Cerpen remaja Cinta dan Sahabat Oleh: Sismanto Saat sang surya mulai berganti dengan cahaya bulan. Aku sendiri dalam lamunan dengan dihiasi cahaya bintang yang bertaburan di angkasa. Malam ini tak ada seorang kawan yang menemani. Aku rasakan hampa malam minggu ini. Biasanya malam minggu selalu ada kawan yang menemani. Dia adalah Yudha selama 8 bulan terakhir ini selalu datang untuk menghilangkan rasa sepi. Tak terasa dari sudut mataku keluar cairan bening, saat ingatanku melayang pada minggu kemarin. Pertengkaran itu tak dapat dihindari. Kata-kata yang seharusnya tak kuucapkan padanya tanpa sengaja keluar dari mulut. Sebuah kata itu adalah “PUTUS”. Kata yang menghancurkan semua kenanganku dengannya. Aku tidak tahu mengapa harus terlontar kata itu, saat itu aku benar-benar marah kepadanya padahal alasan yang aku ucapkan untuk mengakhiri hubungan itu tidak jelas sama sekali. “Yudha, aku pengen ngomong ma kamu!” kataku sore itu “Kamu memangnya mau ngomong apa?” jawab Yudha “Aku tidak suka dengan kelakuanmu yang kayak gitu, kamu pikir aku apa?” tanyaku dengan nada marah waktu itu “Maksudmu apa? Aku tidak mengerti.”Yudha balik bertanya “Kenapa kamu menyakiti aku? Kenapa kamu harus dengan wanita lain di belakangku?” “ Apa maksudmu? Aku tidak pernah mengkhianatimu, aku sayang banget dengan kamu.” jawab Yudha “Yudha, berapa kali aku ngomong sama kamu. Aku paling tidak suka sama orang yang suka bohong. Aku cuma ingin kamu jujur dengan apa yang telah kamu lakukan. Saat aku bertanya hal itu. Yudha seakan-akan tak mampu untuk bicara. Apalagi saat aku bilang bahwa keputusan yang ku ambil adalah mengakhiri semua hubungan dengannya. Saat itu ku beranikan untuk menatapnya. Kulihat cairan bening di sudut matanya, tapi dia berusaha untuk menyembunyikannya. Namun Yudha tak dapat menyembunyikan kesedihannya, walaupun ia sudah berusaha. Wajahnya tidak dapat membohongi kalau sebenarnya ia merasakan kesedihan yang sangat dalam. “Lia, berarti hubungan yang telah kita bina selama ini tidak ada artinya bagimu?”tanya Yudha saat keheningan mulai menghinggapi kami. “ Kamu bersalah Yudha! Kamu telah menyakiti aku, kamu mengkhianati aku. Jadi lebih baik kita akhiri semuanya, karena aku tidak ingin ada lagi pengkhianatan di antara kita.”jawabku “Lia, padahal kamu tahu bahwa aku tidak pernah menyakiti. Aku tahu bahwa engkau sudah tidak menyintaiku, sehingga kamu ingin melupakanku dan mencari penggantiku.” kata Yudha dengan pelan “Keputusan sudah aku ambil, jadi tidak ada yang bisa menggangu gugat. Lebih baik kamu pulang sekarang juga, aku sudah tidak mau melihat wajahmu lagi.” kataku dengan nada marah dan langsung saja aku masuk ke rumah. Saat aku sampai di kamar, aku tumpahkan semua kesedihanku. Aku sedih mengapa hal ini harus terjadi, padahal semua bilang bahwa Yudha adalah anak yang baik. Seharusnya aku bangga mempunyai kekasih Yudha, karena ia selalu ada setiap aku membutuhkannya. Yudha adalah sosok yang istimewa, karena ia selalu bisa meredamkan amarah dan menyadarkan aku tentang semua hal. Saat aku sedang menumpahkan semua kesedihanku, tiba-tiba terdengar suara Mama mengejutkan. “ Lia, ada ,telepon dari temanmu!!!!”teriak mama “Iya Ma sebentar!!!”jawabku sambil menyeka air mataku dan langsung mengangkat gagang telepon yang ada di kamarku “ Hallo!!!”terdengar suara dari seberang Untuk menjawab telepon itu aku mulai ragu, karena aku mengenal betul suara itu. Suara itu tak lain adalah suara Yudha, akhirnya aku putuskan untuk menjawab telepon itu walaupun aku harus berbicara sewajarnya. “Hallo, ini sapa ya?” tanyaku seakan-akan lupa akan suara yang selalu ku dengar dan membuat bahagia. “ Kamu sudah lupa sama aku?” “Aku lupa, siapa ya? “Aku Yudha. Aku tidak tahu, kenapa kamu tidak dengarin penjelasanku lagi. Apa yang membuatmu berkata begitu? sehingga kamu benar-benar tega sama aku?” “ Sudahlah Yudha, lupakanlah semua teremasuk aku. Tak ada gunanya kita pertahankan semua kalau tidak ada kesetiaan di antara kita. ”Kamu menangis Lia?” tanya Yudha Aku sangat terkejut saat Yudha berkata hal itu, padahal aku sudah berusaha menyembunyikan kesedihan agar Yudha tak pernah tahu. “Tidak?”jawabku “Jangan bohong sama aku Lia! Aku tahu kamu sebenarnya masih sayang dan akupun tahu kalau kamu sebenarnya percaya sama aku kalau tidak pernah mencintai cewek lain” kata Yudha “Krak.” Akupun langsung menutup gagang telpon itu, karena aku tak ingin membuat hal ini menjadi berantakan. Akupun langsung menangis meratapi semua yang terjadi. “Maafkan aku Yudha! Aku telah menyakitimu, aku sebenarnya masih sangat menyayangimu. Aku tidak ingin berpisah denganmu tapi apa boleh di kata aku ingin membuat temanku bahagia. Disatu pihak aku sangat menyayangimu, tapi dipihak lain aku harus meninggalkanmu demi teman baikku. Temanku dan sekaligus mantan kekasihmu sedang sakit dan ia ingin agar aku melepaskan dan membiarkanmu kembali padanya, karena ia masih sayang sama kamu. Aku juga merasakan hal sama seperti yang kamu rasakan, karena aku juga sayang banget sama kamu. Aku telah mengatakan hal yang sebenarnya tidak pernah kamu lakukan, itu aku lakukan agar kamu dapat melupakan dan meninggalkanku”. Saat jam dinding telah menunjukan pukul 12 malam aku baru saja tersadar dari lamunanku yang panjang. Kenangan bersama Yudha seakan-akan melekat dalam hatiku, tapi aku tahu kini Yudha telah kembali pada Sintya. Akupun berusaha memejamkan mataku untuk mengejar mimpiku yang telah hilang dan tinggal kenangan. Keesokan harinya ku temukan sebuah surat di ruang tamu yang tertulis buat aku. Saat aku membuka surat itu,dan membaca isinya: Dibalik cerita manusia Engkau terkenal damai dan dingin Tapi tak tahu dibalik semua itu Duri-duri menusuk hati Bongkahan batu menindih mimpi Api meluluh lantahkan semua kenangan Aku hanya bisa mengeluhmenyesali semua Akankah dia masih bisa kembali menjadi saksi Tuk merubah duri, batu, api menjadi sebuah arti Dan akulah keluh Aku akan naik menjulang kelangt angkasa Akulah nafas Namun aku meloncat dari api Meloncat tinggi oleh cintaku Menguak rahasia tabir segala ini Dan butir pasir meluas menjadi padang sahara Tak mampu bandingkan kasih sayang itu Aku masih sayang sama kamu Yudha. Setelah ku baca surat itu, tak terasa air mata menetes dari sudut mataku. Teringat lagi akan kenangan-kenangan dengan Yudha, kenangan yang akan selalu ku ingat. Siang itu saat aku sudah merasa tenang akupun pergi untuk mengunjungi Sintya yang saat ini sedang terbaring di Rumah Sakit, karena penyakit Liver yang sedang dideritanya. Kadang aku merasakan bahagia saat aku sedang berada di tengah-tengah teman-temanku, namun kesedihan akan kembali menyusup ke dalam hatiku saat teringat akan semua yang pernah terjadi antara aku dengan Yudha. Setibanya di Rumah Sakit aku langsung menuju kamar Sintya, tapi aku mengurungkan masuk kamar Sintya saat ia melihat Yudha sedang besama dengan Sintya. “Aku tak ingin mengganggu mereka. Aku juga bahagia saat melihat keduanya sedang bersama, walaupun aku menderita” gumamku dalam hati Akhirnya kuputuskan untuk menunggu sampai Yudha keluar dari kamar Sintya, iapun mermutuskan untuk menunggu di ruang tunggu depan kamar Sintyia. Tiba-tiba ada suara yang mengagetkanku, sehingga membuat aku terkajut, tapi lebih terkejut lagi mengetahui dari mana asal suara itu. Suara itu tak lain adalah suara Yudha. “Kamu melamun memangnya kenapa?” tanya Yudha “Apa urusanmu dengan semua yang aku lakukan?”jawabku “Kamu tidak masuk ke dalam? Dari pada kamu sendiri di sini!” kata Yudha “Gimana hubunganmu sama Sintya? Enak ya… dah dapat gantinya?” “Kamukan yang menghendaki semuanya? Kenapa kamu rela mengorbankan cinta kita demi temenmu?” “Sudahlah itu urusanku, karena aku ingin membuat temenku merasa bahagia, walaupun aku harus menderita.” “Akupun sudah mengambil sebuah keputusan kalau aku akan melanjutkan studyku di rumah Nenekku yang ada di Yogyakarta. Aku tadi sudah pamit kepada Sintya. Iapun rela melepaskanku dan mengakhiri semuanya termasuk hubunganku dengannya yang memang tidak ada rasa cinta.” “Maksudmu bagaimana Yudha?” “Aku akan meninggalkan kota ini dan kenanganku bersamamu. Selamat tinggal Lia, terima kasih atas semua kasih sayangmu selama ini.” Hari-hari berlalu, aku mulai terbiasa dengan kesendirianku tapi yang aku sesalkan kondisi fisik Sintya yang makin hari semakin memburuk. “Lia, aku pengen minta tolong sama kamu!”pinta Sintyia “Apa yang kamu inginkan, kalau emang aku bisa aku akan membantumu.” “Aku ingin kamu kembali pada Yudha, karena aku tahu Yudha hanya bahagia sama kamu. Kamu mau Lia? Dan aku ingin kamu memaafkan semua kesalahan ku sama kamu!!! “Tapi Sintya…. Belum selesai Lia melanjutkan kalimatnya Sintya sudah memotongnya terlebih dahulu. “Waktuku tidak banyak Lia, kamu harus memenuhi semua permintaanku. Bersamaan dengan itu Sintya menghembuskan nafas terakhirnya. Saat pemakaman Sintya, aku hanya bisa menangisi kepergian sahabatku. Aku bingung, apakah aku harus menuruti pesan terahir dari sahabatku ini. Setelah pemakaman selesai tanpa di sengaja aku bertemu dengan Yudha, pertemuan itu terasa lain saat Yudha memberitahukan surat terakhir dari Sintya yang menginginkan agar Yudha kembali lagi padaku. “Lia, maukah kamu kembali lagi padaku? Aku masih sangat mennyayangimu sampai saat ini. Maafkan semua kesalahan yang pernah aku lakukan ke padamu dan kita mulai lembaran baru cinta kita, menjadi kenangan masa lalu sebagai pelajaran yang sangat berharga dan tak kan pernah terlupaan.“kata Yudha Aku hanya mampu menjawab permintaan Yudha dengan isyarat kepala. Akhirnya aku merasakan kebahagian yang pernah hilang bersama Yudha.