau penyakit infeksi yang ditularkan secara alamiah oleh binatang 
bertulang belakang (vertebrata) kepada manusia. Dia bisa termasuk golongan enzootic 
atau epizootic (lihat Endemi dan Epidemi). 


 





DAFTAR INDEKS 

 

 

A 

 

Abses pada mammae, 483-485 

Actinomycosis, 9-10 

Actinomycetoma, 373 

African Trypanosomiasis, 536-539 

Amnesia akibat keracunan kerang, 222 

Amoebiasis, 11-15 

Angiostrongyliasis, 14-17 

Angiostrongyliasis Abdominalis, 17 

Angiostrongyliasis Intestinalis, 17 

Anisakiasis, 217-18 

Anthrax, 19-24 

Aquired Immunodeficiency Syndrome, 1-18 

Arthropod-Borne Viral Disease (Penyakit 
Arbovirus), 28-35 

Arthropod-Borne Viral Encephalitides, 38 

Arthritis, 480 

Ascariasis, 58-59 

Aspergilosis, 60-62 

 

 

B 

 

Babesiosis, 63-64 

Balantidiasis, 65 

Bartenollosis, 66-67 

Blastomikosis, 68-69 

Botulisme, 70 

Brucellosis, 76-78 

 

 

C 

 

California Encephalitis, 38 

Campak, 344-349 

Campylobacter Enteritis, 79-81 

Candidiasis, 82-83 

Capilariasis, 84 

I. Capilariasis karena Capillaria Philipinensis, 
85 
II. Capilariasis karena Capillaria Hepatica, 


 86-87 

III. Capilariasis Paru, 88 


Caries gigi pada anak usia dini yang disebabkan 
oleh streptokokus, 497 

Cellulitis, 480 

Chancroid, 91-92 

Chickenpox/Herpes Zoster, 93-97 

Chlamidial Pneumonia, 411 

Chromonycosis, 115 

Clonorchiasis, 116-117 

Coccidioidomycosis, 118-120 

Comsk Hemorrhagic Fever, 56 

Conjunctivitis/Keratitis, 121 

Creutzfeld Jacob Disease, 190-191 

Cuplak yang disebabkan oleh virus (Veruca 

vulgaris, Common wart, Condyloma 

acuminatum, Papilonia venereum), 570-571 

Cutaneous Larva Migrans, 520 

 

 

 D 

 

Demam Berdarah Arenaviral Afrika Selatan, 25 

Demam Berdarah Junin (Argentina), 25 

Demam Berdarah Machupo (Bolivian), 25 

Demam Berdarah Guanarito (Venezuelan), 25 

Demam Berdarah Sabia (Brazilian), 25 

Demam Berdarah Crimen – Congo, 54-55 

Demam Berdarah OMSK (OHF), 56 

Demam Berdarah Dengue/Sindroma Renjatan 

Dengue, 147-151 

Demam Berdarah Dengan Gejala Ginjal, 

243-245 

Demam Bercak Rocky Mountain, 448-449 

Demam Boutonneuse, 450 

Demam Berdarah Virus yang ditularkan 

Arthropoda, 54 

Demam Chikungunya, 36 

Demam Cakaran Kucing, 88-99 

Demam yang ditularkan oleh nyamuk dan 

culicoides lain, 47 

Demam Dengue, 144-146 

Demam gigitan pinjal Afrika, 451 

Demam kutu Colorado, 50 

Demam kutu lainnya, 50 

Demam kun ing (Yellow Fever), 575-579 

Demam Lalat Gurun (Sand Fly Fever), 52 

Demam Lassa, 293-294 

Demam Mayora, 36 

Demam O’nyong – nyong, 36 

Demam pinjal Asia Utara, 452 

Demam Paratifoid, 556-562 

Demam Rift Valley, 47 

Demam Tifus, 563 

I. Demam tifus wabah yang ditularkan oleh 
kutu (Louseborne typhus, Typhus 
exanthematicus, Demam tifus klasik), 563-
564 



II. Demam tifus endemic yang ditularkan oleh 
kutu (Murine typhus, shop typhus), 565-566 


Demam Trench (Quintana Fever), 527-529 

Demam Typoid (Demam Enterik, Tifus 

Abdominalis), 556 

Demam virus yang ditularkan oleh Arthropoda, 
45 

Demam virus yang ditularkan oleh nyamuk dan 
Colicoides lain, 47-49 

Demam, virus Bunyamwera, 47 

Demam virus yang ditularkan kutu, 50-51 

Demam virus yang ditularkan Phlebotomine, 

52-53 

Demam West Nile, 47 

Dengue Hemorrhagic Fever/Dengue Shock 

Syndrome (DHF/DSS), 147 

Dermatofitosis, 152 

I. Tinea Barbae dan Tineas capitis, 


 152-154 

II. Tinea cruris, 155 
Tinea corporis, 155 


III. Tinea pedis, 156-157 
IV. Tinea unguim, 158 


Diare Akut, 159 

Diare yang disebabkan oleh Cyclospora, 139-
140 

Diare yang disebabkan oleh Escherichia Coli, 
160 

I. Diare yang disebabkan oleh strain 
Enterohemoragika, 160-163 


II. Diare yang disebabkan strain 


 Enterotiksigenik (ETEC), 164-165 

III. Diare yang disebabkan strain Enteroinvasive 


 (EIEC), 166 

 

IV. Diare yang disebabkan strain 
Enteropatogenik, 167-169 


V. Diare yang disebabkan oleh 


 Enteroaggregative E. Coli, 170 

VI. Diare yang disebabkan oleh Diffuse 
Adherence E. Coli, 171 




VII. Diare karena keracunan kerang, 222 
Difteria, 172-176 

Diphyllobothriasis, 177-178 

Diplydiasis, 284 

Dirofilariasis, 210 

Dracunculiasis, 179-180 

 

 E 

 

Eastern Equine Encephalitis, 38 

Echinococcosis, 183 


I. Echinococcosis disebabkan 


 Echinococcus Granulosus, 183-185 
II. Echinococcosis disebabkan oleh 


 E. multicocularis, 186 
III. Echinococcosis disebabkan oleh E. vogeli, 
187 


Ehrlichiosis, 188-189 
Enchephalopathy, Sub Acute Spongiform, 190 

Endocarditis, 480-482 

Ensefalitides ditularkan oleh kutu (Tick Borne), 
42 

Ensefalitis Timur Jauh yang ditularkan oleh 
kutu, 42 

(Far Eastern Tick Borne Encephalitis) 

(Russian Spring Summer Encephalitis) 

Ensefalitis Eropa Tengah yang ditularkan oleh 
kutu, 42 

(Central Europe Tick Borne Encephalitis) 

Enteritis karena Rotavirus, 226-228 

Enterobiasis, 194-195 

Entomophthoramycosis oleh Basidiobolus, Spp, 
586 

Entomophthoramycosis oleh Condiobolus, Spp, 
586 

Epidemic Viral Gastroenteropathy, 229-231 

Eritema Infeksiosum, 

Eumycetoma, 373 

Exanthema Subitum, 199-200 

 

 

 F 

 

Fascioliasis, 201-202 

Fasciolopsiasis, 203-204 

Filariasis, 205 

Filariasis yang disebabkan oleh Wuchereria 

Barancofti, 205 

Filariasis yang disebabkan oleh Brugia Malayi, 
205 

Filariasis yang disebabkan oleh Brugia Timoari, 
206-209 

 

 

 G 

 

Gastritis yang disebabkan oleh Helicobacter 

pylori, 223-226 

Giardiasis, 252-233 

Glanders, 352 

Gnathostomiasis, 520 

Gonococcal Conjuntivitis (Neonatorum), 

239-240 

Granuloma Inguinale, 241-242 





H 

 

Hantaviral Disease, 243 

Hantaviral Pulmonary Syndroma, 246-247 

Haemophilus Meningitis, 360-361 

Hendra and Nipah Viral Disease, 248-249 

Hepatitis, Virus, 250 


I. Hepatitis A akibat virus, 251-255 
II. Hepatitis B akibat virus, 255-263 
III. Hepatitis C akibat virus, 264-266 
IV. Hepatitis Delta, 267-268 
V. Hepatitis E akibat virus, 269-270 


Herpes simplex, 271 
Histoplasmosis, 276 

Histoplasmosis Duboisii, 279 

Hymenolepiasis, 282 


I. Hymenolepiasis karena Hymenolepsis Nana, 
282-283 
II. Hymenolepiasis akibat Hymenolepsis 
Diminuta, 284 

 

 




 I 

Impetigo, 480 

Impetigo Neonatorum, 483 

Infeksi lain berhubungan dengan gigitan 

binatang, 90 

Infeksi Klamidia, 98 

Infeksi pada alat kelamin disebabkan Klamidia, 
99-100 

Infeksi Sitomegalovirus, 141 

Infeksi Sitomegalovirus Kongenital, 141-143 

Infeksi karena Gonococcus, 234-238 

Infeksi virus herpes anogenital, 271-274 

Infeksi oleh Histoplasma Capsulatum, 276-278 

Infeksi meningokokus, 355-359 

Influenza, 284-289 

Intestinal Botulism, 70-75 

Infeksi Stafilokokus di ruang perawatan, 483 

Infeksi Stafilokokus di Rumah Sakit (poliklinik 
dan ruang perawatan bedah), 486-487 

Infeksi Vibrio Vulnificus, 113 

Infeksi Vibrio lain, 114 

Intestinal Worm, 508 

Intoksikasi makanan (Food Borne Intoxications), 
211-212 


I. Intoksikasi makana karena Staphilococcus, 
3213-215 
II. Intoksikasi makanan akibat Clostridium 
Perfringens, 216-217 
III. Intoksikasi makanan oleh Bacillus Cereus, 
218 


 J 


Jamestown canyon encephalitis, 38 

Japanese Encephalitis, 38 

 

 

 K 

 

Kanker Serviks (Cervical Cancer), 343 

Karditis yang disebabkan oleh virus coxsackie, 
134 

Karsinoma Hepatoseluler, 338 

Karsinoma Nasofaringeal, 339 

Keratokunjunivitis Adenoviral, 124-125 

Keracunan ikan Scombroid, 219 

Keracunan ikan Ciguatera, 220 

Keracunan Neurotoksik akibat kerang, 222 

Kelumpuhan karena keracunan kerang- 

kerangan, 221 

Keracunan ikan Puffer, 223 

Keganasan yang kemungkinan disebabkan 
infeksi EBV, 340 

Keganasan pada jaringan limfe, 343 

Kolera dan Vibrioses lain, 101 


I. Vibrio kolera serogrup O1 dan O139, 
101-109 


II. Vibrio cholerae serogrup selain O1 dan 


 O139, 110-111 
III. Vibrio parahaemolyticus enteritis, 112 


Konjungtivitis Adenoviral Hemoragika,126 
Konjunngtivitis Enteroviral Hemoragika, 126 

Konjungtivitis Bakteriil Akut, 121-123 

Konjungtivitis Klamidia, 128-130 

Kriptikokosis, 134-135 

Kriptospridiosis, 136-138 

Kuru, 193 

Kusta/Lepra, 304-307 

 

 

 L 

 

Lacrosse Encephalitis, 38 

Legionellosis bukan Pneumonia, 295-297 

Leishmaniasis, 298 


I. Cutaneous and Mucosal Leishmaniasis, 


 298-301 
II. Leishmaniasis Visceralis, 302-303 


Leptospirosis, 308-310 
Limfoma Burkitt, 339 

Limfoma Non-Hodgkin’s, 341 

Listeriosis, 311-313 

Loiasis, 314-315 

Lymphocytic Choriomeningitis, 320-321 





Lymphogranuloma Vereneum, 322-323 

 

 M 

 

Malaria, 324-336 

Melioidiasis, 350-351 

Meninngitis, 352 


I. Meningitis Viral, 352-353 
II. Meningitis Bakterial, 354 


Meningoencephalitis disebabkan oleh 
Cercopithecine herpes virus, 275 

Molluscum Contagiosum, 363-364 

Mononucleosis Infectious, 365-366 

Monkeypox (cacar monyet), 477 

Mosquito-Borne Viral Encephalitides, 38 

Mosquito-Borne dan Culicoides-Borne Viral 

Fever, 45-46 

Mucormycosis, 584-585 

Mumps, 367-370 

Murray Valley Encephalitis (Australian 

Encephalitis), 38 

Myalgia, Epidemic, 371-372 

Mycetoma, 373 

Mycoplasmal Pneumonia, 407-408 

 

 N 

 

Naegleriasis dan Acanthamebiasis, 374-376 

Nematoda lain yang menghasilkan microfilaria 
pada manusia, 211 

Neonatal meningitis, 363 

Neoplasma maligna yang berhubungan dengan 
infeksi, 337 

Nocardiosis, 377-378 

 

 

 O 

 

Onchocerciasis, 379-382 

Opisthorchiasis, 118 

Osteomylietis, 480 

ORF Virus Disease, 383 

 

 P 

 

Paracoccidioido Mycosis, 384-385 

Paragonimiasis, 386-387 

Para Pertusis, 391-394 

Patek (Jaws), Frambusia tropika, 572-574 

Pediculosis dan Phthiriasis, 388-390 

Penyakit Arthritis dengan ruam yang disebabkan 
oleh virus dan ditularkan oleh Arthropoda, 36 

Penyakit belantara kyasanur (KFD), 56-57 

(Kyasanur Forest Disease) 

Penyakit cacing tambang (Hookworm Disease), 
279-281 

Penyakit ditularkan oleh nyamuk, 54 

Penyakit ditularkan oleh kutu, 54 

Penyakit hodgkin’s, 340 

Penyakit infeksi stafilokokus dimasyarakat 
(Boils (bisul), carbuncles (bisul), furuncles, 

Abscesses (abses), 480 

Penyakit legionellosis, 295 

Penyakit lime, 316-319 

Penyakit Louping, 42 

Penyakit pernafasan, virus akut (tidak termasuk 
influenza), 442 

Penyakit saluran pernafasan akut dengan 
demam, 445-447 

Penyakit sistiserkosis, 508-510 

Penyakit Taeniasis Asia, 511 

(Acute Febrile Respiratory Disease) 

Penyakit virus akut, gastroenteritis, 226 

Penyakit virus bwamba, 47 

Penyakit virus changuinola, 52 

Penyakit virus coxsackie, 131-133 

I.A. Faringitis vesikuler enterovirus 

I.B. Stomatitis vesikuler enterovirus dengan 
eksantem 

I.C. Faringitis limfonoduler enterovirus 

Penyakit virus ebola marburg, 181-182 

Penyakit virus stomatitis vesikuler, 52-53 

Penyakit virus grup C, 47 

Penyakit virus oropouche, 47-49 

Penyakit Virus Sindbis (Ockelbo) dan penyakit 
virus lainnya, 49-51 

Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh 
stafilokokus, 480 

 

Penyakit yang disebabkan oleh infeksi 
streptokokus dari streptokokus grup A ]\ 

(beta hemolitik), 489-495 

Penyakit yang disebabkan oleh mikobakteria 
lain, (Mikobakteriasis, penyakit mikobakteria 
non tuberculosis), 551 

Pertusis, 391 

Pinta, 395-396 

Plague, 397-402 

Pneumocystis pneumonia, 409-410 

Pneumonococcal pneumonia, 403-406 

Pneumonia, 403 

Pneumonia disebabkan oleh Chlamydia 

Trachomatis, 411 

Pneumonia disebabkan oleh Chlamydia 
Pneumoniae, 412-413 





Pneumonia lain, 414 

Poliomyelitis Akut, 415-420 

Powassan virus Encephalitis, 42 

Psittacosis, 421-423 

 

 Q 

 

 – Fever, 424-426 

Q 

 

 R 

 

Rabies, 427-436 

Rat Bite Fever, 437 

Relapsing Fever (Demam Bolak-balik), 439-441 

Riketsiosis, ditularkan kutu, 448 

Riketsialpox, 453 

Rhinitis virus akut – the commond cold, 443-
444 

Rocio Encephalitis, 38 

Rubella, 453 

Rubella Kongenital, 453-457 

 

 

 S 

 

Salmonellosis, 458-462 

Sarkoma kaposi, 392 

Scabies, 463-464 

Schistosomiasis, 465-468 

Sepsis pada neonatus yang disebabkan oleh 

streptokokus grup B, 496 

Sifilis, 500 


I. Sifilis, 500-505 
II. Sifilis Endemik Non Venereal, 506-507 


Sigellosis, 469-472 
Sindroma Kawasaki, 290-292 

Skin Syndrome, 483 

Smallpox (Cacar, variola), 473-475 

Snowshoe Hare Encephalitis, 38-41 

Spirillosis, 438 

Sporotrichosis, 478-479 

St. Louis Encephalitis, 38 

Staphylococcal Pneumonia, 480 

Staphylococcal Scalded, 483 

Staphylococcal sepsis, 480 

Streptobacillosis, 437 

Strongiyloidiasis, 498-499 

 

 

 T 

 

Taeniasis, 508 

Taenia Solium Taeniasis, 508 

Taenia Saginata Taeniasis, 508 

Tetanus (Lockjaw) (Tetanus obstetric), 511-515 

Tetanus Neonatorum, 516 

Tifus pinjal Queensland, 452 

Tifus Scrub (Penyakit Tsutsugamushi, Demam 
tyohus yang ditularkan oleh ngengat), 567-569 

Toxic shock syndrome, 488 

Toxocariasis, 517-519 

Toxoplasmosis, 521 

Toxoplasmosis Kongenital, 521-523 

Trachoma, 524-526 

Tricinellosis (Trichiniasis, Trichinosis), 530-532 

Trichomoniasis, 533 

Trichuriasis (Trichocephaliasis, penyakit 
cacaing cambuk), 534-535 

Trypanosomiasis, 536 

Trypanosomiasis Amerika (Penyakit chagas), 
540-542 

Tuberkulosis (TB, penyakit TB), 543-550 

Tularemia, 552-555 

 

 

 U 

 

Uretritis non gonokokus dan non spesifik (UNG, 
UNS), 101 

 

 

 V 

 

Vaccinia, 476 

 

 

 W 

 

Western Equine Enphalitis, 38 

 

 

 Y 

 

Yersiniosis, 580 

Yersiniosis Intestinal, 580 

Yersiniosis Ekstra Intestinal, 580-583 

 

 

 Z 

 

Zygomycosis (Phycomycosis), 584 







Text Box: Gambaran Infeksi 
30 Juta Orang Dewasa Menderita 
HIV/AIDS Sampai Akhir 1997
Text Box: Mencegah penyebaran penyakit di bumi yang kita huni bersama ini, membutuhkan cara yang tepat. Belum pernah saya meilhat buku yang sebaik buku Manual Pemberantasan Penyakit Menular yang diterbitkan oleh American Public Health Association. Sebagian orang menyebutkan buku ini sebagai buku standard bagi praktisi kesehatan masyarakat dalam menangani penyakit menular. Saya sendiri menyebutkan buku ini sebagai buku pegangan yang tidak ternilai.Text Box: Direktur
Centers for Disease Control and Prevention, Atlanta, USA


