Buku Saku Klinis INFEKSI · Makroangiopati : - pembuluh koroner - Vaskilar perifer - Vaskular otak · Mikroangiopati : - Kapiler retina - Kapiler renal · Neoropati · Gabungan: - Kardiopati: penyakit jantung koroner, kardiomiopati · Rentan infeksi · Kaki diabetik · Disfungsi ereksi PROGNOSIS Dubia WEWENANG · RS pendidikan : dokter spesialis Penyakit Dalam dan PPDS Penyakit Dalam · RS non pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam UNIT YANG MENANGANI · RS pendidikan : Departemen Ilmu Penyakit Dalam – Divisi Metabolik Endokologi · RS non Pendidikan: Bagian Ilmu Penyakit Dalam UNIT TERKAIT · RS Pendidikan : Departemen Ilmu Penyakit Dalam Divisi Ginjal – Hipertensi,Divisi kardiologi, dan bagian Neorologi, Patologi klinik, Mata dan Gizi · RS Non Pendidiakan : Bagian Neorologi, patologi klinik, Mata Dan Gizi TIROTOKSITOSIS Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI PENGERTIAN Tiroktosikosis merupakan suatu keadaan di mana didapatkan kelebihan hormon tiroid karena ini berhubungan dengan suatu kompleks fisiologis dan biokimiwi yang ditemukan bila suatu jaringan memberikan hormon tiroid berlebihan. Tirotoksikosis di bagi dalam 2 Kategori: 1. Kelainan yang berhubungan dengan Hipertiroidisme 2. kelainan yang tidak berhubungan dengan Hipertiroidisme hipertiroidisme adalah keadaan tirotoksikosis sebagai akibat dari produksitiroid, yang merupakan akibat dari fungsi tiroid yang berlebihan. Etiologi tersering dari tirotoksikosis ialah hipertiroidisme karena penyakit Graves, struma multinodosa toksik ( plumer ) dan adenoma toksik. Penyebab lain adalah tiroiditis, penyakit tropoblastis, pemakaian yodium yang berlebihan, obat hormon tiroid,dll. Krisis tiroid merupakan suatu keadaan klinis hipertiroidisme ytang paling berat mengancam jiwa, umumnya keadaan ini timbul pada pasien dengan dasar penyakit Graves atau Struma multinodular toksik, dan berhubungan dengan faktor pencetus: infeksi, operasi, trauma, zat kontras beriodium, hipoglikemia, partus, stress emosi, penghentian obat anti tiroid, terapi I ,ketoasidosis diabetikum, tromboemboli paru, penyakit serebrovaskular/strok, palpasi tiroid terlalu kuat. DIAGNOSIS Gejala dan tanda tirotoksikosis: hiperaktivitas,palpatasi, berat badan turun, nafsu makan meningkat, tidak tahan panas, banyak karingat, mudah lelah, sering buang air besar, oligomenore /aminore dan libido turun, takikardia,fibrilasi atrial, tremor halus repleksi meningkat, kulit hangat dan basah, rambut rontok dan bruit. Gambaran klinis penyakit Graves: Struma difus, tirotoksikosis, oftalmopati/ ekso ftalmus, dermopati lokal, akropaki. Laboratorim: TSHs rendah, T4 atau fT4 tinggi pada T3 toksikosis: T3 atau fT3 meningkat. Penderita yang dicurigai krisis tiroid · Anamnesis: riwayat penyakit hipertiroidisme dengan gejal khas, berat badan turun, perubahan suasana hati, bingung, diare, amenorea · Pemeriksaan fisik: - Gejala dan tanda khas hipertiroidisme, karena penyakit Graves tu penyakit lain - Sistem syarap pusat terganggu: delirium.koma - Demam tinggi sampai 40°C - Takikardia sampai 130-200 x/menit - Dapat terjadi gagal jantung kongestif, ikterus · Laboratorium: TSHs sangat rendah, T4 / fT4/T3 tinggi, anemia tormositik normokrom, limfositosis, hiperglikemia, enzim transaminase hati meningkat, azotemia prerenal · EKG: sinus takikardia atau fibrilasi, atrial dengan respon ventrikuler cepat Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI DIAGNOSIS BANDING · Hipertiroidisme primer: penyakir Graves, struma multinudosa toksik, adenoma toksik, metastasisi karsinoma tiroid fungsional, struma ovari,mutasi reseptor TSH, obat: kelebihan iodium, ( fenomena Jod Basedow ) · Tirotoksikosis tanpa tiroidisme: tiroiditis sub akut, tiroiditis silent, destruksi tiroid, (karena aminoidarone,radiasi, infark adenoma )asupan hormon tiroid berlebihan (tiritoksikosis factitia ) · Hipertiroidisme sekunder: adenoma hipofisis yang mensekresi TSH, sindrom resistensi hormon tiroid, tumor yang emnsekresi HCG, tirotoksikosis gestasional. PEMERIKSAAN MENUNJANG · Laboratorium : TSHs, T4 atau fT4, T3, atau fT3, TSH Rab, kadar leukosit (bila timbul infeksi pada awal pemakaian obat antitiroid) · Sidik tiroid/ thyroid scan : terutama membedakan penyakit plummer dari penyakit Graves dengan komponen nodosa · EKG · Foto toraks TERAPI Tata laksana penyakit Graves: Obat anti tiroid · Propiltiourasil PTU) dosis awal 300 – 600 mg/hari, dosis maksimal 2.000 mg/hari. · Metimazol dosis awal 20 -30 mg/hari · Indikasi: - mendapat remisi yang menetap atau memperpanjang remisi pada pasien muda dengan struma ringan –sedang dan tiroktosikosis - untuk mengendalikan tiroktosikosis pada fase sebelum pengobatan atau sesudah pengobatan yodium radioaktif - persiapan tiroidektomi - pasien hamil, usia lanjut - krisis tiroid penyekat adinergik ß pada awal terapi diberikan, sementaramenunggu pasien menjadi eutiroid setelah 6-12 minggu pemberian anti tiroid. Propanolol dosis 40-200 mg dalam 4 dosis pada awal pengobatan, pasien konrol setelah 4-8 minggu. Setelah eutiroid, pemantauan setiap 3- 6 bulan sekali: memantau gejala dan tanda klinis, serta Lab.FT4/T4/T3 dan TSHs. Setelah tercapai eutiroid, obat anti tiroid, obat anti tiroid dikurangi dosisnya dan di pertahankan dosis terkecil yang masih memberikan keadaan eutiroid selama 12-24 bulan. Kemudian pengobatan dihentikan , dan di nilai apakah tejadi remisi. Dikatakan remisi apabila setelah 1 tahun obat antitiroid di hentikan, pasien masih dalam keadaan eutiroid, walaupun kemidian hari dapat tetap eutiroid atau terjadi kolaps. Tindakan Bedah Indikasi: · pasien usia muda dengan struma besar dan tidak respons dengan antitiroid · wanita hamil trimester kedua yang memerlikan obat dosis tinggi Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI · alergi terhadap obat antitiroid, dan tidak dapat menerima yodium radio aktif · adenoma toksik, struma multinodosa toksik · graves yang berhubungan dengan satu atau lebih nodul Radioablasi Indikasi : · pasien usia ³ 35 tahun · hipertiroidisme yang kambuh setelah dioprasi · gagal mencapai remisi setalah pemberian antitiroid · tidak mamopu at5au tidak mau terapi obat antitiroid · adenoma toksik, struma multinodosa toksik Tata laksana krisis tiroid: ( terapi segela mulai bila di curigai krisis tiroid) 1. perawatan suportif: · kompres dingin, antipiretik (asetaminofen ) · memperbaiki gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit: infus dextros 5% dan NaCl 0,9% · mengataasi gagal jantung: O2,diuretik,digitalis 2. Antagonis aktivitas hormon tiroid: · Blokade produksi hormon tiroid: PTU dosis 300 mg tiap 4-6 jam PO Alternatif : metimazol 20-30 mg tiap 4 jam PO. Pada keadaan sangat berat : dapat diberikan melalui pipa nasogastrik (NGT) PTU 600 – 1.000 mg atau metinazole 60-100 mg · Blokade ekskresi hormon tiroid: soluti lugol ( saturated solustion of potasium iodida ) 8 tetes tiap 6 jam · Penyekat ß : propanoolol 60 mg tiap 6 jam PO, dosis disesuaikan respons ( target: frekuensi jantung < 90 x/m) · Glukokortikoid: Hidrokortison 100-500 mg IV tiap 12 jam · Bila refrakter terhadap reaksi di atas: plasmaferesis, dialisis peritoneal. 3. pengobatan terhadap faktor presipitasi: antibiotik, dll. KOMPLIKASI · Penyakit Graves: penyakit jantung Hipertiroid, oftalmopati Graves, dermopati Graves, infeksi karena agranulositosis pada pengobatan denan obat antitiroid · Krisis tiroid: mortalitas Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI KETO-ASIDISIS DIABETIKUM PENGERTIAN Ketoasidosis diabetikum adalah dekompensasi metabolik akibat defesiensi insulin absolut atau relatif dan merupakan komplikasi akut diabetes melitus yang serius. Gambaran klinis utama ketoasidosis diabetikum ( KAD) adalah hiperglikemia, ketosis, dan asidosis metabolik, faktor pencetus: infeksi, infark miokard akut, pankrealitis akut, penggunaan obat golingan steroid, penghentian atau pengurangan dosis insulin. DIAGNOSIS Klinis ; · Keluhan poliuri,polidipsi · Riwayat berhenti menyuntik insulin · Demam /infeksi · Muntah · Nyeri perut · Kesadaran ;kompos mentis,delirium ,koma · Pernapasan cepat dan dalam (kussnaul) · Dehidrasi (turgor kulit menurun ,lidah dan bibir kering) · Dapat disertai syok hipovolemik kriteria diagnosis : Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI kadar glukosa : >250 mg / dl pH : < 7,35 HCO 3- ;rendah Anion gap :tinggi Keton serum : positf dan atau ketonuria DIAGNOSIS BANDING Ketosis diabetic,hiperglikemi hiperosmolar non ketotik /hyperglycemic,hyperosmolar state,ensefalopati uremikum,asidosis uremikum ,minum alcohol,ketosis alkoholik ,ketosis hipoglikemia ,ketosis starvasi ,asidosis laktat,asidosis hiperkloremik,kelebihan asisilat ,drug – induced acidosis ,ensepalopati karena infeksi,trauma kapatis, Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan cito ; gula darah ,elektrolit,ureum ,kreatinin ,aseton darah urin rutin,analisis gas darah ,EKG Pemantauan : · Gula darah ; tiap jam · Na+,K+,CI- ; tiap 6 jam selama 24 jam ,selanjutnya sesuai keadaan. · Analisis gas darah : bila pH <7 saat masuk –diperiksa selama 6 jam s,d,pH>7,1 selanjutnya setiap hari sampai setabil · Pemeriksaan lain ( sesuai indikasi );kultur darah ,kultur urin ,kultur pus TERAPI Akses intravena (iv)2 jalur ,salah satunya dicabang dengan 3 way ; I.cairan ; § NaCI 0,9% diberikan kr,lbh1-2 pada jam pertama ,lalu 1 L pada jam kedua ,lalu 0,5 L pada jam ketiga dan keempat ,dan 0,25 L pada jam kelima dan keenam ,selanjutnya sesuai kebutuhan . § Jumlah cairan yang diberikan dalam 15 jam sekitar 5 L § Jika Na+>155 mEq/L – ganti cairan dengan NaCI 0,45 % § Jika GD <200 mg / dl – ganti cairan dengan dextrose 5 % II.insulin (regular insulin = RI ): · Diberikan setelah 2 jam rehidrasi cairan · RI bolus 180 mU/KgBB IV ,dilanjutkan ; · RI drip 90 mU/KgBB/jam dalam NaCI 0,9 % · Jika GD <200 mg/dL;kecepatan dikurangi –RI drip 45 mU/kgBB/jam dalam NaCI 0,9 % · Jika GD stabil 200-300 mg/dL selama 12 jam –RI drip 1-2 U / jam IV ,disertai slinding scale setiap 6 jam; GD -- RI (Mg/dl) ( unit ,subkutan ) <200 0 200—250 5 Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI 250—300 10 300—350 15 >350 20 · jika kadar GD ada yang < 100 mg/dL;drip RI dihentikan · setelah sliding scale tiap 6 jam ,dapat diperhitungkan kebutuhan insulin sehari --- dibagi 3 dosis sehari subkutan ,sebelum makan ( bila pasien sudah makan ) III. kalium · kalium ( KCI ) drip dimulai bersaman dengan drip RI ,dengan dosis 50 mEq/ 6 jam ,syarat ;tidak ada gagal ginjal ,tidak ditemukan gelombang T yang lancip dan tinggi pada EKG ,dan jumlah urine cukup adekuat. · Bila kadar K+ pada pemeriksaan elektrolit kedua : <3,5 ----- drip KCI 75 mEq/6 jam 3,0 -- 4,5 ----- drip KCI 50 mEq/6 jam 4,5 -- 6,0 ----- drip KCI 25 mEq/6 jam >6,0 ------ drip dihentikan · Bila sudah sadar ,diberikan K+ oral selama seminggu IV.Natrium bikarbonat Drip 100 mEq bila pH < 7,0, disertai KCI 26 mEq drip 50 mEq bila pH 7,0 – 7,1 , disertai KCI 13 mEq drip Juga diberikan pada asidosis laktat dan hiperkalemi yang mengancam V. Tata laksana umum : · Oksigen bila PO < 80 mm Hg · Antibiotika adekuat · Heparin ;bila ada KID satau hiperosmolar ( > 380 mOsm/L)terapi disesuaikan dengan pemantauan klinis · Tekanan darah ,frekuensi nadi ,frekuensi pernapasan ,temperatur setiap jam · Kesadaran setiap jam · Keadaan hidrasi ( turgor ,lidah ) setiap jam · Produksi urine setiap jam ,balans cairan · Cairan infus yang masuk setiap jam · Dan pemantauan labolatorik ( lihat pemeriksaan penunjang ) KOMPLIKASI Syok hipovolemik ,edema paru ,hipertrgliseridemia,infark miokard akut ,hipoglikemia .hipokalemia ,hiperkloremia ,edema otak,hipokalsemia PROGNOSIS Dubia ad malam ,tergantung pada usia ,komorbid,adanya infark miokard akut ,sepsis ,syok. WEWENANG RS, pendidikan ;Dokter spesialis penyakit dalam dan ppds penyakit dalam dengan konsultasi pada konsulen penyakit dalam Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI RS, non pendidikan ; Dokter spesialis penyakit dalam HIPOGLIKEMIA PENGERTIAN Hipoglikemia adalah keadaan dimana kadar glukosa darah < 60 mg/dL ,atau kadar glukosa darah ,<80 mg/dL,dengan gejala klinis ,hipoglikemia pada DM terjasi karena; · Kelebihan obat / dosis obat ; terutama insulin ,atau obat hipoglikemia oral · Kebutuhan tubuh akan insulin yang relatif menurun ; gagal ginjal kronik pasca persalinan · Asupan makan tidak adekuat ; jumlah kalori atau waktu makan tidak tepat · Kegiatan jasmani berlebihan DIAGNOSIS GEJALA DAN TANDA KLINIS ; · Stadium parasimpatik ; lapar,mual,tekanan darah turun · Stadium gangguan otak ringan ; lemah lesu ,sulit bicara ,kesulitan menghitung sementara · Stadium simpatik; keringat dingin pada muka ,bibir atau tangan gemetar · Stadium gangguan otak berat ;tidak sadar,dengan atau tanpa kejang ANAMNESIA ; · Penggunan preparat insulin atau obat hipoglemik oral ; dosis terakhir ,waktu pemakaian terakhir ,perubahan dosis. · Waktu makan terakhir ,jumlah asupan gizi · Riwayat jenis pengobatan dan dosis sebelumnya · Lama menderita DM ,komplikasi DM · Penyakit penyerta :ginjal ,hati, dll. · Penggunaan obat sistematik lainnya ;penghambat adrenergikB ,dll Pemeriksaan fisik ; pucat,diaphoresis,tekanan darah ,frekuensi denyut jantung ,penurunan kesadaran ,deficit neurologik fokal transient. Trias whipple untuk hipoglikemia secara umum; 1,gejala yang konsisten dengan hipoglikemia 2,kadar glukosa plasma rendah 3,Gejala mereda setelah kadar glukosa plasma meningkat. DIAGNOSIS BANDING Hipoglikemia karena : · Obat ; o ( sering ); insulin ,sulfonlurea,alcohol, o ( kadang) ; kinin ,pentamidine o (jarang ) ; salisilat ,sulfonamide. · Hiperinsulinisme endogen ; insulinoma ,kelainan sel B jenis lain ,sekretagogue ( sulfonylurea ),autoimun,sekresi insulin ektopik · Penyakit kritis: gagal hati ,gagal ginjal ,sepsis ,starvasi dan inasasi Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI · Defisiensi endokrin; kortisol,growth hormone ,glukagon ,epnefrin · Tumor non-sel B ;sarkoma ,tumor adrenokortikal,hepatoma ,leukemia ,limfoma ,melanoma · Pasca – prandial; reaktif ( setelah operasi gaster) ,diinduksi alcohol PEMERIKSAAN PENUNJANG Kadar glukosa darah (GD) ,tes fungsi ginjal ,tes fungsi hati ,C- peptide TERAPI Stadium permulaan ( sadar ) · Berikan gula murni 30 gram ( 2 sendok makan ) atau sirop /permen atau gula murni ( bukan pemanis pengganti gula atau gula diit /gula diabetes ) dan makanan yang mengandung karbohidrat · Hentikan obat hipoglikemik sementara · Pantau glukosa darah sewaktu tiap 1-2 jam · Pertahankan GD sekitar 200 mg/dL ( bila sebelumnya tidak sadar) · Cari penyebab Stadium lanjut (koma hipoglikemia atau tidak sadar dan curiga hipoglikemia ); 1) Diberikan larutan destrosa 40% sebanyak 2 flakon (=50 mL)bolus intra vena , 2) Diberikan cairan dekstrosa 10 % per infuse ,6 jam perkolf 3) Periksa GD sewaktu (GDs) ,kalau memungkinkan dengan glukometer ; · Bila GDs < 50 mg /dL-- + bolus dekstrosa 40% 50 % ml IV · Bila GDs < 100 mg /dL --+ bolus dekstrosa 40 % 25 % mL IV 4) periksa GDs setiap satu jam setelah pemberian dekstrosa 40% · bila GDs < 50 mg/dL -- + bolus dekstrosa 40 % 50 mL IV · bila GDs <100 mg/dL -- +bolus dekstrosa 40 % 25 mL IV · bila GDs 100 – 200 mg /dL -- tanpa bolus dekstrosa 40 % · bila GDs > 200 mg/dL – pertimbangan menurunkan kecepatam drip dekstrosa 10 % 5) Bila GDs > 100 mg/dL sebanyak 3 berturut –turut ,pemantauan GDs setiap 2 jam ,dengan protocol sesuai diatas ,bila GDs >200 mg/dL – pertimbangkan mengganti infuse dengan dekstrosa 5 % atau NaCI 0,9 % 6) Bila GDs >100 mg/dL sebanyak 3 kali berturut- turut ,pemantauan GDs setiap 4 jam ,dengan protocol sesuai diatas .bila GDs > 200 mg/dL – pertimbangkan mengganti infuse dengan dekstrosa 5 % atau NaCI 0.9 % 7) Bila GDs > 100 mg/dL sebanyak 3 kali berturut-turut ,slinding scale setiap 6 jam : GD ---- RI ( mg/dL ) (unit, subkutan ) <200 0 200-250 5 250-300 10 Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI 300-350 15 >350 20 8) bila hipoglikemia belum teratasi ,dipertimbangkan pemberian antagonis insulin seperti ; adrenalin ,kortison dosis tinggi ,atau glikagon 0,5-1 mg IV / IM ( bila penyebabnya insulin ) 9) bila pasien belum sadar ,GDs sekitar 200 mg / dL .hidrokortison 100 mgper 4 jam selama 12 jam atau deksametason 10 mg IV bolus dilanjutkan 2 mg tiap 6 jam dan manitol 1,5 - 2 g/kgBB IV setiap 6-8 jam ,cari penyebab lain penurunan kesadaran KOMPLIKASI Kerusakan otak ,koma ,kematian PROGNOSIS Dubia DISLIPIDEMIA PENGERTIAN Dislipidemia merupakan kelaianan metabolisme lipid yang ditandai oleh kelainan ( peningkatan atau penurunan ) Fraksi lipid dalam plasma ,kelaianan fraksi lipid yang utama adalah kenaikan kadar kolesterol total,kenaikan kadar trigliserid serta penurunan kadar kolsterol HDL.dalam proses terjadinya aterosklerosis ketiganya mempunyai peran penting dan berkaitan ,sehingga dikenal sebagai triad lipid ,secara klinis dislipidemia diklasifikasikan menjadi 3 yaitu: hiperkolesteromia ,hipertrigliseridemia ,dan campuran hiperkolesteromia dan hipertrigliseridemia. DIAGNOSIS Klasifikasi kadar kolesterol : klasifikasi Kolesterol LDL <100mg/dL optimal 100 – 129 mg/dL hampir optimal 130 – 159 mg/dL borderline tinggi 160 – 189 mg/dL tinggi ->190 mg/dL sangat tinggi Kolesterol total <200 mg/dL idaman 200 – 239 mg/dL borderline tinggi >240 mg/dl tinggi Kolesterol HDL <40 mg/dL rendah > 60 mg/dL tinggi Untuk mengevaluasi resiko penyakit jantung koroner (PJK) ,perlu diperhatikan faktor-faktor risiko lainnya : 1, faktor resiko fositif - merokok - umur (pria 45 thn, wanita 55 thn ) - kolesterol HDL rendah - hipertensi (TD 140 /90 atau dalam terapi antihipertensi ) - riwayat penyakit jantung koroner dini dalam keluarga ( fist degree :pria , 55 t Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Tahun ,wanita < 65 thn,) 2, faktor resiko negatif. - kolesterol HDL tinggi ;mengurangi 1 faktor risiko dari perhitungan total . ATP III menggunakan Framingham Risk Score (FRS) untuk menghitung besarnya risiko penyakit jantung korpner (PJK) pada pasien dengan 2 faktor risiko ,meliputi ; umur,kadar kolesterol total ,kolesterol HDL ,kebiasaan merokok ,dan hipertensi penjumlahan skor pada FRS akan menghasilkan angka persentase risiko PJK dalam 10 tahun, Ekivalen risiko PJK mengandung risiko kejadian koroner mayor yang sebanding dengan kejadian PJK ,yakni > 20 % dalam 10 tahun ,terdiri dari ; · bentuk klinis lain dari aterosklerosis ;penyakit arteri perifer ,aneurisma aorta abdominalis ,penyakit arteri karotis yang simptomatis’ · diabetes · Faktor risisko multiple yang mempunyai resiko PJK dalam 10 tahun > 20% Peningkatan kadar trigliserida juga merupakan faktor resiko indefenden untuk terjadinya PJK,faktor yang mempengaruhi tingginya trigliserida; · Obesitas ,berat badan lebih · Inaktivitas fisik · Merokok · Asupan alcohol berlebihan · Diet tinggi karbohidrat ( >60 % asupan energi) · Penyakit DM tipe 2 , gagal ginjal kronik ,sindrom nefrotik · Obat,kortikosteroid,estrogen ,retinoid ,penghambatan adrenergic-beta dosis tinggi · Kelainan genetic( riwayat keluarga ) Kalsifikasi derajat hipertrigliseridemia Normal ; ,150 mg/dL Borderline –tinggi : 150 – 199 mg/dL Tinggi : 200 – 499 mg/dL Sangat tinggi : 500 mg/dL DIAGNOSIS BANDING · Hiperkolesterolemia sekunder,karena hipotirodisme,penyakit hati obstruksi,sindrom nefrotik,anoreksia nervosa,porfiria intermiten akut ,obat (progestin,siklosporin,thiazide) · Hipertrgliseridemia sekunder,karena obesitas ,DM,penyakit ginjal kronik,lipodistrofi,glycogen strorage disease,alcohol,bedah bypass ileal,stress,sepsis,kehamilan ,obat ( estrogen, isotretinoin, penghambat beta ,glukokortikoid,resin pengikat bile-acid,thiazide),hepatitis akut,lupuseritematosus sistemik,gammopali monoclonal ;myeloma multiple ,limpoma AIDS ;inhibitor protease. · HDL rendah sekunder,karena malnutrisi,obesitas,merokok ,penghambatan beta steroid anbolik PEMERIKSAAN PENUNJANG Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Skirining dianjurkan pada semuah pasien berusia 20 tahun ,setiap 5 tahun sekali ;kadar kolesterol total, LDL, HDL, trigliserida , glukosa darah ,tes fungsi hati ,urin lengkap, tes fungsi ginjal , TSH < EKG. TERAPI Untuk hiperkolesteromia; Penatalaksanaan non-farmakologis (perubahan gaya hidup · Diet, dengan komposis : o Lemak jenuh <7 % kalori total o PUFA hingga 10 % kalori total o MUFA hingga 10 % kalori total o Lemak toal 25 – 35 % kalori total o Karbohidrat 50 – 60 % kalori total o Protein hingga 15 % kalori total o Serat 20 – 30 g / hari o Kolesterol <200 mg / hari · Latihan jasmani · Penurunan berat badan bagi yang gemuk · Menhintikan kebiasaan merokok ,minuman alcohol Pemantauan profil lipid dilakukan setiap 6 minggu ,bila target sudah tercapai ( lihat tabel target di bawah ini),pemantauan setiap 4 – 6 bulan · Bila setelah 6 minggu PGH, target belum tercapai; intensifkan penurunan lemak jenuh dan kolesterol ,tambahkan stanol/steroid nabati,tingkatkan konsumsi serat,dan kerjasam dengan dietisian. · Bila setelah 6 minggu berikutnya terapi non-farmakologis tidak berhasil menirunkan kadar kolesterol LDL,maka terpi farmakologis mulai diberikan ,dengan tetap meneruskan pengaturan makan dan latihan jasmani. TERAPI FARMAKOLOGIS · Golongan statin ; o Simvastatin 5—40 mg o Lovastatin 10—80 mg o Pravastatin 10—40 mg o Fluvastatin 20—80 mg o Atorvastatin 10—80 mg · Golongan bile acid sequestrant : o Kolestiramin 4—16 g · Golongan nicotinic acid; o Nicotinic acid ( immediate release ) 2 * 100 mg s,d 1,5 – 3 g Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Target kolesterol LDL ( mg/dL) : kategori target kadar LDL kadar LDL untuk Risiko LDL untuk mulai PGH milai terapi farmakologis PJK atau <100 >100 130 Ekivalen PJK ( 100- 129) ;opsional ) ( FRS > 20 % ) Faktor risiko > 2 <130 < 130 > 130 (FRS 10-20 % ( FRS < 20 % ) ( 160 – 189 ; opsional ) Faktor risiko 1 –1 <160 > 160 > 190 ( 160 – 189 ; opsional ) Terapi hiperkolestrolemia untuk pencegahan primer ,dimulai dengan statin atau bile acid sequestrant atau nicotinic acid, Pemantauan profil lipid dilakukan setiap 6 minggu ,bila target sudah tercapai ( lihat tabel diatas ) ,pemantauan setiap 4—6 bulan ,bila setelah 6 minggu terapi ,target belum tercapai ;intensifkan /naikan dosis statin atau kombinasi dengan yang lain,bila setelah 6 minggu berikutnya terpi non farmakologis tidak berhasil menurunkan kadar kolesterol LDL ,maka terapi famakologis diintensifkan Pasien dengan PJK ,kejadian koroner mayor atau dirawat untuk prosedur koroner,diberi terapi obat saat pulang dari RS jika kolesterol LDL > 100 mg / dL Pasien dengan hipertrigliseridemia : · Penatalaksanaan non- farmakologis sesuai diatas · Penatalaksanaan farmakologis o Target terapi : Pasien dengan trigliserida borderline tinggi atau tinggi ;tujuan utama terapi adalah mencapai target kolesterol LDL - Pasien dengan trigliserida tinggi ; target sekunder adalah kadar kolesterol non HDL ,yakni sebesar 30 mg /dL lebih tinggi dari target kadar kolesterol LDL - Pendekatan terapi obat ; · Obat penurun kadar kolesterol LDL ,atau · Ditambahkan dengan obat fibrat atau nicotinic acid.golongan fibrat terdiri dari o Gemfibrozil 2 x600 mg 1 x 900 mg, o Fenofibrat 1 x 200 mg Penyebab primer dari dislipidemia sekunder ,juga harus ditatalaksana KOMPLIKASI Aterosklerosis,penyakit jantung koroner ,strok ,pankreatitis akut PROGNOSIS Dubia ad bonam Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI STRUMA NODOSA NON TOKSIK PENGERTIAN Struma nodosa non toksik merupakan pembesaran kelenjar tiroid yang teraba sebagai suatu nodul ,tanpa disertai tanda – tanda hipertiroidisme,berdasarkan jumlah nodul ,dibagi : · Struma mononodosa non toksik · Struma multinodosa nontoksik Berdasarkan kemampuan menangkap iodium radioaktif,nodul dibedakan menjadi : nodul dingin ,nodul hangat,nodul panas, Sedangkan berdasarkan konsistensinya ,nodul dibedakan menjadi ;nodul lunak ,nodul kistik, nodul keras,nodul sangat keras, DIAGNOSIS Anamnesis : · Sejak kapan benjolan timbul · Rasa nyeri spontan atau tidak spontan ,berpindah atau tetap · Cara membesarkanya : cepat atau lambat · Pada awalnya berupa satu benjolan yang membesar menjadi beberapa benjolan atau hanya pembesaran leher saja · Riwayat keluarga · Riwayat penyinaran daerah pada waktu kecil/muda · Perubahan suara · Gangguan menelan ,sesak nafas · Penurunan berat badan · Keluhan tirotoksikosis Pemeriksaan fisik ; · Umum · Local ; o Nodul tunggal atau majemuk,atau difus o Nyeri tekan o Konsistensi o Permukaan o Perlekatan pada jaringan sekitarnya o Pendesakan atau pendorongan trakea o Pembesaran kelenjar getah bening regional o Pemberton’s sign Penilaian risiko keganasan : Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang mengarahkan diagnostic penyakit tiroid jinak ,tetapi tak sepenuhnya menyingkirkan kemungkinan kanker tiroid : Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI · Riwayat keluarga dengan struma nodosa atau difusi jinak · Riwayat keluarga dengan tiroiditis hashimoto atau penyakit tiroid autoimun, · Gejala hipo atau hipertiroidisme · Nyeri berhubungan dengan nodul · Nodul lunak, mudah degerakan · Multinodul tanpa nodul yang dominant ,dan konsistensi sama. Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang meningkatkan kecurigaan kearah keganasan tiroid : · Umur < 20 tahun atau > 70 tahun · Gender laki- laki · Nodul disertai disfagi ,serak atau obstruksi jlan napas · Pertumbuhan nodul cepat ( beberapa minggu – bulan ) · Riwayat radiasi daerah leher waktu usia anak – anak atau dewasa ( juga meningkatkan insiden penyakit nodul tiroid jinak ) · Riwayat keluarga kanker tiroid meduler · Nodul yang tunggal ,berbatas tegas ,keras,irregular dan sulit digerakan · Paralysis pita suara · Temuan limpadenofati servikal · Metastasis jauh ( paru-paru ),DLL Langkah diagnosis I :TSHs FT4 Hasil : non –toksis – langkah diagnostic H :BAJAH nodul tiroid Hasil ; A ganas B curiga C jinak D tak cukup /sediaan tak representative DIAGNOSIS BANDING · Struma nodosa yang terjadi pada peningkatan kebutuhan terhadap tiroksin saat masa pertumbuhan ,pubertas laktasi,menstruasi,kehamilan menopause,infeksi,stes lain . · Tiroiditis akut · Tiroiditis subakut · Tiroiditis kronis,limpositik (hashimoto),fibrous-invasif ( riedel ) · Simple goiter · Struma endemic · Kista tiroid,kista degenerasi · Adenoma · Karsinoma tiroid primer,metastatik · Limfoma Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI PEMEIKSAAN PENUNJANG · Laboratorium : T4 atau T3, dan TSHs · Biosi aspirasi jarum halus ( BAJAH ) nodul tiroid o Bila hasil laboratorium; non –toksik o Bila hasil lab,(awal ) toksik,tetapi hasil scan : cold nodule – syrat sudah menjadi eutiroid, · USG tiroid o Pemantau kasus nodul yang tidak diopersi o Pemendu pada BAJAH · Sidik tiroid : o Bila klinis ganas,tetapi hasil sitologi dengan BAJAH ( 2 X );jinakm , o Hasil sitologi dengan BAJAH : curiga ganas · Petanda keganasan tiroid ( bila ada riwayat keluarga dengan karsinoma tiroid medular,diperiksakan kalsitonik) · Pemeriksaaan antitiroglobulin bila TSHs meningkat,curiga penyakit hashimoto TERAPI Sesuai hasil BAJAH ,maka terapi : A, Ganas ;------- operasi tirodektomi near total ; B, curiga ;-------- operasi dengan lebih dulu melakukan potong beku (VC) Bila hasil = ganas ---- operasi tiroidektomi near total Bila hasil = jinak ----- operasi lobektomi,atau tiroidektomi near Total. --- alternatif ; sidik tiroid,bila hasil = cold nodule --- operasi C, tak cukup / sediaan tak representatif § Jika nodul solid ( saat BAJAH ); ulang BAJAH. § Bila klinis curiga ganas tinggi ----- operasi lobektomi § Bila klinis curiga ganas rendah ----- observasi § Jika nodul kistik (saat BAJAH ) ;aspirasi § Bila kista regresi ---- observasi § Bila kista rekurens,klinis curiga ganas rendah ---- observasi § Bila kista rekurens, klinis curiga ganas tinggi ----- operasi lobektomi D,jinak * terapi dengan levo-tiroksin ( LT 4) dosis subtoksis . · Dosis dititrasi mulai 2 x 25 ug ( 3 hari ) · Dilanjutkan 3 x 25 ug ( 3 – 4 hari ) · Bila tidak ada efek samping atau tanda toksis ; dosis - menjadi 2 x 100 ug sampai 4 --- 6 minggu , kemudian evaluasi TSH ( target 0,1 - 0,3 ulU /L) · Supresi TSH dipertahankan selama 6 bulan · Evaluasi dengan USG : apakah nodul berhasil mengecil atau tidak ( berhasil bila mengecil > 50 % dari volume awal ) o Bila nodul mengecil atau tetap --- L – tiroksin dihentikan dan diobservasi; o Bila setelah itu struma membesar lagi ,maka L-tiroksin dimulsi lagi ( target TSH 0,1 – 0,3 ul U/L ) o Bila setelah 1- tiroksin dihentikan ,struma tidak berubah ,diobservasi saja. Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI o Bila nodul membesar dalam 6 bulan atau saat terapi supresi --- obat dihentikan dan operasi tiroidektomi dan dilakukan pemeriksaan histopatologi --- hasi PA : § Jinak teapi dengan L_tiroksin ; target TSH 0,5 – 3,0 uI U/L § Ganas terapi L-tiroksin · Individu dengan risiko ganas tinggi :target TSH < 0,01 – 0,05 uI U/L · Individu dengan risiko ganas rendah : target TSH 0,05 – 0,1 uI U / L KOMPLIKASI Umumnya tidak ada ,kecuali ada infeksi seperti pada tiroiditis akut /subakut PROGNOSIS Tergantung jenis nodul ,tipe histologis. KISTA TIROID PENGERTIAN Kista tiroid adalah nodul kistik pada jaringan tiroid ,merupakan 10 – 25 % dari seluruh nodul tiroid,insidens keganasan pada nodul kistik kurang dibandingkan nodul solid,pada nodul kistik komplek masih mungkin merupakan suatu keganasan ,sebagian nodulkistik mempunyai bagian yang sulid. DIAGNOSIS Anamnesis · Sejak kapan benjolan timbul · Rasa nyeri spontan atau tidak spontan ,berpindah atau tetap · Cara membesarnya:cepat atau lambat · Pada awalnya berupa satu benjolan yang membesar ,menjadi beberapa benjolan atau hanya pembesaran leher saja. · Riwayat keluarga · Riwayat penyinaran daerah leherb pada waktu kecil/muda · Perubahan suara · Gangguan menelan · Sesak napas · Penurunan berat badan · Keluhan tirotoksikosis Pemeriksaan fisik : · Umum · Local o Nodus tungggal atau majemuk ,atau difus o Nyeri tekan o Konsistensi :kistik ; o Permukaan o Perlekatan pada jaringan sekitarnya Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI o Pendesakan atau pendorongan trakea o Pembesaran kelenjar getah bening regional o Pemberton’s sign Penilaian risiko keganasan : Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang mengarahkan diagnostic penyakit tiroid jinak,tetapi tak sepenuhnya menyingkirkan kemungkinan kanker tiroid : · Riwayat keluarga dengan struma nodosa atau difusa jinak · Riwayat keluarga dengan tiroiditis hashimoto atau penyakit tiroid autoimun · Gejala hipotiroidisme atau hipertiroidisme, · Nyeri berhubungan dengan nodul, · Nodul lunak ,mudah digerakan · Multinodul tanpa nodul yang dominan ,dan konsistensi sama. Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang meningkat kecurigaan kearah keganasan tiroid : Umur <20 tahun atau > 70 tahun Gender laki – laki Nodul disertai disfagia,serak,atau obstruksi jalan napas Pertumbuhan nodul cepat ( beberpa minggu – bulan ) Riwayat radiasi daeah leher waktu usia anak – anak atau dewasa (jga meningkatkan insiden penyakit nodul tiroid jinak ) Riwayat keluarga kanker tiroid medular Nodul yang tunggal ,berbatas tegas,keras,irregular,dan sulit digerakan paralysis pita suara Temuan limpadenopati servikal Metastasis jauh ( paru – paru , dLL ) Langkah diagnosis awal : TSHs,FT4 Bila hasil non ; toksis --- lankang diagnosis II: ---- fungsi aspirasi kista dan BAJAH bagian solid dari kista tiroid DIAGNOSIS BANDING Kista tiroid ,kista degenerasi,karsinoma tiroid. PEMERIKSAAN PENUNJANG v USG tiroid ; o Dapat membedakan bagian padat dan cair o Dapat untuk memandu BAJAH; menemukan bagian solid, o Gambaran USG kista =kurang lebih bulat,seluruhnya hipoekoik sonolusen,dinding tipis, v Sitologi cairan kista dengan prosedur sitospin , v Biopsy aspirasi jarum halus (BAJAH ) ; pada bagian yang solid TERAPI Pungsi aspirasi seluruh cairan kista ; Ø Bila kista regresi --- observasi Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Ø Bila kista rekurens , klinis kecurigaan ganas rendah , ---- fungsi aspirasi dan observasi Ø Bila kista rekurens ,klinis kecurigaan ganas tinggi ---- operasi lobektomi KOMPLIKASI Tidak ada. PROGNOSIS Dubia ad bonam , tergantung tipe dan jenis histopatologinya · ARTRITIS-TINJAUAN · Gambar 8-1. pendekatan terhadap artritis Artritis Monoartikular oligoartikular poliartikular Infeksi infeksi osteoartritis Trauma/hemartrosis deposit kristal artritis reumatoid Deposit kristal seronegatif Oligo/poliartikular dini oliartikular dini Perbandingan Artritis Mayor Gambaran OA RA Kristal Seronegatif Onset Bertahap Bertahap Akut Bervariasi Inflamasi - Å Å Å Patologi Degenerasi Pannus Mikrotofi Entesitis Jumlah sendi Poli Poli Mono Oligo atau poli Jenis sendi Besar Kecil Kecil atau besar Besar Lokasi DIP penyangga berat badan MCP pergelangan tangan MTP kaki, pergelangan kaki Sakroiliaka Spina, perifer Perubahan artikular khusus Nodus Bouchard Nodus Heberden Deviasi ulna leher angsa bountonniere Kristal Blok spina Entesopati Perubahan tulang Osteofit Osteoporosis Erosi Erosi Erosi Ankilosis Gambaran ekstra-artikular Nodul subakut Paru Jantung Splenomegali Tofi Nefrolitiasis Nefritis Uveitis Konjungtivitis Jantung Paru Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Psoriasis IBD Data laboratorium Normal RFÅ, ­ ESR ­ asam urat HLA-B27 Analisis Cairan Sendi Uji Normal Non-inflamasi Inflamasi Septik Tampilan Jernih Jernih, kuning Jernih hingga buram Putih-kekuningan Buram Leukosit/mm3 < 200 200-3000 > 3000 Biasanya > 50.000 PMN < 25% < 25% ³ 50% ³ 75% Kultur - - - Å Glukosa = serum = serum 25 < glukosa < serum Glukosa < 25 Kondisi OA, trauma RA Kristal Seronegatif Infeksi (diadaptasi dari Tierney, McPhee, dan Papadakis, eds, Current Medical Diagnosis and Treatment, ed. 34, 1995) · REUMATOID ARTRITIS (RA) · Definisi dan Epidemiologi · Poliartritis destruktif yang memburuk secara kronis · Etiologi yang mendasari tidak diketahui. Faktor genetik berperan penting. ­ MHC DR1 dan DR4 kelas II · Prevalensi = 1% orang dewasa; predominan pada perempuan. Kriteria (perlu 4 dari 7 kriteria; sensitivitas dan sfesifisitas ~ 90%; Arthritis Rheum 31 : 315, 1988) · Kekakuan sendi pada pagi hari ³ 1 jam selama 6 minggu · Artritis ³ 3 sendi secara bersamaan selama 6 minggu · Artritis sendi tangan selama 6 minggu · Terkenanya sendi yang simetris selama 6 minggu · Nodul Reumatoid (nodul subkutan diatas permukaan ekstensor) · Faktor Reumatoid (RF, rheumatoid factor)Å · Perubahan radiografik yang menetap disertai RA (seperti; erosi dan dekalsifikasi periartikular) Manifestasi klinis · Sinovitis sendi yang kronis, simetris, steril, erosif (khususnya PIP, MCP, pergelangan tangan, lutut, pergelangan kaki, MTP, dan spina servikalis) · Imobilisasi sendi, spasme dan pemendekan otot, destruksi tulang dan kartilago, serta deformitas sendi Deviasi ulna Deformitas leher angsa (swan neck deformity) (fleksi MCP, hiperekstensi PIP, fleksi DIP) Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Deformitas Boutonniere (fleksi PIP, hiperekstensi DIP) Deformitas cock-up dan subluksasi bagian atas metatarsal · Instabilitas C1-C2; dapat menyebabkan mielopati sehingga harus dibuat foto servikal sebelum melakukan intubasi elektif. · Nodul reumatoid (biasanya pada pasien dengan RF Å); nodul subkutaneus sepanjang selubung tendon dan didalam bursa, dan bisa juga terdapat di paru, pleura, perikardium, dan sklera · Malaise, demam, penurunan berat badan · Paru : penyakit paru intersisialis (intersitial lung disease), efusi pleura (secara karakteristik terjadi penurunan hebat glukosa) · Jantung : perikarditis, efusi perikardium, aortitis · Carpal tunnel syndrome · Fenomena Raynaud, infark lipatan kuku kecil, purpura yang dapat dipalpasi, vaskulitis leukositoklastik · Amiloidisis sekunder (AA) dengan RA aktif yang berjalan lama · Sindrom Felty: RA aktif, splenomegali, dan neutropenia Laboratorium dan pemeriksaan radiologi · RFÅ (Ab IgM anti-IgG) pada 85% pasien RA, namun juga terlihat pada 3% populasi sehat dan karena itu menjadi tidak spesifik; kadarnya hanya berhubungan secara kurang bermakna dengan aktivitas penyakit · ­ ESR dan CRP; ­ globulin dan ¯ kadar komplemen selama masa penyakit aktif · Anemia karena penyakit kronis · Radiografi tangan dan pergelangan tangan ® erosi, deformitas dan “dekalsifikasi” tulang juksta-artikular Terapi (N Engl J Med 330:1368, 1994; Ann Intern Med 124:699, 1996; Med Clin North Am 1:57, 1997) · NSAID/glukokortikoid + terapi fisik · Obat anti-reumatik kerja lambat (slow-acting anti-rheumatic drugs, SAARD) = obat antireumatik yang mampu memodifikasi penyakit (disease-modifying anti rheumatic drugs, DMARD) Pertimbangkan penggunaan awal SAARD (Ann Intern Med 124:699, 1996) dan pertimbangkan kombinasi SAARD pada pasien yang gagal 1 SAARD (N Engl J Med 334:1287, 1996) Obat lini pertama : hidroksiklorokuin (plakuenil), sulfasalazin, metotreksat Obat lini kedua : penghambat TNF (N Engl J Med 337:141, 1997 dan 340:253, 1999), preparat emas IM, azatioprin, siklosporin · Ingat bahwa sendi reumatoid dapat mengalami superinfeksi · ARTRITIS DEPOSISI KRISTAL · Definisi Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI · Penyakit metabolik yang disebabkan deposisi urat yang abnormal (monosodium urat monohidrat) · “Artritis gout” = serangan hebat artritis artikular dan peri-artikular yang akut atau rekuren karena “mikrotofi” · “tofi” = defosit nodular kristal urat ® reaksi benda asing; khususnya setelah ~ 10 tahun mengalami artritis gout Patogenesis · Akut : fagositosis kristal urat ® melepaskan mediator peradangan · Kronis : granuloma benda asing yang mengelilingi sebuah inti kristal urat; peradangan tofaseus kronis pada jaringan artikular dan periartikular Epidemiologi · Lebih sering pada laki-laki dibandingakan perempuan; puncak insiden pada dekade ke-5 · Penyebab artritis inflamatorik paling sering pada laki-laki berusia lebih dari 30 tahun · Jarang pada perempuan pramenopause (estrogen meningkatkan eksresi asam urat di ginjal), sehingga untuk mengkonfirmasi diagnosis gout, tentukan penyebab hiperurisemia sekunder (lihat di bawah) · Faktor predisposisi : obesitas, hipertrigliseridemia, diabetes melitus Etiologi · Asam urat (uric acid, UA) merupakan produk akhir katabolisme purin dan diksresi melalui ginjal. Kadar serum menunjukkan keseimbangan antara produksi dan eksresi asam urat. Kelebihan produksi Kekurangan produksi Hiperurisemia primer (kelainan metabolisme asam urat yang diturunkan) Idiopatik Defisiensi enzim yang jarang (HGPRT, PRPP) Idiopatik Hiperurisemia sekunder (­ asam urat karena proses yang didapati) Diet purin atau alkohol yang berlebihan Kelainan mielo-dan limfoproliteratif Karsinoma yang meluas Anemia hemolotik kronis Obat sitotoksik, psoriasis Kerja otot yang berat Dehidrasi atau diuretik ¯ fungsi ginjal Obat : PZA, ETM, CSA Keto- atau asidosis laktat Manifestasi klinis · Artritis akut : onset mendadak, sering pada malam hari (nokturnal), artritis monoartikular yang nyeri lokasi : MTP ibu jari (“podagra”), kaki, pergelangan kaki, lutut Kadang-kadang poliartikular (pada perempuan lebih sering daripada laki-laki) kulit diatasnya hangat, tegang, merah kehitaman, demam Pencetus : perubahan UA cepat; kelebihan purin atau alkohol; infeksi; diuretik, dehidrasi Pemulihan : hilang dalam 3-10 hari dengan deskuamasi dan pruritus menutupi daerah yang terkena Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI · Gout interkritikal : interval diantara serangan selama kristal urat dapat diaspirasi dari sendi · Tofi : nodul subkutan pada nodus Heberden, sinovium, tulang subkondral, atau tendon Achilles; lebih jarang pada dinding aorta, katup jantung, kelopak mata, kartilago nasal dan pinna aurikularis. · Bursitis : olekranon, patela · Artritis kronis : deformitas nyata, kehilangan fungsi, kecacatan · Ginjal : batu asam urat; nefritis gout (deposit interstisial) Pemeriksaan diagnosis · ­ asam urat, namun bisa salah dan tidak membuat diagnosis serangan akut · Artrosentesis Mikroskop polarisasi ® kuning terang, berbentuk jarum, kristal birefringent pada sisi negatif (negatively birefringent crystals) (paralel terhadap sumbu yang ditandai pada polarisasinya), intra- atau ekstraselular Hitung leukosit 20.000-100.000/mm3, > 50% PMN Infeksi dapat ditemukan bersamaan dengan serangan akut, jadi selalu periksa kultur dan pewarnaan gram. · Radiografi Awal ® menunjukkan pembengkakan jaringan lunak; bermanfaat untuk menyingkirkan kondrokalsinosis atau perubahan septik Lambat ® erosi tulang dengan tepi yang sklerotik, kalsifikasi Terapi Akut untuk Gout Obat Mekanisme Keterangan NSAID ¯ peradangan Efek samping pada saluran pencernaan; dosis ¯ pada insufisiensi ginjal Kolkisin (PO atau IV) Menghambat polimerisasi mikrotubulus ® pencegahan kemotaksis dan fagositosis Mual, muntah dan diare pada dosis efektif Dengan IV dan dosis tinggi PO, berhubungan dengan toksisitas berat termasuk supresi sumsum tulang, gagal ginjal, hipokalsemia, kelemahan neuromuskular, DIC, miopati dan rabdomiolosis Dosis ¯ pada insufisiensi ginjal Kortikosteroid (PO atau intraartikular) atau ACTH (M) ¯ peradangan Sangat efektif, terutama terhadap kasus rekalsifikasi Jangan dipergunakan secara intraartikular apabila dicurigai ada infeksi sendi. Kortikosteroid lebih disukai daripada ACTH Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI (N Engl J Med 334:445, 1996) Penatalaksanaan kronis · Gout interkritikal : ¯ produksi asam urat dengan menghindari makanan yang tinggi purin (seperti : daging, buncis, kacang-kacangan, bayam, bir); ¯ alkohol; hindari dehidrasi; hindari obat hiperurisemik (seperti : diuretik, ASA) · Profilaksis : kolkisin atau NSAID apabila serangan sering terjadi · Menurunkan kadar serum asam urat dengan alopurinol (penghambat oksidase xantin) namun, jangan memulai terapi hingga 2-4 minggu setelah serangan akut karena perubahan konsentrasi serum asam urat dapat memicu terjadinya serangan. Komplikasi · Nefrolitiasis urat : insiden terbentuknya kembali batu rendah. Insiden meningkat dengan peningkatan eksresi asam urat, PH urine menurun, riwayat keluarga atau diri sendiri pernah memiliki batu asam urat. Profilaksis dengan dilusi pada saluran kemih dan alkalinisasi serta alopurinol. · Gagal ginjal akut : dapat terjadi setelah pelepasan massif asam urat yang berlangsung pada pasien yang telah menjalani pengobatan karena kelainan mielo- atau limfoproliferatif (seperti : sindrom lisis tumor). Profilaksis dengan dilusi pada saluran kemih dan alkalinisasi serta allopurinol. Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI PENYAKIT DEPOSIT KALSIUM PIROFOSFAT DIHIDRAT Definisi · Deposit kristal CPPD (Calcium Pyrophosphate Dihydrate) dalam tendon, ligamentum, kapsul sendi, sinovium dan kartilago · Kondrokalsinosis : tampilan radiologi kalsifikasi kartilago akibat deposit CPPD Patogenesis ­ kadar cairan sinovial dan sendi pirofosfat inorganik, yang dihasilkan oleh kondrosit artikular dari hidrolisis ATP sebagai respons terhadap berbagai defek atau cacat yang diturunkan ® peradangan Epidemiologi Lebih sering pada usia lanjut; 4% populasi orang dewasa pada usia 72 mengalami deposit kristal CPPD Etiologi · Metabolik : hiperparatiroidisme, hipotiroidisme, hiperkalsemia hipokalsiurik familial, gout, DM · Penyakit deposit : hemokromatosis, amiloidosis · Trauma · Herediter : autosomal dominan, mewariskan defek produksi pirofosfat · Sporadik/idiopatik Manifestasi klinis · “pseudogout” : akut, biasanya simetris, artritis mono- atau oligoartikular Lokasi : lutut, pergelangan tangan, sendi MCP; dipicu oleh pembedahan atau penyakit berat · “PseudoRA” : artritis poliartikular kronis dengan kekakuan sendi pada pagi hari; ±RF · “PseudoOA” : destruksi kartilago artikular dan perkembangan tulang yang berlebihan ® degenerasi sendi Pemeriksaan diagnostik · Artrosentesis Mikroskop polarisasi ® bentuk jajaran genjang, kristal birefringent pada sisi positif lemah (weakly positively birefringent crystals) (tegak lurus terhadap sumbu yang ditandai pada polarisasinya) Hitung leukosit 20.000-100.000/mm3, < 50% PMN Infeksi dapat bersamaan dengan serangan akut, sehingga selalu periksa pewarnaan gram dan kultur · Skrining penyakit metabolik bila mendiagnosis kasus baru : Ca, Mg, TSH, pemeriksaan zat besi, glukosa, asam urat · Radiografi : densitas pungtata dan linear pada hialin artikular, klasifikasi kartilago Terapi Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI · Terapi akut : sama dengan gout · Terapi kronis : tangani penyakit yang mendasarinya · SPONDILOARTROPATI SERONEGATIF · UMUM Definisi · Artritid peradangan multisistem yang mengenai tulang belakang, sendi perifer dan struktur periartikular · Meliputi : spondilitis ankilosa, artritis reaktif, sindrom reiter, artritis psoriatik, artritis yang berhubungan dengan penyaikit peradangan usus, dan spondiloartropati yang tak berdiferensiasi · Terutama tidak adanya faktor reumatoid atau autoantibodi; ± ­ ESR dan anemia karena penyakit kronis · ­ prevalensi HLA-B27 (Å pada 50-90% vs. 6-8% populasi umum) · Cairan sinovial sendi yang terkena menunjukkan suatu gambaran peradangan non-septik SPONDILITIS ANKILOSA Epidemilogi Onset pada usia belasan atau pertengahan 20-an; onset setelah usia 40 tahun sangat jarang; perbandingan laki-laki : perempuan = 3 : 1; HLA-B27 Å pada 90% Manifestasi klinis · Onset kronis bertahap, serangan nyeri pada punggung bawah dan kekeakuan yang intermiten · Kekakuan pada pagi hari yang membaik dengan mandi air panas dan olahraga · Gejala konstitusional ringan pada stadium dini · Progresivitas sefalik lambat akibat pergerakan punggung dan ekspansi dada yang terbatas Uji Wright-Schober Å ( < 4 cm ­ pada jarak antara satu titik 5 cm dibawah dan suatu titik 10 cm di atas pertemuan lumbosakral apabila berpindah dari posisi berdiri hingga fleksi maksimal ke depan ) · Entesitis ( peradangan pada tempat insersio ligamentumke tulang ) menyebabkan rasa sakit pada pertemuan kostokondral, prosesus spinosus, skapula, krista iliaka, tumit · Artritis akut sementara pada sendi perifer (panggul, bahu, lutut), kadang-kadang menetap · Uveitis anterior akut ( 25-30% terjadi beberapa waktu selama proses penyakit): ditandai dengan pandangan kabur unilateral, lakrimasi, dan fotofobia. Menghilang dalam 4-8 minggu · Penyakit kardiovaskular (3-5%): aortitis asendes, insufisiensi aorta, abnormalitas sistem hantaran · Gejala neurologik : karena fraktur atau dislokasi spinal Radiografi · Penyakit sendi sakroiliaka dengan erosi dan sklerosis · Klasifikasi ligamentum spinal dengan jembatan sindesmofit (bridging syndesmophytes) · Bamboo spine = berbentuk persegi dan terjadi demineralisasi umum corpus vertebra Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Terapi · Terspi fisik, NSAID, sulfasalasin untuk artritis perifer SINDROM REITER Epidemiologi · Penyebaran di seluruh dunia, namun jarang pada Afrika-Amerika; perbandingan laki-laki : perempuan = 5 : 1 Patogenesis · Respons pada pejamu yang rentan secara genetik terhadap infeksi genitourinarius atau gastrointestinal · Dianggap sekunder terhadap infeski Chlamydia dan Ureaplasma urealyticum demikian pula dengan Shigella, Salmonella, Yersinia, Campylobacter, Klebsiella, C. difficile, Trophyrema whippelii, HIV Penampilan klinis · Semula digambarkan sebagai trias artritis, uretritis, non-gonokokus, dan konjungtivitis · Artritis : 10-30 hari pasca infeksi yang mengancam ® gejala konstitusional ringan, nyeri punggung bawah, asimetris, artritis mono- atau oligiartikular yang terutama mengenai sendi besar ( lutut, pergelangan kaki, kaki, pergelangan tangan), entesopati, dan sakrolitis. Dapat berkembang menjadi “jari sosis” pada ekstremitas · Uretritis : biasanya infeksi klamida yang mendahului artritis, namun dapat juga terlihat uretritis streril pada pasca-disentri sindrom reiter · Konjungtivitis non-infeksiosa : unilateral atau bilateral dan ± uveitis, iritis dan keratitis · Manifestasi kutaneus Balantitis sirsinata : ulkus tanpa nyeri yang dangkal pada glans penis dan meatus uretra Keratoderma blenoragika : lesi kulit hiperkeratosis pada telapak kaki, skrotum, telapak tangan, batang tubuh, kulit kepala, stomatitis dan ulkus oral superfisialis · Traktus gastrointestinal : diare dan nyeri abdomen baik dengan atau tanpa agen infeksius · Kardiovaskular : Al dari peradangan dan jaringan parut pada aorta dan katup aorta; defek konduksi Pencitraan · Sakroilitis akhirnya mengenai 70% pasien · Pembengkakan jaringan lunak sekitar sendi yang terkena · Penyempitan rongga sendi pada sendi-sendi kecil Pemeriksaan diagnostik · Bukti adanya infeksi bakteri : Klamidia dengan ELISA atau serat DNA atau kultur feses Å Terapi dan prognosis · NSAID, steroid topikal dan suntikan untuk keratoderma blenoragika · Antibiotik bila terbukti infeksi · Artritis mungkin menetap selama beberapa bulan hingga tahunan dan frekuensi sering terjadi Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI ARTRITIS PSORIATIK Epidemiologi · 15% pasien psoriasis berkembang menjadi artritis dan bukan hanya pada mereka yang menderita penyakit kulit yang berat · Artritis mungkin mendahului onset penyakit kulit · 40% pasien artritis psoriatik mengalami suatu spondiloartropati yang berkaitan · Perbandingan laki-laki dan perempuan yang terkena sama dan sebagian besar pasien berusia 30-an dan 40-an. Manifestasi klinis · Beberapa pola klinis artritis : · Oligo- atau poliartritis asimetris ( > 70% ): terutama sendi-sendi kecil ( jari sosis ) · Kuku jari : pitting, depresi terbalik, onikolisis, hiperkeratosis subungual · Poliartritis simetris ( 15% ): lebih menyerupai artritis reumatoid seronegatif, mengenai sendisendi besar · Artritis mutilans ( 5% ): berat, artritis resorptif destruktif · Keterlibatan spinal dan sakroilitis ( 5% ): serupa dengan spondilitis ankilosa ± artritis perifer · Peradangan mata ( 30% ): konjungtivitis, iritis, episkleritis, dan keratokonjungtivitis sicca · Lesi kulit psoriatik Radiografi · Deformitas “pencil-in-cup” terlihat pada sendi DIP · Keterlibatan spinal, sakroilitis Terapi · NSAID, terapi fisik, suntikan steroid intra artikuler · Preparat emas IM, hidroksiklorokuin, metotreksat · Supresi penyakit kulit dengan cahaya matahari, PUVA, petroleum topikal, atau steroid mungkin mengakibatkan revolusi peradangan sendi. BERHUBUNGAN DENGAN IBD ( INFLAMMATORY BOWEL DISEASE ) Epidemiologi · 20% pasien IBD berkembang menjadi artritis; lebih sering terlihat pada penyakit Crohn daripada kolitis ulserativa Manifestasi klinis · Oligoartritis non-deforming, asimetris, perifer : onset mendadak, sendi-sendi besar, berjalan seiring penyakit saluran cerna · Spondilitis : dihubungkan lebih kuat dengan HLA-B27, tidak berjalan seiring penyakit saluran cerna · ARTRITIS INFEKSIOSA · NONGONOKOKUS Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Epidemiologi · Pejamu abnormal atau mengalami imunosupresi (seperti pada diabetes, HIV, usia lanjut) · Bakteremia sekunder karena IVDA, endokarditis, atau infeksi kulit; juga dapat terjadi karena inokulasi langsung atau penyebaran dari sebuah fokus yang berdampingan (seperti pada selulitis, bursitis septik, osteomielitis) · Sendi yang rusak akibat RA, OA, gout, atau trauma Mikrobiologi · Kokus gram positif : S. aureus (paling sering), S. epidermidis (pasca-tindakan, sendi-sendi prostetik), streptokokus · Batang gram negatif : E. Coli, Pseudomonas dan Serratia (terutama pada IVDA) Manifestasi klinis · Onset akut artritis monoartikular (>80%) dengan rasa nyeri, pembengkakan, dan hangat pada sendi · Lokasi : lutut (paling sering), panggul, pergelangan tangan, bahu, pergelangan kaki, pada IVDA, cenderung untuk melibatkan daerah lain seperti sendi sakroiliaka, simfisis pubis, sternoklavikular dan sendi manubrium sterni · Pada lutut, bursitis pra-patela septik harus dibedakan dengan efusi lutut intra-artikular septik Infeksi intra-artikular ® nyeri ekstrem bila fleksi dan ¯ jangkauan gerak Bursitis pra-patela ® pembengkakan berbentuk kubah diatas patela, tanpa efusi intra-artikular · Gejala konstitusional : demam, menggigil, berkeringat, malaise, mialgia, nyeri · Infeksi dapat dilacak dari tempat awal untuk membentuk fistula, abses, osteomielitis. Pemeriksaan diagnostik · Leukositosis dengan pergeseran ke kiri · Artrosentesis sebaiknya dilakukan secepatnya bila dicurigai Hati-hati untuk tudak melakukan punksi melalui daerah yang terinfeksi karena dapat memasukkan infeksi ke dalam rongga sendi Cairan sinovial: hitung sel Leukosit biasanya >50.000, >90% PMN (catatan : kristal Å tidak menyingkirkan artritis septik) Pewarnaan gram Å pada ~75% infeksi stafilokokus, ~50% infeksi batang gram negatif kultur Å >90% kasus · Kultur darah : Å pada >50% kasus · Radiografi konvensional seperti biasanya jarang membantu sampai ~2 minggu setelah infeksi, pada saat itu dapat melihat erosi tulang, penyempitan rongga sendi, osteomielitis, periositisis · CT dan MRI berguna terutama terhadap infeksi panggul yang dicurigai atau abses epidural GONOKOKUS Epidemiologi · Prevalensi 0,5-3% di Amerika Serikat. Tipe infeksi artritis yang paling sering pada orang muda · Pejamu normal dan pasien, dengan defisiensi jika komplemen C5-C8 adalah komponen terminal Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI · Perbandingan laki-laki : permpuan =4 : 1. insiden ­ sewaktu mens, kehamilan dan periode pasca melahirkan. Insiden ­ pada laki-laki homoseksual, jarang setelah usia 40 tahun Manifestasi klinis · Dimulai dengan infeksi mukosa (seperti : endoserviks, uretra atau faring) yang sering asimtomatik · Prodormal : poliartralgia migrans 1-4 hari (pergelangan tangan, lutut, pergelangan kaki, siku) · Onset akut tenosinovitis (60%) pada pergelangan tangan, jari tangan, pergelangan kaki, jari kaki · Monoartritis purulenta (40%) biasanya lutut, pergelangan tangan, atau pergelangan kaki · Ruam kulit (>50%): papula nekrotik, makula dan pustula pada dasar yang eritematosus di ekstremitas dan tubuh · Demam (<50%) · Manifestasi yang lebih jarang : perikarditis, meningitis, aortitis, endokarditis, miokarditis, osteomielitis, hepatitis Pemeriksaan diagnostik · Leukositosis dengan pergeseran ke kiri; ­ ESR · Artrosentesis sebaiknya dilakukan segera setelah ada kecurigaan Hati-hati untuk tidak melakukan punksi malalui daerah yang terinfeksi karena dapat memasukkan infeksi ke dalam rongga sendi Cairan sinovial : hitung sel leukosit >30.000, predominan PMN (catatan : kristal Å tidak menyingkirkan artritis septik!) Pewarnaan gramÅpada ~25% kasus Kultur Å pada lebih dari 50% kasus bila dilakukan kultur anaerobik pada media Thayer-Martin PCR terhadap DNA gonokokus · Kultur darah : lebih mungkin Å pada tenesinovitis; jarang pada monoartritis · Pewarnaan gram dan kultur lesi kulit yang kadang-kadang positif. · Kultur servikal, uretra, tenggorokan, dan rektum menggunakan PCR PENATALAKSANAAN Terapi · Antibiotik yang sesuai dipandu berdasarkan pewarnaan gram Pewarnaan gram Regimen Antibiotik Kokus gram positif Nafsilin 2 g IV setiap 4 jam atau Vankomisin 1 g IV setiap 12 jam bila dicurigai MRSA (seperti: pasien yang dirawat di Rumah Sakit) Kokus gram negatif Seftriakson 1-2 g IV 4 x sehari Batang gram negatif Seftriakson 1-2 g IV 4 x sehari + aminoglikosida antipseudomonas bila curiga IVDA Tidak tampak organisme Nafsilin + seftriakson + aminoglikosida anti pseudomonas bila curiga IVDA · Regimen antibiotik kemudian disesuaikan berdasarkan pada data kultur dan sensitivitas serta respons klinis Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI · Apirasi lokal atau drainasa/lavase pembedahan · Bila artritis gonokokus ® uji terhadap HIV, sifilis, dan klamidia · Prognosis : bila sepsis poliartikular non-gonkokkus, mortalitas = 30% · SINDROM MUSKULOSKELETAL UMUM · Sindrom Tangan dan Pergelangan Tangan Tenosinovitis DeQuervain Tenosinovitis pada pergelangan tangan sisi radial dengan rasa nyeri dan sakit di sekitar stiloideus radialis, Uji Finkelstein Å = deviasi ulna pada pergelangan tangan dengan tangan terkapal dan ibu jari di dalam ® nyeri melalui tendon yang meradang dan sinovium Carpal Tunnel Syndrome Terjepitnya nervus medianus pada pergelangan tangan dengan parestesia, baal dan rasa nyeri pada distribusi nervus medianus di tangan. Uji Phalen Å = fleksi maksimal pergelangan tangan selama 45 detik ® baal dan nyeri, tanda tinel Å =perkusi nervus medianus pada pergelangan tangan ® rasa kesemutan pada jari-jari Sindrom Siku Bursitis olekranon Dapat menjadi kronis dan steril atau akut serta terinfeksi ( aspirasi dan kirim untuk dilakukan kultur ) Epikondilitis Medialis (siku pemain golf [golfer’s elbow]) Rasa nyeri bila daerah di sekitar epikondilus medialis dipalpasi Epikondilitis Lateralis ( siku pemain tenis [tennis elbow] ) Rasa nyeri bila daerah di sekitar epikondilus lateralis dipalpasi Sindrom Bahu Bursitis subakromial Tendonitis bisipital Tendonitis pada tendon rotatur Pergeseran akromion, ligamentum korakoakromial, sendi akromoiklavikular, atau sendi korakoid pada bursa subakromial di bawahnya, tendon biseps atau tendon rotator. Onset rasa nyeri bertahap pada bahu lateral atau anterior, yang memburuk dengan aktivitas dan berhubungan dengan krepitasi, atau perasaan seperti “dicengkeram”. Tangani Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI dengan NSAID, istirahat, latihan peregangan, atau suntikan kortikosteroid pada bursa subakromial. Ruptur tendon rotator Tendon rotator terdiri atas 4 otot ”SITS” (supraspinatus, infraspinatus, teresminor, dan subskapularis); biasanya tendon supraspinatus robek. Rasa nyeri bila mengangkat lengan melewati kepala, kelemahan, atropi otot. MRI untuk mengkonfirmasi. Instabilitas glenohumeral (dislokasi bahu) Instabilitas glenohumeral disebabkan kelemahan menyeluruh atau trauma yang berulang. Rasa nyeri bila abduksi dan rotasi eksternal (posisi melempar). Tampilan radiografi AP lateral dan lateral aksilaris atau transkapular untuk mengkonfirmasi. Polimialgia reumatika Penonjolan bahu dan malgia panggul serta rasa nyeri, namun tanpa proses intraartikular yang sebenarnya. Terpisahnya akromioklavikular Biasanya akibat jatuh pada akromion dengan lengan terselip ke bagian dalam. Rasa nyeri pada sendi akromioklavikular yang dipalpasi. Adanya pelebaran sendi akromioklavikular pada film AP bahu sebagai konfirmasi. Kapsulitis adesiva (frozen shoulder) Onset rasa nyeri tersembunyi dan jangkauan gerakan ¯, biasanya pada bahu yang tidak dominan. Berhubungan dengan diabetes melitus dan hipotiroidisme dan paling sering pada perempuan berusia 40-65 tahun. Ditangani dengan NSAID dan terapi fisik. Sindrom Kepala, Leher dan Dada Sindrom sendi temporomandibularis Artralgia dan nyeri miofasial pada sendi yang berhubungan dengan bruksisme, menggeretakkan gigi pada malam hari Artritis temporalis Arteri temporalis yang nyeri, dengan sakit kepala, kehilangan penglihatan, dan klaudikasio mandibula Artritis servikalis (spondilosis servikalis) Sering terlihat pada OA dan RA. Nyeri bila bergerak, kaku dan sering terjadi spasme muskulus paraspinalis. Dapat menyebabkan sakit kepala dan penyebaran rasa nyeri ke lengan Kostokondritis Sakit dan nyeri pada pertemuan kostokondral Sindrom Punggung Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Spondilosistesis degenerativa Terselipnya suatu korpus vertebra (sering L4-L5 atau L5- S1) ke dalam satu korpus dibawahnya yang menyebabkan penyempitan dan degenerasi diskus tersbut. Nyeri punggung bawah dipicu dengan membungkuk, memutar dan mengangkat beban, singkirkan defek neurologik dengan pemeriksaan dan konfirmasi dengan foto AP dan spina lumbosakralis Stenosis spinalis Penyempitan kanalis spinalis yang menyebabkan nyeri pada bokong, paha (klaudikasio neurogenik) posterior dan betis, memburuk setelah berdiri atau berjalan, dan nyeri hilang dengan duduk atau berhenti melakukan fleksi pada spina. Refleks lutut dan pergelangan kaki ¯ pada pemeriksaan dengan denyut arteri yang masih ada. MRI untuk mengkonfirmasi diagnosis. Radikulopati lumbalis (skiatika) Iritasi yang sering pada radiks saraf L5 atau S1 melalui suatu hemiasi nukleus pulposus, nyerinya bersifat dermatornal, menyebar dari bokong ke posterior atau bagian posteolateral tungkai, pergelangan kaki atau kaki dan memburuk dengan fleksi. Menaikkan tungkai lurus Å menyebabkan gejala pada 80-90%. Puncak insiden pada usia 40 tahun. MRI mengkonfirmasi diagnosis. Sakroilitis Onset biasanya sebelum usia 30 tahun. Berhubungan dengan spondilo-artropati seronegatif, muncul bersamaan dengan penyakit nyeri punggung bawah yang rekuren dan kekakuan sepanjang waktu yang menyebabkan osifikasi, sindesmofit pecah, dan fusi komplet kolumna vertebralis (“bamboo spine”) Nyeri punggung oseosa Nyeri punggung oseosa dapat disebabkan oleh tumor metastatik, osteomielitis, bakterial atau tuberkulosis. Muncul sebagai nyeri menetap yang tidak berhubungan dengan posisi. Titik nyeri tekan meliputi daerah di sekeliling vertebra. Defisit neurologik mungkin menunjukkan kompresi medula spinalis atau sindrom kauda ekuina. Foto polos mungkin menunjukkan destruksi, fraktur, massa dan seharusnya dinilai pada seluruh pasien yang berusia lebih dari 50 tahun yang baru menderita nyeri punggung. Sindrom panggul Osteoartritis Onset nyeri bertahap yang menjalar ke inguinal dan terjadi pertama kali hanya ketika melakukan aktivitas. Berhubungan dengan obesitas, infeksi sebelumnya, trauma usia. Yang pertama kali terjadi ialah kehilangan posisi rotasi internal panggul, kemudian kehilangan kemampuan fleksi dan ekstensi serta cara berjalan menjadi antalgik. Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Bursitis trokanterika Titik nyeri diatas panggul lateral dengan ­ ketidaknyamanan pada malam hari dan setelah tidak beraktivitas. Nekrosis avaskular Nekrosis tulang tuberkular pada kaput femoralis. Faktor resiko meliputi kortikosteroid, alkohol, RA, SLE, trauma sebelumnya, penyakit mieloproliferatif, dan penyakit sel sabit, muncul dengan nyeri tumpul pada daerah inguinalis ataupun bokong. Ketidaknyamanan pada posisi rotasi dan abduksi serta cara berjalan menjadi antalgik. MRI untuk mrngkonfirmasi osteonekrosis. Fraktur panggul Muncul dengan rasa nyeri dan ketidakmampuan untuk berjalan setelah terjatuh. Tungkai berotasi ke eksternal, abduksi dan memendek. Sindrom patela Kista Poplitea (Kista Baker) Nyeri dan rasa penuh pada daerah poplitea. Pada RA, kista mungkin ruptur dan cairan mendiseksi secara distal ke dalam otot betis. Bursitis prapatela (lutut pembantu rumah tangga) (housemald’sknee) Kronis dan steril, sekunder terhadap trauma berulang seperti (lutut bekerja dengan lutut, atau akut dan septik terutama pada cedera tembus). Harus dibedakan dengan bursilis prapatela (pembengkakan berbentuk kubahdi atas patela namun tanpa efusi intra-artikular dan jangkauan geraknya tetap) dari infeksi lutut intraartikular. Ruptur ligamentum krusiatum anterior Uji drawer anterior Å = pasien berbaring dengan posisi supinasi dan lutut fleksi pada posisi 90°, pemeriksa menduduki kaki pasien dan meraih tibia proksimal dan menariknya ke anterior. Ruptur meniskus Kejadian akut yang diikuti oleh onset pembengkakan dan dan kekakuan yang tersembunyi dengan sensasi “terpukul” atau “berbunyi” saat digunakan. Penyakit Osgood-Schlatter (tendonitis patela) Nyeri lutut anterior dengan rasa nyeri pada satu titik. Sindrom tercetus karena penggunaan yang berlebihan seperti naik tangga, jongkok, meloncat. Patela kondromalasia Nyeri lutut anterior yang memburuk setelah duduk lama atau naik tangga. Lebih sering mengenai perempuan daripada laki-laki dan berhubungan dengan penambahan berat badan. Krepitasi dan sensasi tertusuk, juga rasa nyeri, disebabkan oleh kerusakan pada permukaan sendi patela. Sindrom Kaki dan Pergelangan Kaki Tendonitis Achilles Terjadi baik pada perekatan tulang-tendon kalkaneus atau 4-5 cm proksimal dan insersio. Pasien mengeluh nyeri yang tersembunyi pada daerah Achilles yang menjadi makin buruk bila berolahraga dan terasa sakit bila dipalpasi. Kadang-kadang, tendon Achilles Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI dapat ruptur dengan stres akut. Fasitis plantaris Nyeri pada daerah insersio fasia plantaris hingga ke dalam tuberositas kalkaneus medialis. Fasitis plantaris bilateral berhubungan dengan spondiloartropi seronegatif. Sendi Charcot (kaki diabetikum) Polineuropati sensoris menyebabkan kerusakan dan destruksi sendi dengan fraktur multipel yang tidak bisa sembuh, kerusakan kulit, infeksi dan deformitas ireversibel. Pergelangan kaki terkilir Cedera inversi akut yang paling sering dengan kerusakan pada kolateralis lateral ligamentum oergelangan kaki disertai rasa nyeri, pembengkakan, ekimosis, dan kehilangan fungsi. · PENYAKIT JARINGAN IKAT · Gambar 8-2. Diagram Venn penyakit jaringan ikat Autoantibodi pada Penyakit Jaringan Ikat (%) Penyakit ANA Pola RF dsDNA Sm Ro La Scl- 70 centr Jo-1 RNP SLE 95- 99 P,D,S,N 20 50-70 30 35 15 0 0 0 30- 50 RA 15- 35 D 85 <5 0 10 5 0 0 0 10 Sjogren >90 D,S 75 <50 0 55 40 0 0 0 15 Dif sklero >90 S,N,D 25-33 0 0 5 1 40 <5 0 30 Lim sklero >90 S,N,D 25-33 0 0 5 1 <15 60- 80 0 30 PM-DM 75- 95 33 0 0 0 0 10 0 20- 30 0 MTCD 95- S,D 0 0 0 <5 <5 0 0 0 100 SLE PM-DM Skleroderma MCDT CERST Raynaud’s RA Sjorgen’s Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI 99 (pola: P: perifer; D: difusa; S: berbintik; N: nukleolar; Primer on The Rheumatic Diseases, ed ke-10, 1993) Lihat “Sistemik Lupus Eritomatosus” dan “Reumatoid Artritis” untuk alasan penyakit tersebut. SKLERODERMA (SKLEROSIS SISTEMIK) Definisi dan Epidemiologi · Muncul pada pasien berusia 20-40 tahun; lebih sering pada perempuan dibandingkan laki-laki · Skleroderma yang terlokalisir (hanya di kulit) · Terbatas pada kutaneus (80%): penebalan kulit hanya pada ekstremitas distal dan wajah Sindrom CREST = kalsinosis (Calsinosis), Sindrom Raynaud, dismotilitas Esofagus, Sklerodaktili, Telangiektasis. Mengenai viseral : gastrointestinal, hipertensi pulmonal, sirosis biliaris · Kutanus difusa (20%): penebalan kulit ekstremitas, wajah dan trunkus + fibrosis organ internal Mengenai viseral : fibrosis paru, hipertensi renovaskular, gastrointestinal, jantung. Manifestsi Klinis Skleroderma Organ Cakupan Kulit Kulit ekstremitas, wajah dan trunkus yang menebal dan ketat Tangan “bengak”, carpal tunnel syndrome, sklerodaktill Dilatasi kapiler lipatan kuku ( + lepas dalam bentuk difus ) Wajah seperti topeng, kurus, tidak bergerak dan benutk mulut “tali dompet (purse-string)” Kutis kalsinosis (kalsifikasi subkutaneus), ruam kulit telangiektasis Arteri Fenomena Raynaud (vasospasme yang diinduksi dingin); iskemia jari arau viseral Ginjal “krisis renal skleroderma” = onset mendadak HTN, RPGN, MAHA yang berat Saluran cerna GERD dan esofagitis erosiva Dismotilitas esofagus ® disfagia dan odinofagia Dismotilitas gaster ® cepat merasa kenyang dan obstruksi jalan keluar lambung Dismotilitas usus halus ® kembung, kram dan diare Muskuloskeletal Poliartralgia dan kekakuan sendi; kelemahan otot Jantung Fibrosis miokardium, perikarditis dan jarang terjadi tamponade; abnormalitas konduksi Paru Bentuk difus ® fibrosis paru; bentuk yang terbatas ® hipertensi paru Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Endokrin Sering terjadi amenore dan infertilitas; fibrosis glanula tiroid ± hipotiroidisme Pemeriksaan diagnostik · Autoantibodi Anti Scl-70 Å (anti-topoisomerase 1) : 40% difus, 10-20% terbatas Anti-sentromer Å : <15% difus, 60-80% terbatas ANA Å (<90%), RF Å (25-33%) · ESR ­, globulin ­, anemia karena penyakit kronis atau anemia hemolotik · BUN dan Cr ­, proteinuria dengan terkenanya ginjal; foto rontgen toraks dan uji fungsi paru abnormal bila terjadi fibrosis dan retriksi Penatalaksanaan · Fenomena Raynaud ® penyekat saluran kalsium (calcium channel blockers); tidak merokok · Saluran cerna : penyekat H2 (H2 blockers) atau PPI (GERD); antibiotik (malabsorpsi); cisapride atau eritromisis (hipomotilitas) · Krisis hipertensi ® penghambat ACE (ACE inhibitor) ( prognosis buruk dengan mortalitas 50%) · Penyakit viseral ® D-penisilamin; tidak ada peran untuk steroid · Paru: steroid (fibrosis); vasodilator dan antikoagulan ( hipertensi pulmonal) POLIMIOSITIS-DERMATOMIOSITIS Definisi dan Epidemiologi · Polimiositis (PM) : peradangan dan kelemahan muskuloskeletal proksimal · Dermatomiositis (DM) : polimiositis + manifestasi kulit (1/3 pasien) · Pasien terutama berusia 40-an dan 50-an; lebih sering ada perempuan daripada laki-laki · Insiden karsinoma ­ (terutama ovarium) pada ~ 10% pasien dengan DM (insiden labih rendah pada PM) · Dapat dihubungkan dengan CTD (Cutaneus Topikal Disease) lainnya seperti SLE dan skleroderma · Harus dibedakan dari miopati/miositis lainnya termasuk terinduksi obat, tanpa peradangan, badan inklusi dan infeksius Manifestasi klinis · Kelemahan otot : bertahap, progresif, bilateral, dan proksimal disertai nyeri pada daerah yang terkena; ditandai dengan kesulitan menaiki tangga dan bangun dari kursi. Peradangan otot skeletal dan otot polos saluran cerna disertai disfagia dan pengosongan lambung terlambat. · Ruam eritomatosa kehitaman pada daerah yang terpajan sinar matahari, daerah berbentuk kupu-kupu pada wajah, leher, bahu, kehilangan pigmen. Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI · Ruam heliotrope (diskolorasi ungu) disekitar kelopak mata atas · Eritema subungal, telangiektasis kutikular, tanda Gottron (bercak bersisik) disekitar dorsum PIP, MCP, dan siku, tangan mekanik (pecahnya kulit pada distal ujung jari) · Poliartralgia atau poliartritis, malaise · Vaskulitis kulit, otot, traktus gastrointestinal dan mata, serta fenomena Raynaud · Terkenanya viseral Paru : alveolitis akut, penyakit paru interstisialis kronis, dan kelemahan otot pernafasan Jantung (33%) : miokarditis, perikarditis dan aritmia Pemeriksaan diagnostik · CPK ­, aldolase, SGOT, dan LDH · Autoantibodi Anti-Jo-1Å (20-30%), berhubungan dengan polimiositis + pembentukan poliartritis, sindrom Raynaud, ILD Anti-MI-2 Å (5-10%), berhubungan dengan dermatomiositis ANA Å (>75%), RF Å (<50%) + autoantibodi lainnya bila pasien memiliki CTD lain · ESR meningkat, anemia karena penyakit kronis · EMG abnormal : aktivitas ­ secara spontan dan amplitudo ¯, potensial polifasik dengan kontraksi · Biopsi otot menunjukkan nekrosis dan peradangan sel disekitar pembuluh darah Penatalaksanaan · Steroid dosis-tinggi; imunosuspresan lain (seperti, metotreksat, azatioprin, siklofosfamid) · Periksa adanya keganasan yang tersembunyi SINDROM SJORGEN (SINDROM SICCA) Definisi dan Epidemiologi · Disfungsi kronis kelenjar eksokrin karena infiltrasi limfoplasmasitik · Dapat primer atau sekunder (berhubungan dengan RA, skleroderma, SLE, PM, HIV) · Prevalensi lebih sering pada perempuan daripada laki-laki; biasanya muncul antara usia 40-60 tahun Manifestasi klinis · Mata kering ® keratokonjungtivitis · Mulut kering (xerostomia) ® kesulitan berbicara dan menelan; karies dentis · Pembesaran kelenjar parotis · Manifestasi sistemik : artritis kronis, nefritis interstisialis (40%), tipe RTA tipe 1 (20%); vaskulitis (25%); pleuritis; pankreatitis; gangguan neuropsikiatrik · Risiko atau gangguan limfoproliteratif ­ ( ~ 50x risiko limfoma dan WM pada sjorgen primer) Pemeriksaan diagnostik · Autoantibodi Hanya sjorgen : anti-Ro Å (anti SS-A, 55%) dan anti-La Å (anti SS-B, 40%) ANA Å (95%0, RF Å (75%) · Uji Schimer : kertas saring pada fisura palpebra untuk menilai produksi air mata Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI · Pewarnaan Rose-Bengal : pewarnaan yang menunjukkan devitalisasi epitel kornea/konjungtiva · Biopsi (kelenjar liur minor, labialis, atau kelenjar parotis); menunjukkan infiltrasi limfoplasmatik Terapi · Supportif : air mata buatan, kebersihan mulut, permen karet bebas gula dan tetesan lemon, kebersihan gigi · Manifestasi sistemik : NSAID, steroid, agen anti-reumatik yang memodifikasi penyakit (seperti, hidroksiklorokuin, azitioprin, metotreksat, siklosporin) PENYAKIT JARINGAN IKAT CAMPURAN Definisi dan Epedemiologi · Lebih dari 15% pasien dirujuk dengan temuan ahli reumatologi yang mengalami sindrom tumpang-tindih dengan gambaran SLE, skleroderma, dan atau polimiositis. Sejalan dengan waktu, salah satu jenis penyakit tersebut akan lebih dominan. Pemeriksaan diagnostik · Autoantibodi : anti-U1-RNP Å muncul dengan definisi pada MCTD, namun tidak sfesifik hingga pada lebih dari 50% pasien SLE tidak ada gambaran tumpang tindih Å terhadap autoantibodi ini. Terapi · Sesuai dengan penyakit reumatik sfesifik seperti yang dibahas di atas · LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK · Definisi · Penyakit autoimun peradangan multisistem dengan manifestasi klinis yang memiliki spektrum luas yang berhubungan dengan produksi antibodi antinuklear (ANA). Epidemiologi · Prevalensi 15-50/100.000; predominan mengenai perempuan muda dan wanita paruh baya dekade ke-2 hingga ke-4 · Perbandingan laki-laki : perempuan = 5-8 : 1; perbandingan Afrika-Amerika : Kaukosia = 4:1 · Terkait HLA (DR3) Manifestasi Klinis SLE Sistem organ Kriteria Am, Coll, Rheum Gambaran lainnya Konstitusional (84%) Demam, malaise, anoreksia, penurunan berat badan Kutaneus (81%) 1. Ruam Malar 2. Ruam diskoid (popula eritematosa dengan Alopesia Fenomena Raynaud Vaskulitis Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI keratosis & perlekatan) 3. Fotosensitivitas 4. Ulkus oral/nasofaringeal Muskuloskeletal (85%) 5. Artritis non-erosif: episodik, oligoartikular, simetris, berpindah-pindah (63%) Artralgia dan Mialgia Suatu nekrosis avaskular tulang Kardiopulmunal (33%) 6. Serositis : pleuritis (37%) atau efusi pleura, perikarditis (29%) atau efusi perikardium Pneumonitis, fibrosis interstisial Hipertensi pulmonal Miokarditis Endokarditis Libman-Sack Ginjal (77%) 7. Proteinuria (>500 mg/dl atau sedimen selular pada urine Sindrom nefrotik Nefritis Lupus (klasifikasi WHO) I = normal; II = perubahan mesangial III = FSGS; IV = GN difusa V = GN membranosa VI = sklerosis glomerular kronis Neurologik (54%) 8. Kejang atau psikosis Sindrom otak organik Neuropati perifer atau kranialis Gastrointestinal (~ 30%) Serositis (pertonitis atau asites) Vaskulitis (perdarahan atau perforasi) Nyeri abdomen Hepatitis atau pankreatitis Hematologi 9. Anemia Hemolitik (Coombs Å ) atau leukopenia (<4000/mm3), atau limfopenia (<1500/mm3), atau trombositopenia (<100.000/mm3) Anemia karena penyakit kronis Antikoagulan lupus, trombosit Splenomegali Limfadenopati Lainnya Sindrom Sicca Konjungtivitis atau episkleritis Serologi 10. ANA Å 11. Anti-ds-DNA Å RF Å, ESR ­ Komplemen ¯ (selama perkembangan penyakit) (Apabila ditemukan ³ 4 dari 11 kriteria, sensitivitas dan spesifisitas untuk SLE > 95%. Namun, pasien dapat menderita SLE tetapi tidak mengalami 4 kriteria seperti yang diberikan. Arthritis Rheum 25 : 1271, 1982; N Engl J Med 330: 1871, 1994; Ann Intern Med 122 : 940 dan 123 : 42, 1995) Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Tampilan khusus · Penyakit jaringan penunjang campuran : SLE + polimiositis + skleroderma (ANA Å dan anti- U1 RNP Å) · Sindrom antibodi antifosfolipid : antikoagulan lupus Å atau antibodi anti-kardiolipin ® kasus tromboembolik, trombositopenia, dan abortus trimester ketiga yang berulang · Lupus yang diinduksi obat : hidralazin, prokainamid, INH, metildopa, kuinidin, korpromazin Penyakit yang lebih ringan dengan artritis dan serositis yang lebih dominan; biasanya reversibel dalam 4-6 minggu Auto-antibodi SLE Autoantibodi Frekuensi Hubungan Klinis ANA 95-99% apabila penyakit aktif ~ 90% apabila sedang remisi Biasanya titer tinggi Pola homogen atau bercak Sensitif namum tidak spesifik karena 10- 15% pasien dengan ANA Å tidak menderita SLE Beberapa atau banyak manfestasi klinis dengan rentang luas Anti-ds-DNA 50-70%; sangat spesifik untuk SLE Aktivitas penyakit paralel dengan titer Nefritis lupus Vaskulitis Anti-Sm 30%; sangat spesifik untuk SLE Nefritis lupus Anti-Ro Anti-La 15-35% Anti-Ro Å pada SLE dengan ANA negatif Sindrom sjorgen/SLE yang tumpang tindih Lupus neonatus; fotosensitivitas Anti-U1-RNP 30-50% MCTD; Raynaud cenderung tidak mengalami nefritis lupus Anti-histone Berhubungan dengan lupus yang terinduksi obat Artritis dan serositis ringan Rencana penanganan · Autoantibodi : ANA, bila Å ® periksa anti-ds-DNA, anti-Sm, anti-Ro, anti-La, anti-U1-RNP · Kadar komplemen · Lyte, BUN, Cr, Urinalis, sedimen urine, urine 24 jam untuk klirens kreatinin dan protein · Hitung darah lengkap, Uji Coombs, PTT, anti-kardiopilin dan antikoagulan lupus Penatalaksanaan SLE Obat Indikasi Efek samping NSAID Artralgia, artritis, dan mialgia Gastritis dan GIB Gagal ginjal Meningitis aseptik Hidroksiklorokuin Penyakit ringan yang disertai komplikasi serositis, artritis, dan Retinopati (dengan oftalmoskop dekat) Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI manifestasi kulit. Ruam, sindrom Steven-Johnson Kortikosteroid Dosis rendah untuk penyakit ringan yang tidak berespons terhadap hidrosiklorokuin Dosis tinggi untuk manifestasi mayor yang meliputi ginjal dan hematologi Supresi adrenal Imunosupresi/infeksi Osteopenia Nekrosis avaskular tulang Miopati Gejala neuropsikiatrik Azatioprin Penyakit ginjal ringan Agen hemat-steroid Supresi sumsum tulang Uji fungsi hati yang abnormal Risiko keganasan sekunder ­ Metotreksat Penyakit sendi dan kulit Serositis Supresi sumsum tulang Uji fungsi hati yang abnormal Pneumonitis interstisialis Menginduksi abortus Siklofosfamid Pengamanan terhadap nefritis yang berat, vaskulitis atau penyakit SSP Supresi sumsum tulang Sistitis hemoragika, karsinoma buli-buli Infertilitas Risiko keganasan sekunder ­ Prognosis · Rata-rata daya tahan hidup 5 tahun > 90%, rata-rata daya tahan hidup 10 tahun > 80% · Penyebab utama morbiditas dan mortalitas : infeksi, gagal ginjal, penyakit neurologik, dan jantung · VASKULITIS · VASKULAR PEMBULUH-BESAR Arteritis Takayasu (“penyakit hilangnya denyut nadi” [pulseless disease]) · Definisi : vaskulitis granulomatosa sistemik yang melibatkan aorta dan cabang-cabangnya · Epidemiologi : paling sering di Asia dan pada perempuan muda usia reproduktif · Manifestasi klinis Fase I : periode peradangan dengan demam, artralgia, penurunan berat badan Fase II : nyeri dan kaku pada pembuluh darah, denyut ¯ dan tidak sama pada ekstremitas, bising subklavia (bruits subclavian) (93%), karotis (58%), aorta (50%), ginjal (38%), paru (10- 40%), koroner (0%) Pioderma gangrenosa dan eritema nodosum kulit Fase III : seperti terbakar, periode fibrotik · Pemeriksaan diagnostik : ESR ­ (70-80%); arteriografi ® oklusi, stenosis, iregularitas dan aneurisma Pemeriksaan karotis Doppler; MRI/MRA Patologi : panarteritis fokal, infiltrat selular dengan granuloma dan sel raksasa Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI · Penatalaksanaan : steroid, obat imunosupresif, siklofosfamid Arteritis Temporalis · Definisi : vaskulitis yang mengenai percabangan kranial arkus aorta, terutama arteri temporalis, namun dapat menjadi lebih menyeluruh · Epidemiologi : pasien biasanya berusia lebih tua dari 50 tahun (90% lebih dari 60 tahun); perbandingan perempuan : laki-laki = 2 : 1 · Manifestasi Klinis : Gejala konstitusional : demam derajat rendah, fatigue, penurunan berat badan, mialgia, anoreksia. Arteri oftalmikus ® neuritis optika, kehilangan penglihatan intermiten, amaurosis fugaks dan kebutaan Nyeri kepala; nyeri arteri temporalis dan kulit kepala serta tidak adanya pulsasi arteri temporalis Arteri fasialis ® klaudikasio mandibula Fenomena Raynaud; klaudikasio intermiten pada ekstremitas · Polimialgia Reumatika (50%) : myeri simetris proksimal otot yang nyeri dan kaku terutama sendi bahu; kekakuan sendi pada pagi hari disertai pergeseran setelah tidak beraktivitas · Pemeriksaan diagnostik : ESR ­, biopsi arteri temporalis (vaskulitis, granuloma) · Penatalaksanaan : steroid (bila pandangan terganggu jangan menunggu hasil sebelum memulai penatalaksanaan empiris) ikuti ESR dan status klinis VASKULITIS PEMBULUH-SEDANG Poliarteritis nodosa (PAN) · Definisi : vaskulitis nekrotikans sistemik akut atau kronis tanpa pembentukan granuloma · Epidemiologi : lebih sering pada laki-laki daripada perempuan, berhubungan kuat dengan infeksi HBV · Manifestasi Klinis Gejala konstitusional : penurunan berat badan, demam, fatigue, mialgia Lesi kutaneus : livedo retikularis, purpura Arteritis koronaria, nyeri abdomen dan perdarahan/infark saluran cerna. Terkenanya ginjal disertai sedimen urine aktif, hipertensi, dan FSGN Mononeuritis multipleks Paru-paru tidak terkena · Pemeriksaan diagnostik : Angiogram (tipikal pada pembuluh darah mesenterika) ® aneurisma dan penyempitan pembuluh fokal Biopsi (nervus suralis atau kulit) ® vaskulitis dengan nekrosis fibrinoid tanpa granuloma ESR ­, WBC ­, anemia, jarang ditemukan eosinofilia, serologi HBV Å · Penatalaksanaan : steroid, siklofosfamid Penyakit kawasaki · Definisi : demam akut, vaskulitis sistemik dan arteris koronaria yang menyerang bayi dan anak kecil Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI · Epidemiologi : di seluruh dunia, namun prevalensi terbanyak di Jepang,; insiden ­ pada akhir musim dingin dan musim semi. · Manifestasi klinis : Stadium 1 (7-10 hari) : demam tinggi, injeksi konjungtiva non-eksudatif, fisura labia eritematosa, lidah stroberi, limfadenopati servikal, ruam yang bersifat sementara, edema dan eritema pada telapak tangan dan kaki dengan deskuamasi, reaktan fase akut ­ Stadium 2 (10-25 hari) : vaskulitis koronaria dengan trombosis dan aneurisma koroner pada 10-15% pasien. Stadium 3 (25 hari dan berlanjut) : vaskulitis berkurang dengan fibrosis dan stenosis pembuluh yang terkena. · Pemeriksan diagnostik : ESR ­; ekokardiogram dan/atau angiografi koronaria akan menunjukkan aneurisma · Penatalaksanaan : dosis tinggi IVIG (2 gram/kg/hari), aspirin, tanpa steroid VASKULITIS PEMBULUH KECIL YANG BERHUBUNGAN DENGAN ANCA Penyakit Vaskulitis Granuloma Ginjal Paru Asma/Eos ANCA Granulomatosis Wegener Å Å 80% 90% - c-ANCA (anti-PR3) Poliangitis Mikroskopik Å - 90% 50% - p-ANCA (anti-MPO) Sidrom Chrug-Strauss Å Å 45% 70% Å p-ANCA (anti-MPO) Granulomatosis Wegener · Definisi : vaskulitis sistemik nekrotikans, terutama melibatkan traktus respiratorius dan ginjal · Epidemiologi : dapat terjadi pada semua umur, namun insiden ­ pada usia muda dan setengah baya · Manifestsasi klinis Paru : batuk, pleuritas, perdarahan atau infiltrasi paru, hemoptisis, rinitis, sinusitis Ginjal : hematuria, RPGN Mata : episkleritis, uveitis dan proptosis dari granuloma orbitalis Neurologik : neuropati perifer dan kranialis · Pemeriksaan diagnostik : Å c-ANCA, biopsi ® peradangan granulomatosa nekrotikans pada arteriol, kapiler, dan vena BUN dan Cr ­, hematuria, sedimen urine aktif dengan bekuan RBC dan RBC dismorfik · Penatalaksanaan : siklofosfamid dan metilprednisolon (Ann Intern Med 116:488, 1992); TMPSMX akan berperan dalam menegah relaps yang dipresipitasi oleh infeksi saluran nafas. Poliangitis mikroskopik · Definisi : vaskulits pembuluh-kecil yang nekrosis ® glomerulonefritis, venulitis leukositoklastik dermal, dan alveolitis paru. Serupa dengan sindrom Wegener namun tanpa granuloma · Epidemilogi : tidak berhubungan dengan HBV (bukan poliarteritis nodosa) · Manifestasi klinis Gejala konstitusional : penurunan berat badan, demam, fatigue, mialgia Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Ginjal : hematuria, RPGN Paru : batuk dan/atau hemoptisis · Pemeriksaan diagnostik : Å p-ANCA (80%), biopsi ® peradangan nekrotikans arteriol, kapiler, dan vena tanpa granuloma atau infiltrat eosinofilik Sedimen urine dan temuan foto rontgen toraks serupa dengan hasil pada penderita Sindrom Wegener · Penatalaksanaan : siklofosfamid, metilprednisolon; plasmaferesis digunakan pada beberapa kasus Sindrom Churg-Strauss · Definisi : peradangan granulomatosa, terkenanya kulit, nervus perifer, paru dan ginjal · Epidemiologi : kndisi tidak lazim yang dapat muncul pada segala usia, namun tipikalnya 30-40 tahun · Manifestasi klinis Asma dan rinitis alergika Penyakit infiltratif eosinofilik/pneumonia eosinofilik Vaskulitis pembuluh-kecil sistemik dengan kompleksitas granulomatosa (dalam 3 tahun setelah onset asma). Neuropati, arteritis koroner, dan miokarditis sering ditemukan dan berat. Glomerulonefritis dan serositis kurang sering ditemukan dan kurang berbahaya. · Pemeriksaan diagnostik : Å p-ANCA (50%), eosinofilia, biopsi ®mikrogranuloma, nekrosis · Fibrinoid dan trombosis arteri kecil dan vena dengan infiltrat eosinofilik; foto rontgen toraks akan menunjukkan perpindahan infiltrat paru. · Penatalaksanaan : kortikosteroid dosis tinggi (+ siklofosfamid bila perlu) VASKULITIS PEMBULUH KECIL YANG BERHUBUNGAN DENGAN KOMPLEKS IMUN Purpura Henoch-Schonlein · Epidemilogi : vaskulitis sistemik yang paling sering pada anak-anak. Puncak insiden pada usia 5 tahun. Mulai setelah suatu infeksi saluran pernafasan atas atau terpajan obat. Diperantarai IgA. · Manifestasi klinis : purpura pada permukaan ekstensor dan bokong; demam; poliartralgia tanpa deformitas terutama mengenai pinggul, lutut dan pergelangan kaki; nyeri abdomen kolik ± GIB atau intususepsi; rentang nefritis mulai dari hematuria mikroskopik dan proteinuria hingga ESRD · Pemeriksaan diagnostik : hitung trombosit normal, serum IgA dan IgM ­, hematuria dan proteinuria biopsi kulit ® vaskulitis leukositoklastik dengan penimbunan IgA dan C3 pada dinding pembuluh. · Penatalaksanaan : suportif; steroid untuk nyeri abdomen Vaskulitis Krioglobulinemik : lihat “Krioglobulinemia” Vaskulitis yang berhubungan dengan penyakit jaringan penunjang · Definisi : vaskulitis yang berhubungan dengan RA, SLE, atau sindrom sjogren · Manifestasi klinis Arteritis distal : Fenomena Raynaud, livedo retikularis, purpura palpebra, ulserasi kutaneus Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Areritis viseral : perikarditis dan iskemia mesenterika Neuropati perifer · Pemeriksaan diagnostik : biopsi nervus suralis dan kulit, angiografi, EMG · Penatalaksanaan : steroid, siklofosfamid Angitis Leukositoklastik Kutaneus (vaksulitis hipersensitif) · Definisi : kelompok heterogen sindrom klinis karena penimbunan kompleks imun di kapiler, venula dan arteriol · Epidemiologi : secara keseluruhan merupakan jenis vaskulitis yang paling umum · Etiologi Obat : penisilin, aspirin, amfetamin, tiazid, bahan-bahan kimia, imunisasi Infeksi : streptokokus faring, endokarditis bakterialis, TB, hepatitis, infeksi stapilokokus Antigen tumor Protein asing (serum sickness) · Manifestasi klinis : onset mendadak setelah terpajan dengan agen yang menyerangnya, pada purpura yang dapat dipalpasi, ulserasi kutaneus, dan artralgia sementara. Neuropati perifer · Pemeriksaan diagnostik : ESR ­, kadar komplemen ¯, eosinofilia, biopsi kulit ® vaskulitis leukositoklastik dengan neutrofilia, fragmen nukleus sekunder terhadap karioreksis, perdarahan perivaskular dan penimbunan fibrinoid · Penatalaksanaan : menghentikan serangan agen ± penurunan prednison secara cepat Sindrom Bechet · Manifestasi klinis Ulkus aftosa oral berulang Ulkus genitalis berulang Penyakit okular : konjungtivitis, uveitis (dengan hipopion), skleritis, vaskulitis retina, nuritis optika Artritis : ringan, kronis dan non-destruktif, mengenai lutut dan pergelangan kaki Neurologik : defisit fokal dan pleositosis yang disertai vaskulitis serebralis Kutaneus : pustula, papula, folikulitis dan eritema nodosum · Pemeriksaan diagnostik : angiografi serebral (namun jarang diperlukan); pemeriksaan dengan lampu celah (slit lamp) dan fundukskopi · Penatalaksanaan : steroid, dapson, kolkisin, azatioprin, siklosporin, klorambusil, talidomid untuk kasus-kasus refrakter · KRIOGLOBULINEMIA · Definisi : · Protein yang mengendap pada pajanan terhadap dingin · Tipe 1 : Ig monoklonal (biasanya IgM atau IgG) · Tipe 2 (campuran) : IgM monoklonal dengan aktivitas (contoh, faktor reumatoid) terhadap IgG poliklonial · Tipe 3 (campuran) : IgM poliklonial dengan aktivitas terhadap IgG poliklonial Epidemiologi Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI · Predominan pada perempuan · Usia onset sekitar 50 tahun Etiologi · Gangguan limfoproliteratif : mieloma, multipel, makroglobulinemia Waldenstrom, CLL biasanya dihubungkan dengan krioglobulinemia tipe 1 · Penyakit hati kronis : HCV, HBV ? Biasanya dihubungkan dengan krioglobulinemia tipe 2 >80% krioglobulinemia tipe 2 HCV RNA Å (N Engl J Med 327:1490, 1992) · Sindrom autoimun : SLE, RA, PAN, sjogren, skleroderma, Behcet Biasanya dihubungkan dengan krioglobulinemia tipe 3 · Infeksi : virus (EBV, CMV), bakteri (endokarditis), jamur, parasit · Esensial (idiopatik) Patofisiologi · Deposit kompleks imun, aktivasi komplemen · Agregasi trombosit, trombosit pembuluh kecil, vaskulitis Manifestasi klinis · Umum : lemas, demam derajat rendah · Dermatologik : purpura pada ekstremitas inferior, livedo retikularis, ulkus di tungkai, fenomena Raynaud · Reumatologik : artralgiamigratoris dan simetris pada kecil atau sedang · Ginjal : glomerulonefritis (proteinuria, hematuria, hipertensi, edema) · Hematologik : anemia, trombositopenia · Saluran cerna : nyeri abdomen, hepatosplenomegali, uji fungsi hati yang abnormal · Neurologik : neuropati perifer dan mononeuritis multipleks Pemeriksaan diagnostik · Kriokrit Å (jumlah tidak perlu dihubungkan dengan aktivitas penyakit), elektroforesis krioglobulin · Faktor reumatoid (RF) Å · Kadar C4 ¯, kadar C3 normal, ESR ­ · Bila sampel darah tidak disimpan pada suhu 37°C ® kriopresipitasi ® kehilangan dari RF dan ¯¯ komplemen · Pada krioglobulinemia tipe 2 : HCV RNA Å, Ab anti-HCV negatif-palsu Penatalaksanaan · Tangani pnyakit yang mendasrinya · NSAID untuk penyakit ringan · Prednison + imunosupresan lainnya (seperti : siklofosfamid) Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI · Plasmaferesis ? · IFN-a untuk HCV RNA Å krioglobulinemia tipe 2 (N Engl J Med 330 : 751, 1994) · AMILOIDOSIS · Akumulasi protein fibrit yang tidak dapat larut yang membentuk lembaran b-berlipat Klasifikasi Amiloidosis Tipe Protein prekursor Penyakit kausatif Sistem organ AL Ig monoklonial rantai ringan MM, penyakit rantai ringan (l > K), MGUS,WM Ginjal, jantung, neurologik, kutaneus, gastrointestinal, hepar, paru AA Protein A (reaktan fase akut) Infeksi kronis; empiema, TB, osteomielitis, bronklektasis, lepra Keadaan meradang : RA, IBD, FMF Neoplasma : sel ginjal, Hodgkin Ginjal, gastrointestinal, hepar, neurogenik, kutaneus. Jantung jarang terkena Heredites Transiretin (TTR) dll. Protein mutan neurologik, jantung, ginjal, gastrointestinal Berhubungan dengan dialisis b, mikroglobulin Protein yang secara normal dieksresi oleh ginjal Neurologik, muskuloskeletal Terlokalisasi Tirokalsitonin ANP Protein b-amiloid Karsinoma tiroid medularis jantung senilis Penyakit Alzheimer Tiroid Jantung Otak (N Engl J Med 337 : 898, 1997) Manfestasi Klinis Amiloidosis Sistem Manifestasi Amiloid Ginjal Proteinuria atau sindrom nefrotik AL, AA, herediter Jantung Kardiomiopati, ¯ amplitudo QRS Abnormalitas hantaran AL, herediter Jarang pada AA Hepar Hepatomegali, biasanya tanpa disfungsi AL, AA Lien Splenomegali biasanya tanpa leukopenia atau anemia AL, AA Kutaneus Papila non-pruritus seperti lilin, ekimosis periorbital “Pinch purpura” = kulit berdarah dengan trauma minimal Al, AA Gastrointestinal Diare, malabsorpsi, kehilangan protein AL, AA, Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Ulserasi, perdarahan, obstruksi Makroglosia ® disfonia dan disfagia herediter Neurologik Neuropati perifer dengan parestesia yang nyeri Neuropati otonomik ® impotensi, dismolalitas, ¯ TD Carpal Tunnel Syndrome Herediter, AL Endokrin Deposit dengan insufisiensi hormon yang jarang Terlokalisasi Muskuloskeletal Artralgia dan artritis AL, dialisis Paru Obstruksi jalan nafas AL, AA Pemeriksaan diagnostik · Biopsi bantalan lemak subkutan abdominal atau rektal ® pada pewarnaan merah kango tampak hijau seperti warna apel · SPEP, SIEP, UPEP, ± biopsi sumsum tulang · Ekokardiogram : penebalan biventikular dengan tampilan “granular yang berilau” · Uji genetik terhadap bentuk herediter Penatalaksanaan · Amiloid AL : melfalan + prednison (N Engl J Med 314:1001, 1986); iododoksorubisin ? · Amiloid AA: penanganan terhadap penyakit yang mendasarinya akan menyebabkan ® remisi sementara · Demam Mediterania Familial : kolkisin (N Engl J Med 314:1001, 1986) · Lokal : eksisi pembedahan Prognosis · Amiloid AL : daya tahan hidup rata-rata 12-18 bulan; bila terkena jantung, daya tahan hidup rata-rata sekitar 6 bulan GAGAL GINJAL AKUT DEFINISI Gagal ginjal akut (GGA) adalah suatu sindrom klinis yang di tandai dengan penurunan mendadak (dalam beberapa jam sampai beberapa hari) laju filtrasi glomerulus (LFG), di sertai akumulasi nitrogen sisa metabolisme (ureum dan kreatinin). GAGAL GINJAL AKUT PRARENAL GGA prarenal atau azotemia prarenal atau di sebut juga sebagai GGA fungsional, di sebabkan oleh ferfusi glomerulus yang abnormal sehingga menurunkan LFG. ETIOLOGI Hipovolemia di sebabkan oleh; · Kehilangan darah /plasma : perdarahan, luka baker. Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI · Kehilangan cairan melalui gastrointestinal, kulit, ginjal (diuretik, penyakit ginjal lain), pernafasan, pembedahan. · Redistribusi dari intravaskuler ke ekstravaskuler (hipoalbuminemia, sindrom kompartemen ketiga, pankreatitis, peritonitis, kerusakan otot yang luas, sindrom distres pernafasan). · Kekurangan asupan cairan. Vasodilatasi sistemik; · Sepsis · Sirosis hati · Anestesi/blokade ganglion · Reaksi anafilaksis · Vasodilatasi oleh obat Penurunan curah jantung/kegagalan pompa jantung; · Renjatan kardiogenik,infark jantung · Gagal jantung kongestif (disfungsi miokard, katup jantung) · Tamponade jantung · Distrimia · Emboli paru Kegagalan autoregulasi · Vasokontriksi praglomerulus oleh karena sepsis, hiperkalsemia, sindrom hepatorenal, obatobat seperti inflamasi non steroid (AINS), adrenalin, noradrenalin, siklosporin, dan ampoterisin B. · Vasodilatasi pascaglomerulus: di sebabkan oleh obat-obat penghambat angiotensinconverting enzyme (ACE), dan antagonis reseptor AT1 angiotensin. PATOGENESIS Obat golongan AINS dapat menyebabkan GGA pada sebagian orang yang aliran darah ginjal dan LFG di pertahankan atau memerlukan prostaglandin, keadaan ini sering di temukan pada hipovolemia, gagal jantung, sirosis, dan sepsis, serta sebagian pasien sindrom nefrotik. Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Penghambat ACE dapat menimbulkan GGA prarenal pada sebagian pasien yang LFGnya di pertahankan melalui vasokontriksi vasoeferen yang dimediasi oleh angiotensin-II. GAGAL GINJAL AKUT RENAL Banyak penyebab gagal ginjal akut renal yang di sebabkan langsung atau di eksaserbasi oleh berkurangnya aliran darah ginjal ke seluruh bagian atau sebagian ginjal. Penyebab kerusakan iskemik ini di sebabkan keadaan prarenal yang tidak teratasi. Penyebab lain adalah penyempitan atau stenosis arteri renalis sehingga mengurangi aliran darah ke seluruh ginjal. Penyakit lain yang lebih komplek seperti eklamsia, rejeksi alograf, sepsis, sindrom hepatorenal juga merupakan penyakit iskemia ginjal. Nekrosis Tubular Akut Kebanyakan pasien dengan NTA tidak di biopsi, dan diagnosis di tegakkan atas dasar gejala dan perjalanan klinis saja. Pada NTA ini ternyata di dapatkan kontribusi perubuhan sel yang subletal seperti kehilangan lapisan brush border, membran plasma, polaritas membran, dan terlepasnya sel dari membran basalis, sehingga menyebabkan perubahan fungsional. Nekrosis Tubular Akut Akibat Toksin Umumnya kerusakan terjadi akibat kerusakan tubulus, akan tetapi dapat juga di sertai dengan gangguan hemodinamik sistemik maupun mekanisme autoregulasi ginjal. Tabel 1. Nefrotoksin yang menyebabkan Nekrosis Tubular Akut Efek nefrotoksin hemodinamik toksin terhadap tubulus AINS penghambat ACE, penghambat angitensin II, siklosporin, tacrolimus, kontras radiologi, hemoglobin antibiotik: aminoglikosid, vankomisin, foscamet, amfoterisin B, pentamidin. kemoterapi: sisplatin, ifosfamid, mitramisin, 5-FU, tioguanin, sitarabin litium, parasetamol Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI kristaluria obat rekreasional; heroin dll kontras radiologis protein light chains pigmen: mioglobin, hemoglobin toksin: organik; karbon tetraklorid, kloroform, herbisid, racun yang berasal dari tanaman, bisa ular atau insek urat, oksalat obat: asiklovir, metotreksat, sulfonamid, triamteren, metoksifluran, indinavir. Toksin Endogen: Mioglobulinuria, Hemoglobulinuria, Protein Mieloma Mioglobulin adalah protein yang mengandung hemo (17kDa), di filtrasi glomerulus. Pada rabdomiolisis tubulus proksimal tak mampu meresorpsi protein ini sehingga mioglobulin menyumbat tubulus yang lebih distal (obstructing tubular casts). Selain itu mioglobulin memprovokasi terjadinya vasokontriksi oleh karena dapat mengikat nitrik oksida dan oleh karena rabdomiolisis luas yang menyebabkan penggumpalan cairan (kompartemen ke-3), sehingga terjadi hipovolemia. Hemoglobulinuria Hemoglobulin tak setoksik mioglobulin, dan jarang menyebabkan GGA kecuali apabila terjadi hemolisis intravaskular yang luas. Light chains Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI GGA sering merupakan gejala mieloma, protein ini di filtrasi melalui glomerulus dan pada kosentrasi tertentu mencapai tubulus distal dan di situ akan terbentuk silinder yang menyumbat (cast nephrophaty). Nefrotoksik Kontras Prediktor dari GGA akibat kontras adalah usi lanjut, gangguan fungsi ginjal, diabetes dan miolema. Penurunan fungsi berlangsung selama 3-5 yang di mulai saat terpajan. Zat kontras dapat langsung nmerusak sel tubulus melalui efek hiperosmolar, memprovokasi produksi oksigen radikal bebas, dan juga menstimulasi vasokontriksi intrarenal. Pengelolaan kejadian ini hanya dengan cara pencegahan, 12 jam seelum tindakan di lakukan hidrasi dengan salin. NEKROSIS KORTIKAL AKUT Pada keadaan ini terjadi nekrosis pada daerah korteks ginjal yang ekstensif dan gagal ginjal tak dapat pulih lagi. Terjadinya NKA tidak ada hubungannya dengan lama beratnya renjatan akan tetapi lebih berkaitan dengan tipe renjatannya. Prediktor NKA antara lain adalah endotoksinemia, koagulasi intravaskular diseminata (KID). Anak-anak lebih sering kemungkinannya di banding dewasa, seperti pad gastrointestinal berat, atau dengan peritonitis, sepsis. GAGAL GINJAL AKUT PASCARENAL Keadaan pascarenal adalah suatu keadaa dimana pembentukan urin cukup, namun alirannya dalam saluran kemih terhambat.obstruksi aliran ini akan mengakibatkan kegagalan filtrasi glomerulus dan transfor tubulus sehingga dapat mengakibatkan kerusakan yang permanen, tergantung berat dan lamanya obstruksi. Begatu terjadi hambatan aliran urin, terjadi kenaikan yang segara tekanan hidraulik tubulus proksimal, yang kemmudian di kompensasi dengan vasodilatasi arteriol eferen ginjal yang di mediasi oleh produksi prostaglandin; prostaksiklin dan prostaglandin E2. DIAGNOSIS GAGAL GINJAL AKUT Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Diagnosis GGA pada tahap dini hanya dapat di tegakkan apabila ada rasa curiga terhadap adanya GGA.hanya sedikit psien yang dapat menjelaskan adanyakelainan pada jumlan urin, warna keruh atau tidak, dsb. Untuk mendiagnosis GGA di perlukan pemeriksaan yang berulang-ulang fungsi yaitu kadar ureum, kreatinin atau laju filtrasi glomerulus. DIAGNOSIS PENYEBAB GGA Anamnesis Pada GGA perlu di perhatikan betul banyaknya asupan cairan (input), kehilangan cairan (output) melalui: urin, muntah, diare, keringat yang berlebih,dll, serta pencatatan berat badan pasien. Perlu di perhatikan kemungkinan kehilangan cairan ke ekstravaskular (redistribusi) seperti pada peritonitis, asetis, ileus paralitik, edema anasarka, trauma luas (kerusakan otot atau crush syndrome). Riwayat penyakit jantung, gangguan hemodinamik, adanya penyakit sirosis hati, hipoalbuminemia, alergi yang mengakibatkan penurunan volume efektif perlu selaludi tanyakan. Pemeriksaan Fisis Ada 3 hal penting yang harus di dapatkan pada pemeriksaan fisis pasien dengan GGA. 1. penentuan status volume sirkulasi 2. apakah ada tanda-tanda obstruksi saluran kemih 3. adakah tanda-tanda penyakit sistemik yang mungkin menyebabkan gagal ginjal Tabel 2. evaluasi klinis intravaskular Tanda Klinis Deplesi Cairan 1. tekanan vena jugular rendah 2. hipotensi; tekanan darah turun lebih dari 10 mmHg pada perubahan posisi (baringduduk) 3. vena perifer kolaps dan perifer teraba dingin (hidung, jari-jari tangan, kaki) Tanda Klinis Kelebihan Cairan 1. tekanan vena jugularis tinggi 2. terdengar suara gallop 3. hipertensi, edema perifer, pembengkakan hati, ronki di paru Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Pada pemeriksaan fisis perlu di lakukan palpasi, perkusidaerah suprasifisis mencari adanya pembesaran kandung kemih, yang kemudian konfirmasi dengan pemasangan kateter. Analisis Urin Berat jenis urin yang tinggi lebih dari 1.020 menunjukkan prarenal, GN akut awal, sindrom hepatorenal, dan keadaan lain yang menurunkan perfusi ginjal. Berat jenis isosmolal (1.010) terdapat pada NTA, pascarenal dan penyakit intertisial (tubulointertisial). Pada keadaan ini BJ urin dapat meningkat kalaudalam urin terdapat banyak protein, glukosa, manitol, atau kontras radiologik. Gambaran yangkhas pada NTA adalah urin yang berwarna kecoklatan dengan silinder mengandung sel tubulus, dan silinder yang besar (coarsely granulat broad casts). Adanya kristal urat pada GGA menunjukkan adanya nefropati asam urat yang sering di dapat pada sindrom lisis tumor setelah pengobatan leukimia, limfoma. Kristal oksalat terlihat pada GGA akibat etilen glikol yang umumnya di akibatkan percobaan bunuh diri. Penentuan Indikator Urin Pada GGA prarenal aliran urin lambat sehingga lebih banyak ureum yang di absorpsihal ini menyebabkan perbandingan ureum/kretinin dalam darah meningkat. Pemeriksaan Pencitraan Pada GGA pemeriksaan USG menjadi pilihan utama untuk memperlihatkan anatomiginjal, dapat di peroleh informasi mengenai besar ginjal, ada tau tidaknya batu ginjal dan ada atau tidaknya hidronefrosis. Pemeriksaan USG juga dapat menentukan apakah gangguan fungi ginjal ini sudah terjadi lama (GGK), yaitu apabila di temukan gambaran ginjal yang sudah kecil. Pemeriksaan Biopsi Ginjal dan Serologi Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Indikasi yang memerlukan biopsi adalah apabila penyebab GGA tak jelas atau berlangsung lama, atau terdapat tanda glomerulonefrosis atau nefritis intertisisl. PENGELOLAAN GGA Prinsip pengelolaannya di mulai dengan mengidentifikasi pasien yang berisiko GGA (sebagai tindak pencegahan), mengatasi penyakit penyebab GGA, mempertahankan hemoestatis; mempertahankan euvolemia, keseimbangan cairandan elektrolit, mencegah komplikasimetabolik seperti hiperkalemia, asidosis, hiperfosfatemia, mengevaluasi status nutrisi, kemudian mencegah infeksi dan selalu mengevaluasi obat –obat yang di pakai. Pengelolaan medis GGA Pada GGA terdapat 2 masalah yang sering di dapatkan yang mengancam jiwa yaitu edema paru dan hiperkalemia. Edema paru Keadaan ini terjadi akibat ginjal tak dapat mensekresi urin, garam dalam jumlah yang cukup. Posisi pasien setengah duduk agar cairan dalam paru dapat didistribusi ke vaskular sistemik, di pasang oksigen, dan di berikan diuretik kuat (furosemid inj.). Hiperkalemia Mula-mula di berikan kalsium intravena (Ca glukonat) 10% sebanyak 10 ml yang dapat di ulangi sampai terjadi perubahan gelombang T. Belum jelas cara kerjanya, kadar kalium tak berubah, kerja obat ini pada jatung berfungsi untuk menstabilkan membran. Pengaruh obat ini hanya sekitar 20-60 menit. Pemberian infus glukosa dan insulin (50 ml glukosa 50% dengan 10 U insulin kerja cepat) selama 15 menit dapat menurunkan kalium 1-2mEq/L dalam waktu 30-60 menit. Insulin bekerja dengan menstimulasi pompa N-K-ATPase pada otot skelet dan jantung, hati dan lemak, memasukkan kalium kedalam sel. Glukosa di tambahkan guna mencegah hipoglikemia. Obat golongan agonis beta seperti salbutamol intravena (0,5mg dalam 15 menit) atau inhalasi nebuliser (10 atau 20mg) dapat menurunkan 1mEq/L. Obat ini bekerja dengan mengaktivasi pompa Na-K-ATPase. Pemberian sodium bikarbonat walaupun dapat menurukan Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI kalium tidak begitu di anjurkan oleh karena menambah jumlah natrium, dapat menimbulkan iritasi, menurunkan kadar kalsium sehingga dapat memicu kejang. Tetapi bermanfaatapbila ada asidosis atau hipotensi. Pemberian diuretik Pada GGA sering di berikan diuretik golongan loop yang sering bermanfaat pada keadaan tertentu. Pemberian diuretik furosemid mencegah reabsorpsi Na sehingga mengurangi metabolisme sel tubulus, selain itu juga di harapkan aliran urin dapat membersihkan endapan, silinder sehingga menghasilkan obstruksi, selain itu furosemid dapat mengurangi masa oliguri. Dosis yang di berikan amat bervariasi di mulai dengan dosis konvensional 40 mg intravena, kemudian apabila tidak ada respons kenaikan bertahap dengan dosis tinggi 200 mg setiap jam, selanjutnya infus 10-40 mg/jam. Pada tahap lebih lanjut apabila belum ada respons dapat di berikan furosemid dalam albumin yang di berikan secara intravena selama 30 menit dengan dosis yang sama atau bersama dengan HCT. Nutrisi Pada GGA kebutuhan nutrisi di sesuaikan dengan keadaan proses kataboliknya. GGA menyebabkan abnormalitas metabolisme yag amat kompleks, tidak hanya mengatur air, asam-basa, elektrolit, tetapi juga asam amino/protein, karbohidrat, dan lemak. Tabel 3. klasifikasi pasien dan kebutuhan nutrisi pasien dengan GGA Tahapan Katabolisme Ringan Sedang Berat Keadaan klinis Toksik o.k. obat Pembedahan + infeksi Injuri berat/ Sepsis Mortalitas 20% 60% >80% Dialisis/hemofiltrasi Jarang Apabila perlu Sering Pemberian makan Oral Enteral/ parenteral Enteral/ parenteral Rekomendasi Energi (kcal/kgBB/h) 25 25-30 25-35 Substrat energi Glukosa Glukosa + Lemak Glukosa + Lemak Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Glukosa g/kg Lemak g/kg 3-5 0,5-1 3-5 0,8-1,5 3-5 (maks 7) Asam amino/ protein 0,6-0,8 EAA (+NEAA) 0,8-1,2 EAA + NEAA 1,0-1,5 EAA + NEAA Nutrien oral/ enteral Makanan Formula Formula Parenteral Glukosa 50-70% Glukosa 50-70% + emulsi lemak 10-20% EAA + NEAA (basa atau khusus untuk ginjal) + multivitamin + multitrace element Dialisis atau Pengobatan Penggamti Ginjal Indikasi yang mutlak untuk dialisis adalah terdapatnya sindrom uremia dan terdapatnya kegawatan yang mengancam jiwa yaitu hipervolemia (edema paru), hiperkalemia, atau asidosis berat yang resisten terhadap pengobatan konservatif. Pengobatan pengganti ginjal secara kontinyu dengan CAVH (continous arterivenous hemofiltration) yang tidak memerlukan mesin pompa sederhana. CAVH dan CVVH berdasarkan prinsip pengeluaran cairan bersama solutnya melalui membran semipermeabel atau hemofilter oleh karena perbedaan tekanan (convective clearance). · GANGGUAN HIPOTALAMUS · SINDROM HIPOPITUITARI Panhipopituitarisme · Etiologi : Primer : pembedahan, radiasi, tumor (primer atau metastasis), infeksi, infiltrasi (sarkoidosis, hemokromatosis, autoimun, iskemia (termasuk sindrom Sheehan), aneurisma karotis, trombosis sinus kavemosus, trauma. Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Sekunder (disfungsi hipotalamus atau gangguan pada tangkai hipotalamus) : tumor (termasuk kraniofaringioma), infeksi, infiltrasi, radiasi, pembedahan, trauma. · Manifestasi klinis : Kelemahan, mudah merasa fatigue, disfungsi seksual, kerontokan rambut ketiak dan pubis, hipotensi, ± perubahan lapangan pandang dan sakit kepala (apabila disebabkan oleh tumor pituitari non fungsional yang besar). · Pemeriksaan diagnostik : Hormon kelenjar target rendag + hormon tropik normal atau rendah  ACTH : insufisiensi adrenal (lihat *Gangguan Adrenal*)  TSH : hipotiroidisme sentralis (lihat *Gangguan tiroid*)  PRL : tidak mampu menyusui (cat : dengan hipopituitarisme hipotalamik à faktor penghambat prolaktin (dopamin) à ­ PRL)  GH : ? risiko osteoporosis, ? kardiomiopati; didiagnosis dengan kegagalan ­ GH dengan rangsangan yang sesuai (cont : hipoglikemia)  FSH & LH · Manifestasi klinis : libido, impotensi, amenore, oligomenore, infertilitas · Pemeriksaan fisik : kerontokan rambut ketiak, pubis dan tubuh. · Pemeriksaan diagnostik : testosteron atau estradiol · Penatalaksanaan : pergantian testosteron atau estrogen vs. koreksi penyebab yang mendasarinya.  ADH (penyakit pada hipotalamus atau tangkai hipotalamus) : diabetes insipidus. · Manifestasi klinis : poliuria berat, hipernatremia ringan (kecuali akses terhadap H2O à hipernatremia berat) · Pemeriksaan diagnostik : lihat *Gangguan Homeostatis Natrium* SINDROM HIPERPITUTTARI Tumor Pituitari · Patofisiologi : Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Adenoma à kelebihan 1 (atau lebih) hormon trofik (apabila tumor bersifat fungsional, namun 30-40 %-nya bukan) dan berpotensi terjadi defisiensi pada hormon-hormon trofik lainnya karena kompresi oleh makroadenoma. · Manifestasi klinis : Sindrom karena sekresi hormon yang berlebihan (lihat di bawah) Konsekuensi anatomik : sakit kepala, perubahan penglihatan, diplopia, neuropati kranialis. · Pemeriksaan lanjut : MRI, kadar hormon Penyakit Cushing (­ ACTH; 10-15 % adenoma; lihat *Gangguan Adrenal*) Hipertirodisme sentralis (­ TSH; sangat jarang, lihat *Gangguan Tiroid) Hiperprolaktinemia (­ PRL; 50 % adenoma) · Fisiologi : PRL menginduksi laktasi dan menghambat GnRH à FSH & LH · Manifestasi klinis : amenore, galaktore, infertilitas,  libido, impotensi. · Pemeriksaan diagnostik :  PRL (pada kehamilan, hipotiroidisme, antipsikotik, gagal ginjal, dan sirosis); MRI untuk mengevaluasi tumor. · Penatalaksanaan : (apabila simtomatik atau makroadenoma) Medis : bromokriptin (angka keberhasilan 70-100 %), kabergolin (ditoleransi lebih baik). Bedah : pembedahan transfenoidal (apabila perkembangan tumor cepat atau terapi medis gagal) Radiasi : apabila baik terapi medis maupun bedah telah gagal Akromegali ( GH; 10% adenoma) · Fisiologi : merangsang sekresi faktor pertumbuhan serupa-insulin 1 (IGF-1) · Manifestasi klinis :  jaringan lunak, artralgia, pembesaran mandibula, sakit kepala, carpal tunnel syndrome, makroglosia, suara parau, amenore, impotensi, diabetes melitus, kardiomiopati, polip pada kolon. · Pemeriksaan diagnostik : pemeriksaan kadar GH secara acak tidak berguna karena bersifat pulsatif  somatomedin C (IGF-1); ±  PRL, uji toleransi glukosa oral à GH tidak tersupresi. Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI MRI untuk mengevaluasi tumor. · Penatalaksanaan : pembedahan, oktreotid (sediaan kerja singkat dan lama), agonis dopamin, radiasi. · Prognosis :  mortalitas tanpa pengobatan.  GANGGUAN TIROID  Pemeriksaan Diagnostik pada Gangguan Tiroid Pemeriksaan Keterangan Thyroid stimulating hormone (TSH) Uji yang paling sensitif untuk mendeteksi hipo dan hipertiroidisme (kecuali apabila penyebabnya sekunder) Imunoasai T, dan T Konsentrasi serum total (dipengaruhi oleh konsentrasi TBG) Thyroxine binding globulin (TBG)  TBG (sehingga  T4); estrogen, OCP, kehamilan, hepatitis akut TBG (sehingga T4); androgen, glukokortikoid, sindrom nefrotik, sirosis, akromegali, fenitoin T3 resin uptake (T3RU) Pengukuran tidak langsung terhadap jumlah TBG Serum pasien (mengandung TBG) + T3 berlabel + hormon tiroid yang mengikat resin Jumlah T3 bebas berlabel yang mengikat resin tersebut (cont : ambilan resin) adalah perbandingan terbalik dengan jumlah TBG serum pasien.  T3RU à TBG T3RU à  TBG Indeks tiroksin bebas (T4 x T3RU)/100 Imunoasai T4 bebas T4 bebas, tidak dipengaruhi oleh TBG Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Reverse T3  pada sick euthyroid syndrome (namun tidak pada pasien pengidap AIDS) Antibodi tiroid Anti-tiroglobulin & anti-mikrosomal (anti TPQ) à penyakit Hashimoto Tiroid yang menstimulasi Ig (TSI, Ab reseptor anti-TSH) à penyakit Graves Tiroglobulin  pada cedera atau peradangan tiroid, dan karsinoma tiroid. Tanda yang berguna dari rekurensi pada karsinoma tiroid (papilaris atau folikular) Radioactive Iodine uptake (TAIU) scan Berguna untuk mendiagnosis banding penyebab dari hipertiroidisme  ambilan (uptake) homogen = penyakit Graves heterogen = goiter multinodular satu tempat dengan penekanan sisa kelenjar = nodul panas tanpa ambilan = rasa nyeri subakut atau tiroiditis tenang, hormon tiroid eksogen, struma ovani, pembebanan yodium yang baru saja diberikan, atau obat-obatan antitiroid. Gambar 1. Pendekatan terhadap gangguan tiroid menurun TSH meningkat T4 bebas (indeks atau imunoasai) T4 bebas (indeks atau imunoasai) menurun normal meningkat Hipotiroid sekunder Tirotoksikosis subklinis Tirotoksikosis Hipotiroid primer Hipotiroid subklinis Hipertiroid pituitari (tumor yang menskresi TSHRAIU ) menurun normal meningkat Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI HIPOTIROIDISME Etiologi · Primer Goiter : Tiroiditis Hashimoto, fase penyembuhan setelah tiroiditis, defisiensi yodium Non-goiter : destruksi pembedahan, kondisi setelah pemberian yodium radioaktif atau radiasi eksternal, agenesis, amiodaron · Sekunder : kegagalan hipotalamus ( TRH, TSH yang berubah-ubah, T4 bebas) atau kegagalan pituitari ( TSH, T4 bebas) Tiroiditis Hashimoto · Destruksi autoimun dengan infiltrasi limfositik yang tidak sempurna · Biasanya terlihat pada perempuan, usia 20-60 tahun. Mungkin merupakan bagian dari sindrom autoimun poliglandular tipe II (hipotiroidisme, penyakit Addison, diabetes melitus); juga mungkin dihubungkan dengan  insiden sindrom Sjögren, anemia pernisiosa, dan sirosis biliaris primer. · Antibodi anti-tiroglobulin dan anti-mikrosom Å Manifestasi Klinis · Dini : kelemahan, fatigue, artralgia, mialgia, sakit kepala, depresi, intoleransi dingin, berat badan bertambah, konstipasi, menoragi, kulit kering, rambut kasar yang rapuh, kuku rapuh, carpal tunnel syndrome, hiporefleksi (delayed DTRs, refleks “hung up”), hipertensi diastolik difus fokal tidak ada Penyakit graves Adenoma fungsional Tiroglobulin serum rendah tinggi Tirotoksikosis factitia pembebanan yodium (Iodine load) Tiroditis Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI · Lambat : bicara lambat, parau, hilangnya 1/3 luar alis mata, miksedema (edema nonpitting), edema periorbital, bradikardi, efusi pada pleura, perikardium atau ruang peritoneal · Koma miksedema : hipotermi, hipotensi, hipoventilasi Pemeriksaan diagnostik · ¯ Indeks tiroksin bebas (& FT4);  TSH pada hipotirodisme primer, antibodi antitiroid pada tiroiditis Hashimoto Å · Hiponatremia, hipoglikemia, anemia;  kolesterol, uji fungsi hepar, dan CPK Penatalaksanaan · Penggantian levotiroksin (1,5-1,7 mg/kg/hari), periksa kembali TSH tiap 4-6 minggu sampai pasien eutiroid HIPERTIROIDISME Etiologi · Penyakit Graves · Tiroiditis : subakut (granulomatosa atau de Quervain, nyeri), kronis (tanpa nyeri), atau pasca melahirkan Tirotoksikosis sementara (bocornya hormon dari kelenjar) à hipotiroidisme sementara à normal · Adenoma Toksik (goiter soliter atau multinodular) atau, lebih jarang, karsinoma tiroid fungsional · Tumor yang mensekresi TSH dari pituitari (sangat jarang) · Lain-lain : amiodaron, penyakit yang terinduksi yodium (penyakit Jodbasedaw, terlihat adanya jaringan lunak tiroid otonom + asupan yodium), tirotoksikosis factitia, struma ovarii (3 % tumor dermoid ovarium dan teratoma) Penyakit Graves · Biasanya terlihat pada perempuan, usia 20-40 tahun · Manifestasi klinis sebagai tambahan seperti pada hipertiroidisme, difus, goiter yang tidak nyeri Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Oftalmopati (muncul pada 20-40 % dan lebih dari 90 % jika diperiksa); lambatnya kelopak mata menutup (lid lag), retraksi kelopak mata, proptosis, konjungtivitis, kelemahan otot ekstraokular Miksedema pretibial (3 %) : dermopati infiltratif ‘bruit’ tiroid · Antibodi tiroid Å : TSI (Å pada 80 %), anti-mikrosomal, anti-tiroglobulin, ANA Manifestasi Klinis · Gelisah, intoleransi panas, penurunan berat badan,  frekuensi gerakan usus,  keringat, palpitasi,  HR, fibrilasi atrium, iregularitas menstruasi, kulit hangat lembab, rambut halus, hiper-refleksi, osteoporosis · Subklinis (¯ TSH, FT3 dan FT4 normal) :  risiko fibrilasi atrium dan osteoporosis · Hipertiroidisme apetetik : terlihat pada usia lanjut yang dapat menunjukkan gejala letargi · Thyroid strom (terlihat pada stres atau pembedahan tiroid) : delirium, takikardi, demam, hipotensi Laboratorium ·  Indeks tiroksin bebas (& FT4) dan FT3; ¯ TSH (kecuali pada tumor yang mensekresi TSH) · RAIU Peningkatan homogen = penyakit Graves Peningkatan heterogen = goiter multinodular Nodul panas soliter = adenoma toksik Tanpa ambilan (uptake) = tiroiditis, tiroksikosis factitia, pembebanan yodium · Jarang memerlukan pemeriksaan untuk auto-antibodi · Hiperkalsemia, fosfatase alkalin , anemia Penatalaksanaan · Penyekat-b untuk mengendalikan gejala, terlepas dari etiologinya · Penyakit Graves PTU atau metomazol : 50 % kemungkinan rekurensi setelah 1 tahun; agranulositosis jarang namun berat Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Radioactive iodine (RAI) : hipotiroidisme yang pada akhirnya berkembang pada > 75 % dari pasien yang diobati · Adenoma toksik atau goiter multinodular toksik : RAI atau pembedahan (± PTU atau metimazol) · Tyroid strom : penyekat-b, yodium, obat-obatan antitiroid, ipodat, steroid SICK EUTHYROID SYNDROME · Abnormalitas pada hormon tiroid karena penyakit non-tiroid · Sakit sedang : inhibisi deiododinasi perifer à ¯ T3,  rT3 · Sakit berat : ¯ TBG à ¯ T4, FT4 normal · Sakit kritis : penghambat T4 à pemindahan dan  degradasi T4 à ¯ FT4 tetapi juga ¯ TSH (= hipotiroid hipotalamik) · NODEL TIROID Gambar 2. Pendekatan terhadap nodul tiroid Nodul tiroid Aspirasi jarum halus Jinak (70 %) Observasi atau ? reaksi supresif Reaksi supresif Sembuh Tidak sembuh Observasi Pembedahan Indeterminate (15 %) atau atau atau RAIU – dingin à pembedahan Panas Penilaian hipertiroidisme Curiga (10 %) atau RAIU – dingin à pembedahan Ganas (< 5 %) Panas Penilaian hipertiroidisme Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI N Engl J Med 328 : 553, 1993  GANGGUAN ADRENAL  Definisi · Sindrom Cushing = kelebihan kortisol · Penyakit Cushing = Sindrom Cushing sekunder karena hipersekresi ACTH dari pituitari Etiologi · Penyakit Cushing (70-80 %) : adenoma pituitari atau hiperplasia pituitari · Tumor adrenal (15 %) : adenoma atau karsinoma · ACTH ektopik (5 %) : karsinoma paru sel small, karsinoid, tumor sel langerhans, karsinoma tiroid medularis, feokromositoma Manifestasi Klinis · Intoleransi glukosa atau diabetes melitus · Obesitas sentral, berpunuk seperti kerbau (buffalo hump), moon facies, pengecilan ekstremitas, kelemahan, mudah fatigue, mudah memar, strie ungu, hiperpigmentasi (jika  ACTH), penyembuhan luka yang buruk, psikosis, infeksi · Hipertensi · Osteoporosis Penatalaksanaan · Reseksi pembedahan adenoma pituitari atau tumor adrenal atau tumor yang menyekresi ACTH ektopik Apabila pembedahan transfenoidal tidak berhasil, pertimbangkan iradiasi pituitari atau adrenalektomi bilateral · Terapi pengganti glukokortikoid selama 6-36 bulan setelah pembedahan Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI · Ketokonazol atau penghambat metirapon terhadap produksi kortisol apabila pembedahan gagal atau dikontraindikasikan Gambar 3. Langkah kerja sindrom Cushing Kecurigaan Sindrom Cushing Uji supresi deksametason semalaman (1,0 mg pada tengah malam atau Urine 24 jam yang bebaskortisol Kortisol serum jam 8 pagi < 5 mg/dl Kortisol urine < 100 mg Kortisol serum jam 8 pagi ³ 5 mg/dl Kortisol urine > 100 mg Mungkin sindrom Cushing (positif palsu karena stres depresi, etanol, pil kontrasepsi oral, obesitas) Bukan sindrom Cushing Uji supresi deksametason dosis rendah 48 jam (0,5 mg setiap 6 jam x 2 hari) Kortisol serum jam 8 pagi < 5 mg/dl Kortisol serum jam 8 pagi ³ 5 mg/dl Sindrom Cushing Serum ACTH ACTH normal atau tinggi ACTH rendah Tumor adrenal Pemakaian konhrmatif CT adrenal atau MRI Uji supresi deksametason dosis tinggi 48 jam (2,0 mg setiap 6 jam x 2 hari) Steroid 17-OH pada urine 24 jam tersupresi Steroid 17-OH pada urine 24 jam tidak tersupresi Penyakit Cushing ACTH ektopik Pemeriksaan konfirmatif MRI pituitari, pemeriksaan CRH dengan vena petrosal, sampling ACTH Pemeriksaan konfirmatif CT toraks, oktreotid berlabel (terkait pada tumor neuroendo) Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI HIPERALDOSTERONISME Etiologi · Primer :  aldosteron karena hiperplasia adrenal, adenoma (sindrom Conn), atau karsinoma · Sekunder : stimulasi ekstra-adrenal dari aldosteron (cont : ¯ perfusi ginjal, tumor penyekresi renin) Manifestasi Klinis · Hipertensi diastolik ringan hingga sedang, sakit kepala, kelemahan otot, poliuria, polidipsia · Tanpa edema perifer karena fenomena ‘meloloskan diri’ dari retensi Na · Hipokalemia, hipernatremia, alkalosis metabolik Gambar 4. Langkah kerja penanganan hiperaldosteronisme Hiperaldosteronisme Kadar aldosteron dan renin Renin rendah Aldosteron rendah Renin rendah Aldosteron rendah Renin rendah Aldosteron rendah Kelebihan mineralokortikoid non-aldosteron Hiperaldosteronisme primer Hiperaldosteronisme sekunder · ingesti licorice · sindrom Cushing · sindrom Liddle · hipoperfusi ginjal · stenosis arteri renalis · tumor pensekresi renin primer CT atau MRI adrenal Tidak ada leslesi i Vena adrenal sampling aldosteron Terlokalisasi Tidak terlokalisasi Adenoma atau karsinoma Hiperplasia Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Penatalaksanaan · Adenoma atau karsinoma à pembedahan · Hiperplasia à spironolakton INSUFISIENSI ADRENAL Etiologi · Primer = penyakit adenokortikal = Penyakit Addison Autoimun (paling sering pada negara industri) Terisolasi Sindrom autoimun poliglandular PGA I = kandidiasis mukokutaneus kronis + hipoparatiroidisme + penyakit Addison PGA II = penyakit Addison + penyakit tiroid + IDDM Infeksi (penyebab paling sering di seluruh dunia); tuberkulosis, CMV, histoplasmosis Perdarahan, trombosis, dan trauma Penyakit metastatik (90 % adrenal harus dihancurkan agar terjadi insufisiensi) Penyakit deposit : hemokromatosis, amiloid, sarkoid Obat : ketokonazol, rifampin, antikonvulsan · Sekunder = kegagalan pituitari menyekresi ACTH (sekresi aldosteron intak karena dikendalikan oleh sumbu renin-angiotensin) Adanya penyebab hipopituitarisme primer atau sekunder (lihat *Gangguan Pituitari*) Terapi glukokortikoid (terjadi setelah ³ 2 minggu dosis supresif; memerlukan 8-12 minggu untuk memperbaiki fungsi) Megestrol Manifestasi Klinis (N Engl J Med 335 : 1206, 1996) · Primer atau sekunder : kelemahan dan mudah fatigue (99 %), hipotensi ortostatik (90 %), mual (86 %), muntah (75 %), hiponatremia (88 %), hipoglikemia, eosinofilia, limfositosis, ± neutropenia Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI · Hanya primer (tanda dan gejala tambahan karena kekurangan aldosteron dan  ACTH) : hipotensi, ortostatik yang bermakna (karena deplesi cairan), hiperpigmentasi (terlihat pada lipatan tubuh, daerah yang tertekan, puting susu), hiperkalemia · Hanya sekunder : manifestasi lain dari hipopituitarisme (lihat bab Pituitari) Pemeriksaan diagnostik · Uji stimulasi dosis tinggi (250 mg) kortikotropin : normal = sebelum atau 60’ setelah kortisol ³ 18 mg/dL Abnormal pada primer karena kelenjar adrenal terganggu dan tidak mampu memberikan output yang adekuat Abnormal pada sekunder kronis karena adrenal yang atrofi dan tidak mampu berespons · Uji stimulasi dosis rendah (1 mg) kortikotropin : dapat mendeteksi insufisiensi adrenal sekunder yang ringan · Uji diagnostik lainnya : hipoglikemia terinduksi insulin; gagal untuk  11 – deoksikortisol setelah metirapon · Abnormalitas laboratorium lainnya : hipoglikemia, eosinofilia, limfositosis ± neutropenia · ACTH :  pada primer, pada sekunder · Pencitraan : CT : adrenal kecil, tak berkalsifikasi pada autoimun, pembesaran pada penyakit metastatik, perdarahan, infeksi atau deposit (walaupun mungkin tampaknya normal) MRI : untuk mendeteksi abnormalitas pituitari Penatalaksanaan · Insufisiensi adrenal akut Hidrokortison 100 mg IV setiap 8 jam Resusitasi cairan dengan larutan salin normal · Kronis Hidrokortison : biasanya 20-30 mg PO empat kali sehari (2/3 pada pagi hari, 1/3 pada malam hari) atau prednison 5-7,5 mg PO empat kali sehari Fludrokortison (tidak perlu pada insufisiensi adrenal sekunder) : 50-100 mg PO empat kali sehari pada pagi hari Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI FEOKROMOSITOMA Manifestasi Klinis (SP) · Pressure (hipertensi) · Pain (sakit kepala, nyeri dada) · Palpitations · Perspiration · Pallor Pemeriksaan Diagnostik · Urine 24 jam untuk memeriksa katekolamin, VMA, metanefrin (Å palsu pada penyakit berat, gagal ginjal, labetalol, obat kontrasepsi oral yang mengandung simpatomimetik) · Uji klonidin (gagal untuk menekan katekolamin) · CT atau MRI adrenal; MIBG scan Penatalaksanaan · Penyekat-a golongan pertama ± penyekat-b à pembedahan INSIDENTALOMA ADRENAL Epidemiologi · Pada dua persen pasien yang menjalani CT scan dapat ditemukan massa di adrenal secara kebetulan Diagnosis Banding · Adenoma korteks adrenal, hiperplasia, atau karsinoma · Tumor medula adrenal (seperti : feokromositoma, ganglioneuroma, dll) Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI · Massa adrenal lainnya : kista, abses, granuloma, perdarahan, lipoma, mielolipoma · Metastasis : dari payudara, paru, ginjal, melanoma Langkah kerja (N Engl J Med 323 : 1401, 1990) · Menyingkirkan sindrom Cushing secara klinis (tidak ada hipertensi atau obesitas memiliki nilai prediksi negatif 99 %) dan/atau dengan uji supresi deksametason (walaupun hanya memiliki nilai prediksi positif kira-kira 3 % pada keadaan insidentaloma adrenal) · Menyingkirkan feokromositoma dengan pemeriksaan hormon : tidak adanya hipertensi dan gejala klasik memiliki nilai prediksi negatif 99 %, namun morbiditas yang dihubungkan dengan feokromositoma yang tak diobati menyebabkan penyingkiran hormonal melalui pemeriksaan kadar katekolamin di dalam urine harus dilakukan dengan hati-hati (nilai prediksi positif kira-kira 51%) · Menyingkirkan karsinoma metastatik dan infeksi melalui anamnesis · Karakteristik CT scan dan MRI akan menunjukkan adenoma vs. karsinoma · Apabila ukuran < 4 cm, ukuran stabil, pencitraan tidak menunjukkan keganasan à kemungkinan adenoma, sehingga dapat diikuti dengan pemeriksaan scan berkala · Apabila ukuran > 4 cm,  ukuran, riwayat keganasan, pencitraan menunjukkan keganasan à reseksi setelah menyingkirkan kemungkinan sindrom Cushing dan feokromositoma  GANGGUAN KALSIUM  Gambar 5. Etiologi gangguan kalsium berdasarkan pada serum Ca dan kadar PTH Gagal ginjal hiperparatiroidisme sekunder pseudohipoparatiroidisme defisiensi vitamin D Hiperparatiroidisme primer Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Temuan Laboratorium pada Gangguan Kalsium yang Beragam Keadaan sakit Ca PO4 PTH 1,25-(OH)2D3 Hiperparatiroidisme   Normal/ Keganasan  Bervariasi Kelebihan vitamin D    Hipoparatiroidisme  Pseudohipoparatiroidisme   Gagal ginjal   Defisiensi vitamin D Normal/  Kekurangan dalam pengukuran Ca · Ca yang secara fisiologis aktif adalah kalsium bebas atau terionisasi (ICA). Kadar Ca di serum menggambarkan kalsium total (yang terikat + yang bebas) dan karena itu dipengaruhi oleh konsentrasi albumin (protein pengikat Ca utama). Ca terkoreksi (mg/dL) = Ca yang terukur (mg/dL) + (0,8 x (4,0-albumin (mg/dL))] · Alkalosis akan menyebabkan banyak Ca yang terikat dengan albumin sehingga Ca total mungkin bisa normal namun ICA HIPERKALSEMIA Etiologi Hiperkalsemia Kategori Etiologi Hiperparatiroidisme Primer : adenoma (80 %, hiperplasia (15-20 %), spontan vs PTH Hipoparatiroidisme Keganasan kelebihan vitamin D Normal Kadar Ca di serum Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI neoplasia multipel pada endokrin), karsinoma (< 1 %) (Cat., hiperparatiroidisme sekunder adalah  PTH sebagai respons terhadap hipokalsemia ? Tertier : setelah lama menderita hiperparatiroidisme sekunder à berkembang nodul autonom Keganasan Hiperkalsemia osteolitik lokal (mis., kanker paru, melanoma) Tumor solid yang mensekresi PTH-yang berhubungan dengan peptida (PTHrP) (seperti : karsinoma paru sel skuamosa dan karsinoma sel renal) Keganasan hematologik melalui 1,25 D dan sitokin yang  (mis., limfoma sel-B) Kelebihan vitamin D  1,25-(OH)2D3 (penyakit granulomatosa; seperti : sarkoidosis, TB, histoplasmosis) intoksikasi vitamin D  pertukaran tulang Hipertiroidisme, imobilisasi, penyakit Paget Lain-lain Tiazid, litium, vitamin A, antasid yang mengandung kalsium (sindrom milk-alkali) Manifestasi Klinis (“tulang, batu, rintihan abdomen, dan mengerang kesakitan”, biasanya apabila CA > 12) · Krisis Hiperkalsemik (biasanya bila Ca 13-15) : poliuria, dehidrasi, perubahan status mental Kalsium toksik terhadap tubulus renal à menghambat ADH, menyebabkan vasokonstriksi dan LFG à poliuria namun reabsorbsi Ca  à kalsium serum  à nefrotoksisitas  · Osteopenia dan osteitis fibrosa kistik (yang terakhir ini dijumpai hanya pada hiperparatiroidisme) à aktivitas osteoklas  à degenerasi, kista, nodul fibrosa, gambaran rontgen foto, seperti garam dan lada · Nefrolitiasis, nefrokalsinosis, diabetes insipidus nefrogenik · Nyeri abdomen, anoreksia, mual, muntah, konstipasi, pankreatitis, penyakit ulkus peptikum · Fatigue, depresi, terlihat seperti orang bingung · DTR menurun · Interval QT memendek Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Pemeriksaan diagnostik · Kalsium, albumin, Ica, PTH, PO4, fosfatase alkalin, ± vitamin D dan 1,25-(OH)2-D3 Penatalaksanaan Hiperkalsemia Penatalaksanaan Onset Durasi Keterangan Salin normal (4-6 L/hari) Jam Selama reaksi Pada ginjal, Ca mengikuti Na, sehingga natriuresis à ekskresi Ca  Furosemid (IV tiap 6 jam) Jam Selama reaksi Mulailah hanya setelah pasien diberikan cairan pengganti intravaskuler Membantu meningkatkan natriuresis dan menjadikan eksresi Ca  Bisfosfanat 1-2 hari 10-14 hari Menghambat osteoklas, berguna pada keganasan, Demam pada 20 % kasus Kalsitonin Jam 2-3 hari Dengan cepat menyebabkan takifilaksis Glukokortikoid Hari hari ? berguna pada beberapa keganasan & intoksikasi vitamin (Endocrinology and Metabolism Clinics of North America 22 : 343, 1993) HIPOKALSEMIA Etiologi Hipokalsemia Kategori Etiologi Hipoparatiroidisme Terisolasi PGA tipe I (mukokutan kronis, kandidiasis + Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI hipoparatiroid + penyakit Addison Keadaan setelah tiroidektomi, hipomagnesemia (sekresi dan efek ) Pseudohipoparatiroidisme Resistensi PTH pada end-organ (sehingga serum PTH ) + abnormalitas skeletal & retardasi (Pseudopseudohipoparatiroidisme = sindrom namun Ca normal) Defisiensi vitamin D Gagal ginjal produksi 1,25-(OH)2D3 +  PO4 à deposit kalsium pada jaringan lunak  Lain-lain Pankreatitis, kelebihan sitrat (seperti : setelah transfusi darah multipel) Manifestasi klinis · Iritabilitas neuromuskular : parestesia perioral, kram, Chvostek Å (ketukan pada nevus fasialis) à kontraksi muskulus fasialis), Trousseau Å (inflasi manset pengukur tekanan darah à spasme karpal), laringospasme · Iritabilitas, depresi, psikosis, TIK , kejang · QT  · Osteodistrofi renal ( vitamin D dan  PTH pada gagal ginjal) : osteomalasia ( mineralisasi tulang), osteitis fibrosa kistik, dan osteoporosis Pemeriksaan Diagnostik · Kalsium dan albumin, Ica, PTH, vitamin D, 1,25-(OH)2D3, BUN, Cr, Mg, PO4, fosfatase alkalin Penatalaksanaan · Simtomatik : Ca glukonat intravena · Asimtomatik : suplementasi kalsium oral dan vitamin D · Pada gagal ginjal perlu diberikan 1,25-(OH)2D3 (seperti, kalsitriol) · Pada hipoparatiroidisme, bila suplementasi PTH tidak tersedia, berikan 1,25-(OH)2D3 Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI  DIABETES MELITUS  Definisi (Diabetes Care 20 : 1183, 1997) · Glukosa puasa > 126 mg/dL atau glukosa sewaktu > 200 mg/dL atau glukosa 2 jam > 200 mg/dL setelah uji toleransi glukosa oral sebanyak 75 gram ·  HbATC (kriteria yang tidak disepakati) Kategori · Tipe 1 (bergantung insulin atau DMTI) : cenderung ketosis, memerlukan insulin prevalensi 0,4 %; onset umumnya pada masa anak-anak;  risiko apabila terdapat riwayat dalam keluarga; diketahui adanya hubungan HLA pada defisiensi insulin absolut dengan autoantibodi (anti-GAD & anti-insulin) dan atrofi sel langerhans. · Tipe 2 (tidak bergantung insulin atau DMTTI) : resisten ketosis, insulin bisa diperlukan bisa tidak, prevalensi 7 %; onset pada uji yang lebih lanjut;  risiko apabila terdapat riwayat dalam keluarga; tidak terdapat asosiasi HLA pada resistensi insulin; massa sel langerhans normal, obesitas · Penyebab sekunder : glukokortikoid eksogen, sindrom Cushing, akromegali, feokromositoma, glukogonoma (3D : diabetes, DVT, diare), diabetes pankreatikus (pankreatitis, hemokromatosis) Manifestasi Klinis · Poliuria, polidipsia, polifagia dengan penurunan berat badan yang tidak diketahui sebabnya Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Pilihan Penatalaksanaan Diabetes Pilihan Keterangan Diet Tipe 1 : diet ADA; Tipe 2 : diet untuk menurunkan berat badan + olahraga Agen Oral Sulfonilurea Metformin Tiazolidinedion Akarbose  sekresi insulin glukoneogenesis hepatik,  sensitivitas insulin; kontraindikasi pada gagal hati atau ginjal  sensitivitas insulin pada otot, kontraindikasi pada penyakit hati, pantau fungsi hepar merubah absorpsi karbohidrat di usus Insulin Secara umum gunakanlah kombinasi insulin kerja-lama (seperti : NPH) dan kerja-singkat (seperti : reguler). Keefektifan regimen seharusnya dipantau ketat dengan terus mengikuti kadar glukosa darah pasien Lain-lain Pompa insulin, transplantasi sel langerhans atau pankreas Pasien sebaiknya memantau kadar glukosa darahnya. Dokter seharusnya memeriksa HbATC setiap 3-4 bulan, tujuannya adalah mempertahankan kadarnya dalam batasan normal Komplikasi (dapat dikurangi hingga lebih dari 50 % melalui pengendalian kadar gula darah secara ketat dan mempertahankan kadar HbATC dalam batas normal) · Retinopati Non-proliferatif : ‘bercak dan noda’ perdarahan, eksudat protein dan cotton wool, perdarahan retina proliferatif : neovaskularisasi, perdarahan vitreus, jaringan parut, ablasio retina, buta Penatalaksanaan : fotokoagulasi · Nefropati : Mikroalbuminuria à proteinuria ± sindrom nefrotik à gagal ginjal Penebalan difus pada membran basal glomerulus atau pola nodular (Kimmelstiel-Wilson) biasanya terjadi bersamaan dengan retinopati, jika tidak ditemukan retinopati à cari penyebab lain nefropati Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Penatalaksanaan : kontrol tekanan darah secara ketat, penghambat ACE (N Engl J Med 329 : 1456, 1993 dan Lancet 349 : 1787, 1997), diet rendah protein, dialisis, atau transplantasi · Neuropati Polineuropati perifer simetrik : kehilangan sensorik distal yang simetris, parestesia, ± kehilangan kekuatan motorik Neuropati autonomik : gastroparesis, kandung kemih mengalami neurogenik, impotensi, hipotensi ortostatik Mononeuropati : defisit saraf kranial atau perifer dengan onset cepat (wristdrop, footdrop, nervus kranialis III > VI > IV) · Akselerasi aterosklerosis · Infeksi (termasuk mukormikosis) · Dermatologi; diabetikorum lipoidika nekrobiosis, lipodistrofi) KETOASIDOSIS DIABETIKUM Pencetus (51) · Defisiensi insulin (insulin deficiency) (yaitu, kegagalan memperoleh dalam jumlah cukup) · Infeksi atau inflamasi (infection or inflammation) · Iskemia atau infark (Ischemia or Infarction) · Proses intraabdominal : pankreatitis, kolesistitis, usus iskemik, dll (Intra-abdominal process) · Latrogenik : pemberian glukokortikoid (latrogenesis) Patofisiologi · Terjadi pada diabetes tipe 1 (dan sangat jarang pada diabetes tipe 2 yang berat) ·  glukagon dan insulin · hiperglikemia karena :  glukoneogenesis,  glikogenolisis, ambilan glukosa ke dalam sel · ketosis karena : ketidakmampuan menggunakan glukosa à mobilisasi dan oksidasi asam lemak,  substrat untuk ketogenesis,  keadaan ketogenik pada hepar, bersihan keton Manifestasi Klinis · Poliuria dan polidipsia Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI · Dehidrasi à  denyut jantung, hipotensi, membran mukosa kering, turgor kulit · Mual, muntah, nyeri abdomen (baik pada proses intra-abdominal atau Ketoasidosis Diabetikum itu sendiri), ileus · Pernapasan Kussmaul = cepat dan dalam (untuk mengkompensasi asidosis metabolik) dengan bau aseton · Perubahan status mental à somnolen, stuppor, koma Pemeriksaan Diagnostik ·  anion gap asidosis metabolik (dapat berkembang kemudian menjadi asidosis non-anion gap karena hilangnya keton dalam urine = keseimbangan HCO3 dan karena penatalaksanaan dengan larutan yang mengandung CI · ketosis : Å urine dan keton serum (asetoaseton terukur, namun keton yang predominan adalah b-OH-butirat, keton urine mungkin Å pada individu normal saat berpuasa) ·  glukosa serum ·  BUN dan kreatinin (dehidrasi ± artefak karena ketosis mengganggu beberapa pemeriksaan kreatinin) · pseudohiponatremia : Na terkoreksi = Na terukur + [1,6 x (glukosa terukur-100] · atau  K (bahkan walaupun kadar kalium di dalam serum meningkat, biasanya K tubuh total mengalami deplesi; PO4 · leukositosis,  amilase (sekalipun tidak ada pankreatitis) Penatalaksanaan DKA Intervensi Keterangan Singkirkan kemungkinan pencetus Infeksi, proses intra-abdominal, infark miokardium, dll Hidrasi yang agresif Awali dengan salin normal 10-14 ml/kg/jam, bergantung pada status dehidrasi dan kardiovaskularnya Insulin 10 U IV disuntikkan bolus à 0,1 U/kg/jam teruskan drip insulin hingga AG normal Apabila glukosa < 250 dan AG masih tinggi à Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI tambahkan dekstrosa ke dalam cairan IV dan teruskan insulin Apabila AG sudah normal mulailah pemberian insulin subkutan, lakukan pemberian IV dan subkutan berselingan selama 2-3 jam Penggantian elektrolit K : tambah 20-40 mEq/L cairan IV apabila serum K < 4,5 insulin akan meningkatkan masuknya K ke dalam sel à K dalam serum Pemberian K harus cermat pada pasien gagal ginjal HCO3 : ganti apabila pH < 7,0 atau jantung tidak stabil PO4 : ganti apabila < 1,0 Susunan “Lembar Pencatatan” Tipikal DKA Waktu VS UOP pH HCO3 AG Keton Glukosa K PO4 IVF Insulin Catatan : keton utama dihasilkan b-OH-butirat (bOHB), namun keton yang terukur adalah asetoasetat (Ac-Ac) Apabila DKA ditangani, bOHB à Ac-Ac, sehingga AG dapat menurun sementara keton yang terukur dapat meningkat Definisi · Hiperglikemia ekstrem tanpa ketoasidosis + hiperosmolalitas + perubahan status mental Pencetus · Sama untuk DKA + dehidrasi dan gagal ginjal. Pencetus yang mendasari terjadinya koma non-ketotik hiperosmolar mungkin lebih berat dibanding DKA Patofisiologi · Terjadi pada diabetes tipe 2 · Hiperglikemia à diuresis osmotik à dehidrasi à azotemia prerenal à  glukosa, dll Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Manifestasi Klinis · Dehidrasi dan perubahan status mental Pemeriksaan diagnostik ·  glukosa serum (biasanya > 600 mg/dL) ·  Osmolalitas serum (biasanya > 350 mOsm/L) · Tanpa ketoasidosis ·  BUN dan kreatinin; Na mungkin , , atau normal bergantung pada derajat hiperglikemia dan derajat dehidrasi Penatalaksanaan · Hidrasi agresif : baik salin normal atau ½ salin normal bergantung pada derajat volume dan deplesi H2O bebas · Insulin dosis rendah (misal, 0,05 U/kg/jam) HIPOGLIKEMIA Etiologi pada diabetikum · Kelebihan insulin, obat per oral, lupa makan, gagal ginjal ( bersihan insulin), hipotiroidisme Etiologi pada non-diabetikum ·  insulin : insulin eksogen, sulfonilurea, insulinoma, antibodi reseptor insulin atau antiinsulin ·  produksi glukosa : hipopituitarisme, insufisiensi adrenal, defisiensi glukagon, gagal hati, alkoholisme · Postprandial (setelah makan) Manifestasi Klinis (glukosa < ~ 55 mg/dl) · SSP : sakit kepala, perubahan penglihatan dan status mental, kelemahan · Otonom : diaforesis, palpitasi, tremor Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Langkah kerja · 72 jam puasa dan dengan glukosa darah yang terpantau · BUN, kreatinin, uji fungsi hepar, uji fungsi tiroid · Pada saat hipoglikemik : insulin, peptida C ( pada insulinoma dan sulfonilurea, ¯ dengan insulin eksogen), kadar sulfonilurea, dan IGF-II · Antibodi anti-insulin  GANGGUAN LIPID  Hiperlipidemia Primer Gangguan Keterangan Hiperlipidemia gabungan familial  TG dan/atau kolesterol karena  apo B dan  VLDL yang berhubungan dengan obesitas dan diabetes Hipertrigliseridemia familia  sintesis TG, berhubungan dengan obesitas dan diabetes Hiperkolesterolemia familial  kolesterol karena reseptor LDL yang rusak Disbetalipoproteinemia familial  TG dan kolesterol karena apo E yang rusak Hiperpilidemia Sekunder Kategori Gangguan Endokrinopati Hipotiroidisme ( LDL,  TG) Diabetes ( TG, HDL) Sindrom Cushing ( LDL) Penyakit Ginjal Uremia ( TG) Sindrom Nefrotik ( LDL) Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Penyakit Hati Hepatitis akut ( TG) Sirosis biliaris primer ( LDL) Gaya Hidup Obesitas ( TG, HDL) Alkoholisme ( TG) Merokok ( HDL) Pil kontrasepsi oral ( TG) Gaya hidup yang menetap ( HDL) Pedoman NCEP Risiko klinis Mengawali Diet Mengawali terapi obat Tujuan terapi 1 Faktor risiko terhadap PJK > 160 mg/dL > 190 mg/dL < 160 mg/dL ³ 2 faktor risiko terhadap PJK > 130 mg/dL > 160 mg/dL < 130 mg/dL PJK Å > 100 mg/dL > 130 mg/dL < 100 mg/dL Pedoman diet, obat, dan tujuan terapi berdasarkan pada LDL. Faktor risiko : laki-laki ³ 45 atau perempuan ³ 55, merokok, hipertensi, diabetes, fungsi hati terganggu, HDL < 35. Apabila HDL > 60 kurangi 1 faktor risiko (JAMA 269 : 3015, 1993) Penatalaksanaan Obat LDL HDL TG Efek Samping Statin ¯ 20-60 %  5-10 % 10-20 % Hepatitis Miopati Resin ¯ 20 %  5 %  ? Distres saluran cerna Fibrates 5 %  10-20 % 30 % Distres saluran cerna Miopati (apabila dengan statin) Asam Nikotinik 10-20 %  15-20 % 40 % Faushing (kemerahan), pruritus Distres saluran cerna,  glukosa, gout, hepatitis GERIATRI DAN GERIONTOLOGI DI INDONESIA PENDAHULUAN Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Kata geriatrics utuk pertama kali diberikan oleh seorang dokter Amerika, Ignaz Leo Vaschers pada tahun 1909. geriatric (geriatrics= geriatric medicine) berasal dari kata – kata geros (usia lanjut) dan iateria (=mengobati). Geriatri merupakan cabang gerotologi. Gerontology ini dibagi menjadi : A. Biology of aging B. Social gerontology dan C. Geriatric medicine, yang mengupas problem – problem klinis orang – orang usia lanjut. : Definisi Geriatri medicine yang banyak dipakai adalah sebagai berikut : Geriatrics is the branch of general (internal) medicine concerned with the clinical, preverentive, remedial and social aspects of illiness in the elderly. DEMOGRAFI Menurut laporan data penduduk internasional yang dikeluarkan oleh Bureau of the Census USA (1993) dilaporkan bahwa Indonesia pada tahun 1990 sampai 2025 akan mempunyai kenaikan jumlah usia lanjut sebesar 414%, suatu angka paling tinggi diseluruh dunia. Sebagai perbandingan. Kenya 347%, brasil 255%, India 242%, cina 220%, jepang 129%, jerman 66%, dan swedia 33%. Pertambahan penduduk usila di Indonesia dan brasil diproyeksikan naik masing – masing melebihi 20 juta orang, sedangkan kenaikan kira – kira setengah jumlah tersebut terjadi masing – masing di Meksiko, Nigeria dan Pakistan. Indonesia diharapkan beranjak dari urutan ke-5 atau ke-6 pada tahun 2020 sebagai Negara yang banyak populasi usilanya (WHO, 1989). Bahkan dengan terpecahnya USSR, indnesia akan menduduki urutan ke-4 atau ke-5 KESEHATAN GOLONGAN USIA LANJUT Golongan usia lanjut menggunakan dana perawatan kesehatan lebih banyak dibandingkan dengan orang – orang muda, sehingga mengakibatakan kenaikan biaya pelayanan kesehatan, baik berupa perawatan kesehatan di rumah sakit ataupun perawatan mereka dip anti – panti rawat usia lanjut bagi yang mengidap penyakit kronik. Kesehatan dana status fungsional seorang usia lanjut ditentukan oleh resultante factor – factor fisis, psikologis dan social-ekonomis orang tersebut. Penting kiranya dicatat pula saebanyak 13 I yang dikemukakan oleh Solomon dkk (UCLA conference, 1988) yaitu kemunduruan dan kelemahan yang biasanya diderita oleh kaum usila, seperti yang terlihat pada table 1 yang ditulis menurut aslinya dalam bahasa inggris. Tabel 1. kemunduran dan kelemahan yang diderta usila (13 i) 1 immobility 2 instability (falls) 3 intellectual impaiment (dementia) 4 isolation (depression) 5 incontinence 6 impotence 7 immuno-defeciency 8 infection 9 inanion (malnutrition) 10 impaction (constipation) 11 latrogenesis 12 insomnia 13 impairment of: · vision Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI · hearing · taste · smell · communication · convalescence · skin integrity DATA PENYAKIT PADA USIA LANJUT DI INDONESIA Pola penyakit pada orang berusia 55 tahun : Penyakit Per 100 pasien - Penyakit kardiovaskular - Penyakit muskuloskeletal - Tb paru - Bronkitis, asma - Infeksi saluran napas akut - Gigi, mulut dan saluran cerna - Penyakit syaraf - Infeksi kulit - Malaria - Infeksi lain 15,7 14,5 13,6 12.1 10,2 10,2 5,9 5,2 3,3 2,4 Dari penelitian bersama WHO-SEAR, laporan Indonesia menyatakan mengenai macam penyakit dan kesehatan orang lanjut usia (60 tahun keatas) sebanyak 1203 orang yang dipilih secara random didesa dan kota. Hasil evaluasi activity of daily living (ADL) fisik menunjukan bahwa lebih dari 95 % responden dapat dan mampu menolong diri sendiri. Hal ini tak terbedakan antara pria dan wanita, tetapi bertambahnya usia berpengaruh nyata terhadap kemampuan tersebut. Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI GERIATRI DAN GERIONTOLOGI PENCEGAHAN Geriontologi adalah ilmu yang mempelajari proses menua yang lahir dari kesadarn manusia atas adanya fenomen kelahiran, kemunduran dan kematian. Upaya pencegahan primer ditunjukan pada timbulnya risiko untuk mendrita sakit, misalnya dengan jalan imunisasi; pencegahan sekunder berupa upaya deteksi dini yang diikuti dengan terapi yang sesuai misalnya pada, hipertensi; pencegahan tersier dimaksudkan untuk memperlambat jalan penyakit agar dapat mengurangi hendaya (disability) yang timbul, memerlukan uji penyaringan (screening test) dan uji pengkajian (assesment test) untuk identifikasi masalah.uji penyaringan adalah suatu prosedur uji pemeriksaan untuk identifikasi secara cepat resico – resico ke arah kondisi kronik dari yang ringan sampai kepada yang berat. Sebagai contoh, pemeriksaan mamografi untuk mengtahui apakah diperlukan tindakan biopsi. Pengkajian adalah pemeriksaan yang lebih menyeluruh dan terinci untuk penyusnan diagnosis, rencana pengobatan yang rasional dan saran – saran lain yanng diperluakan baik dibidang psikologi, sosial, ekonomi, maupun lingkungan serta perawatan lanjutan. Kondisi kronik Upaya Pencegahan Hipertensi Penyakit jantung koroner dan strok Kanker Penyakit paru – paru obstruktif kronik Diabetes melitus tipe-2 Osteoporosis Osteoartritis Kolelitiasis Kurangi konsumsi garam dan kurangi kelebihan berat badan Pengobatan hipertensi Hentikan merokok Kurangi kelebihan berat badan Kurangi kosumsi lemak jenuh/kolesterol Latihan aerobic Hentikan merokok Kurangi konsumen lemak Kurangi konsumen makanan pengawet garam/asap Hentikan merokok Turunkan kelebihan barat badan Kurangi konsumen lemak jenuh/kolesterol Ikuti diet DM dengan teratur Olah raga teratur Hentikan merokok Hindari konsumsi alcohol berlebihan Makanan tinggi kalsium Turunkan kelebihan berat badan Turunkan kelebihan berat badan 1. Imunisasi Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Imunisasi merupakan pencegahan primer dan sangat penting dalam menurunkan angka morbiditas usia lanjut. Bebrapa penyakit yang perlu vaksinasi antara lain tetanus dengan menggunakan toksoid tetanus, influenza bagi mereka yang mempunyai kondisi kesehatan risikp tinggi seperti pasien penyakit paru kronik, penyakit jantung, ginjal, dan penyakit – penyakit metabolik1 2. Pencegahan Beberapa Penyakit a. Hipertensi Pengobatan hipertensi yang terdapat pada usia lanjut dapat menurunkan komplikasi hipertensi secara nyata, misalnya strok. Bahkan penurunan tekanan darah sampai 160/90 mmHg sudah dapat menurunkan angka kematian sampai dengan 27%. b. Kanker payudara Deteksi ini adanya kanker payudara dapat dilakukan dengan cara yang lazim dipergunakan yaitu mulai dengan perabaan sendri, pemeriksaan oleh tenga medis, ataupun melalui mamografi. c. Kanker leher rahim Diperkirakan sekitar 40% kematian akibat kanker keher rahim diderita oleh usia lanjut. Tingginya angka tersebut kemungkinan disebabkan oleh kebiasaan melakukan Pap Smear secara berkala pada usia yang lebih muda belum atau tidak pernah dikerjakan. d. kanker kolon deteksi dini kanker jenis ini termasuk tidak mahal yaitu dengan pemeriksaan adanya darah pada tinja. Anjuran pencegahan dapat melalui diet dengan konsumsi rendah lemak, banyak serat, buah – buahan cukup, ada menghindari rokok. 3. Kelemahan Organik Untuk mengetahui adanya kelemahan organic (impairment) dilakukan pemeriksaan petugas medis dan secara subyektif menurut pengalaman yang bersangkutan sendiri. Kelemahan pendengaran dapat menyebabkan pasien berperilaku mirip demensia atau depresi. Kelemahan umum pada usia lanjut yang tidak spesifik pada satu organ lazim disebabkan oleh kondisi malnutrisi yang berlarut – larut, kemungkinan karena penyakit kronik, keganasan atau perawatan yang tidak memadai. Kebalikan dari kurang energi kronik adalah obesitas atau kegemukan yang dapat mengundang factor risiko yang nyata seperti hipertensi, diabetes mellitus tipe 2, kolelitiasis,dll. 4. Faktor – factor risiko karena Pengaruh Lingkungan Sosial e. Merokok Telah banyak diteliti akibat yang merugikan kesehatan karena merokok, tercatat bebrapa kondisi seperti penyakit kanker paru kronik, penyakit jantung koroner, kanker paru berhubungan dengan kegiatan merokok. f. Alkohol Ketergantungan pada minuman beralkohol di kalangan usia lanjut disebut kurang dari 5% dari pada kelompok usia muda.kampanye untuk menhindari minuman tersebut perlu ditigkatkan karena adanya problem fisis dan psikiatrik yang ditimbulkan seperti antara lain malnutrisi, sirosis hati, kardiomiopati, gastritis atrofikatrikan dan dana untuk yang berat dapat menurunkan kemampuan kognitif. g. Jatuh (Falls) Penyebab jatuh sangat kompleks mulai dari gangguan system visual, auditif- Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI vestibular, saraf, kardiovaskular, metabolic, musculoskeletal, gangguan psikologis, efek samping obat dan lain – lain. PROSES MENUA, TEORI DAN IMPLIKASI KLINISNYA PENDAHULUAN Proses menua adalah sebuah proses yang mengubah orang dewasa sehat menjadi rapuh disertai dengan menurunya cadangan hampir semua sistem fisiologis dan disertai pula dengan meningkatnya kerentanan terhadap penyakit dan kematian. Proses menua normalnya merupakan suatu proses yang ringan (benign), ditandai dengan turunya fungsi secara bertahap tetapi tidak ada penyakit sama sekali sehingga kesehatan tetap terjaga baik. Sebaliknya proses menua patologis ditandai dengan kemunduran fungsi organ sejalan engan umur tetapi bukan akibat umur tua, melainkan akibat penyakit yang muncul pada umur tua. Tiga hal fundamental yang berkaitan dengan kesamaan dalam pola proses menua pada hampir semua spesies mamalia. Kedua, laju (rate) proses menua ditentukan oleh gen yang bervariasi antarspesies. Ketiga, laju proses menua tersebut dapat diperlambat oleh restriksi kalori, paling tidak pada hewan tikus. Banyak hal dimasa lalu yang diduga merupakan akibat proses menua ternyata berhubungan dengan proses penyakit yang faktor – faktor risikonya sebenarnya dapat dimodifikasi seperti diet, merokok, alkohol, dan pajanan lingkungan. TEORI PROSES MENUA Dari berbagai teori yang dikemukakan untuk menjelaskan proses menua, sebagian besar dapat dikelompokan ke dalam 2 kelompok, yakni, teori genetik dan teori akumulasi kerusakan. Teori genetika mengasumsikan bahwa rentang hidup (life span) dan laju proses menua dikontrol oleh informasi di dalam meolekul DNA di dalam gen. Teori akumulasi kerusakan menyatakan bahwa laju proses menua ditentukan oleh kerusakan dalam molekul DNA, RNA, dan sintesis protein spesifik, enzim, dan juga mutasi somatik akibat terpajan terhadap berbagai pengaruh yang merusak seperti radiasi ion. Toeri proses menua dapat pula dikelompokan berdasarkan tingkat organisasi biologi didalam suatu organisme. Teori organ didasarkan pada fakta bahwa perubahan fungsi organ sejalan dengan usia tua. Ide dasar teori ini adalah sebuah organ tunggal bertanggung jawab terhadap proses menua organisme secara keseluruhan. Diusulkan bahwa sistem imun atau saraf sentral mungkin memainkan peran penting. Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI PROSES MENUA BIOLOGIS Proses Menua Organisme PERUBAHAN BERBAGAI ORGAN AKIBAT PROSES MENUA NORMAL Perubahan yang berhubungan dengan proses menua normal sebagian besar merupakan akibat kehilangan atau penurunan secara bertahap. Kehilangan tersebut sebenarnya sudah dimulai sejak awal usia muda, tetapi padfa sebagian besar system organ, kehilangan tersebut baru bermakna secara fungsional setelah terjadi kehilangan yang besar. Perubahan fungsi kardiovaskular juga berkaitan dengan meningkatnya usia. Respons terhadap latihan jasmani berubah bersamaan dengan usia, meliputi denyut jantung yang menurun, volume ventrikel kiri akhir sistolik menigkat, dan berkurangnya ejection fraction ventrikel kiri. Presbiesofagus adalah berkurangnya Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI motilitas esophagus akibat proses menua yang menyebabkan menurunya peristaltic usus. Namun, gangguan motilitas yang berat hanya terdapat pada pross yang patologis. IMPLIKASI KLINIS PROSES MENUA Berbagai perubahan fisiologis terkait usia tentu memberikan implikasi klinis yang penting untuk dipahami. Adanya variasi antara individu merupakan gambaran penting proses menua yang perlu mendapat perhatian secara menua yang perlu mendapat perhatian secara seksana. Akibatnya, pendekatan algoritma, teknik triase, dan strategi pemeriksaan diagnostic tidak mungkin ditentukan hanya berdasarkan usia semata. Implikasi kedua proses menua adalah bahwa system biologi sangat sedikit dipengaruhi oleh usia semata, melainkan lebih sering dipengaruhi oleh gaya hidup seperti meokok, aktivitas fisis, asupan nutrisi, dan kondisi ekonomi. Melalui pengkajian yang holistic akan dapat ditetapkan berbagai factor predisposisi dan factor pencetus, serta hendaya yang dapat merupakan masalah utama atau pemberatan yang harus segera diselesaikan karena dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius dan fatal pada pasien usia lanjut. Dalam pengelolaan pasien geriatric, perlu diingat bahwa kemampuan individu usila untuk befungsi tergantung pada kombinasi karakteristik usila ( misalnya motivasi, toleransi terhadap nyeri ) dan tempat di mana usila diharapkan berfungsi. Tidak kalah pentingnya adalah berbagai upaya pencegahan seperti gaya hidup yang baik dan benar, nutrisi yang baik dan seimbang, tidak merokok, lingkungan yang sehat, yang seyogyanya sudah dimulai sendiri mungkin sebelum seseorang memasuki usia lanjut, bahkan sejak kanan – kanan agar proses menua dapat berlangsung dengan normal. Bila kondisi tersebut dimungkinkan dapat diharapkan seseorang dapat menjalani masa tuanya dengan kualitas hidup yang lebih baik. ( Ilmu Penyakit Dalam UI ) PSIKOMATIS SALURAN PERNAPASAN KELAINAN DIFUSI Sebab-sebab berkurangnya kapasitas difusi 1. Blok kapiler-alveolus: - Edema paru - Fibrosis paru - Lesi infiltrtaif misalnya sarkoidosis 2. Berkkurangnya daerah tempat berdifusi - Emfisema - Emboli paru multipel Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Daya penyesuaian paru Merupakan ukuran terhadap elastisitas paru. Daya penyesuaian paru menjadi berkurang bila paru-paru menjadi kaku abnormal karena kongesti vena paru atau terdapatnya lesi infiltratif atau fibrotik pada paru. ANALISA GAS DARAH Nilai-nilanya mesti disesuaikan dengan nilai normal yang diharapkan pada masing-masing subjek misalnya pada bayi, orang tua, wanita hamil. Hipoksia, adalah defisiensi oksigen pada suatu tempat tertentu. Hipoksemia adalah defisiensi oksigen dalam darah. Sebab-sebab hipoksemia 1. Kelainan paru-jantung - Hipoventilasi - Rasio ventilasi/perfusi abnormal - Gangguan difusi - Shunt vena ke arteri 2. Berkurangnya pO2 dalam darah udara yang diinspirasikan misalnya pada tempat yang tinggi. 3. Berkurangnya hemoglobin aktif misalnya pada keracunan gas arang batu. Dispnea adalah kesadran seseorang akan perlunya pertambahan usasaha untk bernafas. Hipoventilasi adalah berkurangnya ventilasi paru menyebabkan hiperkapnia. Pernapasan kussamaul (lapar akan udara): Terjadi pada asidosis (uremia, diabetes militus) karena rangsangan terhadap pusat pernapasan. DEFISIENSI-EFISIENSI PADA PENYAKIT PARU YANG SERING DIJUMPAI Bronkhitis kronis simpleks Pertambahan volume sekresi bronkial yang bersifat seperti lendir secara kronis atau berulang dan cukup unutk menyebabkan ekspektorasi. Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Bronkitis kronis obstriktif Bronkitis yang disertai penyempitan ang luas dan menetap dari saluran napasintrapulmonar, paling tidak pada saat ekspirasi, yang menyebabkan bertambahnya hambatan terhadap alian udara. Asma Ditandai oleh berbagai tingkat dispnea, sering mendadak, disebabkan oleh penyempitan yang luas dari bronkiolus. Emfisema Ditandai oleh membesarnya rongga udara distal dari bronkiolus terminal, dengan destruksi dinding alveoli. SALESMA AKUT (THE COMMON COLD = ACUTE CORYZA) Infeksi virus akut oleh salah satu dari 30 rhinovirus yang berbeda maupun leh banyak tipe dari adenovirus. Karena itu imunitas sulit diperoleh karena besarnya varian organisme. Selain dari itu, virus-virus juga berubah status antigenitasnya sewaktu menular kepada penjamu (host) lain. Ditandai oleh: Pembengkakan mukosa hidung dan nasofarings Demam Sakit kepala Bersin-bersin Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Pengeluaran ingus dan hiddung tersumabat Batuk Malaise Mata merah dan berair Infeksi bakteri sekunder terjadi setelah beberapa hari, merubah sekret yang tadinya bening menjadi muko-purulen. Komplikasi yang sering terjadi adalah laringitis, trakeobronkitis dan otitis media. Pengobatan Tirah baring, minum-minuman hangat, antiseptik-analgesik (misalnya aspirin), dapat meringankan. Antihistamin denagn pseodoefedrin (misalnya Aktifed) ntuk meringankan sekresi hidng kadang-kadang berguna. SINUSITIS AKUT Sering merupakan kelanjutan dari selesma. Disebabkan karena infeksi lapisan mukosa dari sinus paranasal. Sekresi muko-purulen yang kental memenuhi rongga-rongga itu yang memang tidak memiliki saluran yang baik. Timbul rasa nyeri pada sinus yang terkena dan demam yang tidak begitu tinggi. Pada sinusitis maklsilaris, gigi molar maksilaris mungik mensderitaa periodontitis. Pengobatan Antibiotik, untuk membrantas infeksi sekundr. Antipiretik-analgesik, sedotan hidung yang mengandung obat, dan tetes hidung yang mengandung efedrin untuk mengkerutkan selaput lendir yang bengakak dan untuk mempermudah pembuangan lendir dari sinus. Kadang-kadang diperlukan tindakan bedah. SINUSITIS KRONIS Biasanya didahului oleh sinusitis akut. Terrdapat pengeluaran lendir yang muko-purulen terus menerus ke dalam hidung atau nasofarings (post-nasal drip) dan sering disertai sakit kepala. Pengobatan Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Antibiotik efedrin tetes hidng dan mugkin, tindakan operatif untuk mempermudah pengeluaran sekret dari sinus-sinus. DEMAM SERBUK SARI (Hay Fever = Rinitis Alergik) Respon peradangan yang bersifat alergik pada mukosa hidng. Biasanya yang menjadi antigen adalah serbuk-serbuk sari rumput, bunga-bungaan atau dari pohin-pohonan. Jadi kejadian penyakit akan lebih tinggi pada musim semi dan pada awal musim panas. Pengobatan Antihistamin per oral atau sodium cromoglycate yang dihisap. Program desensitisasi denagn suntikan-suntikan intra-dermal dari ekstrak serbuk sari kadang-kadang bermanfaat pada kasus-kasus tertentu. TONSILITIS Infeksi pada tonsil (kumpulan jaringan limfoid yang dilapisi epitel dalam tenggorokan). Terdapat demam yang bervariasi, sakit tenggorokan dengan rasa nyeri pada waktu menelan, mungkin sakit kepala dan muntah, terutama pada anak-anak. Tonsil membesar dengan eksudat seperi krim dan kelenjar getas\h bening leher anterior membesarf. Sering disbabkanoleh virus. Penyebab infeksi bakteri yang penting adlah oleh streptokok beta-hemolitik grup A dari Lancefield, yang juga dapat menyebabkan skarlatina (scarlet fever), glomerulonefritis akut dan demam rematik. Diagnosis dibuat dengan biakan dan tes kepekaan anti biotik dari bakteri yang diperoleh dari sediaan apus tenggorokan. Pengobatan Untuk infeksi oleh sterptokok beta-hemolitik, suntikan intra muskular penisilin digunakann untuk sredikasi organisme dan untuk mencegah komplikasi-komplikasi seperti nefritis dan demam rematik. Tirah baring, obat kumur-kumur, dan antipiretik analgesik dapat meringankan rasa sakit. SAKIT TENGGOROKAN (Sore Throat) Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Ini adalah gejal umum dari infeksi saluran napas bagian atas. Penyakit-penyakit khusus yang penting adalah: 1. tonsilitis virus atau streptokok 2. Demam kelnjar (Glandular fever = Mononukleosis infektil) Penyakit virus ini ditandai oleh demam yang tidak terlalu tinggi, malaise, sakit tenggorokan dan limfadenopati yang nyata. Terdapat sel-sel darah putih yang abnormal yang khas pada sediaan apus darah. Fase akut berlangsung selama 2-3 minggu tetapi mungkin masa penyembuhannya agak lama. Pembesaran hati dengan ikterus dapat terjadi, demikian pula pembesaran limpa dan ruam kulit. Penyakit ini dapat memberikan reaksi serologi WR positip palsu. 3. Diskrasia darah Terdapat gangguan fungsi atau kekurangan jumlah sel-sel darah putih yang menyebabkan terjadinya infeksi dimana-mana. Tenggorokan sering menjadi sasaran pertama seperi misalnya pada lekemia akut, anemia aplastik, dan agranulositosis. 4. Angina Vincent Suatu bentuk yang jarang dari faringitis ulserartif yang disebabkan oleh Borellia vincent dan Bacillus fusiformis yang terdapat diintifikasi dari sedian apus tenggorokan yang diwarnai. Tetapi yang efektif adlah dengan metronidazole per oral. Bila terjadi obstruksi jalan napas, perlu perawatan segera dirumah sakit. 5. Difteria Tenggorokan dan tonsil terinfeksi oleh Corynebacterium diptheriae, yang dapat diidentifikasi dari sediaan apus tenggorok yang diwarnai. Terdapat selaput kelabu yang lengket, menutupi tonsil (membran difterik). Jika menngenai laring, dapat terjadi kematian akibat tercekik. Penyakit yang serius ini sekarang jarang terlihat di inggris oleh karena adanya program imunisasi. Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI LARINGITIS Laringitis akut sering menyertai infeksi saluran napas bagian atas termasuk selsma. Batuk kering yang terasa nyeri dengan suara parau dan hilangnya suara. Laringitis kronik: Infeksi kronik pada laring misalnya oleh tuberkulosis atau sifilis jarang terjadi. Penyebab suara yang serak adalah karisnoma laring atau kelumpuhan pita suara. Untuk menegakan diagnosism, diperlukan pemriksaan dengan laringoskop. Pengobatan Mengistirahtkan pita suara dan dengan pemberian obat antinyeri biasanya telah mencukupi. Pada infeksi bakteri, antibiotik yang tepat harus diberikan. OBSTRUKSI LARING Lebih sering pada anak-anak karean laringnya sempit. 1. Inhalasi benda asing misalnya gigi, permen,. 2. Spasme laring—karena adanya iritasi dari misalnya gas yang bersifat merangsang. Beberapa obat cenderung dapat menyebabkan spasme laring misalnya eter atau golongan barbiturat yang disuntikan intra vena. 3. edema—baik ole3h peradangan atau alergi (angio edema). 4. Difteria Pengobatan Mengeluarkan benda asing. Tindakan segera mungkin dibutuhkan untuk melancarkan jalan napas di sebelah bawah tempat terjadinya obstruksi (trakeostomi). Untuk spasme laring, berikan oksigen dan jika mungkin menghilangkan penyebabnya. Pada peradangan, hilangkan edeam dengan steroid dan terapi antibiotik jika perlu. PENYAKIT-PENYAKIT PADA BRONKUS Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI BATUK Gejala yang umum terapat pada penyakit bronkus dan trakea. Sifat-sifat dan kwalitas dahak yang dihasilkan, berguna untuk menegakan diagnosis. Batuk kering Mungkin karean gelisah atau kebanyakan m,erokok. Juga terdapat pada radang paru atau tuberkulosis dini, bronkitis akut karena virus, misalnya influenza atau salesma. Batuk produktif Mungkin menunjukan adanya infeksi. Terdapat campuran berbagai lendir dan nanah. Hal ini merupakan tanda bronkitis kronik atau fase akhir dari bronkitis akut. Bronkiektasis sering menghasilkan sputum muko-purulen yang berbau. Pada semua keadaan radang ini, pembuluh-pembuluh darah dapat menjadi rusak dan pada dahak akan ada bercak-bercak darah,(hemoptisis) . Penyakit jantung pada sebelah kiri (misalnya stenisis mitral dan gagal jantung) sering pula menyebabkan batuk. Edema paru disebabkan oleh karena gagal jantung kiri, dihubungkan dengan banyak sputum berbusa dan berwarna merah jambu oleh adanya darah. Bronkitis akut Merupakan penyakit yang umum dan dapat menyerang segala umur. Sering setelah influenza, selesma, campak atau batuk rejan. Batuk mula-mula kering dan tidak produktif.lama kelamaan batuk menjadi produktif disertai dengan sputum muko-purulen berwarna kuning. Obstruksi bronkus yang terjadi menyebabkan suara napas seperti bunyi siulan. Ronki kering atau basah dapat terdengar denagn stetoskop. Pada orang tua atau lemah, dapat berkembanng menjadi bronkopneumonia. Hal ini dapat menyebabkan hipertensi pulmonal dan selanjutnya kegagalan jantung kanan. Pengobatan Tirah baring, obat yang mengandung kodein untuk mengatasi batuk-batuk dan antibiotik seperti trimetoprim—sulfametoksazol untuk membrantas infeksi bakteri sekunder. Bronkitis Kronik Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Disebabkan oleh merokok, polusi udara, dan hawa yang dingin serta lembab. Biasanya yang terkena adalah orang pada usia pertengahan atau orang-orang tua. Terdapat gejala batuk, dan cepat lelah dengan dispne (sesak napas). Sering terjadi eksaserbasi akut. Dahak mungkin bersifat mukoid pada tahap kronik tetapi pada fase akut disertai nanah. Jelas terdapat 'wheezing' yang disebabakan oleh obstruksi bronkus dan spasme bronkus (asma). Ronki kering dan ronki basah terdengar dengan stetoskop. Bronkopneumonia dan penyakit jantung-paru merupakan komplikasi-komplikasi yang paling sering terjadi. Pengobatan Ekspektoan ntuk menghilangkan sekret yang kentalo, disertai dengan bronkodilator (misalnya aminofilin) per oral atau melalui inhalasi untuk menghilangkan spasme bronkus. Sputum yang purulen merupakan indikasi untuk pemberian antibiotik (misalanya ampisilin atau amoksisilin). Fisioterapi untuk mempermudah pengeluaran sekret dapat membantu. Penyakit kronik dan sepsis pada rongga mulut harus dihilangkan. Asma Asma ditandai oleh serangan-serangan sesak napas (dispne) hebat yang disertai 'wheezing'. Spasme dari bronkus menyebabkan ekspirasi menyebabkan ekspirasi sukar tetapi inspirasi realtif tidak berpengaruh. Jadi paru-paru penuh denagn udara, dan menyebabkan dada berbentuk seperti tong (barel-shaped). Usaha sekuat-kuatnya yang dilakukaan pasien untuk mengosongkan paru-paru, membuat pasien menjadi lelah. Serangan-serangan timbul secara mendadak dan dapat berlangsung selama 1jam atau lebih. Diantaa waktu serangan pasien mungkin merasa sehat, tetapi bila penyakitnya tealh lama mungkin terjadi infeksi atau emfisema. Penyakit ini sering telah mulai sejak masa anak-anak. Faktor-faktor yang mungkin amat mempengaruhi: 1. Infeksi cabang-cabang bronkus 2. Alergi terhadap debu, serbuk sari atau bulu binatang dapat merupakan faktor pencetus pada orang-orang yang peka. Suntikan desensitisasi mungkin ada gunanya. Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI 3. Faktor psikologik seperti ansietas atau sters. Serangan-serangan yang hebat dan berlangsung lama (satatus asmatikus) dapat menyebabkan sianosis. Mungkin terjadi penurunan kesadaran bahkan kematian. Seranganserangan akut semacam itu diobati denagn steroid atua bronkodilator intra vena, seperti aminofilin. EMPISEMA Disini paru-paru kehilangan elastisitasnya akiabt infeksi yang berulang dan terjadinya jaringan fibrotik dari epitel paru yang mengalami kerusakan. Dinding alveoli memcah dan membentuk rongga udara yang lebar. Sering kali dihubungkan dengan bronkitis kronis dan asma.akibat dari fibrosis dan hilangnya epitel alveoli, maka masuknya oksigen dari paru-paru kepembuluh darah paru, terganggu. Jadi terdapat pengurangan kapasitas paru dari pasien disertai dengan sesak napas. Bronkopneumonia sering terjadi pada paru-paru yang rusak seperti itu. Pengbatan Fisioterapi untuk memperbaiki ventilasi paru-paru dan mengeluarkan benda-benda mukoid. Infeksi saluran napas akut memerlukan pengobatan denagn antibiotik. Emfisema sering menjadi progresif dan rentan terhadap pengobatan. Penyebab emfisema Setempat 1. Kongenital 2. sebagai kompensasi akibat adanya paru, jaringan parut atau reseksi paru 3. oklusi bronkus sebagian: - benda asing - neolasma - limfadenopati peribronkial menyeluruh Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI 1. idiopatik ('primer') 2. sekunder dari bronkitis kronik---- asma kronik atau pneomokoniosis 3. senil (fisiologis) 4. jarang-jarang bersifat fanilial (kadang-kadang disebabkan oleh defisiensi anti-tripsin). SUMBATAN PADA BRONKUS Dapat terjadi melalui salah satu dari 3 kemungkinan (seperti pada saluran obstruksi pada oragan berongga): 1. Sumbatan pada lumen Dapat karena terhirupnya benda asing misalnya gigi, permen, atua darah. Makanan atau muntahan dapat terhirup oleh pasien yang tidak sadar. Benda asing seperti gigi biasanya tersangkut pada bronkus sebelah kanan karena bronkus kanan lebih vertiakl posisinya dibanding dengan yang kiri. 2. Pembengkakan dinding bronkus Penyebab paling sering adalah kerisnoma bronkus 3. Lesi desak ruang (space accupying lesion) diluar bronkus misalnya pembesaran kelanjar getah bening atau aneurisma aorta. Komplikasi sumabtan pada bronkus 1. kolaps sebagian paru Udara pada bagian distal dari obstruksi diabsorpsi ke dalam darah, dan bagian paru itu tidak terisi udara kembali pada waktu bernapas. Jiak bagian tersebut cukup besar, maka akan terjadi dispne dan sianosis. Jika kecil, mingkin tanpa gejala. 2. Infeksi mungkin timbul pada bagian paru yang tidak mendapat ventilasi 3. Pembentuakan abses dapat terjadi setelah terjadinya infeksi, karena tidak memungkinkan drainase. 4. Bronkietasis terjadi sebagai akibat campuran dari obstruksi dengan infeksi yang menyebabkan bronkus kecil yang menjadi lemah, berdilatasi membentuk tonjolan seperi kantung. Pengobatan Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Menghilangkan obstruksi dengan pembedahan. Terapi dengan antibiotik diberikan dan apabila ada abses diperlukan drainase dengan tindakan bedah. BRONKIEKTASIS Dilatasi bronkus, biasnya disertai dengan pernanahan bronkus yang terjadi berulang-ulang. Patogenesis Tarikan yang kuat kearah luar terhadap bronkus dan melemahnya dinding bronkus karena peradangan, merupakan sebab yang terpenting. Penyebab 1. Infeksi -Bronkiolitis pada bayi -Campak atau batuk rejan pada anak-anak -Setelah kolaps bronko-pneumonik pada orang dewasa -Sering terjadi pada TB post-primer, tetapi di apeks, karena itu infeksi sekunder jarang terjadi. 2. Stenosis atau okulasi bronkus -Adenoma atau karisnoma -Benda asing atua serangan asma -Limfadenopati 3. Aspergilosis 4. Mukovisidosis 5. Bawaan 6. Banyak kasus yang idiopatik Gambaran klinik 1. Gejala kalsik—batuk dengan banyak sputum yang purulen, terutama pada perubahan posisi. Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI 2. Tanda kalisk—krepitasi kasar setempat yang menetap. 3. Mungkin asimotomatik 4. Malaise, demam intermiten, halitosis 5. Kehilangna berat badan atua k egagalan pertumbuhan. 6. Dispne, sianosis atua 'clubbing' 7. Batuk darah (bronkiektasis kering') 8. Tanda-tanda kolaps atau fibrosis 9. Sering terjdi bersamaan dengan sinusitis. Komplikasi 1. Radang par-paru yang terjadi berulang-ulang sete;ah infeksi saluran napas bagian atas. 2. Radang selaput paru (pleuritis) kering yang timbul berulang 3. Batuk darah berat 4. Abses paru, empiema atua abses otak 5. Kor pulmonale 6. Amiloidosis RADANG PARU-PARU (PNEUMONIA) Klasifikasi anatomik 1. Lobar (lobus) Disebabkan oleh organisme virulen seperti pneumokokus epidemik (misalnya tipe 3) stafilokokus aureus atau friedlander (klebsiela) 2. Segmental (pneumonia aspirasi benigna) Disebabkan oleh organisme bervirulensi rendah. Sering terjadi setelah infeksi saluran napas bagian atas. 3. Lobullar ('bronkopneumonia' jika nilateral) Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Terjadi pada bayi-bayi dan orang-orang tua atau penderita yang lemah. Disebakan oeh Haemophilus influenzae, 'carrier' pneumokok, sterptokok, TBC. Klasifikasi etiologik 1. infeksi 2. alergi 3. zat kimia 4. agen fisik Dalam mencari penyebab radang paru-paru, harus diingat kemungkinan akan: 1. Adanya penyakit paru-paru sebelumnya misalnya karsinoma bronkus, bronkiekatsis 2. Radang paru karena inhalasi 3. Adanya penyakit sistemik yang merupakan predisposisi seperti diabetes, sirosis atau agranulositosis 4. Benda asing yang tak tampak pada sinar tembus (isalnya kacang) Tanda-tanda obstruksi disfus saluran napas dan distensi paru 1. Inspeksi -Bertambahnya diameter AP dada -Pencekungan fosa supra-kalvikular selama inspirasi -Vena jugularis terisi selama ekspirasi 2. Palpasi -Terpakainya otot-otot tambahan (selama bernapas) -Waktu inspirasi trakea menurun -Gerakan paradoks dari tepi tulang iga 3. Perkusi Keredupan jantung dan hati berkuang 4. Auskultasi Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Berkurangnya suara napas dan waktu ekspirasi paksa melebihi 4 detik TUBERKULOSIS Bakteriologi Disebabkan olehorganisme berbentuk batang, Mycobacterium tuberkulisis. Bakteri itu dapat idup untuk jangka waktu yang lama dalam keadaan kering karena memiliki sarung sperti lilin. Patologi Kontak pertama ddengan kuman ini menyebabkan reaksi radang—folikel tuberkular. Ini terdiri dari kuman sel-sel retikulo-endotelial yang diinfiltrasi dengan sel-sel raksasa dan dikelilingi oleh limfosit. Nekrosis (perkijuan) terjadi pada pusat folikel. Penyatuan daari folikel-folikel seperti benjolan kecil, yang merupakan gambaran khas tuberkel, dari mana nam apenyakit ini di ambil. TUBERKULOSIS PRIMER Ini adalah reaksi yang terlihat pada seseorang yang sebelumnya tidak pernah kontak dengan kuman itu. Di paru-paru, bentuk lesi primer terdapat tepat dibawah pleura. Penyebaran limfatik membuat kelenjar getah bening regional terkena dan menyebabkan perkijuan. Lesi asal tetap tidak tampak. Lesi primer yang diusus, akan menyebabkan hal yang sama pada kelenjar getah bening regionalnya, yang akan mengalami perkijuan.. Gambaran klinik Seringkali tidak berarti walau mungkin terjadi gejala seperti 'flu' atau menurunnya berat badan. Juga, TBC primer tidak tampak pada foto sinar tembus abdomen kecuali jika telah terjadi perkapuran. Efusi pleura mungkin telah terjadi, dan pada anak-anak sering terdapat pembesaran yang cukup menyolok dari kelenjar getah bening mediastium yang dapat menyebabkan obstruksi bronkus. Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Nasib dari lesi primer 1. Sembuh, melalui proses fibrosis dan perkapuran. Di paru fokus Ghon ini (suatu parut dalam lapangan paru, tepat di bawah pleura) dapat dilihat pada foto sinar tembus. Ini adalah paling sering terjadi. 2. Terjadi bronkopneumonia tuberkulosa, jika suatu folikel memecah masuk ke dalam suatu bronkus, dan menyebabkan infeksi pada bagian lain dari paru. Timbul demam, keluar banyak keringat dan batuk. Sebelum ada onat antituberkulosis yang efektif, keadaan ini biasnya fatal. Dahaknya menyevbarluaskan penyakit. 3. Terjadi tuberkulosis miliar yang disebabkan oleh isi sebuah folikel masuk kedalam pembuluh darah. Dengan demikian kuman menyebar keseluruh tubuh. Timbul turbekelturbekel kecil yang multipel, menyerupai biji jawawut. Jika mengenai otak, terjadilah miningitis tuberkulosis. Dahulu tuberkulosis miliar juga fatal. 4. Menjadi tuberkulosis soliter yang juga karena penyebarluasan oleh darah, tetapi hanya sedikit kuman yang terlibat. Terjadi lesi soliter yang jauh letaknya dan pembedahn merupakan satu-satunya pengobatan. Misalnya tuberkulosis tulang atua tuberkulosis ginjal. TUBERKULOSIS PASCA PRIMER Setelah pernah terinfeksi sekali, kontak berikutnya dengan tuberkulosis, menyebabkan reaksi yang berbeda yang disebabkan karena reaksi alergi maupaun reaksi imun. Alergi terhadap protein yang terdapat didalam sarungkukan, berkembang kira-kira 6 minggu setelah infeksi primer. Infeksi dikemudian hari dengan tuberkulosis atau pada pecahnya suatu lesi primer yang telah menyembuh (misalnya setelah suatu pengobatan jangka lama dengan steroid) akan menghasilkan suatu lesi yang berbeda. Gambaran klinik Bertambahnya frekuensi denyet nadi, kehilangan berat badan dan demam (sering pasien berkringat pada malam hari). Kemudaian timbul batuk-batuk dan sesak napas. Foto sinar tembus Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI dada memperlihatkan bayangan pada apeks paru yang disebabkan adanya kavitasi. Jika kavitasi merusak pembuluh darah, maka timbulah batuk darah. Nasib dari lesi pasca primer 1. Dapat sembuh. 2. Dapat menyebar secara lokal dengan menimbulkan kavitasi dan pengkijuan 3. Jarang-jaang dapat merusak pembuluh darah dan menyebabkan tuberkulosis miliar. Pengobatan Ada kemoterapi ang efektif, tetapi yang menjadi masalah adalah bila pasien merasa gagal minum obat. Obat-obat yang berguna adalah PAS (para-amino-salicylic acid), isoniazid (isonoacotinic acid hydrazide), rifampicin, etambutol dan ethionamide. Sebab-sebab kolapsnya paru 1. Kolaps absorpsi (disebabkan obstruksi bronkial komplit) -Intraluminal, misalnya karena benda asing, mukus atau bekuan darah -Mural, misalnya karisnoma bronkial atau adenoma -Ekstamural, misalnya karena limfadenopati peribronkial atau aneurisma aorta 2. Pneumatoraks atau efusi pleura. Sebab-sebab efusi pleura A. Transudat (cairan yang mengandung protein kurang dari 2g/100ml): 1. gagal jantung 2. sindroma nefrotik 3. kegagalan fungsi hati B Eksudat (kadar protein lebih dari 2g/100ml): 1. Radang paru-paru 2. Kegansan (karisnoma bronkial, karisnoma sekunder atau Hodgkin) 3. Tuberkulosis Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI 4. Infrak paru-paru 5. Penyakit kolagen-vaskular (terutama SLE) 6. Abses subdiafragma Sebab-sebab pneumotoraks 1. Trauma 2. Iatrogenik misalnya karena torakosentesis atau pembedahan 3. Spontan (bulla subpleura, Emifisema, Asma, Tuberkulosis, Abses paru-paru, Pneumokoniosis) Sebab-sebab edema paru akut 1. Gagal jantung kiri: Artial, misalnya karena stenosis katup mitral. Ventrikular, misalnya karena hipertensi atau infrak miokardium. 2. Cairan intra vena yang berlebih (overload) 3. Inhalasi gas yang bersifat iritan misalnya klorin 4. Radang paru-paru karena virus atua bakteri yang ganas 5. Emboli lemak. Sebab-sebab yang paling banyak dari batuk darah Singkirkan kemungkinan hemp[otisis (perdarahan hidng dan sebagainya) Pernapasan 1. Karisnoma bronkus 2. Tuiberkulosis paru 3. Bronkitis 4. Bronkitiektasis 5. Abses paru-paru Kardiovaskular 1. Infark paru-paru Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI 2. Stenosis katup mitral 3. Kegagalan ventrikel kiri akut Yang lebih jarang 1. Radang paru-paru, terutama karena pneumokok 2. Penyakit kolagen-vaskular, terutama poliarrteritis nodosa 3. Hemosiderosis paru idiopatik FIBROSIS PARU-PARU Disebabkan oleh infeksi kronik yang telah berlangsung lama atau karena inhalasi debudebu tertentu. Infeksi kronik menyebabkan fibrosis, yang apabilacukup luas, dapat menggantikan sebagian besar jaringan paru normal. Seringkali berhubungan dengan bronkiektasis. Akibatnya, fibrosis itu menyebabkan paru-paru, mediastinum, bahkan dinding dada dapat mengalami distorsi. Inhalasi debu dapat menyebabkan peradangan kronik dan fibrosis. Debu terpenting adalah silika, yang menyebabkan silikosis. Tukang batu dan mereka yang menggunakan gerinda, paling sering terkena, juga penambang batu bara terutama yang mengandung antrasit. Pekerjaan absestos mempunyai resiko tambahan terhadap sejenis karisnoma (mesotelioma). Gambaran klinik Sesak napas dan sianosis yang makin lama makin bertambah hebat. Ada kecenderungan untuk sering terkena infeksi saluran napas. Pengobatan Pengobatan terhadap keadaan yang telah tejadi, sulit. Yang penting adalah tindakan pencegahan. Apabila diperlukan beri antibiotik untuk mengatasi infeksi sekunder. TUMOR-TUMOR PARU GANAS 1. Primer Karisinoma bronkus Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Salah satu bentuk kanker yang paling sering. Lebih sering mengenai laki-laki walaupun insiden pada wanita kini makin bertambah. Insiden terbanyak adalah pada kelompok umur 50-60 tahun. Lebih sering lagi pada perokok. Perubahanmaligna pada sel-sel epitel bronkus menimbulkan tumor yang berdiferensiasi rendah. Bronkus biasnya tersumabt dan bagian paru distal dari tempat obstruksi menjadi kolaps. Gambaran klinis Bentuk yang menetap dan sesak napas yang makin bertambah. Bila terjadi ada sebagian paru yang kolaps, mungkin dapat menyebabkan infeksi, dan timbul rasa nyeri yang berasal dari pleura (menusuk) disertai radang dari paru kolaps. Keadaan ini tidak akan pernah sembuhsempurna kembali. Bentuk darah adalah gejala yang penting yang disebabkan oleh terjadinya perdarahan dari permukaan tumor yang luka. Metastasis sekunder mungkin merupakan tanda pertama yang dijumpai, dan mengenai tulang-tulang (termasuk mandibula), hati, kelenjar getah bening, otak atau dimana saja. Pengobatan Adalah dengan jalan pembedahan, kemoterapi dan radioterapi, tetapi umumnya prognosisnya buruk. 2. Tumor-tumor paru maligna sekunder Mungkin berasal dari jaringan epitel (karisnoma) atau jaringan ikat (sarkoma). Keadaan ini tidak jarang terdapat diparu dan biasnya lokasi primernya adalah di buah dada, ginjal, kelenjar tiroid, ataudi paru sendiri. Sarkoma, terutama dari tulang, paling sering bermetastasis ke paruparu. Metastasis-metastasis itu membentuk deposit-seposit yang dengan sinar tembus terlihat berbentuk seperti 'cannonball'. Pengobatan Pembedahan yang bersifat paliatif. Juga denagn kemoterapi dan radioterapi. Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI SINDROM VENA KAVA SUPERIOR Suatu tumor yang besar di mediastinum yang dapat menekan vena cava superior. Bendungan yang terjadi, dapat dilihat sebagai pelebaran vena di leher, sianosis dan edema pada separuh bagian atas tubuh. Vena-vena supervisial pada dinding dada melebar dan dapat terlihat jelas, karena mereka membentuk sirkulasi kolateral untuk mengatasi obstruksi pada vena cava. Masa desak ruang lainnya dalam dada dapat pula menyebabkan obstruksi vena kava, seperti misalnya pada pembesaran kelnjar getah bening pada penyakit Hodgkin. Terapi oksigen Pada hipoksia menahun yang disebabkan oleh hipoventilasi (misalnya bronkitis kronik, asma), pCO2 arteri meningkat dan bila mengobati dalam keadaan ini dengan oksigen dengan konsentrasi tinggi, dapat menyebabkan pusat pernapasan kehilangan kepekaan terhadap keadaan anoksia, dan akan menyebabkan narkosis dengan CO2. Oleh karena itu haruslah digunakan oksigen yang berkadar rendah dengan 'mask'misalnya Venti-mask atau Edinburgh mask, disertai dengan analisis gas darah yang dilakukan berkali-kali (secara seri). Pada hipoksia karena gangguan pertukaran gas (misalnya pada radang paru-paru atau edema paru), diperlukan topeng (mask) dengan oksigen berkadar tinggi seperti misalnya Polymask. *ALGORITME ACLS* Bagan 9-1. Algoritme ACLS VF, VT tanpa pulpus, PEA dan asistolik VT ATAU TANPA PULSE ABC dan RJP hingga tersedia defibrilator Defribrilasi sampai 3 kali (200J,330J,360J) periksa irama dan tanda vital setiap selesai dilakukan defrilasi RJP, intubasi, akses IV AKTIVITAS ELEKTRIS TANPA PULSE Termasuk: EMD, irama Idioventriular dan bradiasistolik RJP, intibasi, Akses IV Pikiran penyebab – penyebab yang revesible: Hipovolemia, Hipoksia, tamponade, tension ASISTOLIK RJP, intubasi, akses IV Konfirmasi pada lebih dari 1 lead Pikiran penyabab – penyebab yang revesible: Hipoksia, hiperkalemia, hipokalemia, asidosis, Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Epinefrin 1 mg IV setiap 3-5 menit Defibrilasi 360 J dalam 30-60 detik Obat lini kedua lihat di bawah Defibrilasi 360J dalam 30-60 detik Pola seharusnya drug-shock, drug-schock Pneumotoraks, MI masif, PE, hiperkalemia, asidosis, overdosis obat, hiporemia Epinefrin 1 mg IV Setiap 3-5 menit pertimbangkan dosis yang lebih tinggi pada protokol VF/VT lini kedua Atropin 1 mg IV Setiap 3-5 menit untuk bradikardi hingga mencapai dosis totalnya 0,04 mg/kg overdosis obat, hipotermia Pertimbangkan pacu Transkutaneus segera Epinefrin 1 mg IV Setiap 3-5 menit untuk pertimbangkan dosis yang lebih tinggi pada protokol VF/VT lini kedua Atropin 1 mg Setiap 3-5 menit untuk bradikardi hingga mencapai dosis totalnya 0,04 mg/kg OBAT LINI KEDUA VF/VT TANPA PULSE Urutan Standar: ·1 Lidokain 10-15mg/kg (dosis rata – rata 100 mg), ulangi dalam 3-5 menit ·2 Bretilium 5 mg/kg (dosis rata – rata 300-350 mg), ulangi dalam 5 menit dengan 10mg/kg (dosis rata – rata 700 mg) ·3 Magnesium sulfat 1-2 gram IV ·4 Prokainamid 30 mg/menit dengan dosis total 17mg/kg (dosis rata – rata 1 gram) Pada MI akut pertimbangkan pula: ·1 Amiodaron 150 mg IV sekitar 10 menit Pilihan tambahan epinefrin: ·2 Dosis Epinefrin pada intyermediat (2-5 mg), meningkat (1 mg, 3mg,5mg) atau tinggi (0,1 mg/kg) NATRIUM BIKARBONAT Dosis: NahCo3 1 mg/kg Indikasi: Asidosis yang responsive-bikarbonat, overdosis TCA, alkalinisasi urine, waktu henti yang panjang PENATALAKSANAAN YPENYEBAB YANG REVESIBEL Hipovolemi: infuse volume MI massif: terapi reperfusi, IABP Hipoksia: Ventilasi PE masif: trombolisis Tamponade:Perikardiosentesis Hiperkalime:NAHCO3, kalsium,insulin Tension pneumotoraks: dekompresi Asidosis: NAHCO3 jarum (diadaptasi atas izin dari Emergancy Cardiac Care Commitee and Subcommitees, American Heart Association, pedoman terhadap perawatan Jantung Darurat dan Resusitasi Kardiopulmonal.JAMA 268:2171, 1992,1992 America Medical Association. Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Bagan 9-2. Algoritme Takikardia ACLS TAKIKARDI ABC akses IV, oksigen, tanda vital, EKG 12 lead, H&P,CXR Tidak stabil dengan BP rendah, neri dada, AMI dispnua, CHF atau perubahan pada setatus mental? -ya®Takikardi Sinus tersingkirkan Kardioversi (lihat dibawah) jaringan diperlukan selama HR<150 Tidak atau borderline Lidokain 1-1,5mg/kg Diotiazem Maneuver Vegal lidokain 1-1,5 mg/kg ulangi0,5-0,75mg/kg Penyakit Beta ulangi 0,5-0,75 mg/kg setiap 5-10menit hingga (beta-blockers) Adenosin setiap 5-10 menit hingga dosis maksimum Vrapamil 6mg,12mg,12mg dosis maksimum 3mg/kg 3mg/kg Digoksin pemberian IV secara Prokainamid cepat adenosin Kuinidin 6mg,12mg,12mg Antikoagulan pemberian IV secara cepat Kompleks PQR melebar? menyempit melabar prokkan amid tekanan darah lidokain 1-1,5mg/kg 20-30 mg/mnt rendah atau tak setabil? Dosis beban maksimal prokalnamid 20-30mg/menit 17 mg/kg tidak ya dosis beban maksimal 17mg/kg Bretilium 5-10 mg/kg sekitar verapamil 8-10 mg/menit 2,5-5,0 mg IV dosis maksimal Ulangi5-10mg IV 30 mg/kg/hari Dalam 15-30 menit Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI digoksin penyekat beta (beta-blockers) diltiazem KARDIOVERSI TERSINKONISASI Apabila pasien terbangun dari waktu mengizinkan, berikan sedasi AF: 100,200,300,360 J AFL: 50,100,200,300,360 J PSVT: 50,100,200,300,360 J VT: 100,200,300,360 J (diadaptasi atas izin dari Emergancy Cardiac Care Commitee and Subcommitees, American Heart Association, pedoman terhadap perawatan Jantung Darurat dan Resusitasi Kardiopulmonal.JAMA 268:2171, 1992,1992 America Medical Association) Bagian 9- 3.Algoritme Bradikardia ACLS BRADIKARDI Pasien tidak dalam keadaan henti jantung ABC, akses IV, oksigen, tanda vital, EKG 12-lead, H & P, roentgen toraks Tidak stabil dengan tekanan darah rendah, nyeri dada, AMI, dispenu, CHF, atau perubahan pada status mentalis? tidak ya atropine 0,5-1,0mg IV blok AV derajat dua tipe II setiap 3-5 menit atau blok AV derajat tiga? Hingga mencapai dosis total 0,04 mg/kg tidak ya pacu transkutaneus pacu traskutaneus dopamin 2-20 mg/kg/menit observasi (menggunakan pacu transkutaneus sebagai stu hubungan) epinefrin 2-10 mg/menit isoprotenol? Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI (diadaptasi atas izin dari Emergancy Cardiac Care Commitee and Subcommitees, American Heart Association, pedoman terhadap perawatan Jantung Darurat dan Resusitasi Kardiopulmonal.JAMA 268:2171, 1992,1992 America Medical Association) Bagan 9-4. Algoritme ACLS syok, edema paru atau hipotensi EDEMA PARU AKUT, HIPOTENSI, ATAU SYOK ABC, akses IV, oksigen, tanda vital, EKG 12-lead, H&P, rontgen toraks Apa penyebab masalah tersebut? Cairan, transfuse darah bagaimana tekanan darahnya? Lihat algoritme takikardi Pertimbangan Vasopresor (setelah pemberian bolus emperis atau bradikardi 250-5—ml NS kecuali pada edema paru Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI (diadaptasi atas izin dari Emergancy Cardiac Care Commitee and Subcommitees, American Heart Association, pedoman terhadap perawatan Jantung Darurat dan Resusitasi Kardiopulmonal.JAMA 268:2171, 1992,1992 America Medical Association) * OBAT – OBAT DI ICU * DOSIS Per kg Dosis rata - rata Pressor, inotropik, dan kronotropik Dopamine D b, D a, b, D 0,5-2 mg/kg/menit 2-10 mg/kg/menit > 10 mg/kg/menit 50-150 mg/menit 200-500 mg/menit 500-1000 mg/menit Norepinefrin a1 > b1 1-40 mg/menit Fenilefrin a1 10-300 mg/menit Dobutamin b1 > b2 2-20 mg/kg/menit 50-1000 mg/menit Epinefrin a1, a2, b1, b2 2-20 mg/menit Isoproterenol b1, b2 0,1 – 10 mg/menit Amrinon PDE 0,75 mg/kg sekitar 3 menit, lalu 5-10 mg/kg/menit 40-50 mg sekitar 3 menit, lalu 250-900 mg/menit Milrinon PDE 50 mg sekitar 10 menit, lalu 0,375- 0,75 mg/kg/menit 3-4 mg sekitar 10 menit, lalu 20-50 mg/menit Kardiak Lidokain Kanal Na (na channel) (golongan IB) 1-1,5 mg/kg, lalu 1-4 mg/menit 70-100 mg lalu 1-4 mg/menit Prokainamid Kanal Na (Na channel) (golongan IA) 17 mg/kg sekitar 60 menit, lalu 1-4 mg/menit 1 gram sekitar 10 menit lalu 1-4 mg/menit Amilodaron Na, K, penyekat b, CCB (golongan III) 150 mg sekitar 10 menit, lalu 1 mg/menit selama 6 jam, lalu 0,5 mg/menit selama 18 jam Bretilium Kanal K (K channel) (golongan III) 5-10 mg/kg, lalu 1-4 mg/menit 350-700 mg lalu 1-4 mg/menit Ibutilid Kanal K (K channel) (golongan III) 1 mg selama 10 meni, dapat diulang 1 kali Nitrogliserin NO 10-1000 mg/menit Nitroprusid NO 0,1-10 mg/kg/menit 5-800 mg/menit Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Epoprostenol Vasodilator direk 2-20 mg/kg/menit Propranolol Penyekat b 0,5-1,0 mg setiap 5 menit, lalu 1-10 mg/jam Esmolol Penyekat b1 > b2 500 mg/kg, lalu 25- 300 mg/kg/menit 20-40 mg sekitar 1 menit, lalu 2-20 mg/menit Labetalol Penyekat a1, b1, b2 20 mg sekitar 2 menit, lalu 20-80 mg setiap 5 menit, lalu 1-10 mg/jam Verapamil CCB 2,5-5 mg sekitar 1-2 menit diulang 5-10 mg dalam 15-30 menit prn 5-20 mg/jam Diltiazem CCB 0,25 mg/kg sekitar 2 menit pemberian ulang prn 0,35 mg/kg satu kali lalu 5-15 mg/jam 20 mg sekitar 2 menit pemberian ulang 25 mg satu kalli PRn lalu 5-15 mg/jam Adenosin Reseptor Purinergik pada AVN Pemberian cepat 6 mg jika tak berespons 12 mg ® 12-18 mg DOSIS Per kg Dosis rata – rata Kardiak Enalaprilat ACE 0,625-25 mg sekitar 5 menit, lalu 0,625-5 mg setiap 6 jam Hidralazin Vasodilator direk 5-20 mg setiap 20-30 menit Sedasi Morfin Reseptor opioid m 1 tak terbatas mg/jam Fentanil Reseptor opioid m 50-100 mg lalu 50 tak terbatas mg/jam Thiopental Barbiturate 3-5 mg/kg sekitar 2 menit 200-400 mg sekitar 2 menit Etomidat Anesteti 0,2-0,5 mg/kg 100-300 mg Propofol Anestetik 1-3 mg/kg lalu 0,3-5 mg/kg/jam 50-200 mg lalu 20-400 mg/jam Diazepam Benzodiazepine 1-5 mg setiap 1-2 jam, lalu setiap 6 jam prn Midzolam Benzodiazepine 0,5-2 mg setiap 5 menit prn atau 0,5-4 mg, lalu 1-10 mg/jam Ketamin Anestetik 1-2 mg/kg 60-150 mg Haloperidol Antipsikotik 2-5 mg setiap 20-30 menit Paralitikum Suksinilkolin Paralysis, depolarisasi 0,6-1,1 mg/kg 170-100 mg Tubokurare nACh 10 mg, lalu 6-20 mg/jam Pankuronium nACh 0,08 mg/kg 2-4 mg setiap 30-90 menit Vakuronium nACh 0,08 mg/kg lalu 0,05- 0,1 mg/kg/jam 5-10 mg sekitar 1-3 menit, lalu 2-8 mg/jam Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Kisatrakurium nACh 5-10 mg/kg/menit Lain – lain Aminofilin PDE 5,5 mg/kg sekitar 20 menit,, lalu 0,5-1 mg/kg/jam 250-500 mg alu 10-80 mg/jam Insulin 10U, lalu 0,1 U/kg/jam Glukagon 5-10 mg, lalu 1-5 mg/jam Vasopressin Reseptor V1 0,1-0,4 U/jam Oktreotid Analog somatostatin 50 mg lalu 50 mg/jam Fenitoin Antiepilepsi 20 mg/kg pada 50 mg/menit 1-1,5 gram sekitar 20- 30 menit Fosfenitain Antiepilepsi 20 mg/kg pada 150 mg/menit 1-1,5 gram sekitar 10 menit Fenobarbital Barbiturate 20 mg/kg pada 50-75 mg/menit 1-1,5 gram sekitar 20 menit Manitol 1,5-2 gram/kg sekitar 30-60 menit ulangi setiap 6-12 jam untuk memperhatikan osmolaritas 310- 320 * ANTIBIOTIK * Dosis pada gagal jantun g LFG > 50 LFG 10-50 LFG < 10 Sefalosporin generatif IV Sefalim 1-2 gram IM/IV setiap 12 jam NC 1-2 gram setiap 16-24 jam 1-2 gram setiap 24-48 jam Aminoglikosida Gentamisin 1,0-1,7 mg/kg setiap 8 jam 60-90% Setiap 8-12 jam 30-70% setiap 12-18 jam 20-30% setiap 24- 48 jam Atau1,0-1,7mg/kg setiap(8XserumCr)jam Tobramisin 1,0-1,7 mg/kg setiap 8 jam 60-90% Setiap 8-12 jam 30-70% setiap 12- 18 jam 20-30% setiap 24- 48 jam Atau1,0-1,7mg/kg setiap(8XserumCr)jam Amikasin 5 mg/kg setiap 8 jam 60-90% Setiap 8-12 jam 30-70% setiap 12-18 jam 20-30% setiap 24-48 jam Atau1,0-1,7mg/kg setiap(8XserumCr)jam Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Fluorokuinolon Siproflokasin Grepafloksasin Levoflokasin Norfloksasi Ofloksasin Sparfloksasin Trovafloksasin 500-750 mg PO setiap 12 jam 200-400 mg Iv setiap 12 jam 400-600 mg PO setiap 24 jam 250-500 mg PO/IV setiap 24 jam 400 mg PO setiap 12 jam 200-400 mg PO/IV setiap 12 jam 400 mg PO pada hari 1,lalu 200 mg PO setiap 24 jam 100-200 mg PO setiap 24 jam 200-300 mg Iv setiap 24 jam NC ? NC NC NC NC NC 250-500 mg setiap 12 jam ? 250mg setiap 24jam 400mg setiap12-24jam 400mg setiap 24 jam 200 mg setiap 48 jam NC 250-500 mg setiap 12 jam ? 250mg setiap 24jam 400mg setiap12- 24jam 400mg setiap 24 jam 200 mg setiap 48 jam NC Makrolid Azitromisin Klaritromisin Eritromisin 500 mg PO pada hari 1, lalu 250 mg PO setiap 24 jam 250-500 mg PO setiap 12 jam 0,5-1 gram IV setiap 6 jam 250-500 mg PO setiap 6 jam NC ?¯ NC NC ?¯ NC NC ?¯ 250-500 mg IVsetiap 6 jam, 250 mg PO setiap 6 jam Tetrasiklin Tetrasikin Doksisiklin 250-500 mg PO setiap 6 jam 100 mg PO/IV setiap 12-24 jam 250-500 setiap 8- 12 jam NC Hindari NC Hindari NC Lain – lain Kloramfenikol Klindamisin Metronidazol Nitrofurantoin TMP-SMX 0,5-1 gram IV/PO setiap 6 jam 600 mg IM/IV setiap 8 jam 150-300 mg PO setiap 6 jam 15 mg/kg IV, lalu 7,5 mg/kg (-500 mg) Setiap 6 jam 500 mg PO setiap 6 jam 50-100 mg PO setiap 6 jam 2-5 mg TMP/kg PO/IV setiap 6 jam NC NC NC NC NC NC NC NC Hindari 2-5 mg TMP/kg Setiap 12 jam NC NC NC Hindari Hindari Vankomisin 500 mg IV setiap 6 jam 1 gram IV setiap 12 jam 1 gram setiap 24-72 Ikuti kadar acaknya, pemberian dosis ulang dengan 1 gram apabila kadarnya <10 Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI jam (* tablet keuatan tunggal – 1 ampul – 80 TMP + 400 mg SMX) * FORMULA & REFERENSI CEPAT * KARDIOLOGI Parameter Hemodinamik Nilai Normal Tekanan arteri rata- rata (MAP) = (SBP X 2) + DBP 3 70-100 mm Hg Denyut jantung (HR) 60-100 kali per detik Tekanan atrium dekstra (RA) £ 6 mm Hg Ventrikel dekstra (RV) Sistolik 15-30 mm HG Distolik 1-8 mm HG Arteri pulmonalis (PA) Sistolik 15-30 mm Hg Rata – rata 9-18 mm Hg Distolik 6-12 mm Hg Tekanan wedge kapiler pulmonal (PCWP) £ 12 mm HG Curah jantung (CO) 4-8 L/menit Indeks jantung (CI) = CO BSA 2,6-4,2 L/menit?m2 Isi sekuncup (SV) = CO HR 60-120 ml/kontraksi Indeks isi sekuncup (SV) = CI HR 40-50 ml/kontraksi/m2 Resistensi vascular sistemik (SVR) = (MAP-Rata – rata RA) X 80 CO 800-1200 dyne X detik/cm3 Resistensi vaskular paru(PVR)=([rata-rataPA] - [rata-rataPCWP]) X 80 CO 120-250dyne X detik/cm3 (catatan*aturan 6(rule of 6)*untuk tekanan yang diukur kateter PA: RA £ 6, RV £ 30-/6, PA£ 30/12, WP £ 12) Curah jantung Fick Konsumsi oksigen (L/menit) = curah jantung (L/menit) X selisih oksigen arteivenosa Curah jantung (L/menit) = konsumsi oksigen (L/menit)/ selisihh oksigen arterivenosa Konsumsi oksigen harus diukur (dapat diperkirakan sekitar 125 ml?menit?m2, tapi sangat tidak akurat) Selisih oksigen arterivenosa = Hb (g/dL) X 10 (dL/L) X 1,36 (ml O2/g Hb) X (Sa02 - SvO2) Sa02 Diukur dalam sempel arteri (biasanya 93-98%) SvO2 = O2 vena yang tercampur dalam arteri pulmonalis (normal – 75%) Jadi, Curah jantung (L/menit) = konsumsi oksigen_____________ Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Hb (g/dL) X 13,6 X (Sa02 - SvO2) PARU Ruang mati (dead space) = unit paru yang mengalami ventilasi namun tidak mengalami perfusi Pirau intrapulmonalis (intrapulmonary shunt) = unit paru yang mengalami perfusi namun tidak mengalami ventilasi. Persamaan gas Alveolar : PAO2 = [ FiO2 X (760 – 47)] – PaCO2 R [p=0,8] PAO2 = 150 – PaCO2 0,8 [pada udara kamar] Gradien A-a = PAO2 – PaO2 [Gradien A-a normal = (usia X 0,4)] Ventilasi menit (VE) = Volume tidal (VT) X laju pernapasan (RR) [Normal 4-6 L/menit] Volume Tidal (VT) = ruang alveolar (VA) + ruang mati (VD) Fraksi volume tidal pada ruang mati (VD / V1) = PaC)2 – PekspirasiCO2 PaCO2 PaCO2 = 0,863 X Produksi CO2 ( VCO2 ) = 0,863 X V CO2 Ventilasi alveolar (VA) V1X (1-VD/V1) GINJAL Aturan Kompensasi Gangguan primer Formula Asidosis metabolik ¯ PaCO2 = 1,25 X  HCO3 (juga, PaCO2 = dua angka pH terakhir) Alkalosis metabolik ­ PaCO2 = 0,75 X  HCO3 Asidosis respiratori akut ­ HCO3 = 0,1 X  PaCO2 (juga, ¯pH = 0,08 X PaCO2) Asidosis respiratori kronis ­ HCO3 =0,4 X PaCO2 (juga, ¯pH = ,003 X PaCO2) Alkalosis respiratorik akut ¯ HCO3 = 0,2 X PaCO2 Alkalosis respiratorik kronis ¯ HCO3 = 0,4 X PaCO2 Asam – basa Persamaan Henderson – Hasselbalch: pH pKa + log [basa] [asam] pH = 6,10 + log [ HCO3 ] 0,03 X PaCO2 [H+] = 80 - dua angka pH terakhir [bila pH antara 7,20 dan 7,60] [H+] = 24 X PaCO2 [HCO3] Anion gap (AG) = Na – (Cl + HCO3) [normal = 12 ± 2 mEq]  (“delta – delta”) = AG(hasil perhitungan AG-12)  HCO3(24-serum HCO3hasil perhitungan) Anion gap urine (UAG) = (UNa+UK)-UCl Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Osmolalitas hasil perhitungan = (2XNa) + (gluk / 18) + (BUN / 2,8 ) + (EtOH / 4,6) Celah osmolar (OG) = osmolaritas yang terukur – osmolaritas hasil perhitungan [normal<10] Cairan tubuh Total Body Water (BTW) = 0,60 X berat badan ideal (X0,85 pada perempuan) Fungsi ginjal Estimitas Klirens Kreatinin = [140-usia (tahun) X BB (kg) (X 0,85 pada perempuan) Serum kreatinin(mg/dL)X72 Klirens Kreatinin hasil perhitungan (CrCl) berdasarkan pada urine yang terkumpul dalam 24 jam PCr (mg/dL) X 0,01 (dL/ml) X CrCl (ml/menit) X 1400 (menit/24jam) = UCr(mg/ml) X UVol(ml/24jam) CrCl = [UCr(mg/ml) X Vvol(ml/24jam)] [PCr(mg/dl) X 14,4] Fraksi ekskresi Na (FENa%) = UNa(mEq/L) UNa X 100% PNa PNa(mEq/L) = UCr(mg/ml) UCr X 100 (ml/dl) PCr PCr(mg/ml) Natrium dan air Na yang terkoreksi pada hiperglikemia = Na yang terukur + [ 1,6 X ( glukosa yang terukur – 100) 100 Defisit Na pada hiponatremia = TBW X (140 – Nayang terukur) (X 0,85 pada perempuan) Defisit air bebas pada hipernatremia = TBW Na yang terukur - 1 (X0,85pada perempuan) 140 Estimasi defisit air bebas pada hipernatremia = ( Na yang terukur – 140 ) 3 Koreksi cepat baik pada hipo-maupun hipernatremia dapat menyebabkan perubahan yang cepat pada volume serebral, Sehingga kecepatan laju perubahan pada Na sebaiknya tidak lebih dari 0,5 mEq/L/jam Penatalaksanaan Hiperkalemia Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI Intervensi Dosis Onset Keterangan Kalsium glukonas 2 ampul IV Beberapa menit Efek sementara Menstabilkan membran sel Insulin Insulin reguler 10 U IV + 1-2 ampul D5W 15-30 menit Efek sementara Membawa K ke dalam sel Bikarbonat 1-3 ampul IV 15-30 menit Efek sementara Membawa K ke dalam sel untuk ditukar dengan H Kayeksalat 30-90 gram PO/PR 1-2 jam ¯ total K tubuh Pertukaran Na dengan K di dalam traktus gastrointestinal Diuretik Furasemid  40 mg IV 30 menit ¯ total K tubuh Hemodialisis ¯ total K tubuh HEMATOLOGI – ONKOLOGI Heparin Heparin untuk Tromboembolisme Bolus 80 U/kg 18 U/kg/jam PTT (detik Pengaturan < 40 Bolus 3000 U, ­ kecepatan 300 U/jam 40-49 Bolus 2000U, ­ kecepatan 200 U/jam 50-59 ­ kecepatan 100 U/jam 60-84 Tanpa perubahan 85-100 ¯ kecepatan 100 U/jam 100-150 ¯ 200 U/jam > 150 Tahan 1 jam , ¯ 200 U/jam Heparin untuk Sindrom Koronaria Akut Pada MI akut dengan alteplase bolus 60 U/kg (maksimum 400 U) 12 U/kg/jam (maksimum 1000 U/jam) pada UAP/NQWMI bolus – 80 U/kg (maksimum 5000 U) – 14 U/kg/jam (maksimum 1000 U/jam) PTT (detik) Pengaturan < 40 Bolus 3000 U, ­ kecepatan 100 U/jam 4049 ­ kecepatan 50 U/jam 50-70 Tanpa perubahan Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI 71-85 ¯ kecepatan 50 U/jam 86-100 Tahan 30 menit, ¯ kecepatan 100 U/jam 101-150 Tahan 60 menit, ¯ kecepatan 150 U/jam >150 Tahan 60 menit, ¯ kecepatan 300 U/jam Periksa PTT 6 jam setelah setiap kali terjadi perubahan (waktu paruh heparin adalah -90 menit) Periksa PTT empat kali atau dua kali sehari bila PTT digunakan untuk tujuan terapeutik Periksa CBC empat kali sehari (untuk memastikanhitung hematokrit dan trombosit stabil) Pemberian reaksi: protamin 1 mg/100 U heparin ( tiak lebih dari 50 mg) (untuk infuse, dipergunakan protamin seperlunya untuk membalikan 2X jumlah heparin yang diberikan per jam). Warfarin Normogram Pembebanan (loading) Warfarin) Hari INR < 1,5 1,5 – 1,9 2,0 – 2,5 2,6 – 3,0 > 3,0 1 – 3 5 mg (7,5, mg jika> 80 kg) 2,5-5,0 mg 0-2,5 mg 0 mg 4 – 5 10 mg 5 – 10 mg 0-5 mg 0-2,5 mg 6 Dosis didasarkan pada kebutuhan pemberian 5 hari sebelumnya (Ann Intern Med 126:133,1997 dan Arch Intern Med 159:46,1999) Terapi tumpang – tindih Warfarin – Heparin 3 Indikasi: bila kegagalan untuk antikoagulasi cepat menyebabkan risiko morbidilitas dan mortalitas ­ (contoh : DVT/PE, thrombus Intrakardiak) 4 Rasional: (1) Waktu paruh kadar factor VII (3-6 jam) lebih pendek dibandingkan waktu paruh kadar factor II (-72 jam). Sehingga Warfarin dapat meningkatkan PT sebelum mencapai suatu keadaan antitrombotik yang sebenarnya. (2) Protein C juga memiliki waktu paruh yang lebih pendek dari faktor II sehingga secara teoritis mencetuskan suatu keadaan hiperkoagulasi sebelum mencapai suatu keadan antitombotik yang sebenarnya. 1 Metode: (1) PTT terapeutik dicapai dengan menggunakan heparin (2) Terapi Warfarin dimulai (3) Heparin dilanjutkan sampai INR terapeutik selama  2 hari dan pasien telah menerima sedikitnya 4-5 hari warfarin (secara kasar bersamaan dengan Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI waktu paruh -2 dari faktor II atau pengurangan hingga 25%) Pembalikan Reaksi Warfarin Pilihan Waktu efek Indikasi d/c warfarin Hari INR < 9 dan tanpa pendarahan Vitamin K Beberapa jam hingga beberapa hari Dosis rendah (1-2,5 mg) PO/SC: INR > 5 dan pada pasien ­ risiko perdarahan dosis medium (3-5 mg) PO/SC: INR > 9 dosis tinggi ( 10 mg) SC/IM/IV: INR >20 atau perdarahan yang serius FFP segera 2-4 U IV setiap 6-8 jam INR >20, perdarahanserius, atau kebutuhan untuk pembalikan yang ceapt (pra-prosedural) (Chest 114:445s,1998) HABITUS TUBUH Berat badan ideal = [ 50,0 kg(laki – laki)atau 45,5 kg(perempuan) + 2,3 kg/inci lebih dari 5 kaki Area permukaan tubuh (dalam tubuh m2) = tingi (cm) X berat (kg) 3600 STATISTIK Ada penyakit Tidak ada penyakit Uji positif a (positif asli, TP) b (positif palsu, FP) Uji negatif c (negatif palsu, FN) d (negative asli, TN) Prevalensi = seluruh penyakit = __a + c___ Seluruh pasien a + b + c + d Sensitivitas = positif asli = __a __ Seluruh penyakit a + c Spesifisitas = negative asli_____ = ___d___ Seluruh yang sehat b + d Nilai prediktifpositif = positif asli____ ____= __a__ Seluruh yang positif a + b Nilai prediktifnegatif = negatif asli_________ = __d__ Seluruh yang negative c + d Ketepatan = positif asli + negative asli = _____a + d___ Seluruh pasien a + b + c + d Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Buku Saku Klinis INFEKSI ASSALAMUALAIKUM wr wb TIDAK ADA GADING YANG TAK RETAK MOHON MAAF BILA ADA PENULISAN DAN KETIKAN YANG SALAH ILMU ALLAH YANG AMAT LUAS BETAPA PICIKNYA BILA TIDAK KITA AMALKAN DAN DIKEMBANGKAN, bahan ini diambil untuk kuliah ilmu penyakit dalam terimah kasih WASSALAMUALAIKUM WR WB .......... dr. liza Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.